WASIAT SEBELUM TIDUR
Oleh
Majdi As-Sayyid Ibrahim
http://almanhaj.or.id/content/232/slash/0
قَالَ عَلِيٌ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ فَاطِمَةَ عَلَيْهَا السَّلاَمُ شَكَتْ
مَاتَلْقَى مِنْ أَثَرِالرَّحَى فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ سَبْيٌ، فَاْنَطَلَقَتْ فَلَمْ تَجِدْهُ، فَوَجَدَتْ عَائِشَةَ،
فَأَخْبَرَتْهَا، فَلَمَّا جَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَخْبَرَتْهُ عَائِشَةُ بِمَجِِئِ فَاطِمَةَ فَجَاءَ النَّبِىُّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْنَا، وَقَدْ اَخَذْنَا مَضَا جِعَنَا، فَذَ هَبْتُ
لاِقُوْمَ، فَقَالَ : عَلَى مَكَا نِكُمَا، فَقَعَدَ بَيْنَنَا، حَتَّى وَجَدْتُ
بُرْدَ قَدَمَيْهِ عَلَى صَدْرِى، وَقَالَ : أَلاَ أُعَلِّمُكُمَا خَيْرًا مِمَّا
سَأَلْتُمَانِى؟! إِذَا أَخَذْتُمَا مَضَاجِعَكُمَا، تُكَبِّرَا أَرْبَعًا وَ
ثَلاَثِيْنَ، وَتُسَبِّحَاثَلاَثًا وَثَلاَثِيْنَ، وَتَحْمَدَا ثَلاَثَةً
وَثَلاَثِيْنَ، فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ.
"Ali berkata, Fathimah mengeluhkan bekas alat penggiling yang dialaminya. Lalu
pada saat itu ada seorang tawanan yang mendatangai Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam. Maka Fathimah bertolak, namun tidak bertemu dengan beliau. Dia
mendapatkan Aisyah. Lalu dia mengabarkan kepadanya. Tatkala Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam tiba, Aisyah mengabarkan kedatangan Fathimah kepada beliau.
Lalu beliau mendatangi kami, yang kala itu kami hendak berangkat tidur. Lalu
aku siap berdiri, namun beliau berkata. 'Tetaplah di tempatmu'. Lalu beliau
duduk di tengah kami, sehingga aku bisa merasakan dinginnya kedua telapak kaki
beliau di dadaku. Beliau berkata. 'Ketahuilah, akan kuajarkan kepadamu sesuatu
yang lebih baik dari pada apa yang engkau minta kepadaku. Apabila engkau hendak
tidur, maka bertakbirlah tiga puluh empat kali, bertasbihlah tiga puluh tiga
kali, dan bertahmidlah tiga puluh tiga kali, maka itu lebih baik bagimu
daripada seorang pembantu". [1]
Wahai Ukhti Muslimah !
Inilah wasiat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bagi putrinya yang suci,
Fathimah, seorang pemuka para wanita penghuni sorga. Maka marilah kita
mempelajari apa yang bermanfa'at bagi kehidupan dunia dan akhirat kita dari
wasiat ini.
Fathimah merasa capai karena banyaknya pekerjaan yang harus ditanganinya,
berupa pekerjaan-pekerjaan rumah tangga, terutama pengaruh alat penggiling.
Maka dia pun pergi menemui Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk
meminta seorang pembantu, yakni seorang wanita yang bisa membantunya.
Tatkala Fathimah memasuki rumah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, dia tidak
mendapatkan beliau. Dia hanya mendapatkan Aisyah, Ummul Mukminin. Lalu Fathimah
menyebutkan keperluannya kepada Aisyah. Tatkala beliau tiba, Aisyah mengabarkan
urusan Fathimah.
Beliau mempertimbangkan permintaan Fathimah. Dan, memang beliau mempunyai
beberapa orang tawanan perang, ada pula dari kaum wanitanya. Tetapi
tawanan-tawanan ini akan dijual, dan hasilnya akan disalurkan kepada
orang-orang Muslim yang fakir, yang tidak mempunyai tempat tinggal dan makanan
kecuali dari apa yang diberikan Rasulullah. Lalu beliau pergi ke rumah Ali,
suami Fathimah, yang saat itu keduanya siap hendak tidur. Beliau masuk rumah
Ali dan Fathimah setelah meminta ijin dari keduanya. Tatkala beliau masuk,
keduanya bermaksud hendak berdiri, namun beliau berkata. "Tetaplah engkau di
tempatmu". "Telah dikabarkan kepadaku bahwa engkau datang untuk meminta. Lalu
apakah keperluanmu?".
Fathimah menjawab."Ada kabar yang kudengar bahwa beberapa pembantu telah datang
kepada engkau. Maka aku ingin agar engkau memberiku seorang pembantu untuk
membantuku membuat roti dan adonannya. Karena hal ini sangat berat bagiku".
Beliau berkata. "mengapa engkau tidak datang meminta yang lebih engkau sukai
atau lebih baik dari hal itu ?". Kemudian beliau memberi isyarat kepada
keduanya, bahwa jika keduanya hendak tidur, hendaklah bertasbih kepada Allah,
bertakbir dan bertahmid dengan bilangan tertentu yang disebutkan kepada
keduanya. Lalu akhirnya beliau berkata. "Itu lebih baik bagimu daripada seorang
pembantu".
Ali tidak melupakan wasiat ini, hingga setelah istrinya meninggal. Hal ini
dikatakan Ibnu Abi Laila. "Ali berkata, 'Semenjak aku mendengar dari Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam, aku tidak pernah meninggalkan wasiat itu".
Ada yang bertanya. "Tidak pula pada malam perang Shiffin ?".
Ali menjawab. "Tidak pula pada malam perang Shiffin". [2]
Boleh jadi engkau bertanya-tanya apa hubungan antara pembantu yang diminta
Fathimah dan dzikir ?
Hubungan keduanya sangat jelas bagi orang yang memiliki hati atau pikiran yang
benar-benar sadar. Sebab dzikir bisa memberikan kekuatan kepada orang yang
melakukannya. Bahkan kadang-kadang dia bisa melakukan sesuatu yang tidak pernah
dibayangkan. Di antara manfaat dzikir adalah.
1. Menghilangkan duka dan kekhawatiran dari hati.
2. Mendatangkan kegembiraan dan keceriaan bagi hati.
3. Memberikan rasa nyaman dan kehormatan.
4. Membersihkan hati dari karat, yaitu berupa lalai dan hawa nafsu.
Boleh jadi engkau juga bertanya-tanya, ada dzikir-dzikir lain yang bisa dibaca
sebelum tidur selain ini. Lalu mana yang lebih utama .? Pertanyaan ini dijawab
oleh Al-Qady Iyadh : "Telah diriwayatkan dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam beberapa dzikir sebelum berangkat tidur, yang bisa dipilih menurut
kondisi, situasi dan orang yang mengucapkannya. Dalam semua dzikir itu terdapat
keutamaan".
Secara umum wasiat ini mempunyai faidah yang agung dan banyak manfaat serta
kebaikannya. Inilah yang disebutkan oleh sebagian ulama :
Pertama : Menurut Ibnu Baththal, di dalam hadits ini terkandung hujjah bagi
keutamaan kemiskinan daripada kekayaan. Andaikata kekayaan lebih utama daripada
kemiskinan, tentu beliau akan memberikan pembantu kepada Ali dan Fathimah.
Dzikir yang diajarkan beliau dan tidak memberikan pembantu kepada keduanya,
bisa diketahui bahwa beliau memilihkan yang lebih utama di sisi Allah bagi
keduanya.
Pendapat ini disanggah oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar. Menurutnya, hal ini bisa
berlaku jika beliau mempunyai lebihan pembantu. Sementara sudah disebutkan
dalam pengabaran di atas bahwa beliau merasa perlu untuk menjual para tawanan
itu untuk menafkahi orang-orang miskin. Maka menurut Iyadh, tidak ada sisi
pembuktian dengan hadits ini bahwa orang miskin lebih utama daripada orang kaya.
Ada perbedaan pendapat mengenai makna kebaikan dalam pengabaran ini. Iyadh
berkata. "Menurut zhahirnya, beliau hendak mengajarkan bahwa amal akhirat lebih
utama daripada urusan dunia, seperti apapun keadaannya. Beliau membatasi pada
hal itu, karena tidak memungkinkan bagi beliau untuk memberikan pembantu.
Kemudian beliau mengajarkan dzikir itu, yang bisa mendatangkan pahala yang
lebih utama daripada apa yang diminta keduanya".
Menurut Al-Qurthuby, beliau mengajarkan dzikir kepada keduanya, agar ia menjadi
pengganti dari do'a tatkala keduanya dikejar kebutuhan, atau karena itulah yang
lebih beliau sukai bagi putrinya, sebagaimana hal itu lebih beliau sukai bagi
dirinya, sehingga kesulitannya bisa tertanggulangi dengan kesabaran, dan yang
lebih penting lagi, karena berharap mendapat pahala.
Kedua : Disini dapat disimpulkan tentang upaya mendahulukan pencari ilmu
daripada yang lain terhadap hak seperlima harta rampasan perang.
Ketiga : Hendaklah seseorang menanggung sendiri beban keluarganya dan lebih
mementingkan akhirat daripada dunia kalau memang dia memiliki kemampuan untuk
itu.
Keempat : Di dalam hadits ini terkandung pujian yang nyata bagi Ali dan
Fathimah.
Kelima : Seperti itu pula gambaran kehidupan orang-orang salaf yang shalih,
mayoritas para nabi dan walinya.
Keenam : Disini terkandung pelajaran sikap lemah lembut dan mengasihi anak
putri dan menantu, tanpa harus merepotkan keduanya dan membiarkan keduanya pada
posisi berbaring seperti semula. Bahkan beliau menyusupkan kakinya yang mulia
di antara keduanya, lalu beliau mengajarkan dzikir, sebagai ganti dari pembantu
yang diminta.
Ketujuh : Orang yang banyak dzikir sebelum berangkat tidur, tidak akan merasa
letih. Sebab Fathimah mengeluh letih karena bekerja. Lalu beliau mengajarkan
dzikir itu. Begitulah yang disimpulkan Ibnu Taimiyah. Al-Hafidz Ibnu Hajar
berkata. "Pendapat ini perlu diteliti lagi. Dzikir tidak menghilangkan letih.
Tetapi hal ini bisa ditakwil bahwa orang yang banyak berdzikir, tidak akan
merasa mendapat madharat karena kerjanya yang banyak dan tidak merasa sulit,
meskipun rasa letih itu tetap ada".
Begitulah wahai Ukhti Muslimah, wasiat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang
disampaikan kepada salah seorang pemimpin penghuni sorga, Fathimah, yaitu
berupa kesabaran yang baik. Perhatikanlah bagaimana seorang putri Nabi dan
istri seorang shahabat yang mulia, harus menggiling, membuat adonan roti dan
melaksanakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangganya. Maka mengapa engkau tidak
menirunya ?
[Disalin dari kitab Al-Khamsuna Wasyiyyah Min Washaya Ar-Rasul Shallallahu
'Alaihi Wa Sallam Lin Nisa, Edisi Indonesia Lima Puluh Wasiat Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Bagi Wanita, Pengarang Majdi As-Sayyid Ibrahim,
Penerjemah Kathur Suhardi, Terbitan Pustaka Al-Kautsar]
_______
Footnote
[1]. Hadits Shahih, ditakhrij Al-Bukhari 4/102, Muslim 17/45, Abu Dawud hadits
nomor 5062, At-Tirmidzi hadits nomor 3469, Ahmad 1/96, Al-Baihaqy 7/293
[2]. Ditakhrij Muslim 17/46. Yang dimaksud perang Shiffin di sini adalah perang
antara pihak Ali dan Mu'awiyah di Shiffin, suatu daerah antara Irak dan Syam.
Kedua belah pihak berada di sana beberapa bulan