Wa ‘alaikumussalaam warohmatulloohi wabarokaatuh

Silakan klik link berikut ini: 
http://almanhaj.or.id/content/2658/slash/0/betapa-penting-menyambung-silaturahmi/


BETAPA PENTING MENYAMBUNG SILATURAHMI

Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimîn 

Marilah kita bertakwa kepada Allah Ta'ala. Takwa yang juga dapat mengantarkan 
kita pada kebaikan hubungan dengan sesama manusia. Lebih khusus lagi, yaitu 
sambunglah tali silaturahmi dengan keluarga yang masih ada hubungan nasab 
(anshab). Yang dimaksud, yaitu keluarga itu sendiri, seperti ibu, bapak, anak 
lelaki, anak perempuan ataupun orang-orang yang mempunyai hubungan darah dari 
orang-orang sebelum bapaknya atau ibunya. Inilah yang disebut arham atau ansab. 
Adapun kerabat dari suami atau istri, mereka adalah para ipar, tidak memiliki 
hubungan rahim ataupun nasab. 

Banyak cara untuk menyambung tali silaturahmi. Misalnya dengan cara saling 
berziarah (berkunjung), saling memberi hadiah, atau dengan pemberian yang lain. 
Sambunglah silaturahmi itu dengan berlemah lembut, berkasih sayang, wajah 
berseri, memuliakan, dan dengan segala hal yang sudah dikenal manusia dalam 
membangun silaturahmi. Dengan silaturahmi, pahala yang besar akan diproleh dari 
Allah Azza wa Jalla. Silaturahim menyebabkan seseorang bisa masuk ke dalam 
surga. Silaturahim juga menyebabkan seorang hamba tidak akan putus hubungan 
dengan Allah di dunia dan akhirat. 

Disebutkan dalam Shahîh al-Bukhari dan Shahîh Muslim, dari Abu Ayyub 
al-Ansharî: 

أَنَّ رَجُلًا قَالَ : يا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي بِمَا يُدْخِلُنِي 
الْجَنَّةَ وَيُبَاعِدُنِي مِنَ النَّارِ فَقَالَ النَّبِيُّ : لَقَدْ وُفِّقَ 
أَوْ قَالَ لَقَدْ هُدِيَ كَيْفَ قُلْتَ ؟ فَأَعَادَ الرَّجُلُ فَقَالَ النَّبِيُّ 
: تَعْبُدُ اللَّهَ لَا تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِي 
الزَّكَاةَ وَتَصِلُ ذَا رَحِمِكَ فَلَمَّا أَدْبَرَ قَالَ النَّبِيُّ : إِنْ 
تَمَسَّكَ بِمَا أَمَرْتُ بِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ 

"Bahwasanya ada seseorang berkata kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam : 
"Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku tentang sesuatu yang bisa memasukkan 
aku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka," maka Nabi Shallallahu 'alaihi 
wa sallam bersabda: "Sungguh dia telah diberi taufik," atau "Sungguh telah 
diberi hidayah, apa tadi yang engkau katakan?" Lalu orang itupun mengulangi 
perkataannya. Setelah itu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Engkau 
beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu pun, menegakkan 
shalat, membayar zakat, dan engkau menyambung silaturahmi". Setelah orang itu 
pergi, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Jika dia melaksanakan apa 
yang aku perintahkan tadi, pastilah dia masuk surga". 

Silaturahmi juga merupakan faktor yang dapat menjadi penyebab umur panjang dan 
banyak rizki. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ 
فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
"Barang siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka 
hendaklah ia menyambung tali silaturahmi". [Muttafaqun 'alaihi]. 

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
الرَّحِمُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ تَقُولُ مَنْ وَصَلَنِي وَصَلَهُ اللَّهُ 
وَمَنْ قَطَعَنِي قَطَعَهُ اللَّهُ
"Ar-rahim itu tergantung di Arsy. Ia berkata: "Barang siapa yang menyambungku, 
maka Allah akan menyambungnya. Dan barang siapa yang memutusku, maka Allah akan 
memutus hubungan dengannya". [Muttafaqun 'alaihi].

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa menyambung 
silaturahmi lebih besar pahalanya daripada memerdekakan seorang budak. Dalam 
Shahîh al-Bukhari, dari Maimunah Ummul-Mukminîn, dia berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَشَعَرْتَ أَنِّي أَعْتَقْتُ وَلِيدَتِي قَالَ أَوَفَعَلْتِ 
قَالَتْ نَعَمْ قَالَ أَمَا إِنَّكِ لَوْ أَعْطَيْتِهَا أَخْوَالَكِ كَانَ 
أَعْظَمَ لِأَجْرِكِ

"Wahai Rasulullah, tahukah engkau bahwa aku memerdekakan budakku?" Nabi 
bertanya, "Apakah engkau telah melaksanakannya?" Ia menjawab, "Ya". Nabi 
bersabda, "Seandainya engkau berikan budak itu kepada paman-pamanmu, maka itu 
akan lebih besar pahalanya”. 

Yang amat disayangkan, ternyata ada sebagian orang yang tidak mau menyambung 
silaturahmi dengan kerabatnya, kecuali apabila kerabat itu mau menyambungnya. 
Jika demikian, maka sebenarnya yang dilakukan orang ini bukanlah silaturahmi, 
tetapi hanya sebagai balasan. Karena setiap orang yang berakal tentu 
berkeinginan untuk membalas setiap kebaikan yang telah diberikan kepadanya, 
meskipun dari orang jauh. 

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 
لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنْ الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ 
رَحِمُهُ وَصَلَهَا 

"Orang yang menyambung silaturahmi itu, bukanlah yang menyambung hubungan yang 
sudah terjalin, akan tetapi orang yang menyambung silaturahmi ialah orang yang 
menjalin kembali hubungan kekerabatan yang sudah terputus". [Muttafaqun 
'alaihi]. 

Oleh karena itu, sambunglah hubungan silaturahmi dengan kerabat-kerabat kita, 
meskipun mereka memutuskannya. Sungguh kita akan mendapatkan balasan yang baik 
atas mereka. 

Diriwayatkan, telah datang seorang lelaki kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi 
wa sallam dan berkata: 

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِي قَرَابَةً أَصِلُهُمْ وَيَقْطَعُونِي وَأُحْسِنُ 
إِلَيْهِمْ وَيُسِيئُونَ إِلَيَّ وَأَحْلُمُ عَنْهُمْ وَيَجْهَلُونَ عَلَيَّ 
فَقَالَ لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمْ الْمَلَّ وَلَا 
يَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللَّهِ ظَهِيرٌ عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلَى ذَلِكَ

"Wahai Rasulullah, aku mempunyai kerabat. Aku menyambung hubungan dengan 
mereka, akan tetapi mereka memutuskanku. Aku berbuat baik kepada mereka, akan 
tetapi mereka berbuat buruk terhadapku. Aku berlemah lembut kepada mereka, akan 
tetapi mereka kasar terhadapku," maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam 
bersabda, "Apabila engkau benar demikian, maka seakan engkau menyuapi mereka 
pasir panas, dan Allah akan senantiasa tetap menjadi penolongmu selama engkau 
berbuat demikan." [Muttafaq 'alaihi]. 

Begitu pula firman Allah Ta'ala:

"Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan 
memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan 
kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka 
tempat kediaman yang buruk (Jahannam)". [ar-Ra’d/13:25]. 

Dari Jubair bin Mut’im bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah 
bersabda: 


لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ
"Tidaklah masuk surga orang yang suka memutus, ( memutus tali silaturahmi)". 
[Mutafaqun 'alaihi].

Memutus tali silaturahmi yang paling besar, yaitu memutus hubungan dengan orang 
tua, kemudian dengan kerabat terdekat, dan kerabat terdekat selanjutnya. Oleh 
karena itu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:


أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ قُلْنَا بَلَى يَا 
رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ
”Maukah kalian aku beritahu tentang dosa terbesar di antara dosa-dosa besar?” 
Beliau mengulangi pertanyaannya sebanyak tiga kali. Maka para sahabat menjawab: 
”Mau, ya Rasulullah,” Nabi n bersabda: ”Berbuat syirik kepada Allah dan durhaka 
kepada kedua orang tua”. 

Demikianlah, betapa besar dosa seseorang yang durhaka kepada orang tua. Dosa 
itu disebutkan setelah dosa syirik kepada Allah Ta'ala. Termasuk perbuatan 
durhaka kepada kedua orang tua, yaitu tidak mau berbuat baik kepada keduanya. 
Lebih parah lagi jika disertai dengan menyakiti dan memusuhi keduanya, baik 
secara langsung maupun tidak langsung. 

Dalam shahîhain, dari 'Abdullah bin 'Amr, sesungguhnya Nabi Shallallahu 'alaihi 
wa sallam pernah bersabda: 

مِنَ الْكَبَائِرِ شَتْمُ الرَّجُلِ وَالِدَيْهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ 
وَهَلْ يَشْتِمُ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ قَالَ نَعَمْ يَسُبُّ أَبَا الرَّجُلِ 
فَيَسُبُّ أَبَاهُ وَيَسُبُّ أُمَّهُ فَيَسُبُّ أُمَّهُ 

”Termasuk perbuatan dosa besar, yaitu seseorang yang menghina orang tuanya,” 
maka para sahabat bertanya: ”Wahai Rasulullah, adakah orang yang menghina kedua 
orang tuanya sendiri?” Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: ”Ya, 
seseorang menghina bapak orang lain, lalu orang lain ini membalas menghina 
bapaknya. Dan seseorang menghina ibu orang lain, lalu orang lain ini membalas 
dengan menghina ibunya”. 

Wahai orang-orang yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Bertakwalah 
kepada Allah Azza wa Jalla. Dan marilah kita melihat diri kita masing-masing, 
sanak keluarga kita! Sudahkah kita menunaikan kewajiban atas mereka dengan 
menyambung tali silaturahmi? Sudahkah kita berlemah lembut terhadap mereka? 
Sudahkah kita tersenyum tatkala bertemu dengan mereka? Sudahkah kita 
mengunjungi mereka? Sudahkah kita mencintai, memuliakan, menghormati, saling 
menunjungi saat sehat, saling menjenguk ketika sakit? Sudahkah kita membantu 
memenuhi atau sekedar meringankan yang mereka butuhkan? 

Ada sebagian orang tidak suka melihat kedua orang tuanya yang dulu pernah 
merawatnya kecuali dengan pandangan yang menghinakan. Dia memuliakan istrinya, 
tetapi melecehkan ibunya. Dia berusaha mendekati teman-temannya, akan tetapi 
menjahui bapaknya. Apabila duduk dengan kedua orang tuanya, maka seolah-olah ia 
sedang duduk di atas bara api. Dia berat apabila harus bersama kedua orang 
tuanya. Meski hanya sesaat bersama orang tua, tetapi ia merasa begitu lama. Dia 
bertutur kata dengan keduanya, kecuali dengan rasa berat dan malas. Sungguh 
jika perbuatannya demikian, berarti ia telah mengharamkan bagi dirinya 
kenikmatan berbakti kepada kedua orang tua dan balasannya yang terpuji. 

Ada pula manusia yang tidak mau memandang dan menganggap sanak kerabatanya 
sebagai keluarga. Dia tidak mau bergaul dengan karib kerabat dengan sikap yang 
sepantasnya diberikan sebagai keluarga. Dia tidak mau bertegus sapa dan 
melakukan perbuatan yang bisa menjalin hubungan silaturahmi. Begitu pula, ia 
tidak mau menggunakan hartanya untuk hal itu. Sehingga ia dalam keadaan serba 
kecukupan, sedangkan sanak keluarganya dalam keadaan kekurangan. Dia tidak mau 
menyambung hubungan dengan mereka. Padahal, terkadang sanak keluarga itu 
termasuk orang-orang yang wajib ia nafkahi karena ketidakmampuannya dalam 
berusaha, sedangkan ia mampu untuk menafkahinya. Akan tetapi, tetap saja ia 
tidak mau menafkahinya.

Para ahlul-'ilmi telah berkata, setiap orang yang mempunyai hubungan waris 
dengan orang lain, maka ia wajib untuk memberi nafkah kepada mereka apabila 
orang lain itu membutuhkan atau lemah dalam mencari penghasilan, sedangkan ia 
dalam keadaan mampu. Yaitu sebagaimana yang dilakukan seorang ayah untuk 
memberikan nafkah. Maka barang siapa yang bakhil maka ia berdosa dan akan 
dihisab pada hari Kiamat. 

Oleh karena itu, tetap sambungkanlah tali silaturahmi. Berhati-hatilah dari 
memutuskannya. Masing-masing kita akan datang menghadap Allah dengan membawa 
pahala bagi orang yang menyambung tali silaturahmi. Atau ia menghadap dengan 
membawa dosa bagi orang yang memutus tali silaturahmi. Marilah kita memohon 
ampun kepada Allah Ta'ala, karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha 
Penyayang.

[Diadaptasi oleh Ustadz Abu Sauda` Eko Mas`uri, dari ad-Dhiya-ul Lami', Syaikh 
Muhammad bin Shalih al-'Utsaimîn, hlm. 505-508]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XI/1429H/2008M. Penerbit Yayasan 
Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 
57183 Telp.  0271-761016]


________________________________
 From: henticka.diah
To: [email protected]
Sent: Saturday, 9 February 2013 8:27 AM
Subject: [assunnah] Memutus silahturahim


 
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Mohon bantuan penjelasan, apakah jika terjadi seorang adik/kakak tidak mau 
berhubungan/berkomunikasi dengan adik/kakak iparnya (kakak/adik kandungannya 
msh dlm ikatan pernikahan) itu termasuk memutus silahturahim?

بَارَكَ اللَّهُ فِيْكُمْ
Jazakumullahu khoir

Wassalamualaikum
Sent from my BabyBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
 

Kirim email ke