SECERCAH NASIHAT UNTUK ANDA WAHAI PARA DOKTER
Oleh
Ustadz Abu Abdillah Syahrul Fatwa bin Lukman
http://almanhaj.or.id/content/3239/slash/0
 
Termasuk nikmat Allah atas para hamba-Nya adalah Allah mengajarkan dan 
melebihkan sebagian orang dalam bidang kedokteran. Mereka membantu orang yang 
sakit dan menjadi sebab setelah Allah dalam menyembuhkan orang sakit. Berikut 
ini secercah nasihat yang ingin kami sampaikan kepada segenap saudaraku para 
dokter, sebagai peringatan dan nasihat dalam kebaikan. Terimalah nasihat 
sederhana ini dari saudaramu yang tidak menghendaki kecuali kebaikan. Terimalah 
dengan hati yang lapang, semoga Allah menunjuki kita semua ke jalan yang lurus.

PERTAMA : ALLAH TELAH MELEBIHKANMU
Wahai saudaraku para dokter –semoga Allah menjagamu-. Anda telah diberi nikmat 
oleh Allah dengan nikmat yang banyak. Salah satunya adalah Allah telah 
memilihmu untuk menjadi dokter. Keahlian ini tidak dimiliki oleh semua orang. 
Maka bersyukurlah atas nikmat yang besar ini. Jangan lupa diri. Ingatlah ilmu 
pengetahuan yang kita miliki adalah pemberian Allah. Tidaklah kita ingat bahwa 
dahulu kita tidak mengetahui apa pun? Allah berfirman.

وَأَنْزَلَ اللَّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ 
تَكُنْ تَعْلَمُ ۚ وَكَانَ فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكَ عَظِيمًا

“Dan Allah telah menurunkan kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan 
kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar 
atasmu” [An-Nisa : 113]

Allah berfiman pula

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا 
وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ 
تَشْكُرُونَ

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui 
sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu 
bersyukur” [An-Nahl : 78]

Jadi, ilmu kedokteran yang anda –para dokter- miliki adalah pemberian Allah, 
maka syukurilah dengan cara menggunakan nikmat ilmu tersebut dalam kebaikan.

KEDUA : NIAT YANG SHALIH
Wahai saudaraku para dokter…. Niatkan ketika anda menjalankan tugas dan 
mengobati untuk mencari pahala dari Allah, jangan semata-mata hanya rutinitas 
tugas atau ingin meraih rizki yang melimpah. Niatkan dari tugas mulia ini untuk 
berbuat baik kepada sesama kaum muslimin, jangan tergambar hanya untuk urusan 
dunia. Ingatlah, tugasmu sangat mulia. Ikhlas dalam beramal. Akan tetapi, hal 
itu bukan berarti tidak boleh mengambil upah dalam mengobati. Ambillah gaji 
atau pemberian orang yang sakit, tetapi ingat, jangan membebani hingga si 
pasien merasa berat. Berilah keringanan kepada saudaramu yang sedang tertimpa 
musibah, insya Allah ganjaran yang anda dapat akan lebih besar. Allah berfirman.

وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat 
baik” [Al-Baqarah : 199]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

مَنْ نَفَّسَ مُسلِمٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الذُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ 
كُربَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ فِى 
الدُّنْيَا يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ

“Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, maka 
Allah melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan 
(urusan) atas orang yang kesulitan, maka Allah memudahkan atasnya di dunia dan 
akhirat” [1]

Demikian pula hendaklah anda amanah dalam menjalankan tugas mulia ini. Jangan 
mengatakan kepada pasien harus beli ini dan itu padahal tidak dibutuhkan, atau 
memberi resep obat mahal yang tidak dibutuhkan demi melariskan apotek tempat 
tugasmu. Takutlah kepada Allah dari dusta ketika bertugas. Bantulah saudaramu 
sebelum Allah mencabut kenikmatan ini darimu

KETIGA : KERJAKAN SHALAT KETIKA TIBA WAKTUNYA
Termasuk bentuk syukurmu kepada Allah adalah apabila adzan telah berkumandang 
maka bersegeralah berangkat shalat. Jangan akhirkan shalat, karena anda adalah 
teladan bagi orang-orang yang disekitarmu. Apabila amalan yang sedang anda 
kerjakan di rumah sakit sangat mendesak, seperti sedang operasi pasien dan 
tidak bisa menundanya, maka tidaklah mengapa anda mengakhirkan shalat hingga 
tugasmu selesai, setelah itu bersegeralah shalat. Allah berfirman.

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ 
قَانِتِينَ

“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah 
untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu'” [Al-Baqarah : 238]

KEEMPAT : BELAJAR ILMU AGAMA
Saudaraku, sang dokter..
Mungkin anda sering mendapati pasienmu tidak paham bagaimana tata cara berwudhu 
dan shalatnya orang yang sedang sakit. Maka tugasmu untuk mengajari mereka, 
membimbing mereka bagaimana tetap beribadah ketika sakit. Kewajibanmu wahai 
para dokter untuk belajar ilmu agama, agar anda bisa mengarahkan pasien ke 
jalan yang benar dan beribadah dengan benar pula.

KELIMA : JANGAN BERDUA-DUAAN DENGAN WANITA YANG BUKAN MAHRAM.
Saudaraku, sang dokter…
Terkadang pasienmu adalah seorang wanita. Apabila anda bisa mencari dokter 
wanita yang bisa menanganinya maka itulah yang seharusnya. Akan tetapi, jika 
tidak ada maka tetaplah anda menanganinya dengan didampingi mahram si pasien. 
Jangan hanya berdua-duan dengan pasien wanitamu, karena Rasulullah Shallallahu 
‘alaihi wa sallam bersabda.

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ وَمَعَهَا ذُوْمَحْرَمٍ

“Janganlah seorang laki-laki berdua-duan dengan seorang wanita kecuali bersama 
mahramnya” [2]

Apabila mahram si pasien wanita tidak ada, dan tidak ada pula dokter wanita 
yang lain, maka tetaplah anda mengobati sewajarnya dengan tetap menjaga rasa 
takut kepada Allah. Obatilah seperlunya, jangan tambahi dengan obrolan yang 
keluar batas.

KEENAM : MEMBUKA AURAT WANITA?
Nasihatku selanjutnya, apabila kondisimu terpaksa dan menuntut membuka aurat 
pasien wanitamu, maka bukalah aurat tempat yang sakit yang perlu diobati saja, 
jangan berlebih-lebihan. Ini dibolehkan karena termasuk kondisi darurat. Dan 
darurat itu diukur sekedarnya saja, apabila telah selesai maka tutuplah 
kembali. Takutlah selalu kepada Allah untuk membuka aurat pasien wanita tanpa 
ada kebutuhan yang mendesak.

KETUJUH ; JAGALAH RAHASIA PASIEN
Sebagian pasien ada yang menyampaikan permasalahannya dan menceritakan rahasia 
dan isi hatinya kepada anda. Maka sebagai bentuk amanat sesama muslim, jagalah 
rahasia ini dan berilah solusi yang terbaik dan sesuai dengan kondisinya, 
jangan anda sebarkan aibnya di khalayak manusia. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa 
sallam mengatakan.

آيَةُ اْلمُنَا فِقِ ثَلاَ ثٌ : إِذَا حَدَثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، 
وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

“Tanda-tanda orang munafik ada tiga : apabila berkata dia dusta, apabila 
berjanji dia mengingkari, dan apabila diberi amanat dia khianat” [3]

KEDELAPAN : MENASIHATI DENGAN KEBAIKAN
Apabila anda melihat atau mengetahui bahwa pasienmu tatkala sehat adalah orang 
yang sombong, sering mengganggu orang lain, dan sering berbuat dosa misalnya, 
kemudian sifat ini melemah ketika dia sakit atau bahkan jiwanya menjadi lemah, 
dan berbalik senang menerima nasihat, maka manfaatkanlah peluang emas ini 
dengan menasihatinya secara halus dan baik. Tunjukilah ke jalan kebenaran. 
Semoga ketika sembuh pasienmu menjadi baik dan anda pun meraih pahala yang 
setimpal. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa yang menunjuki kebaikan, maka baginya semisal pahala orang yang 
mengerjakannya” [4]

KESEMBILAN : BERLEMAH LEMBUT KEPADA PASIEN
Barangsiapa anda mendapati di antara pasienmu yang sakit ada yang sulit untuk 
paham anjuranmu, bandel dalam minum obat, sering melanggar pantangan makanan, 
atau banyak bertanya dan lain-lain. Menghadapi watak pasien yang beragam 
seperti ini adalah dengan bersabar dan berlemah lembut kepada mereka. 
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

إِنَّ الرِّفْقَ لاَيَكُوْنُ فِيْ شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ 
شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ

“Tidaklah kelembutan berada dalam sebuah perkara kecuali akan membaguskannya. 
Dan tidaklah dicabut kelembutan dari suatu perkara kecuali akan mengotorinya” 
[5]

Bersabarlah dalam melayani tingkah polah pasienmu yang beragam, berlemah 
lembutlah kepada mereka. Tebarkan senyum, jangan bermuka masam, semoga dengan 
sikapmu seperti ini dapat membantu kesembuhan mereka.

KESEPULUH : SIAP KETIKA DIMINTA KAPANPUN
Nasihatku yang terakhir, bahwa keahlianmu dalam mengobati menuntut agar anda 
selalu siap bila ada orang yang membutuhkanmu. Siap di setiap waktu dan tempat. 
Barangkali dengan kamu bersegera berangkat ketika dimintai bantuan adalah sebab 
–setelah Allah- bagi hidupnya nyawa saudaramu sesama muslim. Ingatlah, mungkin 
dengan selamatnya saudaramu adalah sebab anda meraih pahala karena kebaikan 
yang dia kerjakan ketika sembuh. Renungkanlah selalu firman Allah ini.

مِنْ أَجْلِ ذَٰلِكَ كَتَبْنَا عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَنْ قَتَلَ 
نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ 
جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا ۚ 

“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: 
barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) 
orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan 
dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara 
kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan 
manusia seluruhnya”.[Al-Maidah : 32]

Demikain kajian kita kali ini. Perlu kiranya diketahui bahwa kajian ini 
disarikan dari Rasa’il Ila al-Thabib al-Muslim karya Dr Thoriq bin Muhammad 
al-Khuwaithir dengan beberapa tambahan oleh penulis.

[Disalin dari Majalah Al-Furqon, Edisi 08, Tahun ke-10/Rabi'ul Awal 1432 (Feb - 
2011. Diterbitkan Oleh Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon Al-Islami, Alamat : 
Ma’had Al-Furqon, Srowo Sidayu Gresik Jatim]
_______
Footnote
[1]. HR Muslim 2699
[2]. HR Al-Bukhari : 3006 dan Muslim : 1341
[3]. HR Al-Bukhari : 33 dan Muslim : 59
[4]. HR Muslim : 1893
[5]. HR Muslim : 2594                                     

Kirim email ke