SIKAP ATAS PENERBITAN KARIKATUR NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

Oleh
Syaikh Dr Muhammad bin Musa Alu Nashr
http://almanhaj.or.id/content/1821/slash/0/sikap-atas-penerbitan-karikatur-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam/

Pertanyaan.
Syaikh Dr Muhammad bin Musa Alu Nashr ditanya : Berkaitan dengan pelecehan 
terhadap umat Islam (berupa gambar karikatur Nabi Shallallahu ‘alaihi wa 
sallam) yang terjadi di Denmark, apa sikap kita sebagai kaum Muslimin terhadap 
hal ini ? Apakah kita boleh berdemonstrasi dan memboikot produk-produk Denmark ?

Jawaban.
Apa yang telah terjadi di Denmark, (yaitu) berupa olok-olok dan pelecehan 
terhadap Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, menggambarkannya dengan 
sesuatu yang tidak layak dengan kedudukan nabi siapapun, terlebih lagi Nabi 
Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak diragukan lagi, hal ini 
menunjukkan sikap emosional mereka (orang-orang kafir) terhadap Islam, 
mencerminkan kebencian yang tersembunyi di dalam dada-dada mereka.

Mereka tidak hanya ingin memerangi sebagian kaum muslimin yang ghuluw (keras 
dan berlebih-lebihan), yang memiliki sifat mudah mengkafirkan, akan tetapi, 
sesungguhnya yang ingin mereka perangi dan musnahkan adalah Islam itu sendiri, 
tidak lain lagi!.

Bukti yang menunjukkan hal itu ialah, mereka telah menentang Al-Qur’an. Bahkan 
mereka mengancam akan membakar Al-Qur’an di tengah-tengah publik. Dan akhirnya 
merekapun menggambar karikatur Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam 
dengan sangat buruk. Kemudian diikuti Negara-negara lainnya –karena memang 
mereka sama-sama kafir-, diikuti pula oleh media cetak (koran-koran) Norwegia, 
Perancis, Jerman, Spanyol dan Italia. Bahkana ada seorang dari mereka yang 
pergi menemui Paus dan memprovokasinya untuk mengulangi kembali perang salib 
(melawan kaum muslimin).

Ini menunjukkan secara jelas semangat salibisme yang tertanam kuat di dalam 
jiwa mereka, untuk senantiasa membenci dan memerangi Islam dan Nabi (umat) 
Islam. Kita tidak perlu merasa heran dan aneh terhadap ulah mereka.

Namun yang sangat kita sesalkan, ternyata karikatur Nabi Muhammad Shallallahu 
‘alaihi wa sallam didapati juga di sebagian koran-koran di negara-negara Islam. 
Bahkan ada di salah satu koran negara Arab, menggambarkan Nabi Muhammad 
Shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa seekor ayam jantan yang dikelilingi oleh 
sembilan ayam betina, seraya mereka berkata : ‘Inilah Tuan Muhammad yang 
memiliki sembilan istri’. Mereka melecehkan dan memperolok-olok Nabi Muhammad 
Shallallahu ‘alaihi w asallam. Ini terjadi di negara Arab!.

Jadi, inilah problemnya. Pelecehan agama semacam ini harus disikapi dengan 
tegas, kuat dan keras. Orang-orang yang melecehkan dan mengolok-olok agama 
Islam, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Al-Qur’an harus disikapi 
dengan seperti ini. Karena semua ini sangat terjaga dan dihormati dalam Islam. 
Agama Islam adalah agama yang tidak boleh diperolok-olokan dan dipermainkan. 
Seseorang tidak boleh (melecehkan dan memperolok-olok agama Islam, -pent) 
dengan dalih kebebasan berpikir dan berpendapat. Lalu kemudian ia bebas berkata 
: ‘Saya bebas beropini dan berpandangan, saya bebas berbicara tentang Dzat 
Allah, Al-Qur’an dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena ini 
hak saya dalam kebebasan berpikir”.

