SYARAT PENGOBATAN YANG MANJUR

Oleh
Dr Muhammad Arifin bin Badri MA
http://almanhaj.or.id/content/3240/slash/0


Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada
Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

مَاأَنْزَلَ اللَّه دَاءً إِِلاقَدْأَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً عَلِمَهُ مَنْ
عَلِمَهُ وَجَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ

“Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan telah menurunkan
untuknya obat, hal itu diketahui oleh orang yang mengetahuinya dan
tidak diketahui oleh orang yang tidak mengetahuinya” [1]

Agar suatu pengobatan manjur dan mendatangkan hasil, kita harus
mengindahkan beberapa persyaratan. Dan berikut ini akan saya paparkan
dua syarat utama bagi pengobatan yang manjur.

SYARAT PERTAMA : PENGOBATAN TEPAT
Agar obat yang anda gunakan benar-benar berguna dan manjur, sehingga
penyakit yang anda derita sembuh, pengobatan anda harus tepat.

• Tepat ketika mendiagnosis penyakit yang anda derita
• Tepat memilih obat
• Tepat dalam dosis obat
• Tepat waktu penggunaan
• Tepat dengan menghindari berbagai pantangan dan hal lain yang
menghambat kerja obat.

Bila anda melakukan kesalahan pada satu dari hal-hal tersebut maka
sangat dimungkinkan pengobatan yang anda lakukan tidak akan
mendatangkan hasil sebagaimana diharapkan.

Demikianlah sebagian dari pelajaran yang dapat kita petik dari hadits
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut.

عَنْ جَابِرٍ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَمَ أَنَّهُ قَالَ (لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ فَإِذَاأُصِيبَ
دَوَاءُالدَّاءِ بَرَأَ بِإذْنِ اللَّهِ عَرَّ وَجَلَّ)

“Dari sahabat Jabir Radhiyallahu anhu, dari Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Setiap penyakit ada obatnya, dan
bila telah ditemukan dengan tepat obat suatu penyakit, niscaya akan
sembuh dengan izzin Allah Azza wa Jalla” [HR Muslim]

Ibnul Qayim rahimahullah, mengomentari hadits ini dengan berkata,
“Pada hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaitkan kesembuhan
dengan ketepatan (kecocokan) obat dengan penyakit. Sebab, tidak ada
satu makhlukpun melainkan memiliki lawannya. Dan setiap penyakit pasti
memiliki obat yang menjadi penawarnya, yang dengannya penyakit itu
diobati. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaitkan kesembuhan
dengan ketepatan dalam pengobatan. Ketepatan ini merupakan hal yang
lebih dari sekedar ada atau tidak adanya obat (bagi suatu penyakit,
pen) karena obat suatu penyakit bila melebihi kadar penyakit, baik
pada metode penggunaan atau dosis yang semestinya akan berubah menjadi
penyakit baru. Bila metode penggunaan atau dosis kurang dari yang
semestinya, maka tidak akan mampu melawan penyakit, sehingga
penyembuhannya pun tidak sempurna. Bila seorang dokter salah dalam
memilih obat, atau obat yang ia gunakan tidak tepat sasaran, maka
kesembuhan tak ‘kan kunjung tiba. Bila waktu pengobatan dilakukan
tidak tepat dengan obat tersebut, niscaya obat tidak akan berguna.
Bila badan pasien tidak cocok dengan obat tersebut atau fisiknya tidak
mampu menerima obat tersebut atau ada penghalang yang menghalangi
kerja obat tersebut, niscaya kesembuhan tak kan kunjung tiba. Semua
itu dikarenakan ketidaktepatan dalam pengobatan. Bila pengobatan tepat
dalam segala aspeknya, pasti –dengan izin Allah- kesembuhan akan
diperoleh. Inilah penafsiran terbaik bagi hadits di atas. [2]

Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah mengatakan yang senada dengan
ucapan Ibnul Qayyim, “Pada hadits riwayat sahabat Jabir Radhiyallahu
anhu terdapat isyarat bahwa kesembuhan tergantung pada ketepatan dan
izin Allah. Yang demikian itu dikarenakan suatu obat kadang kala
melebihi batas baik dalam metode penggunaan atau dosisnya, sehingga
obat tersebut tidak manjur, bahkan dimungkinkan obat itu malah
menimbulkan penyakit baru.[3]

SYARAT KEDUA : IZIN ALLAH
Sebagai seorang muslim anda pasti beriman kepada takdir Allah. Anda
mempercayai bahwa segala sesuatu di dunia ini terjadi atas kehendak
dan ketentuan dari Allah Ta’ala.

