Berkaitan dengan pernyataan akh Poniman di bawah, Selama ini, yang saya pahami, tidak bisa sembarangan mengklaim bahwa shalawat ini atau itu adalah *shalawat bid'ah* HANYA karena tidak ada teks/ nash yang shahih dari Nabi. Misal : shallallohu 'ala khairi khalqihi Muhammadin wa sallama tasliman katsira atau dalam bahasa Indonesia : Misal : Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad.... dll
Apakah shalawat di atas serta merta "bid'ah" hanya karena tidak ada nash-nya dari Nabi? Bukankah para ulama seringkali dalam muqaddimah kitab yang mereka tulis, menyebutkan lafadz shalawat yang beraneka ragam? Yang saya pahami, lafadz shalawat dianggap bid'ah apabila dikhususkan dengan pahala tertentu, bilangan tertentu, waktu tertentu dan ketentuan2 lain yang pada akhirnya orang akan menganggap dan meyakini adanya keutamaan tertentu dengan bacaan shalawat tersebut. Mohon koreksi dan tambahan faidah dari ikhwati.... Allohu a'lam Pada 12 Juni 2012 11:40, poniman <[email protected]> menulis: > ** > > > BakAllahulakum, > > Apakah bisa disimpulkan bahwa kalimat shalawat secara ringkas ini > ("Shallahu 'alaihi wa sallam") pertama kali di pakai /ditulis di kitab oleh > ulama2 salaf, artinya sebelum itu belum di pakai (di gunakan) > Mohon maaf, soalnya saya ga bisa menjawab di saat ada orang yang > meng_claim bahwa ada shalawat ini/itu....yg banyak sekali. > Dan isaat kita berhujjah itu shalawat bid'ah....malah di jawab bahwa > shalawat dengan kalimat "Shallahu 'alaihi wa sallam" juga bid'ah, karena > jaman nabi dan shahabat belum ada shalawat dengan ringkas seperti itu... > > >