Sementara jika orang-orang Yahudi membantai dan membunuh kaum muslimin, mereka 
hanya terdiam saja dan tidak berbicara sedikitpun tentang kebebasan beropini 
dan berpikir. Karena (mereka sama dengan Yahudi dalam hal memerangi dan 
membenci Islam dan kaum muslimin, dan karena) orang-orang Yahudi ( di mata 
mereka) memiliki hak-hak begitu tinggi, dan kehormatan mereka terlindungi 
begitu kuat.

Sedangkan kaum muslimin, karena kelemahan mereka, karena negara-negara besar 
(yang kafir,-pent) mengepung dan menjajah kaum muslimin dari segala penjuru dan 
dalam segala sisi kehidupan, dan karena berpecah belahnya kaum muslimin, serta 
jauhnya mereka dari ajaran agama Islam yang benar, (sehingga) mereka 
orang-orang bodoh dan dungu itu, menjadi berani kepada kaum muslimin. Maka, 
kewajiban kaum muslimin adalah bersatu membela Rasulullah, bersatu membela 
Kitabullah. Selama Rabb mereka satu, nabi mereka satu, Al-Qur’an mereka satu, 
kiblat mereka satu, selama mereka semua berkata laa ilaaha illallah wa anna 
muhammadan rasulullah, maka wajib bagi kaum muslimin untuk bersatu di dunia 
ini. Wajib memiliki sikap yang satu. (Yaitu) memboikot negara-negara kafir 
tersebut, dan kita sudah mengakui keampuhan senjata pemboikotan ini. Dan 
hendaknya para ulama menganjurkan para pemimpin negara-negara Islam, 
tokoh-tokoh Islam dan para bisnisman muslim, serta para cendekiawan muslim, dan 
para anggota parlemen muslim agar mengambil sikap tegas, membuat pernyataan 
pemboikotan, mencabut para duta besar, dan menampakkan kemarahan kaum muslimin 
terhadap mereka atas pelecehan ini. Juga mengirimkan pengaduan-pengaduan kepada 
kedutaan-kedutaan mereka (yang ada di negara-negara Islam, -pent), namun ini 
tanpa diiringi dengan pengerahan massa, tanpa aksi-aksi perusakan 
gereja-gereja, karena ini perbuatan tidak bermoral dan terlarang. Juga 
sebagaimana telah kami jelaskan, bahwa kedutaan-keduataan ini adalah musta’man. 
Mereka (orang-orang yang mendapat perlindungan keamanan) masuk ke dalam 
negara-negara Islam dengan ijin kepala negara tersebut, sehingga tidak boleh di 
langgar hak-haknya, (misalnya) dengan cara memerangi dan memberantas atau 
merusak kedutaan-kedutaan, restoran-restoran mereka, atase-atase mereka, 
gereja-gereja. Ini semua dilarang dalam Islam.

Bahkan saya tidak berpandangan bolehnya membakar bendera mereka. Kita (bisa 
saja) membakar bendera mereka yang bergambar salib, namun (nanti) mereka akan 
membakar bendera yang bertuliskan La illaha illallah Muhamma Rasulullah, atau 
akan menginjak-injaknya dengan kaki-kaki mereka, sedangkan Allah Subhanahu wa 
Ta’ala berfirman.

وَلاَ تَسُبُّواْ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ اللّهِ فَيَسُبُّواْ اللّهَ 
عَدْواً بِغَيْرِ عِلْمٍ.

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, 
karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampui batas tanpa pengetauan” 
[Al-An’am/6 : 108]

Jadi, hal itu tidak boleh. Karena menolak kerusakan lebih diutamakan dari 
mengambil kemaslahatan.