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut takdir
(ketentuan)” [Al-Qomar : 49]

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرِ (كُلُّ شَيْءٍ بِقَدَرٍ حَتَّى
الْعَجْزِوَالْكَيْسِ)

“Segala sesuatu (terjadi) atas takdir (ketentuan dan kehendak), hingga
rasa malas dan semangat pun (terjadi atas takdir)” [HR Muslim]

Kehendak dan ketentuan Allah ini mencakup segala sesuatu, tidak
terkecuali penyakit dan kesembuhan yang menimpa manusia. Oleh
karenanya, Nabi Ibrahim Alaihissallam berkata sebagaimana dikisahkan
dalam Al-Qur’an.

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

“Dan bila aku sakit, maka Dialah Yang menyembuhkan”. [Asy-Syu’ara : 80]

Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila ada salah seorang
dari anggota keluarganya yang menderita sakit, atau ketika menjenguk
orang yang sedang sakit, beliau mengusapnya dengan tangan kanannya,
sambil berdo’a.

اللَّهُمِ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبْ اْلبَاسَ اشْفِهِ وَأَنْتَ الشَّافِي
لاَشِفَاءَ إِلاشِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَيُغَادِرُسَقَمًا

“Ya Allah, Rabb seluruh manusia, sirnakanlah keluhan, sembuhkanlah
dia, sedangkan Engkau Dzat Penyembuh, tiada kesembuhan melainkan
kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tiada menyisakan penyakit”
[Muttafaqun ‘alaih]

Oleh karenanya, pada hadits Jabir Radhiyallahu anhu di atas, selain
mengaitkan kesembuhan dengan ketepatan dalam pengobatan, Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengaitkannya dengan kehendak
Allah.

“Bila telah ditemukan dengan tepat obat suatu penyakit, niscaya akan
sembuh dengan izin Allah Azza wa Jalla”.

Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata, “Dan pada sabda Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam.

أَنْزَلَ الدَّوَاءَ الَّذِي أَنْزَلَ الْأَدْوَاءَ

“Yang menurunkan obat adalah (Dzat) yang menurunkan penyakit” [4]

Terdapat dalil (yang menjelaskan) bahwa kesembuhan, tidak ada seorang
pun yang mampu menyegerakan kedatangannya, dan tidak seorang pun yang
mengetahui waktu kedatangannya. Sungguh aku telah menyaksikan sebagian
dokter (tabib) yang berusaha mengobati dua orang yang ia anggap
menderita penyakit yang sama. Keduanya ditimpa penyakit pada waktu
yang sama, umur yang sama, berasal dari negeri yang sama, bahkan
kadangkala mereka adalah dua orang saudara kembar, dan makanan mereka
pun sama. Sebab itu, dokter tersebut mengobati keduanya dengan obat
yang sama. Akan tetapi, salah satunya sembuh, sedangkan yang lain
malah mati atau penyakitnya berkepanjangan. Orang kedua itu baru
sembuh setelah sekian lama, yaitu tiba waktu yang telah Allah tentukan
kesembuhannya”. [5]

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata, “Di antara pelajaran yang
terkandung dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

َلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ وَجَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ

“Obat itu diketahui oleh orang yang mengetahuinya dan tidak diketahui
oleh orang yang tidak mengetahuinya”

(Di antara pelajaran tersebut ialah) apa yang dialami oleh sebagian
pasien. Ia berobat dari suatu penyakit dengan suatu obat lalu ia
sembuh. Kemudian pada lain waktu ia ditimpa oleh penyakit yang sama,
lalu ia pun berobat dengan obat yang sama, tetapi obat itu tidak
manjur. Penyebab terjadinya hal semacam ini adalah kebodohannya
(ketidaktahuannya) tentang sebagian karakter obat tersebut. Mungkin
saja ada dua penyakit yang serupa, sedangkan salah satunya terdiri
dari beberapa penyebab (penyakit/komplikasi), sehingga tidak dapat
diobati dengan obat yang telah terbukti manjur untuk mengobati
penyakit yang tidak komplikasi, di sinilah letak kesalahannya. Dan
kadang kala kedua penyakit tersebut sama, tetapi Allah menghendaki
untuk tidak sembuh, maka obat itu pun tidak manjur, dan saat itulah
runtuh keangkuhan para tabib (dokter).[6]

Penjelasan diatas membantah praduga atau pemahaman sebagian orang
bahwa bila suatu hal telah dinyatakan sebagai obat bagi suatu penyakit
maka harus pasti manjur dan penyakit sirna. Atau, apabila imunisasi
terhadap suatu penyakit telah diberikan maka anak kita pasti kebal dan
terhindar dari penyakit tersebut. Sadarlah wahai saudaraku, semua yang
kita lakukan dan kita upayakan hanyalah sebatas usaha sedangkan Allah
yang menentukan dan menakdirkan. Dahulu dinyatakan.

إِذَا وَقَعَ الْقَدَرُ بَطَلَ الحَذَرُ

“Bila takdir telah datang maka sirnalah kehati-hatian”

Maksudnya, bila Allah telah menentukan suatu penyakit menimpa
seseorang, atau bila ajal telah datang maka berbagai upaya yang
ditempuh manusia untuk menghindari tidak lagi berguna, dan kehendak
Allah lah yang pasti terjadi. Aqidah dan keyakinan ini tidak boleh
kita lupakan kapan pun kita berada, serta apa pun profesi kita.
Kaitannya dengan proses pengobatan setiap penyakit yang kita derita,
maka dapat dirangkum dalam beberapa hal berikut.

1. Hendaknya kita yakin, bahwa yang menciptakan penyakit adalah Allah,
dan yang menentukan bahwa penyakit tersebut menimpa kita adalah Allah.
Kita tidak perlu berkeluh kesah, kita menerima semuanya dengan lapang
dada. Percayalah bahwa dibalik penyakit tersebut pasti tersimpan
beribu-ribu hikmah. Dengan cara ini, apapun yang kita alami akan
mendatangkan kebaikan bagi kita, baik di dunia ataupun di akhirat.

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ
ذَاكَ لأَحَدٍ إلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنَّ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ
فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ
خَيْرًا لَهُ

“Sungguh mengherankan urusan seorang yang beriman, sesungguhnya segala
urusannya baik, dan hal itu tidaklah dimiliki melainkan oleh orang
yang beriman. Bila ia ditimpa kesenangan, ia bersyukur, maka
kesenangan itu menjadi baik baginya. Dan bila ia ditimpa kesusahan, ia
bersabar, maka kesusahan itu baik baginya” [HR Muslim]

2. Hal selanjutnya yang hendaknya kita lakukan ialah memohon
kesembuhan kepada Allah, menumbuhkan keimanan dan keyakinan bahwa
hanya Allah lah yang dapat menyembuhkan penyakit kita. Oleh karenanya,
Rasulullah Shallallahui ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada umatnya
do’a

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأسَ اشْفِهِ وَأَنْتَ الشَّافِي
لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا

“Ya Allah, Rabb seluruh manusia, sirnakanlah keluhan, sembuhkanlah
dia, sedangkan Engkaulah Penyembuh, tiada kesembuhan melainan
kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tiada menyisakan penyakit”

Kita sering melupakan hal ini. Bahkan, sering kali do’a menjadi upaya
terakhir yang kita lakukan dalam upaya penyembuhan, atau hanya kita
lakukan bila tenaga medis telah kesulitan, atau kita telah
mengeluarkan banyak biaya sehingga rasa putus asa telah menyelimuti
sanubari dan –mungkin juga- dengan penuh keraguan kita berdo’a memohon
kesembuhan kepada Allah, sambil berkata, “Siapa tahu do’a kita
dikabulkan”. Subhanallah, dengan tenaga medis kita optimis, akan
tetapi dengan kekuasaan Allah kita ragu, sehingga kita berkata “Siapa
tahu do’a kita dikabulkan”?

[Disalin dari Majalah Al-Furqon, Edisi 08, Tahun ke-10/Rabi'ul Awal
1432 (Feb - 2011. Diterbitkan Oleh Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon
Al-Islami, Alamat : Ma’had Al-Furqon, Srowo Sidayu Gresik Jatim]
_______
Footnote
[1]. Riwayat Ahmad, dinyatakan shahih oleh Al-Hakim
[2]. Zad Al-Ma’ad 4/14-15
[3]. Fath Al-Bari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani 10/135
[4]. Riwayat Al-Imam Malik dan lainnya
[5]. Al-Tamhid karya Ibnu Abdil Barr 5/264
[6]. Ibid


------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke