Saya ingin memberi sekedar masukan dari sisi seorang suami, mohon maaf jika tidak berkenan.
Sikap ingin keluar dari lingkungan rumah orang tua/mertua bagi seorang suami cukup wajar, sebab seorang suami biasanya akan merasakan kebanggaan tersendiri apabila hasil perjuangannya membuahkan hasil dan membawa kebaikan rumah tangganya (anak-isterinya) dan tidak berada dalam suatu bayang-bayang. Oleh karena itu, salah satu kebutuhan seorang suami adalah adanya penghargaan atas perjuangan yang sudah dan akan dilakukan untuk keluarganya itu. Saya pernah dikasih "nasihat" bahwasanya "perempuan itu hidup di masa lalu". Artinya, dengan pengalaman hidupnya selama ini seorang perempuan tetap akan lebih merasa nyaman hidup/tinggal di lingkungan orang tua. Padahal, "jiwa petualang" seorang laki-laki tidak demikian, ia akan merasa bahwa semakin keras tantangan hidup yang dihadapi (di manapun berada) yang diiringi dukungan kuat seorang isteri, dia akan membawa "kesuksesan" hidup bagi keluarganya. Betul bahwa tanggung jawab menyantuni orang tua yang sudah "sepuh" ada di pundak anaknya. Jika di sana ada anak-anak laki-laki dan perempuan, maka yang terkena tanggung jawab ini adalah anak lelaki, anak perempuan sebatas keridhoan suaminya. Bagaimana dengan anak tunggal? Menurut saya, ini sesungguhnya bagian dari rencana hidup orang tua, bagaimana mereka men-set kehidupan masa tuanya di masa awal berkeluarga, misal merancang berapa jumlah anak, apakah perlu adopsi dsb.dsb. Hemat saya, tanggung jawab itu adanya bertingkat-tingkat, ada tanggung jawab pribadi, tanggung jawab keluarga, dan tanggung jawab keluarga besar, tanggung jawab masyarakat dsb.dsb.. Kita semua terbebani itu dan hendaknya tidak terjadi tumpang tindih, sikap egois dsb. Yang jelas, setelah menikah seorang perempuan akan menjadi tanggung jawab dari suaminya, itu point-nya. Tinggal bagaimana mengkompromikan sehingga kita mendapat keridhoan baik dari suami maupun dari orang tua. Sebagai catatan, seorang teman kantor (laki-laki) bertahun-tahun tinggal bersama mertuanya. Tapi dia meminta syarat rumahnya yang berada di tingkat atas dibuatkan pintu tersendiri sehingga sehari-hari dia dan keluarganya memperoleh privasi yang menjadi haknya. Dan belasan tahun dia masih tetap enjoy. Wassallam / Jaerony.- ----- Original Message ----- From: "Kang As" <[email protected]> To: <[email protected]> Sent: Saturday, February 18, 2012 9:22 AM Subject: Re: [assunnah] Sikap seorang suami terhadap istri dan mertua > Kalau boleh turut beri saran.. sebaiknya "ambil hati"/buat suami menjadi > sangat sayang pada istri. Lalu kalau sudah dapat hatinya, harapannya > diajak apapun mau, kemudian segera ajak mengaji Syar'i.. agar tahu konsep > BirulwaLidain berbuat baik pada orang tua, kemudian konsep bahwa suami itu > wajib melayani istri, istri hanya berkewajiban melayani suami di tempat > tidur.. begitu seterusnya.. mudah-mudahan Suami dapat segera sadar atas > kekeliruannya.. sebab bila tidak, dampaknya cukup berat, bila orang > tua/mertua sampai sakit hati... harus segera mohon maaf dan bertobat.. > banyak sudah cerita dan pengalaman ana pribadi, bila sampai kita menyakiti > hati orang tua/mertua.. kepedihannya bisa kita rasakan langsung di dunia > ini.. mudah-mudahan ini tidak terjadi pada suami anti.. > Aamiin.. > > > On Feb 18, 2012 7:35 AM, "ern4_nur" <[email protected]> wrote: > >> Assalamu'alaikum, >> >> Saya memiliki persoalan terkait dengan suami. Kebetulan kami masih >> tinggal >> di rumah orang tua saya sejak awal kami menikah. Alasannya adalah >> penghasilan suami sangat kecil dan lokasi rumah orang tua lebih dekat >> dengan lokasi kantor kami, selain faktor orang tua merasa kesepian bila >> saya keluar dari rumah (note : saya anak tunggal). >> >> Sikap suami bila orang tua saya meminta membantu pekerjaan rumah atau >> ketika saat renovasi ikut bantu tenaga/ ide. Tetapi suami selalu >> menghindar >> bahkan agak marah, bahkan pernah menjawab dengan nada yang agak tinggi. >> Hal >> tersebut membuat orang tua saya tersinggung. Bahkan suami pernah beberapa >> kali bilang kalau suami sudah bekerja mencari nafkah dan capek. Dan saya >> sempat tersinggung dengan sikap suami karena saya pun bekerja, apalagi >> saya >> pernah tanpa sengaja mendengar suami saat berbincang dengan saudara >> kandungnya menyebut orang tua saya pengangguran. Orang tua saya memang >> sudah pensiun dari sebuat perusahaan swasta agak lama, ayah saya usaha >> kecil - kecilan yang mungkin hasilnya tidak seberapa sedangkan ibu juga >> pensiunan sebuah BUMN dan alhamdulillah masih dapat uang pensiun setiap >> bulan meskipun kecil. >> >> Berulang kali setiap bentrok dengan mertua, suami selalu mengajak untuk >> pisah rumah. Alasan saya tidak mengiyakan adalah sikap suami yang tidak >> mau >> ikut campur dalam urusan pekerjaan rumah tangga yang sifatnya urusan para >> pria, misalkan : memperbaiki genteng yang bocor, kran rusak dll, apalagi >> membantu membersihkan kamar mandi. >> >> Selama menikah juga sikap suami belum mencerminkan sebagai imam keluarga, >> seperti mangajak sholat berjama'ah, mengaji bersama. Jujur saja sejak >> saya >> menikah, saya merasa takaran ibadah saya menurun drastis, jarang mengaji, >> jarang sholat Tahajud dan sholat sunnah lainnya. >> >> Bagaimanakah sikap yang harus saya ambil dalam menghadapi permasalahan >> tersebut? Posisi saya berada ditengah-tengah, antara suami dan orang tua, >> apalagi kami saat ini juga telah dikaruniai seorang putri. > > > ------------------------------------ > > Website anda http://www.almanhaj.or.id > Berhenti berlangganan: [email protected] > Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/ > Yahoo! Groups Links > > > ------------------------------------ Website anda http://www.almanhaj.or.id Berhenti berlangganan: [email protected] Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/assunnah/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
