PINTU-PINTU KEBAIKAN DAN KEWAJIBAN MENJAGA LISAN

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
http://almanhaj.or.id/content/3411/slash/0/pintu-pintu-kebaikan-dan-kewajiban-menjaga-lisan/

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ؛ قَالَ : قُلْتُ : يَا
رَسُوْلَ اللهِ ! أَخْبِرْنِـيْ بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِـيْ الْـجَنَّةَ ،
وَيُبَاعِدُنِـيْ مِنَ النَّارِ. قَالَ : «لَقَدْ سَأَلْتَ عَنْ عَظِيْمٍ
، وَإِنَّهُ لَيَسِيْرٌ عَلَى مَنْ يَسَّرَهُ اللهُ تَعَالَـى عَلَيْهِ :
تَعْبُدُ اللهَ لاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا ، وَتُقِيْمُ الصَّلاَةَ ،
وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ ، وَتَصُوْمُ رَمَضَانَ ، وَتَحُجُّ الْبَيْتَ».
ثُمَّ قَالَ : «أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَـى أَبْوَابِ الْـخَيْرِ ؟ الصَّوْمُ
جُنَّةٌ ، وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْـخَطِيْئَةَ كَمَـا يُطْفِئُ
الْـمَـاءُ النَّارَ ، وَصَلاَةُ الرَّجُلِ فِـيْ جَوْفِ اللَّيْلِ» ،
ثُمَّ تَلاَ : تَتَجَافَـى جُنُوْبُهُمْ عَنِ الْـمَضَاجِعِ يَدْعُوْنَ
رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّـا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُوْنَ فَلاَ
تَعْلَمُ نَفْسٌ مَآ أُخْفِيَ لَــهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَآءً
بِـمَـا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ [السجدة : ١٦-١٧]. ثُمَّ قَالَ : «أَلاَ
أُخْبِرُكَ بِرَأْسِ اْلأَمْرِ ، وَعَمُوْدِهِ ، وَذِرْوَةِ سَنَامِهِ ؟»
قُلْتُ : بَلَـى يَا رَسُوْلَ اللهِ. قَالَ : «رَأْسُ اْلأَمْرِ
اْلإِسْلاَمُ ، وَعَمُوْدُهُ الصَّلاَةُ ، وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ
الْـجِهَادُ». ثُمَّ قَالَ : «أَلاَ أُخْبِرُكَ بِمِلاَكِ ذَ لِكَ
كُلِّهِ ؟». قُلْتُ : بَلَـى يَا رَسُوْلَ اللهِ. فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ ،
ثُمَّ قَالَ : «كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا». قُلْتُ : يَا نَبِيَّ اللهِ !
وَإِنَّا لَـمُؤَاخَذُوْنَ بِـمَـا نَتَكَلَّمُ بِهِ ؟ فَقَالَ :
«ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ ! وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِـى
النَّارِ عَلَـى وُجُوْهِهِمْ – أَوْقَالَ : عَلَـى مَنَاخِرِهِمْ –
إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ». رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَقَالَ :
حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ

Dari Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu anhu , ia berkata, “Wahai
Rasulullâh! Jelaskan kepadaku amal perbuatan yang memasukkanku ke
surga dan menjauhkanku dari neraka?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Sungguh, engkau telah bertanya tentang sesuatu yang
besar, namun itu mudah bagi orang yang dimudahkan oleh Allah Azza wa
Jalla di dalamnya, yaitu: engkau beribadah kepada Allah Azza wa Jalla
dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, melaksanakan shalat,
membayar zakat, berpuasa Ramadhan, dan haji ke Baitullah.” Kemudian
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maukah engkau aku
tunjukkan pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai, sedekah
memadamkan kesalahan sebagaimana air memadamkan api, dan shalat
seseorang di tengah malam.” Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa
sallam membaca firman Allah Azza wa Jalla , “Lambung mereka jauh dari
tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Rabb-nya dengan rasa takut dan
penuh harap, dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami
berikan kepada mereka. Maka, tidak seorang pun mengetahui apa yang
disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang
menyenangkan hati sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan.”
(as-Sajdah/32:16-17). Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Maukah engkau aku jelaskan tentang pokok segala perkara,
tiang-tiang, dan puncaknya?” Aku berkata, “Mau, wahai Rasulullâh.”
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pokok segala perkara
adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad.”
Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maukah engkau
aku jelaskan mengenai hal yang menjaga itu semua?” Aku menjawab, “Mau,
wahai Rasulullâh.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang
lidahnya kemudian bersabda, “Jagalah ini (lidah).” Aku berkata, “Wahai
Nabiyullâh, apakah kita akan disiksa karena apa yang kita katakan?”
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mudah-mudahan Allah
Azza wa Jalla menyayangi ibumu, wahai Mu’adz! bukanlah manusia
terjungkir di neraka di atas wajah mereka -atau beliau bersabda: di
atas hidung mereka- melainkan dengan sebab lisan mereka.”
[Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi. Beliau mengatakan, “Hadits ini hasan
shahîh]”

TAKHRIJ HADITS
Hadits ini shahîh dengan seluruh jalannya, diriwayatkan oleh:
1. Ahmad 5/230, 236, 237, 245
2. At-Tirmidzi no. 2616
3. An-Nasâ-i dalam As-Sunanul Kubra no. 11330
4. Ibnu Mâjah no. 3973
5. ‘Abdurrazzâq dalam Al-Mushannaf no. 20303
6. Ibnu Abi Syaibah dalam Kitâbul Imân no. 1, 2
7. Al-Baihaqi dalam As-Sunanul Kubra 9/20
8. Ath-Thabrâni dalam Al-Mu’jamul Kabîr 20/no. 200, 291, 294, 304, 305
9. Al-Hâkim 2/412-413
10. Ibnu Hibbân no. 214-At-Ta’lîqâtul Hisân

SYARAH HADITS
AMAL SHALIH SEBAGAI SEBAB MASUK SURGA
Perkataan Mu’âdz bin Jabal Radhiyallahu anhu , “Wahai Rasulullâh!
Jelaskan kepadaku amal perbuatan yang memasukkanku ke surga dan
menjauhkanku dari neraka?”

Dalam riwayat Imam Ahmad tentang hadits Mu`âdz bin Jabal Radhiyallahu
anhu disebutkan bahwa ia berkata,

يَا رَسُوْلَ اللهِ! إِنِّـيْ أُرِيْدُ أَنْ أَسْأَلَكَ عَنْ كَلِمَةٍ
قَدْ أَمْرَضَتْنِيْ وَ أَسْقَمَتْنِيْ وَأَحْرَقَتْنِيْ. قَالَ : «سَلْ
عَمَّـا شِئْتَ» قَالَ : أَخْبِرْنِـيْ بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِـي
الْـجَنَّةَ لاَ أَسْأَلُكَ غَيْرَهُ

Wahai Rasulullâh! Aku ingin bertanya kepadamu tentang satu kalimat
yang telah membuatku sakit, menderita, dan sedih.” Beliau Shallallahu
‘alaihi wa sallam menjawab, “Tanyakan apa saja yang engkau kehendaki.”
Mu’âdz bin Jabal Radhiyallahu anhu berkata, “Jelaskan kepadaku tentang
satu perbuatan yang memasukkanku ke surga dan aku tidak bertanya
kepadamu selain pertanyaan ini?

Ini menunjukkan kuatnya perhatian dan kepedulian Mu`âdz bin Jabal
Radhiyallahu anhu terhadap amal-amal shaleh, dan di dalamnya terdapat
dalil bahwa amal-amal menjadi penyebab seseorang masuk ke surga,
seperti difirmankan Allah Azza wa Jalla.

وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal perbuatan
yang telah kamu kerjakan.” [az-Zukhruf/43:72]

Adapun sabda Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَنْ يَدْخُلَ الْـجَنَّةَ أَحَدٌ مِنْكُمْ بِعَمَلِهِ

Salah seorang dari kalian tidak akan masuk surga karena amalnya.[1]

Maksudnya, wallâhu a`lam, bahwa amal itu sendiri tidak membuat
seseorang berhak atas surga jika Allah Azza wa Jalla tidak menjadikan
amalnya dengan karunia dan rahmatnya sebagai penyebab dirinya masuk
surga. Amal merupakan rahmat Allah Azza wa Jalla dan karunianya kepada
hamba-Nya. Jadi, surga dan penyebab-penyebabnya, semua berasal dari
karunia dan rahmat Allah Azza wa Jalla .

PERKARA YANG BESAR
Sabda Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Sungguh, engkau
bertanya tentang sesuatu yang besar.”

Masuk surga dan selamat dari neraka adalah sesuatu yang sangat agung,
karena ia adalah kesuksesan yang hakiki. Allah Azza wa Jalla
berfirman:

فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga,
sungguh, dia memperoleh kemenangan [Ali Imrân/3:185]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada seseorang,
“Apa yang engkau ucapkan jika engkau shalat?” Orang tersebut menjawab,
“Aku meminta surga kepada Allah Azza wa Jalla dan berlindung
kepada-Nya dari neraka. Aku tidak mampu melakukan sebaik seruanmu dan
seruan Muadz z .” Orang itu mengisyaratkan betapa banyaknya doa dan
usaha beliau dan Muadz z dalam meminta. Kemudian Rasulullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ Di seputar itulah seruan
kami.” Dalam riwayat lain, “Tidaklah seruanku dan seruan Mu`adz z
melainkan kami meminta surga kepada Allah Azza wa Jalla dan berlindung
kepada-Nya dari neraka”[2]

Selamat dari neraka jahannam adalah perkara yang besar karena manusia
yang paling ringan siksanya di neraka ialah seseorang yang diletakkan
batu panas di bawah kedua mata kakinya lalu otaknya mendidih
karenanya. Karena itulah Allah Azza wa Jalla mengutus para rasul
kepada hamba-hamba-Nya agar mereka menjadi sebab keselamatan manusia
dari neraka dan sukses mendapat surga. Oleh karena itu, para nabi
mampu memikul beban berat yang tidak dapat dipikul oleh gunung-gunung
yang kokoh.[3]

HIDAYAH TAUFIQ HANYA MILIK Allah Azza wa Jalla
Sabda Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Namun itu mudah bagi
orang yang dimudahkan oleh Allah Azza wa Jalla di dalamnya.”

Sabda beliau ini merupakan isyarat bahwa hidayah taufik seluruhnya
berada di tangan Allah Azza wa Jalla . Siapa saja yang diberi
kemudahan oleh Allah Azza wa Jalla untuk memperoleh hidayah, maka ia
mendapatkan petunjuk dan siapa saja yang tidak diberikan kemudahan
oleh Allah Azza wa Jalla untuk memperoleh hidayah, maka ia tidak
memperoleh petunjuk. Allah Azza wa Jalla berfirman,

فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى
ٰفَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى
ٰوَكَذَّبَ بِالْحُسْنَىٰ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَىٰ

Maka barangsiapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa,
dan membenarkan (adanya pahala) yang terbaik (surga), maka akan Kami
mudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan). Dan adapun
orang yang kikir dan merasa dirinya cukup (tidak perlu pertolongan
Allah) serta mendustakan (pahala) yang terbaik, maka akan Kami
mudahkan baginya jalan menuju kesukaran (kesengsaraan).”
[al-Lail/92:5-10]

Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اِعْمَلُوْا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِـمَـا خُلِقَ لَهُ ، أَمَّا أَهْلُ
السَّعَادَةِ ؛ فَيُيَسَّرُوْنَ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ ، وَأَمَّا
أَهْلُ الشَّقَاوَةِ ؛ فَيُيَسَّرُوْنَ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ

Beramallah kalian! Karena segala hal dipermudah kepada apa yang
diciptakan untuknya. Adapun orang-orang yang bahagia, mereka
dipermudah kepada amal perbuatan orang-orang bahagia dan sedang
orang-orang celaka dipermudah kepada amal perbuatan orang-orang
celaka.

Kemudian Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat di atas.[4]

Allah Azza wa Jalla mengabarkan tentang Nabi Mûsa Alaihissallam yang
berkata dalam doanya.

رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي

Wahai Rabb-ku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku
[Thâhâ/20:25-26]

RUKUN ISLAM
Sabda Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Engkau beribadah
kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun,
melaksanakan shalat, membayar zakat, berpuasa Ramadhan, dan haji ke
Baitullâh.”

Jawaban Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini menunjukkan bahwa
mengerjakan kewajiban-kewajiban agama adalah sebagai sebab masuk
surga. Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan dalam
hadits ini rukun Islam yang lima.

PINTU-PINTU KEBAIKAN
Sabda Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Maukah engkau aku
tunjukkan pintu-pintu kebaikan?”

Karena, masuk surga dan dijauhkan dari neraka itu disebabkan
mengerjakan kewajiban-kewajiban Islam, maka setelah itu Rasulullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan ibadah-ibadah sunnah yang
merupakan pintu-pintu kebaikan. Sebab, wali-wali Allah Azza wa Jalla
yang paling mulia adalah al-muqarrabûn, yaitu orang-orang yang
mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla dengan mengerjakan
ibadah-ibadah sunnah setelah mengerjakan ibadah-ibadah wajib.

1. PUASA
Sabda Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Puasa adalah perisai.”
Sabda di atas diriwayatkan dari Nabi n dari banyak jalur. Sabda
tersebut diriwayatkan dalam Shahîhul-Bukhâri dan Shahîh Muslim dari
hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam.

Puasa adalah perisai selagi tidak dirobek, yakni dirobek dengan
perkataan jelek dan lain sebagainya. Oleh karena itu, Rasulullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اَلصَّوْمُ جُنَّةٌ ، فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ
يَرْفُثْ فَلاَ يَجْهَلْ ، إِنِ امْرُؤٌ سَابَّهُ فَلْيَقُلْ : إِنِّـي
امْرُؤٌ صَائِمٌ

Puasa adalah perisai, karenanya, pada hari puasa salah seorang dari
kalian maka ia tidak boleh berkata jelek, membodohkan. Dan jika ia
dihina seseorang maka hendaklah ia berkata, ‘Aku orang yang
berpuasa.[5]’

Ibnul Munkadir rahimahullah berkata, “Jika orang berpuasa melakukan
ghibah (menggunjing orang lain), maka puasanya menjadi robek. Jika ia
beristighfar, ia menambalnya.”[6]

Perisai ialah sesuatu yang digunakan oleh seorang hamba sebagai tameng
seperti perisai yang melindunginya dari pukulan ketika berperang.
Puasa juga demikian, ia melindungi pelakunya dari berbagai kemaksiatan
di dunia, seperti difirmankan Allah Azza wa Jalla,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا
كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa
sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu
bertakwa. [al-Baqarah/2:183]

Jika puasa merupakan perisai dari kemaksiatan-kemaksiatan bagi seorang
hamba di dunia, maka puasa merupakan perisai baginya dari neraka. Jika
seseorang tidak mempunyai perisai dari kemaksiatan-kemaksiatan di
dunia, ia tidak mempunyai perisai dari neraka di akhirat.[7]

Seorang Muslim disyari’atkan melakukan puasa yang wajib di bulan
Ramadhan kemudian dianjurkan melakukan puasa-puasa sunnah, di
antaranya:
Puasa hari ‘Asyura (tanggal 10 Muharram)
Puasa hari ‘Arafah bagi selain jama’ah haji.
Puasa hari Senin dan Kamis.
Puasa tiga hari di setiap bulan.
Puasa Nabi Dawud.
Puasa enam hari di bulan Syawwal.
Puasa di bulan Sya’ban.

2. SEDEKAH [8]
Sabda Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Sedekah memadamkan
kesalahan sebagaimana air memadamkan api.”

Sabda beliau ini diriwayatkan juga dari jalur-jalur periwayatan
lainnya. Diriwayatkan dari Ka’ab bin ‘Ujrah Radhiyallahu anhu, dari
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

اَلصَّوْمُ جُنَّةٌ حَصِيْنٌ ، وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْـخَطِيْئَةَ
كَمَـا يُطْفِئُ الْـمَـاءُ النَّارَ

Puasa adalah perisai yang kokoh dan sedekah memadamkan sesalahan
sebagaimana air memadamkan api.[9]

Allah Azza wa Jalla berfirman,

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا
وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ
مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ

Jika kamu menampakkan sedekah-sedekah kamu maka itu baik. Dan jika
kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir,
maka itu lebih baik bagimu dan Allah akan menghapus sebagian
kesalahan-kesalahanmu...” [al-Baqarah/2:271]

Firman Allah Azza wa Jalla ini menunjukkan bahwa sedekah menghapus
kesalahan-kesalahan, baik sedekah yang tampak atau sedekah secara
rahasia, selama dilakukan ikhlas semata-mata karena Allah Azza wa
Jalla .

3. SHALAT MALAM
Sabda Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Dan shalat seseorang
di tengah malam.”

Maksudnya, shalat juga menghapuskan kesalahan sebagaimana halnya sedekah.

Di sabdanya tersebut, Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam
menyebutkan waktu terbaik melaksanakan shalat Tahajjud di malam hari,
yaitu tengah malam. Diriwayatkan dari Abu ‘Umâmah Radhiyallahu anhu

قِيْلَِ : يَا رَسُوْلَ اللهِ ! أَيُّ الدُّعَاءِ أَسْمَعُ ؟ قَالَ :
«جَوْفُ اللَّيْلِ الْآخِرِ ، وَدُبُرَ الصَّلَوَاتِ الْـمَكْتُوْبَاتِ»

Dikatakan, ‘Wahai Rasulullâh! Doa apakah yang paling didengar?’ Beliau
menjawab, ‘Di tengah malam terakhir dan setelah shalat-shalat
wajib.’[10]

Ada yang mengatakan bahwa jika tengah malam dimutlakkan, maka yang
dimaksud ialah pertengahan malam. Jika dikatakan, “Tengah malam
terakhir.” Maka yang dimaksud adalah tengah malam kedua, yaitu 1/3
malam terakhir Waktu itulah saat turunnya Allah Azza wa Jalla ke
langit dunia.

Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيْضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

Shalat terbaik setelah shalat wajib adalah shalat malam (qiyâmul lail).[11]

Qiyâmul lail juga menghapuskan kesalahan-kesalahan karena qiyâmul lail
adalah shalat sunnah terbaik. Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,

عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيلِ فَإِنَّهُ دَأْبُ الصَّالِحِيْنَ
قَبْلَكُمْ ، وَإِنَّ قِيَامَ اللَّيْلِ قُرْبَةٌ إِلَـى اللهِ عَزَّ
وَجَلَّ ، وَمَنْهَاةٌ عَنِ اْلإِثْمِ ، وَتُكَفِّرُ السَّيِّئَاتِ ،
وَمَطْرَدَةٌ لِلدَّاءِ عَنِ الْـجَسَدِ

Hendaklah kalian mengerjakan qiyâmul lail, karena qiyâmul lail adalah
kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian, ibadah pendekat kepada
Allah Azza wa Jalla , pencegah dari dosa, penghapus
kesalahan-kesalahan, dan pengusir penyakit dari badan.[12]

Perkataan Mu’âdz bin Jabal Radhiyallahu anhu , “Kemudian Beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah Azza wa Jalla ,
“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada
Rabb-nya dengan rasa takut dan penuh harap, dan mereka menginfakkan
sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Maka tidak
seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu
(bermacam-macam nikmat) yang menyenangkan hati sebagai balasan
terhadap apa yang mereka kerjakan.” [as-Sajdah/32:16-17]

Maksudnya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan kedua ayat
di atas setelah menyebutkan shalat malam untuk menjelaskan keutamaan
shalat malam. Karena, Allah Azza wa Jalla memuji orang-orang yang
bangun di tengah malam ketika manusia sedang tidur, ia melakukan
shalat malam dan berdoa kepada Allah Azza wa Jalla .

Pujian ini mencakup orang yang tidak tidur sampai fajar terbit
kemudian mengerjakan shalat Shubuh, terutama ketika itu rasa kantuk
ingin tidur begitu kuat. Oleh karena itu, muadzdzin disyariatkan
membaca, “Ash-shalâtu khairun minan naûm (shalat lebih baik daripada
tidur) di adzan Shubuhnya.”

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang orang-orang yang
menunggu shalat ‘Isyâ,

إِنَّكُمْ لَنْ تَزَالُوْا فِـيْ صَلاَةٍ مَا انْتَظَرُوْا الصَّلاَةَ

Sesungguhnya kalian selalu dalam shalat selama kalian menunggu shalat.[13]

POKOK SEGALA PERKARA, TIANG-TIANGNYA, DAN PUNCAKNYA
Sabda Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Maukah engkau aku
jelaskan tentang pokok segala perkara, tiang-tiangnya, dan puncaknya?”
Aku berkata, “Mau, wahai Rasulullâh.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Pokok segala perkara adalah Islam, tiang-tiangnya
adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad.”

Pada hadits di atas, Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam
menjelaskan tiga hal: pokok segala sesuatu, tiangnya, dan puncaknya.

Adapun pokok segala perkara dan yang dimaksud dengan perkara dalam
hadits di atas ialah agama yang dibawa oleh Rasulullâh Shallallahu
‘alaihi wa sallam , yaitu Islam. Perkara tersebut diriwayat lain
ditafsirkan dengan dua kalimat syahadat. Jadi, barangsiapa tidak
mengakui keduanya lahir-batin, ia tidak termasuk bagian dari
Islam.[14]

Kedudukan dua kalimat syahadat dalam agama Islam ialah seperti
kedudukan kepala bagi seluruh anggota tubuh. Apabila kepala telah
putus, maka tidak ada kehidupan bagi manusia setelahnya. Demikian pula
tidak ada agama bagi orang yang tidak menetapkan dua kalimat
syahadat.[15]

Tiang agama yang menjadikan agama Islam tegak ialah shalat,
sebagaimana tenda tegak di atas tiang-tiangnya. Demikian pula agama
seorang hamba tidak akan tegak tanpa shalat.

Sedang puncak perkara ialah jihad. Ini menunjukkan bahwa jihad adalah
amal perbuatan terbaik setelah ibadah-ibadah wajib, seperti dikatakan
Imam Ahmad rahimahullah dan para Ulama lainnya.[16]

Kedudukan jihad adalah kedudukan yang paling tinggi dalam Islam,
karena dengan jihad kalimat Allah Azza wa Jalla menjadi yang paling
tinggi, agama Islam menang di atas seluruh agama, dan melenyapkan
pelaku kebatilan dari kalangan munafik, Yahudi, dan Nasrani.[17]

Dari Abu Dzar Radhiyallahu anhu berkata,

يَا رَسُوْلَ اللهِ ! أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ ؟ قَالَ : إِيْمَـانٌ
بِاللهِ وَجِهَادٌ فِـيْ سَبِيْلِ اللهِ

“Wahai Rasulullâh! Amal apakah yang paling baik?” Beliau menjawab,
“Iman kepada Allah Azza wa Jalla dan berjihad di jalan-Nya.”[18]

Dan hadits-hadits yang semakna dengannya sangat banyak.

KEWAJIBAN MENJAGA LISAN
Sabda Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Maukah engkau aku
jelaskan tentang sesuatu yang dapat menjaga itu semua?” Aku menjawab,
“Mau, wahai Rasulullâh.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang
lidahnya kemudian bersabda, “Jagalah ini (lidah)…” sampai akhir hadits

Ini menunjukkan bahwa menjaga lisan, berhati-hati dalam berbicara, dan
memenjarakannya merupakan inti seluruh kebaikan. Barangsiapa mampu
mengendalikan lidahnya, maka ia menguasai perkaranya dan
mengendalikannya.[19]

Yang dimaksud dengan hasil lidah ialah balasan dan hukuman atas
perkataan yang diharamkan. Pada dasarnya, manusia menanam berbagai
kebaikan dan kesalahan dengan perkataan dan perbuatannya, kemudian
pada hari Kiamat ia menuai apa yang ia telah tanam. Barangsiapa
menanam kebaikan, baik berupa perkataan ataupun perbuatan, ia menuai
kemuliaan. Dan barangsiapa menanam keburukan, baik berupa perkataan
dan perbuatan, kelak ia menuai penyesalan.

Zhahir hadits Mu’âdz di atas menunjukkan bahwa sesuatu yang paling
banyak memasukkan manusia ke neraka ialah berkata dengan lidah. Di
antara hal yang termasuk perbuatan maksiat berupa perkataan ialah
syirik, yang merupakan dosa paling besar di sisi Allah Azza wa Jalla .
Kemudian, berkata tentang Allah Azza wa Jalla tanpa atas dasar ilmu;
dan dosa seperti ini juga setara dengan syirik. Kemudian persaksian
palsu yang merupakan dosa besar. Termasuk di dalamnya sihir, menuduh
orang baik-baik melakukan zina, dan dosa-dosa besar lainnya seperti
berbohong, menggunjing, mengadu domba, dan seluruh kemaksiatan yang
berbentuk tindakan yang pada umumnya didukung perkataan.[20]

Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ اْلأَجْوَفَانِ : الْفَمُ وَالْفَرْجُ

Yang paling banyak memasukkan manusia ke neraka ialah dua hal: yaitu
mulut dan kemaluan.[21]

Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ فِيْهَـا
يَزِلُّ بِهَا فِـي النَّارِ أَبْعَدُ مِمَّـا بَيْنَ الْـمَشْرِقِ
وَالْـمَغْرِبِ

Sesungguhnya seseorang mengatakan suatu ucapan yang tidak ia
perhatikan isinya, menyebabkan ia terjerumus ke neraka lebih jauh
daripada antara timur dan barat.[22]

Al-Hasan t berkata, “Lidah adalah komandan tubuh. Jika lidah berbuat
dosa kepada organ tubuh, maka organ tubuh menjadi berdosa. Jika lidah
menahan diri, organ tubuh menahan diri.” [23]

Yûnus bin ‘Ubaid t berkata, “Aku tidak melihat seseorang di mana
lidahnya berada di atas kebaikan, melainkan aku melihatnya sebagai
kebaikan di seluruh organ tubuhnya.”[24]

FAWAA-ID HADITS
1. Tingginya cita-cita dan kemauan dari Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu
anhu dimana ia tidak bertanya kepada Rasulullâh tentang dunia, tetapi
bertanya tentang akhirat.
2. Menetapkan adanya surga dan neraka, dan mengimani keduanya termasuk
rukun iman.
3. Bahwa amal shalih itu memasukkan ke surga dan menjauhkan dari
neraka karena Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam menetapkan hal ini.
4. Masuk surga dan dijauhkan dari neraka adalah perkara yang besar,
dan tujuan hidup seorang Mukmin adalah surga.
5. Hidayah taufik hanyalah milik Allah Azza wa Jalla .
6. Meskipun perkara tersebut agung (berat) tetapi hal itu mudah bagi
orang yang diberikan kemudahan oleh Allah Azza wa Jalla .
7. Sudah selayaknya bagi manusia untuk memohon kemudahan kepada Allah
Azza wa Jalla dalam masalah agama dan dunianya karena orang yang tidak
diberi kemudahan oleh Allah Azza wa Jalla maka segala sesuatu menjadi
sulit baginya.
8. Hadits ini menyebutkan tentang rukun Islam yang lima.
9. Kewajiban yang paling besar adalah beribadah kepada Allah Azza wa
Jalla , yaitu mentauhidkan Allah Azza wa Jalla dan menjauhkan segala
macam perbuatan syirik.
10. Puasa adalah perisai dari perbuatan dosa di dunia dan perisai dari
api neraka di akhirat. Karena itu haram bagi manusia melakukan
perbuatan dosa dan maksiat pada saat berpuasa. Ini menunjukkan
keutamaan puasa.
11. Shadaqah itu menghapuskan kesalahan, dan ini menunjukkan keutamaan
serta anjuran untuk bersedekah, dan sedekah menghapuskan kesalahan
sebagaimana air memadamkan api.
12. Bertahap dalam memberikan pelajaran kepada manusia, dengan memulai
dari perkara yang paling penting kemudian yang penting dan seterusnya.
13. Keutamaan mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla dengan
melakukan ibadah-ibadah sunnah sesudah yang wajib.
14. Keutamaan orang yang bangun di tengah malam untuk shalat malam
(Tahajjud dan Witir), berdo’a, dan bermunajat kepada Allah Azza wa
Jalla dengan rasa harap dan cemas serta mohon ampunan kepada Allah
Azza wa Jalla di waktu sahur.
15. Hendaklah seseorang berdo’a kepada Allah Azza wa Jalla dengan rasa
harap dan cemas.
16. Pokok segala urusan, yaitu urusan dunia dan akhirat adalah Islam.
17. Shalat adalah tiang agama, dan bangunan tidak menjadi tegak
kecuali dengannya. Dan hadits ini menunjukkan pentingnya masalah
shalat.
18. Keutamaan dan anjuran untuk berjihad. Jihad adalah puncak agama
Islam karena dengan jihadlah kalimat Allah Azza wa Jalla menjadi tegak
dan tinggi.
19. Bahwa kunci dari semua perkara di atas ialah menjaga lisan.
20. Bahayanya lisan jika tidak dijaga karena bisa jadi dengan satu
kalimat yang dimurkai Allah Azza wa Jalla , menyebabkan seseorang
masuk neraka.
21. Di antara penduduk neraka, ada yang diseret di atas wajah mereka.
Wal’iyâdzu billâh. Nas-alullâha as-salâmah wal ‘âfiyah.

MARAJI’
1. Al-Qur`ân dan terjemahnya.
2. Shahîhul-Bukhâri.
3. Shahîh Muslim.
4. Musnad Imam Ahmad.
5. Sunan Abu Dâwud.
6. Sunan at-Tirmidzi.
7. Sunan an-Nasâ-i.
8. Sunan Ibnu Mâjah.
9. Shahîh Ibnu Hibbân (At-Ta’lîqâtul Hisân.)
10. Hilyatul Auliyâ`, karya Abu Nu’aim.
11. Kitâbush Shamt, karya Ibnu Abid Dunya.
12. Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam, karya Ibnu Rajab al-Hanbali. Tahqîq:
Syu’aib al-Arnauth dan Ibrâhîm Bâjis.
13. Qawâ’id wa Fawâ-id minal ‘Arba’în an-Nawawiyyah, karya Nâzhim
Muhammad Sulthân.
14. Syarhul Arba’în an-Nawawiyyah, karya Syaikh Muhammad bin Shâlih
al-‘Utsaimîn.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XIII/1430H/2009M.
Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8
Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Shahîh: HR. al-Bukhâri no. 5673 dan Muslim no. 2816 dari Abu
Hurairah Radhiyallahu anhu.
[2]. Shahîh: HR. Ahmad 3/474, Abu Dâwud no. 792, Ibnu Mâjah no. 910,
3847 dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu .
[3]. Qawâ’id wa Fawâ-id hlm. 256
[4]. Shahîh: HR. al-Bukhâri no. 1362, Muslim no. 2647, Ahmad 1/82, Abu
Dâwud no. 4694, at-Tirmidzi no. 2136, Ibnu Mâjah no. 78, dan Ibnu
Hibbân no. 334, 335- At-Ta’lîqâtul Hisân dari ‘Ali bin Abi Thâlib
Radhiyallahu anhu .
[5]. Shahîh: HR. al-Bukhâri no. 1894 dan Muslim no. 1151, dan Ibnu
Hibbân no. 3416, 3427 dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.
[6]. Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam 2/139
[7]. Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam 2/139
[8]. Tentang sedekah dan berbagai keutamaannya, silakan lihat buku
penulis SEDEKAH sebagai bukti keimanan dan penghapus dosa, cet. II
Pustaka at-Taqwa-Bogor.
[9]. Shahîh: HR. Ahmad 3/321, 399, at-Tirmidzi no. 614, ath-Thabrâni
dalam Al-Mu’jamul Kabîr 19/212, dan Ibnu Hibbân no. 1720-At-Ta’lîqâtul
Hisân.
[10]. Hasan dengan berbagai penguatnya, HR. at-Tirmidzi no. 3499,
an-Nasâ-i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 108
[11]. Shahîh: HR. Muslim no. 1163 (202) dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.
[12]. Hasan: HR. at-Tirmidzi no. 3549 dari Bilâl bin Rabâh Radhiyallahu anhu.
[13]. Shahîh: HR. al-Bukhâri no. 572, Muslim no. 640, Ahmad 3/267,
Ibnu Hibbân no. 1537 dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu.
[14]. Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam 2/145
[15]. Qawâ’id wa Fawâ-id hlm. 259
[16]. Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam 2/146
[17]. Lihat Al-Qawâ’id wa Fawâ-id hlm. 259
[18]. Shahîh: HR. al-Bukhâri no. 2518, Muslim no. 84, Ahmad 5/150,
an-Nasâ-i 6/19, dan Ibnu Hibbân no. 152
[19]. Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam 2/146
[20]. Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam 2/147
[21]. Shahîh: HR. Ahmad 2/291, 392, 442, at-Tirmidzi no. 2004, Ibnu
Mâjah no. 4246, al-Hâkim 4/324, dan Ibnu Hibbân no. 476-At-Ta’lîqâtul
Hisân dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.
[22]. Shahîh: HR. al-Bukhâri no. 6477, 6478, Muslim no. 2988,
at-Tirmidzi no. 2314, dan Ibnu Hibbân no. 5676, 5677- At-Ta’lîqâtul
Hisân dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu .
[23]. Kitâbush Shamt no. 59 karya Ibnu Abid Dunya.
[24]. Kitâbush Shamt no. 60, 653 karya Ibnu Abid Dunya.


------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke