SETIAP KITA BISA BERSEDEKAH (Renungan Indah Syaikh Ali At-Thonthowi
rahimahullah)

http://www.firanda.com/index.php/artikel/wejangan/380-setiap-kita-bisa-bersedekah-renungan-indah-syaikh-ali-at-thonthowi-rahimahullah


Syaikh Ali At-Thonthoowi rahimahullah berkata :

"Semalam aku amati, kudapati ruangan terasa hangat dan api penghangat
ruangan menyala. Sedangkan aku berada di dipan sambil santai. Aku
sedang berfikir tentang tema yang akan kutulis. Lampu ada di
sampingku, telepon di dekatku, anak-anakku sedang menulis, adapun ibu
mereka sedang menenun kain wol.

Kami telah makan dan minum, dan radio mengeluarkan suara lirih,
semuanya dalam ketenangan. Tidak ada yang aku keluhkan dan tidak ada
pula yang aku meminta tambahannya. Maka lisanku berucap
"Alhamdulillah...", kulepaskan dari lubuk hatiku

Lalu akupun merenung ... aku mendapati bahwasanya "Alhamdulillah"
bukanlah sebuah kata yang sekedar diucapkan oleh lisan, meskipun
diulan-ulang seribu kali...., akan tetapi "Alhamdulillah" atas
kenikmatan-kenikmatan adalah sampainya aliran kenikmatan tersebut
kepada orang yang membutuhkannya.


"Alhamdulillah" nya si kaya adalah memberi pemberian kepada faqir
miskin, "alhamdulillah" nya si kuat dengan membantu kaum lemah,
"alhamdulillah" nya si sehat dengan membantu orang-orang sakit, dan
"alhamdulillah" nya si hakim dengan berbuat adil kepada orang-orang
yang ia hukumi.

Lantas apakah aku sedang memuji Allah atas nikmat-nikmat ini, jika aku
dan anak-anakku dalam keadaan kenyang dalam ruangan yang hangat,
sementara tetanggaku dan anak-anaknya kelaparan dan kedinginan??

Jika tetanggaku tidak meminta-minta kepadaku, lantas apakah tidak
wajib bagiku untuk bertanya kepadanya tentang kondisinya??

Istriku bertanya kepadaku, "Apa yang sedang kau renungkan?", lalu
akupun mengabarkannya. Iapun berkata, "Benar, akan tetapi tidak ada
yang bisa memberi kecukupan bagi para hamba kecuali Dzat yang telah
menciptakan mereka. Jika engkau hendak memberi kecukupan kepada
tetangga-tetanggamu yang miskin maka engkau akan memiskinkan dirimu
sebelum engkau berhasil menjadikan mereka berkecukupan"

Aku berkata, "Jika aku seorang kaya tentunya aku tidak akan mampu
menjadikan mereka berkecukupan (kaya), maka bagaimana lagi jika aku
hanyalah seorang yang pas-pasan (tidak ada penghasilan jelas), Allah
memberi rezeki kepadaku sebagaimana memberi rezeki kepada burung yang
terbang di pagi hari dengan perut kosong dan balik di sore hari dengan
perut kenyang"?

Tidak..., tidak...!!, aku tidak ingin menjadikan para faqir miskin
menjadi orang-orang yang kaya berkecukupan, akan tetapi aku ingin
berkata, "Permasalahannya adalah relatif !!!"

Dibandingkan para pemilik jutaan uang, aku adalah seorang yang faqir
miskin, akan tetapi jika dibandingkan dengan pekerja yang menanggung
sepuluh anak dan ia tidak memiliki penghasilan lain kecuali upah
kulinya maka aku adalah seorang yang kaya. Pekerja ini jika
dibandingkan dengan seorang wanita janda yang hidup sendirian tanpa
penghasilan sama sekali dan tidak memegang sepeser hartapun maka sang
pekerja adalah seorang kaya. Sang jutawan terhitung miskin jika
dibandingkan dengan sang milyarder. Tidak ada seorangpun di dunia yang
miskin absolut mutlak atau kaya secara mutlak/absolute (semuanya
relatif).

Kalian (mungkin) berkata, "Hari ini si At-Thonthoowi berfilsafat !!"

Tidak…, aku tidak sedang berfilsafat, akan tetapi aku ingin
mengutarakan kepada kalian bahwasanya setiap kita –baik lelaki maupun
wanita- bisa menemukan orang yang lebih miskin darinya lalu memberi
bantuan kepadanya. Jika engkau wahai wanita yang mulia tidak memiliki
kecuali lima potong roti, dan sepiring mujaddaroh (yaitu jenis makanan
yang terbuat dari nasi dan 'adas, yang ini merupakan sederhana yang
ma'ruf di Suria-pen) maka engkau mampu untuk memberikan sepotong
rotimu kepada seorang yang sama sekali tidak memiliki roti. Seseorang
yang setelah makan malam masih tersisa tiga piring sayur fasuliya
(sejenis kacang-kacangan), nasi, dan sedikit buah-buahan, serta
sedikit kue, maka ia mampu untuk memberikan sebagiannya sedikit kepada
sang pemilik roti.

Bagaimanapun miskinnya seseorang maka ia mampu untuk memberikan
sesuatu kepada orang yang lebih miskin darinya.

Dan janganlah kalian menyangka bahwa apa yang kalian berikan akan
pergi hilang begitu saja gratisan, tidak demi Allah…, sesungguhnya
kalian akan menerima harga pembayarannya berlipat-lipat ganda, kalian
akan menerimanya di dunia sebelum di akhirat. Sungguh aku telah
mencobanya dan merasakannya sendiri.

Aku bekerja dan berusaha, dan aku berinfaq/membiyai keluargaku
semenjak lebih dari tiga puluh tahun. Aku tidak memiliki pintu-pintu
kebaikan dan ibadah yang aku buka kecuali aku menyumbang di jalan
Allah jika aku memiliki harta. Seumur hidup aku tidak pernah menabung
sedikitpun. Istriku selalu berkata kepada, "Wahai suamiku, paling
tidak minimal kau bangunkan rumah buat putri-putri kita !!". Aku hanya
bisa berkata, "Biarlah itu diserahkan kepada Allah".

Tahukah kalian apa yang terjadi??. Sungguh apa yang telah aku
sumbangkan di jalan Allah telah Allah simpan untukku di "bank"
kebaikan yang bank tersebut memberi keuntungan bagi para nasabahnya
setiap tahun besarnya 7000 %.

Iya…, Allah berfirman

كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ
مِائَةُ حَبَّةٍ

"Serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada
tiap-tiap bulir seratus biji,…" (QS. Al Baqarah : 261)

Dan ada juga tambahan-tambahan yang melipat gandakan keuntungan

وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ

"…,Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki"
(QS. Al Baqarah : 261)


Allah mengirimkan kepadaku seorang teman yang baik dan mulia, yang
termasuk orang-orang terkenal di Damaskus, lalu iapun memberi pinjaman
kepadaku biaya untuk membangun rumah. Lalu Allah juga mengirimkan
kepadaku sahabat-sahabat yang baik, lalu mereka membangunkan rumah
hingga selesai dan sempurna bangunannya. Adapun saya –demi Allah- sama
sekali tidak mengetahui perkembangan pembangunan rumah tersebut
kecuali sebagaimana orang-orang yang berjalan lewat depan rumah
tersebut. Kemudian Allah menolongku dengan menganugerahkan kepadaku
rizki yang halal yang tidak aku sangka-sangka, maka akupun melunasi
seluruh hutang-hutangku. Kalau ada yang mau tahu maka aku akan
menyebutkannya secara rinci dan aku akan sebutkan nama-nama para
sahabatku tersebut.

Dan tidaklah aku terjatuh dalam kondisi sempit apapun kecuali Allah
akan melapangkannya bagiku. Tidaklah aku membutuhkan sesuatupun
kecuali Allah memberikannya kepadaku. Dan setiap aku memiliki harta
berlebih kecuali aku simpan di bank akhirat ini.

Apakah ada di dunia ini orang yang berakal yang lebih memilih untuk
berhubungan dengan bank makhluk (bank dunia) yang hanya memberi
keuntungan yang haram yang hanya 5% , dan bisa jadi bank tersebut
bangkrut atau terbakar, lalu ia meninggalkan bank Allah yang
memberikan keuntungan bunga 7000% ?, selain itu hartanya di bank
akhirat tersebut aman di sisi Penguasa alam semesta?, yang bank
tersebut tidak akan bangkrut, tidak akan terbakar, dan tidak memakan
harta masyarakat?

Karenanya janganlah kalian menyangka bahwa apa yang kalian sedekahkan
akan hilang sia-sia, sesungguhnya Allah akan menggantinya (dengan
lebih banyak) di dunia sebelum di akhirat.

Aku akan membawakan sebuah kisah bagi kalian, kisah tentang seorang
ibu yang putranya sedang bersafar. Suatu hari ibu ini duduk sambil
makan, dan tidak ada dihadapannya kecuali hanya sesuap sayur dan
sepotong roti. Lalu datanglah seorang peminta-minta, lalu sang ibupun
menahan mulutnya untuk tidak makan lalu ia memberikan makanan tersebut
kepada sang peminta-minta sehingga iapun bermalam kelaparan.

Tatkala sang putra tiba dari safarnya maka sang putrapun menceritakan
kepada sang ibu tentang apa yang ia temukan dalam perjalanan safarnya.
Sang putra berkata, "Diantara perkara yang sangat menakjubkan dalam
safarku yaitu di tengah jalan ada seekor singa yang mengikutiku, dan
tatkala itu aku hanya sendirian. Maka akupun lari, akan tetapi sang
singa berhasil meloncat menerkam aku, dan tanpa aku sadari tiba-tiba
aku sudah di hadapan mulutnya. Akan tetapi tiba-tiba ada seorang
lelaki yang memakai baju putih muncul di hadapanku lalu menyelamatkan
aku dari singa tersebut. Lalu lelaki itu berkata, "Suapan dibalas
dengan suapan". Dan aku tidak paham maksudnya.".

Lalu sang ibupun bertanya kepada putranya tersebut tentang kapan waktu
kejadian tersebut, ternyata pada hari yang sama tatkala ia memberi
sesuap makanan kepada pengemis. Sang ibu telah melepaskan tangannya
yang berisi sesuap makanan yang hendak ia makan untuk  diberikan
sesuap makanan tersebut kepada sang pengemis, maka Allahpun melepaskan
dan menyelamatkan anaknya yang hampir menjadi suapan bagi mulut singa.

Sedekah menolak bala' dan dengan sedekah Allah menyembuhkan orang yang
sakit, dan Allah menolak gangguan-gangguan. Hal ini sudah terbukti.
Dan ada hadits-hadits yang menunjukkan tentang hal ini.

Seseorang yang beriman bahwasanya alam semesta ini memiliki Tuhan yang
mengatur alam, dan di tanganNya lah karunia, dan Dialah yang
meyembuhkan dan menyelamatkan, maka dia akan tahu bahwasanya hal ini
adalah benar.

Para wanita lebih dekat kepada keimanan dan kelembutan, dan saya
sedang menujukan pembicaraanku kepada para wanita yang mulia. Barang
apa saja yang sudah tidak dibutuhkan seorang wanita, seperti baju
lamanya atau baju anak-anaknya, atau barang-barang yang sudah tidak
dibutuhkan seperti kasur atau karpet, demikian juga makanan dan
minuman yang berlebihan. Lalu hendaknya ia mengecek keluarga yang
miskin dan memberikan kepada mereka, maka jadilah barang-barang ini
menjadi kebahagiaan bagi mereka pada bulan ini. Dan janganlah ia
memberikan dengan gaya seorang yang sombong dan merasa tinggi.
Sesungguhnya pemberian yang sederhana jika disertai dengan senyuman
dihadapan wajah sang miskin lebih baik dari pada uang banyak yang kau
berikan kepadanya sementara engkau sambil mengangkat hidung karena
sombong dan merasa tinggi.

Sungguh aku masih ingat –beberapa tahun yang silam-  putri kecilku si
Banan membawa dua piring makanan –di bulan Ramadhan- hendak ia berikan
kepada seorang penjaga. Maka aku berkata kepadanya, "Wahai putriku,
kemarilah…, ambilah nampan, sendok, garpu, dan gelas yang bersih, lalu
berikan dua piring makanan tersebut bersamanya begini…, engkau tidak
rugi sedikitpun. Makanannya tidak berubah sama saja, akan tetapi jika
engkau berikan kepadanya hanya piring dan roti maka engkau akan
menyedihkan hatinya, engkau membuatnya merasa seakan-akan ia seorang
peminta-minta atau pengemis. Adapun jika engkau berikan makanan
tersebut di atas sebuah nampan disertai gelas, sendok, dan garpu,
serta tempat bumbu maka akan mengobati perasaannya dan dia akan merasa
seakan-akan ia adalah seorang tamu yang dimuliakan.

Banyak pintu-pintu cara bersedekah yang dilalaikan oleh banyak orang,
padahal mudah untuk dilakukan. Diantaranya bersikap mudah dan ramah
terhadap para pedagang yang datang ke pintu-pintu rumah-rumah, mereka
menjual sayur-mayur, buah-buahan, dan bawang. Lalu ada seorang wanita
yang menawarnya dan mendebatnya agar ia menurunkan harga barangnya
meskipun sedikit, agar sang wanita menampakkan kemahiran dan
kehebatannya dalam menawar. Padahal bisa jadi wanita ini adalah dari
keluarga jutawan/ keluarga kaya raya. Adapun sang penjual yang miskin
tersebut harga dagangannya yang seharian penuh ia memutari rumah-rumah
untuk menjualnya hanya senilai taruhlah 100 ribu rupiah, sementara
untungnya hanya 20 ribu rupiah !!!

Wahai para wanita…aku mohon kepada kalian atas nama Allah agar kalian
bermudah-mudah untuk membeli dagangan para penjual tersebut, berikan
kepada mereka apa yang mereka minta. Jika salah seorang dari kalian
merasa rugi sejumlah uang (karena tidak menawar…), maka anggaplah itu
sebagai sedekah, bahkan sedekah kepada para penjual tersebut lebih
baik daripada sedekah kepada pengemis…

Intinya -wahai para pembaca yang budiman- barang siapa yang ingin
Allah kirimkan baginya orang yang lebih kaya dan lebih kuat darinya
(untuk membantunya) maka hendaknya ia memperhatikan orang yang lebih
lemah dan lebih miskin darinya. Hendaknya setiap kita memposisikan
dirinya seperti posisi saudaranya (yang miskin), hendaknya ia
menghendaki kebaikan bagi saudaranya sebagaimana ia menghendaki
kebaikan bagi dirinya. Sesungguhnya kenikmatan dan karunia hanyalah
terjaga dan bertambah dengan bersyukur kepada Allah, dan bersyukur
tidak hanya dengan sekedar diucapkan oleh lisan saja. Jika ada
seseorang yang memegang tasbih lalu mengucapkan "Alhamdulillah"
sebanyak 1000 kali, sementara ia tetap pelit dengan hartanya, pelit
dengan kedudukannya (tidak mau membantu dengan memanfaatkan
kedudukannya-pen), dan ia menzolimi dengan kekuasaannya jika ia
memiliki kekuasaan, maka ia bukanlah orang yang memuji Allah, akan
tetapi seorang yang pendusta dan riyaa'.

Hendaknya kalian memuji Allah dengan praktek nyata, dan berbuatlah
baik kepada orang lain sebagaimana kalian suka Allah berbuat baik
kepada kalian. Ketahuilah apa yang aku serukan kepada kalian pada hari
ini adalah merupakan sebab kemenangan dan kejayaan Islam mengalahkan
para musuh, dan merupakan bentuk persiapan untuk meraih kemenangan.
Ini merupakan bentuk jihad dengan berkorban harta, dan jihad ini
adalah saudaranya jihad dengan berkorban jiwa.

Semoga Allah merahmati seorang yang mendengar nasehat lalu ia
mengamalkannya, dan tidak menjadikan nasehat tersebut masuk di telinga
kanannya untuk dikeluarkan dari telinga kirinya.

(Tulisan indah ini ditulis oleh Syaikh Ali Ath-Thonthoowi rahimhaullah
di majalah al-Idzaa'ah pada tahun 1956. Tulisan ini banyak disebarkan
di internet, diantaranya silahkan lihat
http://www.paldf.net/forum/showthread.php?t=1075215,
http://www.khawlan.com/vb/t23874.html, dan
http://www.lyaleal6rb.net/vb/showthread.php?t=1405)



Kota Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-, 25-03-1433 H / 07 Februari 2011 M
Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja
www.firanda.com


------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke