MEWASPADAI BUDAYA-BUDAYA JAHILIYAH

Oleh
Ustadz DR Ali Musri Semjan Putra
http://almanhaj.or.id/content/3511/slash/0/mewaspadai-budaya-budaya-jahiliyah-2/

Kelima, an-Nau'.
Yaitu mempercayai bintang.

Di antara kebiasaan orang-orang jahiliyah ialah mempercayai
bintang-bintang. Di antara mereka bahkan ada yang menyembah bintang.
Mereka meyakini ada bintang-bintang tertentu yang membawa keberkahan
dan ada pula bintang-bintang tertentu membawa kesialan dan bencana.
Keyakinan ini sangat mendominasi kehidupan orang-orang jahiliyah.
Sebagaimana pula sebagian umat meyakini tentang bintang-bintang
kelahiran. Mereka menggantungkan harapan dengan bintang-bintang
tersebut, seperti mencari jodoh, menentukan pekerjaan yang cocok, dan
seterusnya.

Juga di antara keyakinan mereka bila ada bintang jatuh (meteor), maka
hal itu sebagai pertanda adanya orang penting yang lahir atau
meninggal.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ أَخْبَرَنِي رَجُلٌ مِنْ
أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ
الْأَنْصَارِ أَنَّهُمْ بَيْنَمَا هُمْ جُلُوسٌ لَيْلَةً مَعَ رَسُولِ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رُمِيَ بِنَجْمٍ فَاسْتَنَارَ
فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
مَاذَا كُنْتُمْ تَقُولُونَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ إِذَا رُمِيَ بِمِثْلِ
هَذَا قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ كُنَّا نَقُولُ وُلِدَ
اللَّيْلَةَ رَجُلٌ عَظِيمٌ وَمَاتَ رَجُلٌ عَظِيمٌ فَقَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّهَا لَا يُرْمَى بِهَا
لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ وَلَكِنْ رَبُّنَا تَبَارَكَ
وَتَعَالَى اسْمُهُ إِذَا قَضَى أَمْرًا سَبَّحَ حَمَلَةُ الْعَرْشِ
ثُمَّ سَبَّحَ أَهْلُ السَّمَاءِ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ حَتَّى يَبْلُغَ
التَّسْبِيحُ أَهْلَ هَذِهِ السَّمَاءِ الدُّنْيَا ثُمَّ قَالَ الَّذِينَ
يَلُونَ حَمَلَةَ الْعَرْشِ لِحَمَلَةِ الْعَرْشِ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ
فَيُخْبِرُونَهُمْ مَاذَا قَالَ قَالَ فَيَسْتَخْبِرُ بَعْضُ أَهْلِ
السَّمَاوَاتِ بَعْضًا حَتَّى يَبْلُغَ الْخَبَرُ هَذِهِ السَّمَاءَ
الدُّنْيَا فَتَخْطَفُ الْجِنُّ السَّمْعَ فَيَقْذِفُونَ إِلَى
أَوْلِيَائِهِمْ وَيُرْمَوْنَ بِهِ فَمَا جَاءُوا بِهِ عَلَى وَجْهِهِ
فَهُوَ حَقٌّ وَلَكِنَّهُمْ يَقْرِفُونَ فِيهِ وَيَزِيدُونَ

Dari Sahabat 'Abdullah bin 'Abbas Radhiyallahu anhu, ia berkata: Salah
seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kaum Anshar
menceritakan padaku. Ketika mereka duduk-duduk bersama Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam, ada bintang (mateor)
jatuh memancarkan cahaya. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bertanya kepada mereka: "Apa ucapan kalian pada masa jahiliyah
ketika ada lemparan (mateor) seperti ini?" Mereka menjawab: "Allah dan
Rasul-Nya yang mengetahui, dulu kami katakan, 'pada malam ini telah
dilahirkan seorang yang terhormat dan telah mati seorang yang
terhormat,' lalu Rasulullah menjelaskan: "Sesunguhnya bintang itu
tidaklah dilemparkan karena kematian seseorang dan tidak pula karena
kelahiran seseorang. Akan tetapi Tuhan kita Tabaaraka wa Ta'ala,
apabila telah memutuskan sebuah perkara, bertasbihlah para malaikat
yang membawa 'Arasy. Kemudian diikuti oleh para malaikat penghuni
langit yang di bawah mereka, sampai tasbih itu kepada para malaikat
penghuni langit dunia. Kemudian para malaikat yang di bawah para
malaikat pembawa 'Arasy bertanya kepada para malaikat pembawa 'Arasy,
Apa yang dikatakan Tuhan kita? Lalu mereka memberitahu apa yang
dikatakan Tuhan mereka. Maka malaikat penghuni langit dunia saling
bertanya pula di antara sesama mereka, sehingga berita tersebut sampai
ke langit dunia. Maka para jin berusaha mencuri dengar, lalu mereka
sampaikan kepada wali-walitnya (tukang sihir). Sehingga mereka
dilempar dengan bintang-bintang tersebut. Berita itu mereka bawa dalam
bentuk yang utuh, yaitu yang sebenarnya tetapi mereka campur dengan
kebohongan dan mereka tambah-tambahkan". [HR Muslim].

Melalui hadits di atas, kita dapat mengetahui beberapa hal, di
antaranya sebagai berikut.

1. Menerangkan keyakinan orang-orang jahiliyah terhadap bintang-bintang.
2. Menerangkan kebatilan keyakinan tersebut.
3. Di antara kegunaan bintang. ialah untuk mengusir setan (jin) yang
berusaha mencuri berita langit.
4. Tukang sihir, dukun, peramal dan tukang tenung ialah wali-wali setan (jin).
5. Menerangkan bahwa tukang sihir, dukun, peramal dan tukang tenung
tidak mengetahui yang ghaib tetapi atas pemberitahuan setan (jin).
6. Haramnya mempercayai tukang sihir, dukun, peramal dan tukang tenung,
7. Menerangkan bahwa setan (jin) mencampur berita tersebut dengan kebohongan.

Di samping itu orang-orang jahiliyah juga meminta hujan dengan
perantaraan bintang-bintang. Semua itu diharamkan bagi setiap muslim
karena merupakan kesyirikan yang nyata. Sebagaimana sabda Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الْجُهَنِيِّ أَنَّهُ قَالَ صَلَّى لَنَا
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةَ الصُّبْحِ
بِالْحُدَيْبِيَةِ فِي إِثْرِ سَمَاءٍ كَانَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَلَمَّا
انْصَرَفَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ هَلْ تَدْرُونَ مَاذَا قَالَ
رَبُّكُمْ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ قَالَ أَصْبَحَ
مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ فَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا
بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِي كَافِرٌ
بِالْكَوْكَبِ وَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا
فَذَلِكَ كَافِرٌ بِي مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ
رواه أبو داود، وقال الشيخ الألباني: صحيح.

Dari Dzaid bin Khalid al-Juhani, ia berkata: Kami diimami Rasulullah
shalat Shubuh di Hudzaibiyah pada bekas hujan yang turun pada malam
hari. Tatkala Rasulullah selesai, beliau menghadap kepada para
jama'ah, lalu bersabda: "Tahukah kalian apa telah dikatakan Rabb
kalian?" Para sahabat menjawab: "Allah dan Rasul-Nya yang lebih
mengetahui". Kata beliau: "Rabb kalian berkata,'Pagi ini di antara
hamba-Ku ada yang beriman dengan-Ku dan ada pula yang kafir. Orang
yang mengatakan kita diturunkan hujan berkat karunia Allah dan
rahmat-Nya, maka orang itu beriman dengan-Ku dan kafir dengan bintang.
Adapun orang yang mengatakan kita diturunkan hujan berkat bintang ini
dan ini, maka orang itu kafir dengan-Ku, beriman dengan bintang'." [HR
Abu Dawud. Dan Syaikh al-Albani menganggap hadits ini shahih].

Dalam sabda beliau yang lain disebutkan:

عَنْ أَبِي مَالِكٍ الْأَشْعَرِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ
الْجَاهِلِيَّةِ لَا يَتْرُكُونَهُنَّ الْفَخْرُ فِي الْأَحْسَابِ
وَالطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ وَالْاسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ
وَالنِّيَاحَةُ (رواه مسلم)

Dari Abu Malik al-Asy'ari, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda: "Ada empat hal di tengah umatku dari perkara
jahiliyah, mereka sulit untuk meninggalkannya; berbangga dengan
keturunan, mencela keturunan orang lain, minta hujan dengan
perantaraan bintang-bintang, dan meratapi mayat". [HR Muslim].

Dalam hadits ini jelas dinyatakan beberapa kebiasaan jahiliyah, di
antaranya meminta hujan dengan perantara bintang-bintang. Adapun
kebiasaan lain yang disebutkan dalam hadits tersebut akan dijelaskan
secara rinci pada poin ketujuh, kedelapan dan kesembilan. Oleh sebab
itu, disebutkan dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa
barang siapa yang mempelajari ilmu bintang, maka sesungguhnya ia
mempelajari salah satu cabang dari ilmu sihir.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ اقْتَبَسَ عِلْمًا مِنَ النُّجُومِ اقْتَبَسَ
شُعْبَةً مِنْ السِّحْرِ زَادَ مَا زَادَ (قال الشيخ الألباني : حسن)

Dari Ibnu 'Abbas Radhiyallahu anhu, ia berkata: Telah bersabda Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam : "Barang siapa yang mempelajari ilmu
nujum, berarti ia telah mempelajari satu cabang dari sihir, akan
selalu bertambah selama ia tetap mempelajarinya". [HR Abu Dawud dan
Ibnu Majah. Menurut Syaikh al-Albâni, hadits ini hasan].

Yang dimaksud ilmu nujum ialah ilmu ramal dengan perantaraan
bintang-bintang. Karena bintang memiliki kegunaan lainnya, yaitu
sebagai penunjuk arah bagi nelayan di laut, atau bagi musafir ketika
berada di tengah gurun pasir. Allah katakan dalam kitab suci
Al-Qur`ân:

وَعَلَامَاتٍ ۚ وَبِالنَّجْمِ هُمْ يَهْتَدُونَ

Dan (Dia menciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan) dan dengan
bintang-bintang mereka peroleh petunjuk (di malam hari).
[an-Nahl/16:16]

Imam Qotâdah menerangkan: "Tujuan diciptakan bintang-bintang ada tiga;
untuk hiasan bagi langit, sebagai penunjuk arah ketika malam hari,
untuk mengusir setan yang mencuri berita-berita langit. Barang siapa
yang melewati selain itu, maka ia telah berdusta, telah menghilangkan
bagiannya, dan telah berlebih-lebihan untuk mengetahui sesuatu yang ia
tidak memiliki ilmu tetangnya".[10]

Syaikh Islam Ibnu Taimiyyah menerangkan, bahwa bintang yang dijadikan
untuk melempar setan tidak sama dengan bintang yang menjadi penunjuk
arah bagi pelaut atau bagi orang yang dalam perjalanan di gurun pasir.
Karena bintang yang dijadikan untuk melempar setan pindah dari
tempatnya, tetapi bintang yang menjadi penunjuk arah tetap di
tempatnya, sekalipun semuanya disebut bintang. Sebagaimana penamaan
hewan dan binatang yang melata, manusia, binatang ternak, serangga dan
lain-lain.[11] Barang kali bintang yang menjadi pelempar setan, biasa
kita kenal di negeri kita dengan sebutan meteor. Wallahu a'lam.

Keharaman ilmu nujum atau ilmu ramal, yaitu mempercayai bintang
sebagai dalil untuk kejadian-kejadian di bumi tidak diragukan.
Disebutkan dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ
أَرْبَعِينَ لَيْلَةً (رواه مسلم)

Barang siapa yang mendatangi tukang tenung (peramal) untuk menanyakan
tetang sesuatau, tidak diterima shalatnya selama empat puluh hari. [HR
Muslim].

Tukang ramal atau tukang tenung mencakup setiap orang yang mengaku
mengetahui hal-hal ghaib yang akan terjadi, seperti dukun, ahli
bintang, peramal, dan lain-lain.[12] Anehnya di tengah masyarakat,
mereka digelari dengan sebutan orang pintar, untuk mengelabui
orang-orang awam.

Keenam : al-Ghûl.
Yaitu mempercayai adanya hantu yang dapat menyesatkan dan mencelakakan
manusia dalam perjalanannya.

Menurut anggapan tersebut, hantu itu muncul dalam bentuk berbeda-beda
ketika melewati padang pasir lalu menyesatkan dan mencelakakan
manusia. Maka Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam menafikan
persangkaan tersebut tetapi tidak menafikan keberadaannya. Sedangkan
orang-orang jahiliyah, mereka menyakini hantu itu bisa berubah bentuk
dan mencelakakan manusia. Kepercayaan ini termasuk syirik, karena
menakut-nakuti sesuatu yang ghaib selain Allah dan mempercayai
memiliki kemudaratan.[13]

Oleh sebab itu, di antara kebiasaan orang-orang jahiliyah apabila
berhenti atau turun di suatu tempat, mereka berkata: "Aku berlindung
dari jin penjaga tempat ini, dari kenakalan orang-orang bodoh mereka".
Maka di antara setan ada yang mencuri barang bawaan mereka. Sehingga
mereka memohon kepada jin di tempat tersebut: "Kami adalah
tetanggamu," maka jin tersebut menyahut dan mengembalikan
barang-barang mereka.[14]

Dalam hal ini Rasulullah mengajarkan, jika kita berhenti pada suatu
tempat dalam suatu perjalanan hendaklah membaca doa berikut :

إِذَا نَزَلَ أَحَدُكُمْ مَنْزِلًا فَلْيَقُلْ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ
اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ فَإِنَّهُ لَا يَضُرُّهُ
شَيْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْهُ (رواه مسلم)

Apabila salah seorang kalian berhenti pada suatu tempat hendaklah ia
membaca, a'udzu bi kalimatillahittammati min syarrima kholak (aku
berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejelekkan
apa yang telah Dia ciptakan), maka sesungguhnya ia tidak akan diganggu
oleh sesuatupun sampai ia meninggalkan tempat tersebut. [HR Muslim].

عَنْ أَبِي مَالِكٍ الْأَشْعَرِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ
الْجَاهِلِيَّةِ لَا يَتْرُكُونَهُنَّ الْفَخْرُ فِي الْأَحْسَابِ
وَالطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ وَالْاسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ
وَالنِّيَاحَةُ (رواه مسلم)

Dari Abu Malik al-Asy'ari, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda: "Ada empat hal di tengah umatku dari perkara
jahiliyah, mereka sulit untuk meninggalkannya; berbangga dengan
keturunan, mencela keturunan orang lain, minta hujan dengan
perantaraan bintang-bintang, dan meratapi mayat". [HR Muslim].

Dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas ada empat
kebiasaan jahiliyah yang amat sulit ditinggalkan oleh sebagian umat
ini. Dan agar lebih tertib dan lebih mudah untuk memahami dan
menghitung kebiasaan orang-orang jahiliah yang bisa kita kupas dalam
bahasan ini, kita lanjutkan nomor di atas sebagai berikut.

Ketujuh : Membanggakan Keturunan.
Di antara kebiasaan orang-orang jahiliyah, ialah senang membanggakan
kebaikan dan kelebihan bapak-bapak mereka. Jelas hal ini bertentangan
dengan ajaran Islam yang mulia, karena ukuran kemuliaan dalam Islam
bukan bentuk yang tampan, wajah cantik, harta banyak, jabatan tinggi,
ataupun gelar yang melingkar, akan tetapi kemulian seseorang diukur
dengan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala . Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ
وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ
أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ
خَبِيرٌ

Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang
laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah
ialah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui
lagi Mahateliti. (Qs al-Hujurat/49:13).

Agaknya standar kemuliaan ini sudah mulai semu pada sebagian pandangan
kita, sehingga sebagian memacu kemuliaan di luar ketakwaan. Ketika
pandangan masyarakat mulai keliru dalam menilai, saat itu tujuan dan
haluan hidup mulai bergeser. Sehingga berbagai penyelewengan terjadi
dalam berbagai lini kehidupan. Ada yang menggapainya dengan ketampanan
dan kecantikan, sekalipun mempertontonkan aurat di hadapan manusia.
Ada pula yang menggapainya dengan harta, sekalipun mendapatkannya
dengan cara haram. Ada pula yang menggapainya dengan pangkat dan
jabatan, sekalipun memalsukan dokumen dan melakukan penyuapan. Ada
lagi yang menggapainya dengan gelar, sekalipun dengan cara membeli.
Na'udzubllah min dzalik.

Mudah-mudahan dengan adanya saling mengingatkan, maka pandangan
tersebut dapat diluruskan kembali. Mari kita capai kemuliaan dengan
ketakwaan kepada Allah. Harta bisa mengantarkan kepada ketakwaan jika
dihasilkan dari jalan yang halal dan diinfaqkan pada yang halal.
Begitu pula profesi lainnya, hendaklah dijadikan sebagai fasilitas
untuk mencapai ketakwaan dan keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala .

Begitu juga dengan keturunan. Demi mencari kemuliaan, sebagian orang
ada yang mengaku sebagai keturunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
. Yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah apabila pengakuan tersebut
dimanfaatkan untuk melakukan legalitas perbuatan bid'ah dan kesesatan
dalam agama. Sekalipun seseorang benar-benar keturunan Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam , akan tetapi selama ia tidak
benar-benar mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka
sesungguhnya hubungan keturunan tidak bernilai di sisi Allah. Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ (رواه مسلم)

Dan orang yang dilambatkan amalnya, tidak bisa dipercepat oleh
hubungan keturunannya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakannya kepada kedua
paman dan putri beliau sendiri, bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa
sallam tidak bisa menjaga mereka dari adzab Allah sedikitpun.

قال النبي : يَا عَبَّاسَ بْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ لَا أُغْنِي عَنْكَ
مِنَ اللَّهِ شَيْئًا يَا صَفِيَّةُ عَمَّةَ رَسُولِ اللَّهِ لَا أُغْنِي
عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا يَا فَاطِمَةُ بِنْتَ رَسُولِ اللَّهِ
سَلِينِي بِمَا شِئْتِ لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا (متفق
عليه)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Wahai 'Abbas bin
'Abdul-Muthalib! Aku tidak bisa menjagamu dari (adzab) Allah
sedikitpun. Wahai Shofiyah paman Rasulullah, aku tidak bisa menjagamu
dari (adzab) Allah sedikitpun. Wahai Fathimah binti Rasulullah
mintalah harta kepadaku apa saja yang kau mau, aku tidak bisa
menjagamu dari (adzab) Allah sedikitpun". [HR al-Bukhâri dan Muslim].

Oleh sebab itu, bila seseorang benar-benar dari keturunan Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam jangan bergantung kepada hubungan
keturunan semata. Hubungan keturunan itu akan menjadikan lebih mulia,
bila diiringi dengan amal shalih. Sehingga mencintai keluarga Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dari yang lainnya, bukan karena
hubungan keturunan semata. Namun jika keluarga Nabi tersebut adalah
seorang mukmin yang shalih, maka wajib bagi kita dalam mencintainya
melebihi dari yang lainnya. Ini dikarenakan dua hal, karena
ketakwaannya dan karena hubungan keturunannya dengan Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam . Jadi tidaklah benar, kalau ada sebagian orang
menilai bahwa Ahlus-Sunnah tidak mencintai keluarga Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam . Mencintai mereka bukan berarti dengan memberikan
kedudukan kepada mereka melebihi dari hak yang diberikan Allah,
seperti mengkultuskan mereka dan menganggap mereka maksum dari
kesalahan.

Kedelapan, Mencela Keturunan Orang Lain.
Di antara kebiasaan orang-orang jahiliyah, ialah senang mencela
keturunan orang lain. Barang kali perilaku ini dampak dari saling
berbangga dengan keturunan. Sehingga untuk membela bahwa keturunannya
lebih mulia, kemudian ia mencela keturunan orang lain. Misalnya
mengingkari keturunan seseorang, mengingkari orang yang mengaku
sebagai keturunan suku tertentu, atau menebarkan aib dan kejelekan
keturunan seseorang atau suku tertentu. Ini semua merupakan kebudayaan
dan kebiasaan jahiliyah yang harus dihindari oleh seorang muslim.

Pada masa sekarang sering terjadi adanya orang tua yang mengingkari
anaknya. Perbuatan ini termasuk dalam larangan hadits tersebut.
Sebaliknya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melarang seseorang
mengaku sebagai keturunan dari suku tertentu, padahal ia bukan dari
mereka. Misalnya orang yang mengaku sebagai keturunan Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam , padahal ia bukan keturunan Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam . Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِنَّ مِنْ أَعْظَمِ الْفِرَى أَنْ يَدَّعِيَ الرَّجُلُ إِلَى غَيْرِ
أَبِيهِ أَوْ يُرِيَ عَيْنَهُ مَا لَمْ تَرَ أَوْ يَقُولُ عَلَى رَسُولِ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا لَمْ يَقُلْ (رواه
البخاري)

Sesungguhnya kebohongan yang amat besar di sisi Allah, yaitu seseorang
yang mengaku kepada selain bapaknya. Atau mengaku matanya melihat apa
yang tidak ia lihat. Atau mengatakan terhadap Rasulullah sesuatu yang
tidak beliau katakan. [HR al-Bukhâri].

Dalam riwayat lain beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ وَهُوَ يَعْلَمُ فَالْجَنَّةُ
عَلَيْهِ حَرَامٌ (متفق عليه)

Barang siapa yang mengaku kepada selain bapaknya sedangkan ia
mengetahui bahwa ia bukan bapaknya, maka diharamkan baginya surga. [HR
al-Bukhâri dan Muslim].

Kesembilan : an-Niyâhah.
Yaitu meratapi mayat.

Di antara adat kebiasaan jahiliyah, yaitu meratapi mayat. Dalam Islam,
perbuatan seperti ini diharamkan, karena seolah-olah ia menentang
keputusan dan ketetapan Allah.

Pada masa jahiliyah, jika salah seorang dari anggota keluarga
meninggal dunia, maka anggota keluarga yang masih hidup meratapinya
dengan memukul-mukul muka dan merobek-robek pakaian. Bahkan ada pula
yang mengurung diri di rumahnya dan senantiasa berpakaian kumuh sampai
akhir hayatnya. Oleh sebab itu, datang ancaman bagi orang yang
meratapi mayat di akhir hadits tersebut:

وَقَالَ النَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا تُقَامُ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ
(رواه مسلم)

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Wanita yang
meratapi mayat bila tidak bertobat sebelum meninggal, ia dibanglitkan
pada hari kiamat memakai baju dari timah panas dan mantel dari aspal
panas. [HR Muslim].

Dalam hadits lain disebutkan:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الْخُدُودَ
وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ (متفق عليه)

Dari 'Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu anhu ia berkata: Telah bersabda
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : "Tidak termasuk golongan
kami siapa yang memukul-mukul muka dan merobek-robek baju serta
menyeru dengan seruan jahiliyah". [HR al-Bukhâri dan Muslim].

Pada masa ini, kebiasaan itu masih ditiru oleh sebagian kecil umat
ini. Dan yang lebih sesat lagi, mereka menjadikannya sebagai ibadah
yang dapat mendekatkan diri pada Allah. Sebagaimana yang dilakukan
oleh orang-orang Syi'ah Rafidhah setiap tahunnya pada tanggal sepuluh
Muharram di padang Karbala. Kebiasaan ini sangat jelas merupakan
penentangan yang nyata terhadap ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam.

Di tengah pesatnya kemajuan teknologi dan informasi, sebagian lagi
menilai bahwa kemajuan itu dicapai dengan mengabaikan norma-norma
agama. Ada pula yang beranggapan, agama menjadi penghambat kemajuan,
apalagi menjalankan ajaran agama dengan konsekwen dan istiqamah.
Kebutuhan ekonomi harus menjadi prioritas utama untuk mencapai
kesejahteraan dan kemakmuran. Bahkan demi mengeruk income yang besar
dari pariwisata, kebiasaan-kebiasaan kuno kembali dihidupkan sekaligus
melestarikan segala budaya-budaya kuno. Misalnya kebiasaan suatu suku
yang tidak berpakaian harus dilestarikan, perayaan pemberian sesajian
ke gunung dan ke laut serta ke tempat-tempat yang dianggap keramat
harus senantiasa dilakukan.

Bukankah ini suatu kekeliruan dalam berpikir dan beragama? Secara
akal, perilaku ini bertentangan dengan slogan kehidupan, bahwa hidup
ini harus maju dalam segala segi.

Begitu pula ditinjau dari sudut pandang agama, kebiasaan ini sangat
bertentangan dengan tugas Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam ,
merobohkan pondasi tauhid dan tiang-tiang agama. Oleh karena itu, kita
harus mewaspadai dan selalu siaga dalam menjaga iman. Tidak tertipu
dengan berbagai slogan yang seolah indah, tetapi hakikatnya
menyesatkan. Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus
untuk memerangi segala perbuatan jahiliyah?

Wallahu a'lam, washalallahu 'ala Nabiyina Muhammad wa 'ala alihi
washahbihi ajma'în.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10-11/Tahun XI/1428/2007M.
Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8
Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[10]. Tafsir ath-Thabari, 17/185.
[11]. Majmu' al-Fatâwâ, 35/168.
[12]. Majmu' al-Fatâwâ, 35/173.
[13]. Taisîr al-'Azîz, 380 dan Syarah Qashidah Ibnul-Qayyim, 2/321.
[14]. Ma'ârijul-Qabûl, 3/995.


------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke