Kemiskinan dan kekayaan hanyalah ujian dari Allah buat hambaNya. Tidak
semua orang yang diluaskan rezekinya merupakan tanda ia dimuliakan, pun
tidak semua orang yang disempitkan rezekinya berarti ia dihinakan
Kaum Faqir miskin memiliki keutamaan yang tidak dimiliki oleh
orang-orang yang berada setelah Jum'at lalu point 1 hingga 9, maka
berikut yang ke:
10. Enggan memberi makan kaum miskin merupakan salah satu sifat dari
penduduk neraka. (Seperti dijelaskan dalam surat al-Haqqah ayat 34)
11. Disegerakan siksaan bagi orang yang menghalangi memberikan kaum
miskin. Dikisahkan dalam surat al-Qalam ayat 17-27 tentang pemilik kebun
yang berniat memberikan sebagian panennya kepada orang-orang miskin,
lalu Allah membuat tanamannya hancur pada malam hari.
12. Memberi makan di hari kelaparan, termasuk sebab mendapat
ampunan. Baik diberikan kepada anak yatim yang ada hubungan kerabat atau
kepada orang yang sangat faqir. Allah menyebut orang ini dengan golongan
kanan. (QS. Al-Balad ayat 18)
13. Islam menyebut kaum miskin sebagai salah satu pilihan dalam
kafarat puasa (QS. Al-Baqarah [2]:184),(QS. Al-Mujadilah[58]:4) dan
sumpah. (QS.al-Ma'idah[5]:89)
14. Kaum miskin yang menghadiri pembagian warisan berhak mendapat
bagian (QS. An-Nisa[4]:8)
15. Dalam pemberian nafkah, kaum miskin diutamakan setelah kedua
orang tua, dan kerabat dekat (QS.al-Baqarah [2]:215)
16. Kaum miskin adalah salah satu yang berhak menerima harta
Ghanimah (rampasan perang) (QS. Al-Anfal[8]:41), zakat
(QS.at-Taubah[9]:60) dan Fai. (QS. Al-Hasyr[59]:7)
17. Nabi berdoa agar dihidupkan dalam keadaan tawadhu seperti
kebanyakan orang miskin. Beliau berdia " Ya Allah hidupkanlah aku dalam
keadaan miskin, matikan aku dalam keadaan miskin dan bangkitkan aku
bersama kelompok orang-orang miskin."
Al-Baihaki berkata: Beliau Shalallohu wa'ala alahi wasalam(dalm
hadits ini) tidaklah meminta kemiskinan yang bermaknamiskin papa, namun
yang dimaksud adalah merendahkan diri dan tawadhu." (HR at-Tirmidzi:2353
dan dihasanlighairih-kan oleh Syaikh al-Albani dalm Irw'ul Ghal
13/358-363
Sumber al Mawaddah Vol 46 Muharram1433H, hal 23 dan 24
Bilal Tribudi k
Al-Alamah Ibnul Qayyim berkata, "Tidaklah suatu pekerjaan meskipun kecil
melainkan dibentangkan kepadanya dua catatan. Mengapa dan bagaimana ?
Yakni, mengapa kamu melakukan dan bagaimana kamu melakukan ?"