HARAMNYA DURHAKA KEPADA KEDUA ORANG TUA
Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
http://almanhaj.or.id/content/544/slash/0
Imam Bukhari meriwayatkan dalam Kitabul Adab dari jalan Abi Bakrah Radhiyallahu
'anhu, telah bersabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
أَلاَ أُنَبِّئُكُم بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ؟ ثَلاَثًا قُلْنَا : بَلَى يَا
رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ : أَلأِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ،
وَكَانَ مُتَّكِئًا فَجَلَسَ فَقَالَ: أَلاَ وَقَوْلُ الزُّورِ، وَشَهَادَةُ
الزُّوُرِ، فَمَازَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا : لَيْتَهُ سَكَتَ
Maukah aku beritahukan kepadamu sebesar-besar dosa yang paling besar, tiga kali
(beliau ulangi). Sahabat berkata, 'Baiklah, ya Rasulullah', bersabda Nabi.
"Menyekutukan Allah, dan durhaka kepada kedua orang tua, serta camkanlah, dan
saksi palsu dan perkataan bohong". Maka Nabi selalu megulangi, "Dan persaksian
palsu", sehingga kami berkata, "semoga Nabi diam" [Hadits Riwayat Bukhari
3/151-152 -Fathul Baari 5/261 No. 2654, dan Muslim 87]
Dari hadits di atas dapat diketahui bahwa dosa besar yang paling besar setelah
syirik adalah uququl walidain (durhaka kepda kedua orang tua). Dalam riwayat
lain Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda bahwa diantara dosa-dosa besar
yaitu menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua, membunuh diri, dan
sumpah palsu [Riwayat Bukhari dalam Fathul Baari 11/555]. Kemudian diantara
dosa-dosa besar yang paling besar adalah seorang melaknat kedua orang tuanya
[Hadits Riwayat Imam Bukhari]
Dari Mughirah bin Syu'bah Radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda.
إِنَّاللَّهَ تَعَالَى حَرَّمَ عَلَيْكُمْ عُقُوقَ اْللأَمَّهَاتِ، وَمَنْعًا
وَهَاتِ وَوَأْدَ اْلبَنَاتِ، وَكَرِهَ لَكُمْ قِيْلَ وَقَالَ، وَكَشْرَةَ
اْلسُّؤَالِ، إِضَاعَةَ اْلمَالِ
"Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kamu, durhaka pada ibu dan menolak
kewajiban, dan minta yang bukan haknya, dan membunuh anak hidup-hidup, dan
Allah membenci padamu banyak bicara, dan banyak bertanya demikian pula
memboroskan harta (menghamburkan kekayaan)" [Hadits Riwayat Bukhari (Fathul
Baari 10/405 No. 5975) Muslim No. 1715 912)]
Hadits ini adalah salah satu hadits yang melarang seorang anak berbuat durhaka
kepada kedua orang tuanya. Seorang anak yang berbuat durhaka berarti dia tidak
masuk surga dengan sebab durhaka kepada kedua orang tuanya, sebagaimana hadits
dari Abu Darda bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ عَاقٌ وَلاَ مُدْمِنُ خَمْرٍ وَلاَ مُكَذِّبٌ باْلقَدَرِ
"Tidak masuk surga anak yang durhaka, pe,imu, khamr (minuman keras) dan orang
yang mendustakan qadar" [Hadits Riwayat Ahmad 6/441 dan di Hasankan oleh
Al-Albani dalam Silsilah Hadits Shahihnya 675]
Diantara bentuk durhaka (uquq) adalah :
1. Menimbulkan gangguan terhadap orang tua baik berupa perkataan (ucapan)
ataupun perbuatan yang membuat orang tua sedih dan sakit hati.
2. Berkata 'ah' dan tidak memenuhi panggilan orang tua.
3. Membentak atau menghardik orang tua.
4. Bakhil, tidak mengurusi orang tuanya bahkan lebih mementingkan yang lain
dari pada mengurusi orang tuanya padahal orang tuanya sangat membutuhkan.
Seandainya memberi nafkah pun, dilakukan dengan penuh perhitungan.
5. Bermuka masam dan cemberut dihadapan orang tua, merendahkan orang tua,
mengatakan bodoh, 'kolot' dan lain-lain.
6. Menyuruh orang tua, misalnya menyapu, mencuci atau menyiapkan makanan.
Pekerjaan tersebut sangat tidak pantas bagi orang tua, terutama jika mereka
sudah tua atau lemah. Tetapi jika 'Si Ibu" melakukan pekerjaan tersebut dengan
kemauannya sendiri maka tidak mengapa dan karena itu anak harus berterima kasih.
7. Menyebut kejelekan orang tua di hadapan orang banyak atau mencemarkan nama
baik orang tua.
8. Memasukkan kemungkaran kedalam rumah misalnya alat musik, mengisap rokok,
dll.
9. Mendahulukan taat kepada istri dari pada orang tua. Bahkan ada sebagian
orang dengan teganya mengusir ibunya demi menuruti kemauan istrinya.
Na'udzubillah.
10. Malu mengakui orang tuanya. Sebagian orang merasa malu dengan keberadaan
orang tua dan tempat tinggalnya ketika status sosialnya meningkat. Tidak
diragukan lagi, sikap semacam ini adalah sikap yang amat tercela, bahkan
termasuk kedurhakaan yang keji dan nista.
Semuanya itu termasuk bentuk-bentuk kedurhakaan kepada kedua orang tua. Oleh
karena itu kita harus berhati-hati dan membedakan dalam berkata dan berbuat
kepada kedua orang tua dengan kepada orang lain.
Akibat dari durhaka kepada kedua orang tua akan dirasakan di dunia. Dalam
hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad, Abu Daud dan
Tirmidzi dari sahabat dari Abi Bakrah Radhiyallahu 'anhu mengatakan bahwa Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata.
مَا مِنْ ذَنْبِ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ تَعَالَى لِصَاحِبِهِ
الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا مَعَ مَا يَدَّخِرُلَهُ فِى اْلآخِرَةِ مِنَ
اْلبَغْىِ و قَطِيْعَةِ الرَّحِمِ
"Tidak ada dosa yang Allah cepatkan adzabnya kepada pelakunya di dunia ini dan
Allah juga akan mengadzabnya di akhirat yang pertama adalah berlaku zhalim,
kedua memutuskan silaturahmi" [Hadits Riwayat Bukhari dalam Adabul Mufrad
(Shahih Adabul Mufrad No. 23), Abu Dawud (4902), Tirmidzi (2511), Ibnu Majah
(4211). Ahmad 5/36 & 38, Hakim 2/356 & 4/162-163, Tirmidzi berkata, "Hadits
Hasan Shahih", kata Al-Hakim, 'Shahih Sanadnya", Imam Dzahabi menyetujuinya]
Dalam hadits lain dikatakan.
بَابَانِ مُعَجَّلاَنِ عُقُو بَتُهُمَا فِى الدُّنْيَا الْبَغْىُ وَ الْعُقُوقُ
"Dua perbuatan dosa yang Allah cepatkan adzabnya (siksanya) di dunia yaitu
berbuat zhalim dan al'uquq (durhaka kepdada orang tua)" [Hadits Riwayat Hakim
4/177 dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu] [1]
Keridlaan orang tua harus kita dahulukan dari pada keridlaan istri dan anak.
Karena Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan anak yang durhaka akan
diadzab di dunia dan di akhirat serta tidak akan masuk surga dan Allah tidak
akan melihatnya pada hari kiamat.
Sedangkan dalam lafadz yang lain diriwayatkan oleh Imam Baihaqi, Hakim, Ahmad
dan juga yang lainnya, dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu 'anhu berkata,
'Telah berkata Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
ثَلاَثَةٌ لاَ يَدْ خُلُونَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ : اْلعَاقُّ لِوَالِدَيْهِ، وَالْمَرْأَةُ الْمُتَرَجِّلَةُ
اَلْمُتَشَبِّهَةُ بِالرِّجَالِ والدُّيُوثُ
"Ada tiga golongan yang tidak akan masuk surga dan Allah tidak akan melihat
mereka pada hari kiamat yakni anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya,
perempuan yang menyerupai laki-laki dan kepala rumah tangga yang membiarkan
adanya kejelekan (zina) dalam rumah tangganya" [Hadits Riwayat Hakim, Baihaqi,
Ahmad 2/134]
Jadi, salah satu yang menyebabkan seseorang tidak masuk surga adalah durhaka
kepada kedua orang tuanya.
Dapat kita lihat bahwa orang yang durhaka kepada orang tuanya hidupnya tidak
berkah dan selalu mengalami berbagai macam kesulitan. Kalaupun orang tersebut
kaya maka kekayaannya tidak akan menjadikannya bahagia.
Seandainya ada seorang anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya kemudian
kedua orang tuanya tersebut mendo'akan kejelekan, maka do'a kedua orang tua
tersebut bisa dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sebab dalam hadits
yang shahih dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, 'Telah berkata Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ، لاَشَكِّ فِيْهِنَّ : دَعْوَةُاْلوَالِدِ عَلَى
وَلَدِهِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
"Ada tiga do'a yang dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala -yang tidak
diragukan tentang do'a ini-, yang pertama yaitu do'a kedua orang tua terhadap
anaknya yang kedua do'a orang yang musafir -yang sedang dalam perjalanan-, yang
ketiga do'a orang yang dizhalimi" [Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari
dalam Adabaul Mufrad, Abu Dawud, dan Tirmidzi] [2]
Sedangkan sebab-sebab anak durhaka kepada orang tua adalah :
1. Karena kebodohan
2. Jeleknya pendidikan orang tua dalam mendidik anak
3. Paradok, orang tua menyuruh anak berbuat baik tapi orang tua tidak berbuat.
4. Bapak dan ibunya dahulu pernah durhaka kepada orang tua sehingga dibalas
oleh anaknya.
5. Orang tua tidak membantu anak dalam berbuat kebajikan
6. Jeleknya akhlak istri.
Banyak sekali riwayat yang shahih yang menjelaskan tentang akibat buruk dari
durhaka kepada orang tua di dunia maupun di akhirat. Ada juga kisah-kisah nyata
tentang adzab (siksa) dari anak yang durhaka, dari kisah tersebut ada yang
shahih ada juga yang dla'if (lemah). Diantara kisah yang dla'if yang sering
dibawakan oleh para khatib (penceramah) yaitu kisah Al-Qamah yang durhaka
kepada ibunya sampai mau dibakar oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam hingga
ibunya mema'afkannya. Akan tetapi kisah ini dla'if dilemahkan oleh para ulama
ahli hadits [3].
[Disalin dari Kitab Birrul Walidain, edisi Indonesia Berbakti Kepada Kedua
Orang Tua, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Darul Qolam. Komplek
Depkes Jl. Raya Rawa Bambu Blok A2, Pasar Minggu - Jakarta. Cetakan I Th 1422H
/2002M]
________
Footenote
[1] Hadits Riwayat Bukhari dalam tarikh dan Thabrani dalam Mu'jam Kabir dari
Abu Bakrah. Diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Kitabnya Al-Mustadrak dari sahabat
Anas. Lihat Silsilah Shahihah No. 1120 dan Shahih Jami'us Shagir No. 137 dan
2810.
[2] Hadits Riwayat Bukhari dalam Adabul Mufrad (Shahih Adabul Mufrad No. 24,
372), Abu Dawud 1536, Tirmidzi 1905, 3448, Ibnu Majah 3826, Ibnu Hibban 2406,
At-Thayalishi 2517 dan Ahmad 2/258, 348, 478, 517, 523. Lihat Silsilah Hadits
As-Shahihah No. 596
[3] Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Thabrani dan Ahmad dengan ringkas dalam
sanadnya ada Fayid Abul Warqa' dia matruk (Majmuz Zawaaid 8/148), kata Ibnul
Jauzi, "Hadits ini tidak shah dari Rasulullah karena dalam sanadnya ada Fayid
Abu Warqa" Imam Ahmad berkata, "Ia matrukul hadits", Ibnu Hibban berkata,
"Tidak boleh berhujjah dengannya". Kata Imam Abu Hatim, "Ia sering dusta"
[Lihat Al-Maudluu'at, Ibnul Jauzi juz 3 hal 87]