Ya, (kita) boleh mengajukan pengaduan-pengaduan kepada kedutaan-kedutaan 
mereka, mengajukan (ancaman-ancaman), pemboikotan, pemutusan hubungan antar 
negara, memperketat peredaran media-media massa mereka. Kita terjemahkan 
sejarah hidup Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang benar ke dalam 
bahasa mereka. Kita meminta mereka agar segera mengumumkan permohonan maaf 
secara resmi dan terang-terangan kepada kaum muslimin. Kita juga meminta mereka 
agar kaum muslimin diberi kebebasan berbicara dalam menjelaskan dan 
memperkenalkan hakikat agama Islam yang sesungguhnya. Dan masih banyak lagi 
cara-cara bagi kaum muslimin dalam rangka membela Islam dan membela Rasulullah 
Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tapi, seperti yang tadi saya katakan, sesungguhnya hal yang membuat mereka 
berani melakukan semua ini adalah kelemahan kita, jauhnya kita dari agama, dan 
berpecah belahnya kita. Dan –amat disayangkan- kita tidak memiliki sikap tegas 
(dalam masalah ini).

Sebagai permisalan, seekor gajah betapapun besarnya, namun jika ia dikepung 
oleh sekawanan singa, ia akan berhasil dijatuhkan. Sedangkan satu ekor singa 
tidak mungkin melakukan itu. Jadi, betapapun besarnya gajah, ia akan tetap 
takut dan mundur jika menghadapi sekawanan singa. Namun, jika gajah itu 
berkumpul pula bersama gajah-gajah yang lainnya, pastilah kelompok gajah 
tersebut akan membuat sekawanan singa kabur, atau bahkan sekelompok gajah 
tersebut mampu membunuh sekawanan singa itu.

Begitulah kenyataannya ! Umat Islam (banyak jumlahnya), lima puluh empat 
negara. Tapi mereka berpecah belah, bercerai berai. Seharusnya, mereka bersatu 
dan berdiri di atas kalimat dan prinsip yang sama.

(Lihatlah) Eropa sekarang seakan-akan bersatu, bersatu melawan siapa ? Melawan 
Islam! Inilah masa depan yang mereka prediksikan. Permulaannya telah muncul 
jelas dari perbuatan mereka sekarang. Perbuatan-perbuatan yang mencerminkan 
semangat salibisme dan permusuhan mereka (terhadap Islam dan kaum muslimin). 
Maka wajib bagi kaum muslimin untuk bersatu.

Kaum muslimin memiliki banyak potensi dan sumberdaya. Kaum muslimin memiliki 
minyak bumi, pelabuhan-pelabuhan strategis di dunia, perekenomian, simpanan 
kekayaan di bank-bank negara-negara barat, perdagangan eksport-import. Semua 
ini adalah senjata ampuh yang wajib digunakan oleh kaum muslimin. Namun senjata 
yang paling ampuh dan terbesar untuk mengalahkan orang-orang kafir yang 
melecehkan agama kita, yaitu kita kembali kepada ajaran agama kita, berhukum 
dengan syariat nabi kita di dalam masyarakat kita. Inilah kekuatan terbesar !

Kita praktekkan aturan-aturan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita 
terapkan hukum-hukumnya. Kita kembali kepada Islam, kepada Al-Qur’an. Kita 
realisasikan syariat Allah. Dan hendaknya para da’i dan ulama berpura-pura 
lupa, -saya tidak mengatakan melupakan, akan tetapai berpura-pura lupa- dengan 
segala perselisihan [1] yang ada. Hendaknya mereka bersatu di atas satu kalimat 
dan prinsip. Hendaknya mereka memiliki satu sikap mulia, yang dengannya bersatu 
dalam memenangkan agama ini, membela Nabi, dan Al-Qur’an. Inilah jawaban saya 
terhadap pertanyaan tersebut.

(Diambil dari Muhadharah Syaikh Dr Muhammad bin Musa Alu An-Nashr di Masjid 
Al-Karim, Pabelan, Surakarta, Ahad 19 Februari 2006)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun X/1427/2006M. Penerbit Yayasan 
Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 
57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Perselisihan yang beliau maksud di sini tentunya adalah perselisihan yang 
dibolehkan, seperti masalah furu’ (cabang/fikih) dan bukan perselisihan masalah 
aqidah atau manhaj ,-pent                                          

Kirim email ke