Kalau boleh turut beri saran.. sebaiknya "ambil hati"/buat suami menjadi sangat 
sayang pada istri. Lalu kalau sudah dapat hatinya, harapannya diajak apapun 
mau, kemudian segera ajak mengaji Syar'i.. agar tahu konsep BirulwaLidain 
berbuat baik pada orang tua, kemudian konsep bahwa suami itu wajib melayani 
istri, istri hanya berkewajiban melayani suami di tempat tidur.. begitu 
seterusnya.. mudah-mudahan Suami dapat segera sadar atas kekeliruannya.. sebab 
bila tidak, dampaknya cukup berat, bila orang tua/mertua sampai sakit hati... 
harus segera mohon maaf dan bertobat.. banyak sudah cerita dan pengalaman ana 
pribadi, bila sampai kita menyakiti hati orang tua/mertua.. kepedihannya bisa 
kita rasakan langsung di dunia ini.. mudah-mudahan ini tidak terjadi pada suami 
anti..
Aamiin..


On Feb 18, 2012 7:35 AM, "ern4_nur" <[email protected]> wrote:

> Assalamu'alaikum,
>
> Saya memiliki persoalan terkait dengan suami. Kebetulan kami masih tinggal
> di rumah orang tua saya sejak awal kami menikah. Alasannya adalah
> penghasilan suami sangat kecil dan lokasi rumah orang tua lebih dekat
> dengan lokasi kantor kami, selain faktor orang tua merasa kesepian bila
> saya keluar dari rumah (note : saya anak tunggal).
>
> Sikap suami bila orang tua saya meminta membantu pekerjaan rumah atau
> ketika saat renovasi ikut bantu tenaga/ ide. Tetapi suami selalu menghindar
> bahkan agak marah, bahkan pernah menjawab dengan nada yang agak tinggi. Hal
> tersebut membuat orang tua saya tersinggung. Bahkan suami pernah beberapa
> kali bilang kalau suami sudah bekerja mencari nafkah dan capek. Dan saya
> sempat tersinggung dengan sikap suami karena saya pun bekerja, apalagi saya
> pernah tanpa sengaja mendengar suami saat berbincang dengan saudara
> kandungnya menyebut orang tua saya pengangguran. Orang tua saya memang
> sudah pensiun dari sebuat perusahaan swasta agak lama, ayah saya usaha
> kecil - kecilan yang mungkin hasilnya tidak seberapa sedangkan ibu juga
> pensiunan sebuah BUMN dan alhamdulillah masih dapat uang pensiun setiap
> bulan meskipun kecil.
>
> Berulang kali setiap bentrok dengan mertua, suami selalu mengajak untuk
> pisah rumah. Alasan saya tidak mengiyakan adalah sikap suami yang tidak mau
> ikut campur dalam urusan pekerjaan rumah tangga yang sifatnya urusan para
> pria, misalkan : memperbaiki genteng yang bocor, kran rusak dll, apalagi
> membantu membersihkan kamar mandi.
>
> Selama menikah juga sikap suami belum mencerminkan sebagai imam keluarga,
> seperti mangajak sholat berjama'ah, mengaji bersama. Jujur saja sejak saya
> menikah, saya merasa takaran ibadah saya menurun drastis, jarang mengaji,
> jarang sholat Tahajud dan sholat sunnah lainnya.
>
> Bagaimanakah sikap yang harus saya ambil dalam menghadapi permasalahan
> tersebut? Posisi saya berada ditengah-tengah, antara suami dan orang tua,
> apalagi kami saat ini juga telah dikaruniai seorang putri.


------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke