PESAN MORAL DARI KISAH ASHABUL-KAHFI

Oleh
Ustadz Muhammad 'Ashim bin Musthofa
http://almanhaj.or.id/content/3514/slash/0/pesan-moral-dari-kisah-ashhabul-kahfi-1/

أَمْ حَسِبْتَ أَنَّ أَصْحَابَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيمِ كَانُوا مِنْ
آيَاتِنَا عَجَبًا

Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang
mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang
mengherankan? [al-Kahfi/18:9].

PENDAHULUAN
Sangat banyak kisah dari umat terdahulu yang difirmankan Allah di
dalam kitab-Nya yang mulia, Al-Qur`ânil-Karim. Yang secara nyata
menunjukkan betapa besar faidahnya untuk menuntun umat manusia kepada
hidayah. Tidak mengherankan, karena paparan kisah termasuk media
pembelajaran yang penting. Apalagi, biasanya seseorang mempunyai
kecenderungan lebih mudah untuk meresapi pesan-pesan moral dari sebuah
cerita yang shahih.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menyampaikan ada empat faktor
yang telah menyebabkan kisah dari Allah Subhanahu wa Ta’alamenjadi
sarana pelajaran yang terbaik lagi paling sempurna.[1] Yaitu: (1)
karena kisah tersebut bersumber dari ilmu Allah, (2) berisi kejujuran,
(3) diungkapkan dengan gaya bahasa sastra yang tinggi, jelas lagi
terang. Tidak ada perkataan yang lebih jelas dibandingkan Kalamullah,
kecuali bagi orang yang hatinya sudah disesatkan Allah, sehingga
ketika mendengar kisah-kisah yang dituturkan Allah dalam kitab-Nya, ia
mengatakan: “Ini adalah dongeng-dongeng masa lalu”. (4) muncul karena
merupakan kehendak Allah. Dengan kisah-kisah tersebut, Allah tidak
menginginkan kesesatan ada pada diri kita, atau berbuat curang
terhadap hukum yang telah ditetapkan. Namun dengan kisah tersebut,
Allah menginginkan agar kita mendapatkan hidayah dan berdiri tegak di
atas keadilan.

KISAH ASH-HABUL-KAHFI, MERUPAKAN TANDA KEBESARAN ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA
Dalam surat Al-Kahfi, Allah menyampaikan salah satu kisah kehidupan
masa lalu. Yakni yang dikenal dengan ashhabul-kahfi, yaitu para pemuda
penghuni gua, yang dikisahkan secara global .

Dalam sebuah keterangan disebutkan, bahwa mereka memeluk agama Nabi
‘Isa bin Maryam. Akan tetapi, Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah
merajihkan, bahwa pemuda-pemuda itu hidup sebelum perkembangan millah
Nashraniyah. Seandainya mereka memeluk agama Nashrani, sudah tentuk
para pendeta Yahudi tidak memiliki data tentang mereka. Sedangkan
peristiwa ashhabul-kahfi, merupakan tema yang dikemukakan oleh Yahudi
kepada kaum Quraisy untuk "menguji" kebenaran kenabian Rasulullah
Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, selain pertanyaan tentang
Dzul-Qarna-in dan roh. Ini menunjukkan bila peristiwa tersebut sudah
terbukukan dalam kitab-kitab ahli kitab, dan terjadi sebelum
kemunculan agama Nashrani. Wallahu a’lam. [2]

Bentuk istifham (kata tanya) pada ayat di atas, bermakna penafian dan
larangan. Maksudnya, janganlah engkau menyangka kisah ashhabul-kahfi
(penghuni gua) dan peristiwa yang terjadi pada mereka adalah perkara
yang aneh untuk menjadi sebuah tanda kekuasaan Allah dan perkara yang
mengagumkan pada ketentuan hikmah-Nya. Hingga beranggapan tidak ada
kisah dan peristiwa lain yang sepadan dengannya.

Tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menakjubkan lagi
aneh, setaraf dengan tanda-tanda kebesaran-Nya pada ash-habul-kahfi,
bahkan yang lebih besar dari peristiwa tersebut sangat banyak. Allah
Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memperlihatkan kepada para hamba-Nya
tanda-tanda kebesaran-Nya di langit, bahkan pada diri mereka sendiri,
sehingga kebenaran menjadi jelas dari kebathilan, menjadi jelas pula
antara petunjuk dibandingkan dengan kesesatan. Penafian ini tidak
ditujukan, kalau kisah ash-habul- kahfi ini termasuk perkara yang
menakjubkan. Justru, kisah ini termasuk salah satu tanda kekuasaan
Allah yang mengagumkan.

Akan tetapi, sekali lagi maksud peniadaan ini ialah, bahwa peristiwa
semacam itu sangat banyak. Jika kekaguman tersebut hanya terpaku
dengan kisah ini saja, maka itu berarti mencerminkan kedangkalan ilmu
dan akal. Karena seorang mukmin, semestinya merenungi seluruh
tanda-tanda kekuasaan-Nya, yang dengannya Allah Subhanahu wa Ta’ala
mengajak para hamba-Nya agar memikirkannya. Karena, memikirkan
tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’alamerupakan kunci
keimanan, jalan menuju ilmu dan keyakinan.[3]

Ibnu Katsir rahimahullah juga menuturkan pengertian yang tidak
berbeda, yaitu: "Peristiwa yang terjadi terhadap diri mereka tersebut
bukan sesuatu yang menakjubkan dalam kemampuan dan kekuasaan Kami.
Sesungguhnya penciptaan langit, bumi, pergantian malam dan siang,
pengendalian matahari, bulan, bintang-bintang dan lain sebagainya,
(semua itu) termasuk tanda kebesaran (Allah) yang agung, yakni
menandakan kekuasaan Allah Ta’ala. Dan sesungguhnya, Ia Mahakuasa atas
segala yang Ia kehendaki. Tidak ada suatu kejadian yang lebih
mengagumkan dari kejadian-kejadian para penghuni gua yang dapat
melemahkan (kekuasaan)-Nya”. Ungkapan ini, ialah sebagaimana
dinyatakan oleh Ibnu Juraij dan Mujahid.[4]

Arti Al-Kahfi, yaitu sebuah gua di gunung, dan menjadi tempat pelarian
para pemuda tersebut. Sedangkan Ar-Raqim, pengertiannya diperdebatkan
oleh para ulama. Adapun pendapat yang menjadi pilihan Al-Imam
Ath-Thabari, yang juga diikuti oleh Al-Hafizh Ibnu Katsir
rahimahullah, Ar-Raqim adalah kitab yang berisi tulisan. Syaikh
As-Sa’di rahimahullah menambah dengan keterangan, yaitu sebuah kitab,
yang di dalamnya telah tertulis nama-nama dan kisah-kisah mereka, dari
awal sampai akhir.[5]

إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ
لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke
dalam gua, lalu mereka berdoa: "Wahai Rabb kami, berikanlah rahmat
kepada kami dari sisi-Mu, dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang
lurus dalam urusan kami (ini)". [al-Kahfi/18 : 10].

Al-Fityah jamak dari kata al fata, yaitu pemuda yang berada dalam
puncak kekuatan dan ambisi.

Allah Ta’ala mengabarkan, mereka ialah para pemuda yang lari untuk
menyelamatkan keyakinan dari kaum mereka yang sudah terjerat oleh
kesyirikan dan pengingkaran terhadap hari Kebangkitan, supaya fitnah
itu tidak menimpa mereka. Maka, mereka pun mengungsi ke sebuah gua
yang berada di gunung, dengan maksud untuk menyembunyikan diri dari
kaum mereka.[6]

Ketika memasuki gua tersebut, mereka berdoa kepada Allah memohon
rahmat dan belas-kasih-Nya.

رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً, memiliki arti, berilah kami
rahmat dari sisi-Mu, agar Engkau mengasihi dan menjaga kami dari
(fitnah yang menimpa) kaum kami.

وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا, maksudnya, tetapkanlah bagi
kami hidayah. Yakni, jadikan kesudahan kami bermuara pada hidayah yang
lurus.[7]

Dikatakan oleh Syaikh Asy-Syinqithi rahimahullah, bahwa permohonan
mereka tersebut merupakan doa yang agung dan mencakup seluruh
kebaikan.

Dari doa para pemuda itu, terdapat satu sisi yang ditekankan oleh
Syaikh As-Sa’di rahimahullah, yakni, mereka telah menggabungkan antara
lari dari fitnah dengan menuju ke suatu tempat yang bisa menjadi
persembunyian dengan ketundukan dan permintaan kepada Allah agar
dimudahkan urusan-urusannya, dan tidak menyandarkan urusan-urusan
kepada diri mereka sendiri dan kepada sesama makhluk lainnya.[8]

فَضَرَبْنَا عَلَىٰ آذَانِهِمْ فِي الْكَهْفِ سِنِينَ عَدَدًا ثُمَّ
بَعَثْنَاهُمْ لِنَعْلَمَ أَيُّ الْحِزْبَيْنِ أَحْصَىٰ لِمَا لَبِثُوا
أَمَدًا

Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu. Kemudian
Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua
golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka
tinggal (dalam gua itu) [al-Kahfi/18 : 11-12].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak agar mereka tertidur ketika
memasuki goa tersebut. Mereka pun tidur di dalamnya selama
bertahun-tahun. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala membangunkan mereka
dari kelelapan. Selanjutnya, salah seorang dari mereka mengambil
beberapa uang dirham untuk membeli makanan untuk mereka, yang nanti
akan dijelaskan secara lebih terperinci.

Terbangunnya para pemuda tersebut dari tidur, diistilahkan dengan al
ba’tsu (kebangkitan), karena seperti kematian. Allah Subhanahu wa
Ta’ala membangunkan mereka untuk mengetahui siapakah yang lebih benar
perhitungannya tentang masa tinggal mereka (di dalam goa). Sebab para
pemuda itu telah berselisih pendapat mengenai lamanya mereka tinggal
di dalam goa.[9]

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ ۚ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ
آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى

Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar.
Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb
mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk. [al-Kahfi/18 : 13]

Inilah kisah mereka. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah
mengisahkan kepada Nabi Muhammad n dengan benar sesuai kenyataan yang
terjadi, tidak ada keraguan padanya, dan tidak pula terdapat kerancuan
sedikit pun. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan, mereka adalah
sekumpulan pemuda yang menerima kebenaran dan lebih lurus jalannya
daripada generasi tua dari kalangan mereka, yang justru menentang dan
bergelimang dengan agama yang batil.

Pemuda-pemuda tersebut hanya beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
semata, tidak seperti kaum mereka. Maka, Allah Subhanahu wa Ta’ala
mensyukuri keimanan mereka, dan kemudian menambahkan hidayah atas diri
mereka. Maksudnya, disebabkan hidayah kepada keimanan, maka Allah
menambahkan petunjuk kepada mereka, yakni berupa ilmu yang bermanfaat
dan amal shalih. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى

dan Allah akan menambahi petunjuk kepada mereka yang telah mendapatkan
petunjuk. [Maryam/19:76].[10]

Sebuah kesimpulan menarik dikemukakan oleh Al-Hafizh Ibnu Katsir
rahimahullah, yaitu bertolak dari penegasan bahwa mereka merupakan
sekumpulan pemuda, maka kata beliau rahimahullah : “Oleh karena itu,
kebanyakan orang yang menyambut dakwah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan
Rasul-Nya berasal dari kalangan para pemuda. Sedangkan para orang tua
dari kaum Quraisy, kebanyakan masih memegangi agama mereka, tidak
memeluk Islam kecuali sedikit saja. Demikianlah Allah mengabarkan,
bahwa mereka itu adalah para pemuda”.[11]

Ayat ini termasuk yang dijadikan dalil oleh banyak ulama, seperti
Al-Bukhari rahimahullah, untuk menunjukkan sebuah hakikat, yakni
pertambahan dan tingkatan keimanan berbeda-beda, dan iman itu naik dan
turun. [12]

وَرَبَطْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ
السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَٰهًا ۖ لَقَدْ
قُلْنَا إِذًا شَطَطًا

Dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri, lalu
mereka berkata: "Rabb kami adalah Rabb langit dan bumi, kami
sekali-kali tidak menyeru ilah selain Dia, sesungguhnya kami kalau
demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran".
[al-Kahfi/18 : 14].

Tentang maksud ayat ini, Al-Imam Ath-Thabari rahimahullah menyatakan:
"Dan Kami (Allah) mengilhamkan kesabaran kepada mereka dan mengokohkan
hati mereka dengan cahaya keimanan, hingga jiwa mereka berlepasa diri
dari sebelumnya, yaitu kebiasaan hidup yang menyenangkan.[13]

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengkaruniakan atas mereka keteguhan dan
kekuatan untuk bersabar, sehingga mereka berani memaklumatkan di
hadapan orang-orang kafir: “"Rabb kami adalah Rabb langit dan bumi,
kami sekali-kali tidak menyeru ilah selain Dia, sesungguhnya kami
kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari
kebenaran “.[14]

Kemantapan dan keteguhan hati bagi mereka sangat dibutuhkan. Karena,
seluruh penduduk memusuhi mereka, sedangkan usia mereka pada waktu itu
masih muda, yang bisa saja dipengaruhi oleh orang tua. Akan tetapi
Allah telah meneguhkan hati mereka. Demikian menurut tinjauan Syaikh
Al-‘Utsaimin rahimahullah [15].

Pengertian (إِذًا) pada ayat di atas, yaitu seandainya kami memohon
kepada sesembahan selain Allah, niscaya perkataan kami telah
menyimpang, dan kami terjermus ke dalam kekufuran. Mereka benar.
Seandainya mereka berdoa kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala,
berarti mereka telah mengucapkan dengan perkataan yang salah dan
menjerumuskan kepada kekufuran. [16]

Dalam pernyataan itu, para pemuda tersebut telah memadukan antara
ikrar terhadap tauhid rububiyyah dengan tauhid uluhiyyah dan konsisten
dengannya, disertai dengan penjelasan bahwa Allah-lah Dzat yang Haq,
dan selain-Nya merupakan kebatilan. Ini menunjukkan, mereka
benar-benar mengenal Rabb dan adanya tambahan hidayah pada mereka.[17]

هَٰؤُلَاءِ قَوْمُنَا اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً ۖ لَوْلَا
يَأْتُونَ عَلَيْهِمْ بِسُلْطَانٍ بَيِّنٍ ۖ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ
افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا

Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai ilah-ilah (untuk
disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang
(tentang kepercayaan mereka). Siapakah yang lebih zhalim daripada
orang-orang yang mengada-ada kebohongan terhadap Allah. [al-Kahfi/18
:15].

Para pemuda itu ingin menunjukkan argumentasi, mengapa mereka
mengasingkan diri dari kaumnya. Kata mereka: "Orang-orang menjadikan
sesembahan selain Allah, menyembah selain Allah. (Mengapa) mereka
tidak membuktikan bahwa sesembahan itu benar, dan menunjukkan faktor
yang menjadi penyebab mereka menyembahnya?"

Jadi, ada dua tuntutan pada kaum mereka. Yaitu: (1) meminta pembuktian
bahwa sesembahan mereka adalah ilah (sesembahan yang haq), (2) meminta
pembuktikan, bahwa ibadah yang mereka lakukan adalah benar. Dan dua
hal ini, mustahil dapat dibuktikan oleh orang-orang tersebut.

Selanjutnya, kata مَنْ (man) dalam bentuk tanya pada ayat di atas
bermakna naif (peniadaan). Maksudnya, tidak ada orang yang lebih
aniaya dibandingkan orang yang memalsukan atas nama Allah Subhanahu wa
Ta’ala. Selain itu, memuat unsur lain, yaitu berupa tantangan. Jadi,
seolah-olah Anda menyatakan, beritahukan kepadaku, atau carikan bagiku
orang yang lebih aniaya dari orang yang berdusta atas nama Allah
Subhanahu wa Ta’ala.

Siapakah orang yang paling aniaya dari orang yang berdusta atas nama
Allah dengan menisbatkan sekutu bagi Allah dan lain sebagainya? Maka
setiap orang yang berdusta atas nama Allah, maka tidak ada seorang pun
yang melebihi kezhalimannya. Jika Anda berdusta atas nama seseorang,
ini adalah kezhaliman. Bila Anda melakukan kepada orang yang lebih
tinggi kedudukannya, maka tentunya lebih berat tingkat kezhalimannya
dari orang pertama. Bagaimana pula jika kedustaan ini Anda palsukan
atas nama Allah? Niscaya tingkat kezhalimannya semakin tinggi.[18]

Dalam kondisi demikian, jika muncul fitnah yang mengancam agama
seseorang, maka disyariatkan bagi seseorang untuk menyingkirkan diri
dari khalayak demi keselamatan agamanya.[19] Itulah yang dilakukan
oleh para pemuda tadi, sebagaimana disebutkan pada ayat berikut ini.

وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ فَأْوُوا
إِلَى الْكَهْفِ يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيُهَيِّئْ
لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ مِرْفَقًا

Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain
Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Rabbmu
akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu
yang berguna bagimu dalam urusan kamu. [16].

Sebagian pemuda berkata kepada yang lain: "Jika kalian berhasil
mengasingkan diri dari kaum kalian dengan jasad-jasad dan agama, maka
tidak tersisa (sikap) kecuali menyelamatkan diri dari keburukan mereka
dan menempuh langkah-langkah yang dapat mewujudkannya. Lantaran para
pemuda tersebut tidak memiliki kekuatan untuk memerangi kaumnya, dan
tidak mungkin pula mereka tinggal bersama di tengah kaumnya dengan
keyakinan yang berbeda".[20] Sehingga cara yang mereka tempuh ialah
berlindung di dalam goa[21] dengan harapan dapat mereguk rahmat dan
kemudahan dari Allah.

Tidaklah disangkal, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’alatelah mencurahkan
sebagian rahmat-Nya dan memudahkan urusan mereka dengan petunjuk yang
lurus dalam urusan mereka. Karenanya, Allah Subhanahu wa Ta’ala
menjaga agama dan fisik mereka, serta menjadikannya termasuk
tanda-tanda kekuasaan-Nya di hadapan makhluk. Allah Subhanahu wa
Ta’ala menyebarluaskan citra yang baik bagi mereka yang termasuk
curahan rahmat-Nya kepada mereka dan memudahkan segala faktor
pendukung bagi mereka. Bahkan tempat untuk tidur mereka, berada dalam
pemeliharaan yang tinggi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَتْ تَزَاوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ ذَاتَ
الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَتْ تَقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِي
فَجْوَةٍ مِنْهُ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ۗ مَنْ يَهْدِ اللَّهُ
فَهُوَ الْمُهْتَدِ ۖ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا
مُرْشِدًا

Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka
ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke
sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua
itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah.
Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat
petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan
mendapat seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.
[al-Kahfi/18 :17]

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga mereka dari sengatan matahari,
menyediakan sebuah gua. Dan apabila matahari terbit, posisinya
menyerong ke arah kanan gua. Adapun ketika terbenam, pancaran sinar
matahari menerpa sebelah kiri gua. Sehingga, sengatan panas matahari
tidak menimpa mereka secara langsung, yang bisa menimbulkan kerusakan
bagi tubuh-tubuh mereka.[23] Ini menunjukkan, pintu goa menghadap ke
utara. Bila pintu goa menghadap ke arah timur, maka tidak akan ada
sinar yang masuk saat matahari terbenam. Jika menghadap arah selatan,
maka tidak ada pancaran sinar pada pagi dan sore hari. Jika menghadap
arah barat, sudah tentu sinar tidak memasuki goa saat terbit matahari.
[24]

Mereka berada dalam tempat yang luas dari goa itu. Keadaan demikian,
supaya hawa dan arus udara mengenai mereka, dan kandungan udara yang
buruk dapat keluar. [25]

Peristiwa tersebut termasuk tanda kebesaran Allah. Para pemuda
tersebut mendapat bimbingan Allah untuk menuju goa tersebut, dan Allah
menjadikan mereka tetap hidup, sinar matahari dan angin mengenai
mereka, sehingga fisik mereka tetap terjaga. [26]

Melalui ayat ini, Syaikh al ‘Utsaimin rahimahullah mengambil
isthimbath, terdapat bukti kalau mataharilah yang bergerak. Disebabkan
gerakan itu, matahari terbit dan terbenam. Berbeda dengan yang
diyakini orang-orang sekarang bahwa yang bergerak adalah bumi,
sementara matahari hanya diam. Kita mempunyai sebagian (ayat dari)
Kalamullah yang harus kita tetapkan apa adanya, dan tidak meninggalkan
makna yang eksplisit ini kecuali dengan dalil yang jelas. Bila
terjadinya malam dan siang terbukti dengan fakta yang akurat karena
peredaran bumi, maka di saat itu, kita mesti mentakwilkan ayat-ayat
tersebut menuju makna yang sesuai dengan realita. [27]

Di akhir ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyampaikan bahwa
Dia-lah yang memberi petunjuk kepada para pemuda itu menuju hidayah di
tengah kaum mereka. Siapa saja yang dianugerahi hidayah, sungguh ia
telah meraih petunjuk. Dan barang siapa disesatkan, maka tidak ada
seorang pun yang sanggup meluruskannya. [28]

Dalam kisah yang berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala ini tersirat
sebuah peringatan, bahwa kita tidak boleh meminta hidayah kecuali
hanya kepada Allah. Begitu pula kita tidak perlu bimbang saat melihat
ada orang yang tersesat. Karena kesesatan seseorang itu berada di
tangan Allah. Kita mengimani takdir, tidak murka lantaran melihat
kesesatan yang terjadi dari Allah. Kewajiban kita, mengarahkan mereka
yang telah sesat.[29]

وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًا وَهُمْ رُقُودٌ ۚ وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ
الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ ۖ وَكَلْبُهُمْ بَاسِطٌ ذِرَاعَيْهِ
بِالْوَصِيدِ ۚ لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ
فِرَارًا وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا

Dan kamu mengira mereka itu bangun padahal mereka tidur; dan kami
balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka
mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu
menyaksikan mereka, tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan
melarikan (diri) dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi dengan
ketakutan terhadap mereka. [al-Kahfi/18:18].

Syaikh ‘Abdur-Rahman as-Sa’di rahimahullah dengan mengutip keterangan
para ulama tafsir, beliau mengatakan: "Hal itu karena mata mereka
tetap terbuka supaya tidak rusak, sehingga orang yang melihat,
menyangka mereka terjaga padahal sedang tidur. Ini juga merupakan
pemeliharaan Allah terhadap tubuh-tubuh mereka. Karena umumnya gesekan
bumi mampu menggerogoti tubuh yang bersentuhan dengannya. Di antara
ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dia membolak-balikkan tubuh
mereka ke kanan dan ke kiri,[30] sehingga tidak menyebabkan bumi
merusak tubuh mereka, meskipun Allah Maha Kuasa menjaga tubuh mereka
tanpa perlu membolak-balikannya. Akan tetapi, Allah Maha Bijaksana.
Dia ingin memberlakukan sunnah-Nya di alam semesta dan mengaitkan
faktor-faktor sebab dan akibat.

Anjing yang menyertai ashhabul kahfi, pun tertidur seperti mereka pada
waktu berjaga-jaga. Anjing tersebut mengunjurkan kedua lengannya di
muka pintu gua.

Adapun penjagaan mereka dari kalangan manusia, Allah Subhanahu wa
Ta’ala mengabarkan bahwa mereka dijaga dengan perasaan takut yang
Allah tebarkan. Seandainya ada orang melihat mereka, niscaya hatinya
akan sarat dengan rasa takut dan lari tunggang langgang. Inilah faktor
yang menyebabkan mereka bisa tinggal lama, dan tidak ada seorang pun
yang berhasil melacak mereka, padahal keberadaannya dari kota tersebut
sangat dekat sekali. Dalil yang menunjukkan dekatnya tempat mereka,
yaitu tatkala mereka terbangun, dan salah seorang mengutus temannya
agar membeli makanan di kota, sedangkan yang lain menunggu
kedatangannya. Ini menunjukkan betapa dekat goa yang mereka tempati
dari kota.[31]

Wallahu a'lam.


Maraji`:
1. Al-Jâmi' li Ahkamil-Qur`ân, Abu 'Abdillâh Muhammad bin Ahmad al
Qurthubi, Tahqîq: 'Abdur-Razzaq Al-Mahdi, Dâr Al-Kitab Al-‘Arabi,
Cetakan II, Tahun 1421 H/1999 M.
2. Tafsîr Ath-Thabari (Jami'ul-Bayani fi Ta`wîli Ayil-Qur`ân), Abu
Ja’far Muhammad bin Jarir Ath- Thabari (224-310 H), Dar Ibni Hazm,
Cetakan I, Tahun 1423 H/2002 M.
3. Tafsîrul-Qur`ânil-'Azhîm, Tahqîq: Dr. As-Sayyid bin Muhammad
As-Sayyid dkk., Daarul Hadiits, Mesir, Cetakan I, Tahun 1425 – 2005
(5/146).
4. Tafsîr Sûratil-Kahfi, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin, Daar
Ibnil Jauzi, Cetakan I, Tahun 1423 H.
5. Taisirul-Karîmir-Rahmân fî Tafsîri Kalamil-Mannan, 'Abdur-Râhman
bin Nashîr As-Sa’di, Tahqîq: 'Abdur-Rahmân bin Mu’alla Al-Luwaihiq,
Dâr As-Salâm, Riyadh, KSA, Cetakan I, Tahun 1422 H/2001 M.
6. Zâdul-Masir fî 'Ilmit-Tafsîr, Abul-Faraj 'Abdur-Rahmân bin 'Ali bin
Muhammad Al-Jauzi (Ibnul- Jauzi), Al-Maktabul-Islami, Cetakan III,
Tahun 1404 H 1984 M.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun XI/1428/2007M. Penerbit
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton
Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Tafsîr Sûratil-Kahfi, hlm. 25.
[2]. Tafsîrul-Qur`ânil-'Azhîm (5/146) secara ringkas.
[3]. Taisirul-Karîmir-Rahman, hlm. 471.
[4]. Tafsîrul-Qur`ânil-‘Azhîm (5/144). Lihat keterangan senada dalam
Jami'ul-Bayani fi Ta`wîli Ayil-Qur`ân (15/226), Al-Jami' li
Ahkamil-Qur`ân (10/310).
[5]. Taisîrul-Karîmir-Rahmân (471), Tafsîr Sûratil-Kahfi, hlm. 21.
[6]. Tafsîrul Qur`ânil ‘Azhîm (5/145), Tafsîr Sûratil-Kahfi, hlm. 22.
[7]. Tafsîrul-Qur`ânil-'Azhîm (5/145)
[8]. Taisîrul-Karîmir-Rahmân, hlm. 471.
[9]. Tafsîr Sûratil-Kahfi, hlm. 23.
[10]. Taisîrul-Karîmir-Rahmân, hlm. 471, Tafsîrul-Qur`ânil-‘Azhîm (5/146).
[11]. Tafsîrul-Qur`ânil-'Azhîm (5/146).
[12]. Tafsîrul-Qur`ânil-‘Azhîm (5/146).
[13]. Jâmi'ul-Bayân (15/237).
[14]. Al-Jâmi' li Ahkamil-Qur`ân (10/318).
[15]. Tafsîr Sûratil-Kahfi, hlm. 26.
[16]. Tafsîr Sûratil-Kahfi, hlm. 28.
[17]. Taisirul-Karîmir-Rahmân, hlm. 472.
[18]. Tafsîr Sûratil-Kahfi, hlm. 29.
[19]. Tafsîrul-Qur`ânil-'Azhîm (5/148).
[20]. Taisirul-Karîmir-Rahmân,
[21]. Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabarkan kisah mereka untuk
dipahami dan direnungkan, tanpa memberitahukan letak goa tersebut.
Sebab tidak ada faidah dan tujuan syar'i yang berkaitan dengannya.
Andaikata penyebutan tempat goa tersebut mengandung maslahat agama,
sudah tentu Allah dan Rasul-Nya menunjukkan tempatnya. Al Hafizh Ibnu
Katsir secara ringkas dalam Tafsîrul-Qur`ânil-'Azhîm (5/149).
[22]. Taisirul-Karîmir-Rahmân, hlm. 472.
[23]. Lihat Taisirul-Karîmir-Rahmân, hlm. 472.
[24]. Tafsîrul-Qur`ânil-'Azhîm (5/149) secara ringkas.
[25]. Taisirul-Karîmir-Rahmân, hlm. 472.
[26]. Tafsîrul-Qur`ânil-'Azhîm (5/150)
[27]. Tafsîr Sûratil-Kahfi, hlm. 32.
[28]. Tafsîrul-Qur`ânil-'Azhîm (5/150)
[29]. Tafsîr Sûratil-Kahfi, hlm. 34.
[30]. Kadang-kadang mereka berada di sisi kanan, kadang berada di atas
sisi kiri. Allah tidak menyebutkan punggung dan perut, sebab tidur di
sisi kanan atau kiri itu yang paling baik. Dengan cara itu, terjadi
keseimbangan aliran darah pada tubuh. Bila tidur hanya dengan satu
arah, maka dikhawatirkan bagian atas akan mengalami kekurangan aliran
darah. Allah l dengan hikmah-Nya membolak-balikan tubuh mereka. Lihat
Tafsîr Sûratil-Kahfi, hlm. 35.
[31]. Taisirul-Karîmir-Rahmân, hlm. 472.


------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke