From: [email protected]
Date: Fri, 1 Jun 2012 16:04:08 +0800 





Assalamualaikum,

Seperti yang kita tahu, klo 3 hal yang pahala amalannya tidak akan putus-putus 
yaitu shodaqoh jariyah, anak sholeh yg mendo'akan orang tuanya & ilmu yang 
bermanfaat. Yang saya ingin tanyakan, ilmu apa dan ilmu yang bagaimankah yang 
diberikan kepada orang lain seingga dimasukkan kedalam kategori amal jariyah? 
Terimakasih atas jawabannya,.

jazakumullah,.
nurjanah 
>>>>>>>>
 
Secara bahasa اَلْعِلْمُ (al-‘ilmu) adalah lawan dari اَلْجَهْلُ (al-jahl atau 
kebodohan), yaitu mengetahui sesuatu sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, 
dengan pengetahuan yang pasti.

Secara istilah dijelaskan oleh sebagian ulama bahwa ilmu adalah ma’rifah 
(pengetahuan) sebagai lawan dari al-jahl (kebodohan). Menurut ulama lainnya 
ilmu itu lebih jelas dari apa yang diketahui.

Adapun ilmu yang kita maksud adalah ilmu syar’i, yaitu ilmu yang diturunkan 
oleh Allah Ta’ala kepada Rasul-Nya berupa keterangan dan petunjuk. Maka, ilmu 
yang di dalamnya terkandung pujian dan sanjungan adalah ilmu wahyu, yaitu ilmu 
yang diturunkan oleh Allah saja. [1] Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam 
bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ وَإِنَّمَا أَنَا 
قَاسِمٌ وَاللهُ يُعْطِي، وَلَنْ تَزَالَ هَذِهِ الْأُمَّةُ قَائِمَةً عَلَى 
أَمْرِ اللهِ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ.

“Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, Dia akan menjadikannya faham 
tentang agamanya. Sesungguhnya aku hanyalah yang membagikan dan Allah-lah yang 
memberi. Dan ummat ini akan senantiasa tegak di atas perintah Allah, tidak akan 
membahayakan mereka orang-orang yang menyelisihi mereka hingga datangnya 
keputusan Allah (hari Kiamat).”[2]

Imam al-Auza’i (wafat th. 157 H) rahimahullaah mengatakan, “Ilmu adalah apa 
yang berasal dari para Shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Adapun 
yang datang bukan dari seseorang dari mereka, maka itu bukan ilmu.” [3]

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullaah mengatakan, “Ilmu adalah 
mengetahui sesuatu dengan pengetahuan yang sebenarnya.
Selengkapnya baca di http://almanhaj.or.id/content/2308/slash/0
Pengertian Ilmu Yang Bermanfaat ; http://almanhaj.or.id/content/2309/slash/0
Tanda-Tanda Ilmu Yang Bermanfaat : http://almanhaj.or.id/content/2310/slash/0
 
12. Pahala Ilmu Yang Diajarkan Akan Tetap Mengalir Meskipun Pemiliknya Telah 
Meninggal Dunia
Disebutkan dalam Shahiih Muslim, dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallaahu 
‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلاَثٍ: صَدَقَةٌ 
جَارِيَةٌ، وَعِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ، وَ وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ.

“Jika seorang manusia meninggal dunia, maka pahala amalnya terputus, kecuali 
tiga hal: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang 
mendo’akannya.” [34]

Hadits ini adalah dalil terkuat tentang keutamaan dan kemuliaan ilmu serta 
besarnya buah dari ilmu. Sesungguhnya pahala ilmu tetap diterima oleh orang 
yang bersangkutan selama ilmunya diamalkan orang lain. Seolah-olah ia tetap 
hidup dan amalnya tidak terputus. Ini disamping kenangan dan sanjungan yang 
dialamatkan kepadanya. Tetap mengalirnya pahala untuk dirinya pada saat pahala 
amal perbuatan telah terputus dari manusia adalah kehidupan kedua baginya.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam hanya mengkhususkan ketiga hal di 
atas yang pahalanya tetap diterima oleh si mayit karena ia (si mayit) adalah 
penyebab keberadaan ketiga hal tersebut. Karena ia menjadi sebab terbentuknya 
anak shalih, shadaqah jariyah, dan ilmu yang bermanfaat, maka pahalanya tetap 
mengalir kepadanya. Seorang hamba mendapatkan pahala karena tindakannya 
langsung atau tindakan yang dilahirkan (tindakan tidak langsung) darinya. Kedua 
prinsip ini disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya.

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ لَا يُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلَا نَصَبٌ وَلَا مَخْمَصَةٌ فِي 
سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَطَئُونَ مَوْطِئًا يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلَا يَنَالُونَ 
مِنْ عَدُوٍّ نَيْلًا إِلَّا كُتِبَ لَهُمْ بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ ۚ إِنَّ اللَّهَ 
لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

“Yang demikian itu ialah karena mereka (para Mujahidin) tidak ditimpa kehausan, 
kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah. Dan tidak (pula) menginjak suatu 
tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan suatu 
bencana kepada musuh, kecuali (semua) itu akan dituliskan bagi mereka sebagai 
suatu amal shalih. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang 
yang berbuat baik.” [At-Taubah: 120]

Kesemua hal di atas lahir dari tindakan mereka dan tidak ditakdirkan bagi 
mereka. Yang ditakdirkan bagi mereka ialah sebab-sebabnya yang mereka lakukan 
secara langsung. Maksudnya, bahwa haus, payah, lapar, dan membangkitkan amarah 
musuh bukanlah karena (sengaja) mereka lakukan demikian, lalu ditulis jadi amal 
shalih. Akan tetapi, hal ini timbul dari perbuatan mereka (yaitu jihad fi 
sabilillaah) karena itu ditulis bagi mereka sebagai amal shalih. [35]
Selengkapnya baca di http://almanhaj.or.id/content/2311/slash/0
 
Wallahu Ta'ala a'lam




                                          

Kirim email ke