KEUTAMAAN SABAR MENGHADAPI COBAAN
Oleh
Majdi As-Sayyid Ibrahim
http://almanhaj.or.id/content/222/slash/0

عَنْ أُمِّ العَلاَءِ قَالَتْ : عَادَنِيْ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ 
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا مَرِيْضَةً، فَقَالَ : اَبْشِرِىْ يَا أُمِّ 
العَلاَءِ، فَإِنِّ مَرَضَ المُسْلِمِ يُذْ هِِبُ اللَّهُ بِهِ خَطَايَاهُ كَمَا 
تُذْ هِبُ النَّارُ خَببَثَ الذَّهَبِ وَالفِضَّةِ

"Dari Ummu Al-Ala', dia berkata :"Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam 
menjenguk-ku tatkala aku sedang sakit, lalu beliau berkata. 'Gembirakanlah 
wahai Ummu Al-Ala'. Sesungguhnya sakitnya orang Muslim itu membuat Allah 
menghilangkan kesalahan-kesalahan, sebagaimana api yang menghilangkan kotoran 
emas dan perak". [1]

Wahai Ukhti Mukminah !
Sudah barang tentu engkau akan menghadapi cobaan di dalam kehidupan dunia ini. 
Boleh jadi cobaan itu menimpa langsung pada dirimu atau suamimu atau anakmu 
ataupun anggota keluarga yang lain. Tetapi justru disitulah akan tampak kadar 
imanmu. Allah menurunkan cobaan kepadamu, agar Dia bisa menguji imanmu, apakah 
engkau akan sabar ataukah engkau akan marah-marah, dan adakah engkau ridha 
terhadap takdir Allah ?

Wasiat yang ada dihadapanmu ini disampaikan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa 
sallam tatkala menasihati Ummu Al-Ala' Radhiyallahu anha, seraya menjelaskan 
kepadanya bahwa orang mukmin itu diuji Rabb-nya agar Dia bisa menghapus 
kesalahan dan dosa-dosanya.

Selagi engkau memperhatikan kandungan Kitab Allah, tentu engkau akan 
mendapatkan bahwa yang bisa mengambil manfaat dari ayat-ayat dan mengambil 
nasihat darinya adalah orang-orang yang sabar, sebagaimana firman Allah.

وَمِنْ آيَاتِهِ الْجَوَارِ فِي الْبَحْرِ كَالْأَعْلَامِ إِن يَشَأْ يُسْكِنِ 
الرِّيحَ فَيَظْلَلْنَ رَوَاكِدَ عَلَىٰ ظَهْرِهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ 
لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

"Dan, di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah kapal-kapal (yang berlayar) di 
laut seperti gunung-gunung. Jikalau Dia menghendaki, Dia akan menenangkan 
angin, maka jadilah kapal-kapal itu terhenti di permukaan laut. Sesungguhnya 
pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan) -Nya bagi setiap orang 
yang bersabar dan banyak bersyukur". [Asy-Syura : 32-33]

Engkau juga akan mendapatkan bahwa Allah memuji orang-orang yang sabar dan 
menyanjung mereka. Firman-Nya.

وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ 
الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

"Dan, orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam 
peperangan, mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah 
orang-orang yang bertaqwa". [Al-Baqarah : 177]

Engkau juga akan tahu bahwa orang yang sabar adalah orang-orang yang dicintai 
Allah, sebagaimana firman-Nya.

وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

"Dan, Allah mencintai orang-orang yang sabar". [Ali Imran : 146]

Engkau juga akan mendapatkan bahwa Allah memberi balasan kepada orang-orang 
yang sabar dengan balasan yang lebih baik daripada amalnya dan melipat 
gandakannya tanpa terhitung. Firman-Nya.

وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

"Dan, sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar 
dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan". [An-Nahl : 96]

نَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka 
tanpa batas". [Az-Zumar : 10]

Bahkan engkau akan mengetahui bahwa keberuntungan pada hari kiamat dan 
keselamatan dari neraka akan mejadi milik orang-orang yang sabar. Firman Allah.

وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِم مِّن كُلِّ بَابٍ سَلَامٌ عَلَيْكُم بِمَا 
صَبَرْتُمْ ۚ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ

"Sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu, (sambil 
mengucapkan) :'Salamun 'alaikum bima shabartum'. Maka alangkah baiknya tempat 
kesudahan itu" [Ar-Ra'd : 23-24]

Benar. Semua ini merupakan balasan bagi orang-orang yang sabar dalam menghadapi 
cobaan. Lalu kenapa tidak ? Sedangkan orang mukmin selalu dalam keadaan yang 
baik ?.

Dari Shuhaib Radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa 
sallam bersabda. "Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin. Sesungguhnya semua 
urusannya adalah baik. Apabila mendapat kelapangan, maka dia bersyukur dan itu 
kebaikan baginya. Dan, bila ditimpa kesempitan, maka dia bersabar, dan itu 
kebaikan baginya". [2] 

Engkau harus tahu bahwa Allah mengujimu menurut bobot iman yang engkau miliki. 
Apabila bobot imanmu berat, Allah akan memberikan cobaan yang lebih keras. 
Apabila ada kelemahan dalam agamamu, maka cobaan yang diberikan kepadamu juga 
lebih ringan. Perhatikalah riwayat ini.

"Dari Sa'id bin Abi Waqqash Radhiyallahu anhu, dia berkata. 'Aku pernah 
bertanya : Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling keras cobaannya ?. 
Beliau menjawab. Para nabi, kemudian orang pilihan dan orang pilihan lagi. Maka 
seseorang akan diuji menurut agamanya. Apabila agamanya merupakan (agama) yang 
kuat, maka cobaannya juga berat. Dan, apabila di dalam agamanya ada kelemahan, 
maka dia akan diuji menurut agamanya. Tidaklah cobaan menyusahkan seorang hamba 
sehingga ia meninggalkannya berjalan di atas bumi dan tidak ada satu kesalahan 
pun pada dirinya".[3]

"Dari Abu Sa'id Al-Khudry Radhiyallahu anhu, dia berkata. 'Aku memasuki tempat 
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan beliau sedang demam. Lalu 
kuletakkan tanganku di badan beliau. Maka aku merasakan panas ditanganku di 
atas selimut. Lalu aku berkata.'Wahai Rasulullah, alangkah kerasnya sakit ini 
pada dirimi'. Beliau berkata :'Begitulah kami (para nabi). Cobaan dilipatkan 
kepada kami dan pahala juga ditingkatkan bagi kami'. Aku bertanya.'Wahai 
Rasulullah, siapakah orang yang paling berat cobaannya ?. Beliau menjawab. 
'Para nabi. Aku bertanya. 'Wahai Rasulullah, kemudian siapa lagi?. Beliau 
menjawab.'Kemudian orang-orang shalih. Apabila salah seorang di antara mereka 
diuji dengan kemiskinan, sampai-sampai salah seorang diantara mereka tidak 
mendapatkan kecuali (tambalan) mantel yang dia himpun. Dan, apabila salah 
seorang diantara mereka sungguh merasa senang karena cobaan, sebagaimana salah 
seorang diantara kamu yang senang karena kemewahan". [4]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata. "Rasulullah shallallahu 
'alaihi wa sallam bersabda : "Cobaan tetap akan menimpa atas diri orang mukmin 
dan mukminah, anak dan juga hartanya, sehingga dia bersua Allah dan pada 
dirinya tidak ada lagi satu kesalahanpun". [5]

Selagi engkau bertanya :"Mengapa orang mukmin tidak menjadi terbebas karena 
keutamaannya di sisi Rabb.?".

Dapat kami jawab :"Sebab Rabb kita hendak membersihkan orang Mukmin dari segala 
maksiat dan dosa-dosanya. Kebaikan-kebaikannya tidak akan tercipta kecuali 
dengan cara ini. Maka Dia mengujinya sehingga dapat membersihkannya. Inilah 
yang diterangkan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap Ummul 'Ala dan 
Abdullah bin Mas'ud. Abdullah bin Mas'ud pernah berkata."Aku memasuki tempat 
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan beliau sedang demam, lalu aku 
berkata.'Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau sungguh menderita demam yang 
sangat keras'.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata."Benar. Sesungguhnya aku demam 
layaknya dua orang diantara kamu yang sedang demam".

Abdullah bin Mas'ud berkata."Dengan begitu berarti ada dua pahala bagi engkau ?"

Beliau menjawab. "Benar". Kemudian beliau berkata."Tidaklah seorang muslim 
menderita sakit karena suatu penyakit dan juga lainnya, melainkan Allah 
menggugurkan kesalahan-kesalahannya dengan penyakit itu, sebagaimana pohon yang 
menggugurkan daun-daunnya". [6] 

Dari Abi Sa'id Al-Khudry dan Abu Hurairah Radhiyallahu anhuma, keduanya pernah 
mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda. "Tidaklah seorang 
Mukmin ditimpa sakit, letih, demam, sedih hingga kekhawatiran yang mengusiknya, 
melainkan Allah mengampuni kesalahan-kesalahannya". [7] 

Sabar menghadapi sakit, menguasai diri karena kekhawatiran dan emosi, menahan 
lidahnya agar tidak mengeluh, merupakan bekal bagi orang mukmin dalam 
perjalanan hidupnya di dunia. Maka dari itu sabar termasuk dari sebagian iman, 
sama seperti kedudukan kepala bagi badan. Tidak ada iman bagi orang yang tidak 
sabar, sebagaimana badan yang tidak ada artinya tanpa kepala. Maka Umar bin 
Al-Khaththab Radhiyallahu anhu berkata. "Kehidupan yang paling baik ialah 
apabila kita mengetahuinya dengan berbekal kesabaran". Maka andaikata engkau 
mengetahui tentang pahala dan berbagai cobaan yang telah dijanjikan Allah 
bagimu, tentu engkau bisa bersabar dalam menghadapi sakit. Perhatikanlah 
riwayat berikut ini.

"Dari Atha' bin Abu Rabbah, dia berkata. "Ibnu Abbas pernah berkata kepadaku. 
'Maukah kutunjukkan kepadamu seorang wanita penghuni sorga .?. Aku menjawab. 
'Ya'. Dia (Ibnu Abbas) berkata. "Wanita berkulit hitam itu pernah mendatangi 
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, seraya berkata.'Sesungguhnya aku sakit ayan 
dan (auratku) terbuka. Maka berdoalah bagi diriku. Beliau berkata.'Apabila 
engkau menghendaki, maka engkau bisa bersabar dan bagimu adalah sorga. Dan, 
apabila engkau menghendaki bisa berdo'a sendiri kepada Allah hingga Dia 
memberimu afiat'. Lalu wanita itu berkata. 'Aku akan bersabar. Wanita itu 
berkata lagi. 'Sesungguhnya (auratku) terbuka. Maka berdo'alah kepada Allah 
bagi diriku agar (auratku) tidak terbuka'. Maka beliau pun berdoa bagi wanita 
tersebut". [8]

Perhatikanlah, ternyata wanita itu memilih untuk bersabar menghadapi 
penyakitnya dan dia pun masuk sorga. Begitulah yang mestinya engka ketahui, 
bahwa sabar menghadapi cobaan dunia akan mewariskan sorga. Diantara jenis 
kesabaran menghadapi cobaan ialah kesabaran wanita muslimah karena diuji 
kebutaan oleh Rabb-nya. Disini pahalanya jauh lebih besar.

Dari Anas bin Malik, dia berkata."Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu 
'alaihi wa sallam bersabda. "Sesungguhnya Allah berfirman.'Apabila Aku menguji 
hamba-Ku dengan kebutaan) pada kedua matanya lalu dia bersabar, maka Aku akan 
mengganti kedua matanya itu dengan sorga" [9]

Maka engkau harus mampu menahan diri tatkala sakit dan menyembunyikan cobaan 
yang menimpamu. Al-Fudhail bin Iyadh pernah mendengar seseorang mengadukan 
cobaan yang menimpanya. Maka dia berkata kepadanya."Bagaimana mungkin engkau 
mengadukan yang merahmatimu kepada orang yang tidak memberikan rahmat kepadamu 
.?"

Sebagian orang Salaf yang shalih berkata :"Barangsiapa yang mengadukan musibah 
yang menimpanya, seakan-akan dia mengadukan Rabb-nya".

Yang dimaksud mengadukan di sini bukan membeberkan penyakit kepada dokter yang 
mengobatinya. Tetapi pengaduan itu merupakan gambaran penyesalan dan 
penderitaan karena mendapat cobaan dari Allah, yang dilontarkan kepada orang 
yang tidak mampu mengobati, seperti kepada teman atau tetangga.

Orang-orang Salaf yang shalih dari umat kita pernah berkata. "Empat hal 
termasuk simpanan sorga, yaitu menyembunyikan musibah, menyembunyikan 
merahasiakan) shadaqah, menyembunyikan kelebihan dan menyembunyikan sakit".

Ukhti Muslimah !
Selanjutnya perhatikan perkataan Ibnu Abdi Rabbah Al-Andalusy : "Asy-Syaibany 
pernah berkata.'Temanku pernah memberitahukan kepadaku seraya berkata.'Syuraih 
mendengar tatkala aku mengeluhkan kesedihanku kepada seorang teman. Maka dia 
memegang tanganku seraya berkata.'Wahai anak saudaraku, janganlah engkau 
mengeluh kepada selain Allah. Karena orang yang engkau keluhi itu tidak lepas 
dari kedudukannya sebagai teman atau lawan. 

Kalau dia seorang teman, berarti engkau berduka dan tidak bisa memberimu 
manfaat. Kalau dia seorang lawan, maka dia akan bergembira karena deritamu. 
Lihatlah salah satu mataku ini,'sambil menunjuk ke arah matanya', demi Allah, 
dengan mata ini aku tidak pernah bisa melihat seorangpun, tidak pula teman 
sejak lima tahun yang lalu. Namun aku tidak pernah memberitahukannya kepada 
seseorang hingga detik ini. Tidakkah engkau mendengar perkataan seorang hamba 
yang shalih (Yusuf) :"Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan 
dan kesedihanku". Maka jadikanlah Allah sebagai tempatmu mengadu tatkala ada 
musibah yang menimpamu. Sesungguhnya Dia adalah penanggung jawab yang paling 
mulia dan yang paling dekat untuk dimintai do'a". [Al-Aqdud-Farid, 2/282]

Abud-Darda' Radhiyallahu anhu berkata. "Apabila Allah telah menetapkan suatu 
taqdir,maka yang paling dicintai-Nya adalah meridhai taqdir-Nya". [Az-Zuhd, 
Ibnul Mubarak, hal. 125]

Perbaharuilah imanmu dengan lafazh La ilaha illallah dan carilah pahala di sisi 
Allah karena cobaan yang menimpamu. Janganlah sekali-kali engkau katakan 
:"Andaikan saja hal ini tidak terjadi", tatkala menghadapi taqdir Allah. 
Sesungguhnya tidak ada taufik kecuali dari sisi Allah.

[Disalin dari kitab Al-Khamsuna Wasyiyyah Min Washaya Ar-Rasul Shallallahu 
'Alaihi Wa Sallam Lin Nisa, Edisi Indonesia Lima Puluh Wasiat Rasulullah 
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Bagi Wanita, Pengarang Majdi As-Sayyid Ibrahim, 
Penerjemah Kathur Suhardi, Terbitan Pustaka Al-Kautsar]
_______
Footnote
[1]. Isnadnya Shahih, ditakhrij Abu Daud, hadits nomor 3092
[2]. Ditakhrij Muslim, 8/125 dalam Az-Zuhud
[3]. Isnadnya shahih,ditakhrij At-Tirmidzy, hadits nomor 1509, Ibnu Majah, 
hadits nomor 4023, Ad-Darimy 2/320, Ahmad 1/172
[4]. Ditakhrij Ibnu Majah, hadits nomor 4024, Al-Hakim 4/307, di shahihkan 
Adz-Dzahaby
[5] Isnadnya Hasan, ditakhrij At-Tirmidzy, hadits nomor 2510. Dia menyatakan, 
ini hadits hasan shahih, Ahmad 2/287, Al-Hakim 1/346, dishahihkan Adz-Dzahaby
[6]. Ditakhrij Al-Bukhari, 7/149. Muslim 16/127
[7]. Ditakhrij Al-Bukhari 7/148-149, Muslim 16/130
[8]. Ditakhrij Al-Bukhari 7/150. Muslim 16/131]
[9]. Ditakhrij Al-Bukhari 7/151 dalamAth-Thibb. Menurut Al-Hafidz di dalam 
Al-Fath, yang dimaksud habibatain adalah dua hal yang dicintai. Sebab itu kedua 
mata merupakan anggota badan manusia yang paling dicintai. Sebab dengan tidak 
adanya kedua mata, penglihatannya menjadi hilang, sehingga dia tidak dapat 
melihat kebaikan sehingga membuatnya senang. dan tidak dapat melihat keburukan 
sehingga dia bisa menghindarinya 
                                          

Kirim email ke