BERSAMA ORANG TUA MENUJU SURGA

Oleh
Ustadz Abu Minhal
http://almanhaj.or.id/content/3348/slash/0/bersama-orang-tua-menuju-surga/


وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ
أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ
مِنْ شَيْءٍ ۚ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti
mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka,
dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka.
Tiap-tiap manusia terikat dengan apayang dikerjakannya.
[ath-Thûr/52:21]

PENJELASAN AYAT
Kenikmatan Ahli Jannah, Hidup Bersama Anak-Anak Mereka
Ayat di atas berbicara tentang salah satu kenikmatan sangat
menyenangkan, yang diraih oleh penghuni surga (ahlul-jannah). Karunia
yang tidak hanya direguk oleh para wali-Nya di surga. Yakni hidup
bersama-sama dengan keturunan mereka, meskipun amalan shalih anak
keturunan mereka tidak sepadan dengan orang tuanya baik dalam hal
kualitas maupun kuantitas.

Dengan ini, pandangan orang tua tersebut menjadi sejuk damai,
kebahagiaan mereka kian tak terkira, dan kegembiraan pun semakin
sempurna. Suasana menyenangkan ini lantaran Allah Subhanahu wa Ta’ala
telah menyatukannya kembali dengan anak keturunan mereka. Itu
merupakan takrimah (penghargaan), ganjaran dan tambahan pahala dari
Allah Subhanahu wa Ta’ala . [1]

Sungguh, benar-benar sebuah kenikmatan yang membahagiakan, manakala
orang tua berjumpa kembali dengan anak-anaknya. Suatu kenikmatan yang
sangat besar. Kemurahan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sangat luas.
Namun, persyaratan yang harus ada, yaitu anak-anak mereka juga beriman
kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, sebagaimana tercantum
secara jelas dalam ayat.

Perhatikan keterangan Imam Ibnu Katsir rahimahullah tentang ayat di
atas berikut ini.

Beliau berkata: "Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan mengenai
keutamaan, kemurahan, kenikmatan dan kelembutan-Nya, serta curahan
kebaikan-Nya kepada makhluk. Bahwa kaum mukminin, bila keturunan
mereka mengikuti dalam keimanan (sebagaimana keimanan orang tua
mereka), niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menempatkan anak-anak
yang beriman ini ke derajat orang tua mereka, kendatipun amalan-amalan
shalih mereka (anak-anak yang beriman) itu tidak sebanding dengan
amalan para orang tuanya itu. Supaya pandangan para orang tua menjadi
damai sejuk dengan kebersamaan anak-anaknya di tempat yang sama.
Lantas, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatukan mereka dalam kondisi
terbaik. Anak yang kurang amalannya terangkat oleh orang tuanya yang
sempurna amalannya. Hal ini tidak mengurangi sedikit pun amalan dan
derajatnya, meskipun mereka berdua akhirnya berada di tempat yang
sama.[2]

Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ

(dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka).

Imam al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan: Kami tidak mengurangi
pahala amalan anak-anak lantaran sedikitnya amalan mereka. Dan pula,
tidak mengurangi pahala para orang tua sedikit pun, meskipun
menempatkan keturunan mereka bersama dengan orang tua mereka (yang
berada di derajat yang lebih tinggi, Pen.).[3]

Atau dengan pengertian lain, seperti diungkapkan oleh Imam
ath-Thabari: Kami tidak mengurangi ganjaran kebaikan mereka sedikit
pun dengan mengambilnya dari mereka (para orang tua) untuk kemudian
Kami tambahkan bagi anak-anak mereka yang Kami tempatkan bersama
mereka. Akan tetapi, Kami beri mereka pahala dengan penuh, dan
(lantas) Kami susulkan anak-anak mereka ke tempat-tempat mereka (para
orang tua) atas kemurahan Kami bagi mereka.[4]

Demikianlah, kemurahan dan keutamaan yang diraih anak-anak melalui
keberkahan amalan para orang tua. Adapun keutamaan dan kemurahan yang
dilimpahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para orang tua melalui
doa anak-anaknya, tertuang pada hadits yang diriwayatkan oleh Abu
Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ
فِيْ الْجَنَّةِ فَيَقُوْلُ : يَا رَبِّ أَنىَّ لِيْ هَذِهِ ؟ فَيَقُوْلُ
: بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

"Sungguh, Allah benar-benar mengangkat derajat seorang hamba-Nya yang
shalih di surga," maka ia pun bertanya: "Wahai Rabbku, bagaimana ini
bisa terjadi?" Allah menjawab: “Berkat istighfar anakmu bagi
dirimu”.[5]

Hadits ini diperkuat oleh hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu
dalam Shahîh Muslim:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ
ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ
أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Ketika seorang manusia meninggal, maka putuslah amalannya darinya
kecuali dari tiga hal, (yaitu) sedekah (amal) jariyah, atau ilmu yang
dimanfaatkan, dan anak shalih yang mendoakannya.

Setiap Manusia Terikat Oleh Amalannya

Firman Allah:

كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

(tiap-tiap manusia terikat dengan apayang dikerjakannya), mengandung
pemberitahuan mengenai keadilan Allah. Bahwa pada hari kiamat kelak,
setiap jiwa akan terikat dengan amalnya. Akan mendapat pembalasan
berdasarkan amalnya itu. Kalau amalnya baik, maka balasannya baik
pula. Sebaliknya, bila amalannya buruk, maka akibat balasan yang
diterimanya pun buruk.

Hanya saja, Allah Subhanahu wa Ta’ala melimpahkan kemurahan-Nya kepada
para orang tua, yaitu dengan bentuk mengangkat derajat
keturunan-keturunan mereka ke tingkatan mereka sebagai wujud curahan
kebaikan dari-Nya, tanpa adanya amalan dilakukan oleh anak
keturunannya itu.[6]

Imam al-Qurthubi membawakan beberapa pengertian ayat ini dari
keterangan para ulama. Yang pertama, ayat ini berbicara tentang
penghuni neraka.

Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhuma berkata:
Para penghuni neraka Jahannam terkungkung oleh amalan (buruk) mereka.
Sementara itu, para penghuni surga menuju kenikmatan. Hal ini serupa
kandungan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ إِلَّا أَصْحَابَ الْيَمِينِ فِي
جَنَّاتٍ يَتَسَاءَلُونَ عَنِ الْمُجْرِمِينَ

Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya,
kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka tanya-menanya,
tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa. [al-Muddatstsir/74:38-41].

Kandungan ayat ini juga bersifat umum, berlaku bagi setiap manusia.
Yang ia terikat dengan tindak-tanduknya. Ia tidak dikenai pengurangan
pahala dari amalan baiknya. Adapun bertambahnya pahala, ialah karena
kemurahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala .

Menurut penjelasan lainnya, pengertian ayat ini dimaksudkan kepada
anak keturunan yang tidak beriman. Sehingga, lantaran tak beriman,
maka anak-anak keturunannya itu tidak bisa mencapai derajat seperti
yang diraih oleh orang tua mereka yang beriman, dan akan tetap
terkungkung oleh kekufurannya.[7]

Berbeda dengan keterangan-keterangan di atas, Syaikh as-Sa'di
berpendapat, penggalan ayat ini ditujukan untuk menghilangkan
prasangka bahwa anak-anak penghuni neraka (ahlun-nar) pun mengalami
hal serupa. Yaitu akan berada di tempat yang sama dengan orang tua
mereka. Lantas Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa keadaannya
tidak demikian. Dalam masalah ini, tidaklah sama kondisi antara surga
dan neraka. Neraka adalah tempat penegakan keadilan. Sehingga Allah
Subhanahu wa Ta’ala tidak akan mengadzab seseorang kecuali dengan
perbuatan dosanya. Seseorang juga tidak memikul dosa orang lain.[8]

PELAJARAN DARI AYAT
1. Besarnya keutamaan dan kemurahan Allah kepada para hamba-Nya, kaum mukminin.
2. Penetapan adanya hari Pembalasan dan Kebangkitan.
3. Keutamaan iman dan kemuliaan para ahlinya di sisi Allah Subhanahu
wa Ta’ala yang menyebabkan anak keturunannya yang memiliki amalan
sedikit dapat dipersatukan dengan para orang tua mereka yang memiliki
banyak amal shalih.
4. Penetapan kaidah, setiap manusia akan tergantung dengan amal
perbuatannya di akhirat kelak. Wallahu a'lam

Marâji`:
1. Aisarut-Tafâsîr, Abu Bakar Jâbir al-Jazâiri, Maktabah 'Ulum
wal-Hikam, Madinah.
2. Al-Jâmi li Ahkâmil-Qur`ân (Tafsir al-Qurthubi), Abu 'Abdillah
Muhammad bin Ahmad al-Anshâri al-Qurthubi, Tahqîq: ‘Abdur-Razzâq
al-Mahdi, Dârul-Kitâbil-'Arabi, Cetakan IV, Tahun 1422 H – 2001 M.
3. Jâmi'ul-Bayân 'an Ta`wil Ay Al-Qur`ân, Abu Ja'far Muhammad bin
Jarir ath-Thabari, Dar Ibnu Hazm, Cetakan I, Tahun 1423 H – 2002 M.
4. Kutub wa Rasâ`il, Min Kunûzil Qur`anil Kariim, 'Abdul-Muhsin
al-Abbâd al-Badr.
5. Tafsîrul-Qur`ânil-'Azhîm, al-Hafizh Abul-Fida Isma'îl bin 'Umar bin
Katsîr al-Qurasyi, Dârul Hadîts Kairo 1426H-2005M.
6. Taisîrul-Karîmir-Rahmân, 'Allâmah Syaikh Abdur-Rahmân bin Nâshir
as-Sa'di, Dârul-Mughni, Riyadh, Cet. I, Th. 1419 H – 1999 M.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XII/Sya'ban 1429/2008M.
Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8
Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Lihat Aisarrut-Tafâsir (2/1286), Jâmi’ul-Bayân (27/34),
Taisîrul-Karîmir-Rahmân (hlm. 815).
[2]. Tafsîrul-Qur`anil-‘Azhîm, 7/437.
[3]. Al-Jâmi' li Ahkamil-Qur`ân, 17/60.
[4]. Jâmi'ul-Bayân, 27/34.
[5]. Tentang hadits ini, Imam Ibnu Katsir t berkata: "Isnadnya
shahîh". Syaikh al-Albâni berkata: "……"
[6]. Aisarut-Tafâsir (2/1286), Tafsîrul-Qur`ânil-‘Azhîm (7/438), Min
Kunûzil-Qur`ânil-Karîm (1/314).
[7]. Lihat al-Jâmi', 17/60.
[8]. Taisîrul-Karîmir-Rahmân, hlm. 815.


------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke