ALLAH BERSAMA MAKHLUK-NYA
http://almanhaj.or.id/content/3403/slash/0/allah-bersama-makhluk-nya/

Keyakinan seorang hamba bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa
bersama makhluk-Nya akan mendorongnya menjadi orang yang selalu sadar
akan posisi dirinya. Ia akan merasa terus terawasi oleh Allah,
sehingga gerak geriknya selalu terkontrol dan takut terjerumus dalam
perilaku menyimpang, baik penyimpangan dalam bentuk ekstrim maupun
penyimpangan dalam bentuk mengabaikan. Sebaliknya keyakinan inipun
mendorongnya untuk berani dan lugas, ketika harus mendakwahkan
kebenaran atau mempertahankannya. Sebab ia merasa Allah senantiasa
menyertai, menolong dan membelanya. Sementara itu, tidak ada
seseorangpun yang dapat terbebas dari pengawasan Allah.

Berikut ini adalah ringkasan yang amat ringkas tentang penjelasan
bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu bersama dan menyertai
makhlukNya. Diringkas oleh Ustadz Ahmas Faiz bin Asifuddin dari
tulisan Syaikh Muhammad bin Shalih al 'Uttsaimin di dalam kitab beliau
al Qawa'idul-Mutsla fi Shifatillah wa Asma'ihil-Husna. Kitab yang
ditahqiq dan ditakhrij hadits-haditsnya oleh Asyraf bin 'Abdul Maqshud
bin Abdur-Rahim. Penerbit Maktabah as-Sunnah, Cet. I 1411 H/1990 M.

Tulisan ini dibuat oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al 'Utsaimin dengan
maksud untuk menghilangkan kesalahfahaman orang tentang sifat ma'iyyah
(bersamanya Allah dengan makhluk). Dimuat di bagian belakang sebagai
TA'QIB sesudah Syaikh selesai membahas kaidah-kaidah Asma' wa Shifat.
Selanjutnya, langsung pada ringkasan dimaksud. Silahkan pembaca
menyimak.

Berkaitan dengan masalah mai'yyah ini ada beberapa hal yang perlu dijelaskan.

Pertama : Bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memiliki sifat selalu
bersama dengan makhluk-Nya, merupakan perkara yang sudah jelas
berdasarkan al Qur`an, Sunnah dan Ijma' para salaf.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ

Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. [al Hadid/57:4].

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ

Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang
yang berbuat kebaikan.[an-Nahl/16:128].

Allah juga berfirman kepada Musa dan Harun, ketika keduanya diutus
untuk berdakwah kepada Fir'aun:

قَالَ لَا تَخَافَا ۖ إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَىٰ

Allah berfirman: "Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku
beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat." [Thaahaa/20:46].

Demikian pula, Allah telah berfirman kepada Rasul-Nya, Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ
كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ
لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا

Jikalau tidak menolongnya (Muhammad), maka sesungguhnya Allah telah
menolongnya, (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekkah)
mengeluarkannya (dari Mekkah) sedang dia salah seseorang dari dua
orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada
temannya: "Janganlah berduka cita, sesungguhya Allah bersama kita".
[at-Taubah9:40].

Di samping beberapa nash di atas, para salafpun telah berijma' untuk
menetapkan sifat bersamanya Allah dengan para makhluk-Nya.

Kedua : Bahwa sifat bersamanya Allah terhadap makhluk ini adalah benar
sesuai dengan hakikatnya. Akan tetapi, sifat bersaman-Nya itu adalah
bersama yang sesuai dengan kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala , tidak
serupa dengan bersama antar sesama makhluk.

Hal ini didasarkan pada firman Allah tentang diri-Nya:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha
Mendengar lagi Maha Melihat. [asy-Syura42:11].

هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا

Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut
disembah). [Maryam/19:65].

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia. [al Ikhlas/112:4].

Abu 'Umar Ibnu 'Abdil-Barr mengatakan: "Ahlu Sunnah telah bersepakat
untuk menetapkan seluruh sifat Allah yang ada di dalam al Qur'an dan
Sunnah, serta bersepakat untuk mengimaninya dan membawanya pada
pengertian yang sebenarnya, tidak pada pengertian majaz (kiasan/tidak
sebenarnya). Namun Ahlu Sunnah tidak mentakyif (membayang-bayangkan
bentuk sesungguhnya dari) sifat-sifat tersebut, dan tidak menetapkan
batasan bagi sifat-sifat Allah dengan sifat yang terbatas".

Demikian seperti yang dinukil oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam
al Fatwa al Hamawiyah yang termuat dalam Majmu' Fatawa-nya.[1]

Ketiga : Sifat bersamanya Allah dengan para makhluk ini mempunyai
pengertian, bahwa Allah; ilmu-Nya, kekuasaan-Nya, Pendengaran-Nya,
Penglihatan-Nya, kesultanan-Nya, pengaturan-Nya, dan semua kewenangan
lainnya, meliputi segenap makhluk.

Ini bila yang dimaksud dengan sifat bersama adalah bersama secara
umum, tidak dikhususkan pada pribadi tertentu, atau pada suatu sifat
tertentu. Misalnya adalah firman Allah Ta'ala:

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ

Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. [Al-Hadid/57:4].

مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَىٰ ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا
خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَىٰ مِنْ ذَٰلِكَ وَلَا
أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا

Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang
keempatnya.Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan
Dia-lah yang keenamnya.Dan tiadak (pula) pembicaraan antara (jumlah)
yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama
mereka di manapun mereka berada. [al Mujadilah/58:7].

Namun jika sifat bersama itu ditujukan khusus kepada pribadi tertentu
atau kepada suatu sifat tertentu, maka makna bersama di situ adalah
bersama dalam arti untuk memberikan pertolongan, pembelaan, taufiq dan
pelurusan.

Contoh sifat bersama yang dikhususkan pada pribadi tertentu ialah
firman Allah Ta'ala kepada Musa dan Harun:

قَالَ لَا تَخَافَا ۖ إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَىٰ

Allah berfirman: "Jangan kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku
beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat". [Thaahaa/20:46].

Juga firman Allah Ta'ala tentang Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا

Diwaktu dia (Muhmmad) berkata kepada sahabatnya: "Janganlah berduka
cita, sesungguhya Allah bersama kita". [at Taubah/9:40].

Sedangkan contoh sifat bersama yang dikhususkan pada suatu sifat
tertentu ialah firman Allah Ta'ala:

وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
[al Anfal/8:46].

Dan masih banyak contoh lainnya.

Keempat : Sifat bersamanya Allah dengan makhluk ini, sama sekali tidak
berarti bahwa Dzat Allah bersama-sama berbaur dengan makhluk atau
menempat di tempat-tempat mereka.

Jadi Allah yang senantiasa bersama makhluk-Nya itu, sama sekali tidak
menunjukkan pembauran dan percampuran dengan makhluk, ditinjau dari
sudut manapun. Sebab faham yang demikian adalah faham yang batil.
Mustahil bagi Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Luhur. Tidak mungkin
makna yang dikandung dari kalam Allah dan kalam RasulNya merupakan
makna yang batil.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Kitab al Aqidah al
Wasithiyah berkata:

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

ۖ وَهُوَ مَعَكُمْ (Dan Allah bersamamu) –QS al Hadid/57 ayat 4-
tidaklah berarti bahwa Allah bercampur baur dengan makhluk-Nya.
Sesungguhnya makna seperti ini tidak ditunjukkan oleh bahasa Arab.
Bahkan bulan, salah satu di antara tanda kebesaran Allah Subhanahu wa
Ta’ala yang merupakan salah satu makhluk Allah yang kecil, ternyata
bulan itu tetap terletak di atas, namun ia bersama (menyertai) orang
yang tengah dalam perjalanan dan bersama orang yang tidak sedang dalam
perjalanan, dimanapun mereka berada.[2]

Tidak ada seorangpun yang memahami makna batil semacam ini, kecuali
kaum hululiyah (yang berfaham manunggaling kawulo lan gusti
(bersatunya Tuhan dengan makhluk) dari kalangan orang-orang Jahmiyah
kuno dan orang-orang yang sefaham dengan mereka. Yaitu orang-orang
yang mengatakan: "Sesungguhnya Dzat Allah ada dimana-mana". Maha
Tinggi dan Maha Suci Allah dari perkataan keji mereka. Betapa besar
kekejian perkataan yang keluar dari mulut mereka. Dan betapa dusta
mereka itu.

Pernyataan kaum hululiyah ini sudah menuai bantahan dari ulama Salaf
yang sempat mendengar perkataan jahat mereka.

Kelima : Sifat bersamanya Allah dengan makhluk tidak bertentangan
dengan sifat Maha Tingginya Allah di atas segenap makhluk dan sifat
bersemayamnya Allah di atas 'Arasy.

Sesungguhnya sudah jelas sekali bahwa Allah memiliki sifat Maha Tinggi
yang mutlak. Maha Tinggi Dzat-Nya dan Maha Tinggi Sifat-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. [al Baqarah/2:255]

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى

Sucikanlah nama Rabbmu Yang Maha Tinggi. [al A'la/87:1].

وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَىٰ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Dan Allah mempunyai sifat yang Maha Tinggi; dan Dia-lah Yang Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana. [an Nahl/16:60].

Banyak sekali dalil yang menunjukkan bahwa Allah Maha Tinggi, baik
dari al Qur`an, Sunnah, Ijma', akal maupun fitrah. Namun Maha
Tingginya Allah tidak bertentangan dengan ma'iyyah-Nya (bersamanya
Allah dengan makhluk). Hal itu dapat dijelaskan melalui beberapa
penjelasan.

1. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menggabungkan sifat Maha Tinggi di
satu sisi dan sifat selalu bersama dengan makhluk di sisi lain dalam
Kitab-Nya, al Qur`anul-Karim. Kitab yang ayat-ayatnya tidak mungkin
bertentangan satu sama lain.

وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

Kalau sekiranya Alquran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka
mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. [an-Nisa' : 82]

2. Berkumpulnya sifat Maha di atas dengan sifat selalu bersama
makhluk, sangat mungkin bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala . Sebab antara
sifat di atas dan sifat bersama-sama juga mungkin bagi makhluk. Bulan
yang berada di atas, dikatakan bersama-sama dengan manusia di muka
bumi. Dan itu tidak bertentangan. Apalagi bagi Allah Subhanahu wa
Ta’ala.

3. Jika antara sifat di atas dengan sifat bersama-sama makhluk
diandaikan tidak mungkin bagi makhluk, maka tidaklah demikian bagi
Allah. Bagi Allah tetap mungkin. Sebab tidak ada sesuatupun yang dapat
diserupakan dengan Allah Azza wa Jalla .

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha
Mendengar lagi Maha Melihat. [asy-Syura/42:11].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam al 'Aqidah al
Wasithiyah mengatakan: "Apa yang disebutkan dalam al Qur`an maupun
Sunnah bahwa Allah Maha dekat dan Maha bersama makhluk, tidaklah
bertentangan dengan apa yang disebutkan (dalam al Qur`an maupun
Sunnah) bahwa Allah Maha Tinggi dan Maha di atas. Sebab tidak ada
sesuatupun yang dapat menyerupai Allah dalam semua sifat-Nya. Dia Maha
Tinggi, tetapi sekaligus Maha dekat. Maha Dekat sekaligus Maha
Tinggi".[3]

Demikianlah ringkasan apa yang ditulis Syaikh Muhammad bin Shalih al
'Utsaimin rahimahullah . Intinya, setiap muslim harus mengimani bahwa
Allah senantiasa bersama makhluk-Nya dan senantiasa menyertai serta
mengawasi mereka di manapun mereka berada. Baik berupa kesertaan umum
bagi seluruh makhluk, maupun berupa kesertaan khusus bagi orang-orang
tertentu yang berbentuk pembelaan, pertolongan dan taufik. Wallahu
a'lam

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun X/1428H/2007M. Penerbit
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton
Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Lihat Majmu' Fatawa Syaikhil Islam Ibnu Taimiyyah (V/87).
[2]. Lihat Syarh al Aqidah al Wasithiyah, Syarah Syaikh Shalih al
Fauzan, Cet. VI-1413 H/1993 M, Maktabah al Ma'arif, Riyadh, hlm. 129,
di bawah sub judul: Wujub al-Iman bi Istiwa'illah 'ala Arsyihi wa
'Uluwwihi 'ala Khalqihi wa Ma'iyyatihi li Khalqihi wa Annahu laa
Tanafa Bainahuma.
[3]. Lihat Syarh al Aqidah al Wasithiyah, Syarah Syaikh Shalih al
Fauzan, Cet. VI-1413 H/1993 M, Maktabah al-Ma'arif, Riyadh, hlm. 134,
di bawah sub judul Wujub al-Iman bi Qurbihi min Khalqihi wa Anna
Dzalika la Yunaafi 'Uluwwahu wa Fauqiyyatahu.


------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke