From: [email protected]
Date: Fri, 15 Feb 2013 09:15:55 +0700
Assalamualaikum...
Sy mau menanyakan, bagaimana jk kita malas berhubungan dgn saudara org tua 
kita, dikarenakan mrk jelas jelas telah menghina atau melecehkan org tua kita 
dan melecehkan keluarga kita. Pelecehan dan penghinaan tsb dikarenakan di dalam 
keluarga yg dilecehkan, sedang tertimpa musibah. Dan hal tsb dianggap sbg aib.
Mohon petunjuk dan pencerahanya...
Dan terima kasih sebelumnya
Wasalamualaikum 
Neneng
>>>>>>>>>>>

Silaturahmi yang hakiki bukanlah menyambung hubungan baik dengan orang yang 
telah berbuat baik kepada kita, namun silaturahmi yang hakiki adalah menyambung 
hubungan kekerabatan yang telah retak dan putus, dan berbuat baik kepada 
kerabat yang berbuat jahat kepada kita. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa 
sallam bersabda:

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنِ الْوَاصِلُ الَّذِيْ إِذَا قُطِعَتْ 
رَحِمُهُ وَصَلَهَا.

Orang yang menyambung kekerabatan bukanlah orang yang membalas kebaikan, tetapi 
orang yang menyambungnya adalah orang yang menyambung kekerabatannya apabila 
diputus.[15] 

Imam al-‘Allamah ar-Raghib al-Asfahani rahimahullah menyatakan bahwa rahim 
berasal dari kata rahmah yang berarti lembut, yang memberi konsekuensi berbuat 
baik kepada orang yang disayangi.[16] 

Ar-Rahim, adalah salah satu nama Allah. Rahim (kekerabatan), Allah letakkan di 
‘Arsy. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الرَّحِمُ مَعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ، تَقُوْلُ: مَنْ وَصَلَنِيْ وَصَلَهُ اللهُ، 
وَمَنْ قَطَعَنِيْ قَطَعَهُ اللهُ.

Rahim (kekerabatan) itu tergantung di ‘Arsy. Dia berkata,"Siapa yang 
menyambungku, Allah akan menyambungnya. Dan siapa yang memutuskanku, Allah akan 
memutuskannya. [17] 
 
Selengkapnya baca  : Menyambung Silaturahmi Meskipun Karib Kerabat Berlaku 
Kasar.
http://almanhaj.or.id/content/3517/slash/0/wasiat-rasulullah-shallallahu-alaihi-wa-sallam-kepada-abu-dzar-al-ghifari/
 
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنْ الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ 
رَحِمُهُ وَصَلَهَا 

"Orang yang menyambung silaturahmi itu, bukanlah yang menyambung hubungan yang 
sudah terjalin, akan tetapi orang yang menyambung silaturahmi ialah orang yang 
menjalin kembali hubungan kekerabatan yang sudah terputus". [Muttafaqun 
'alaihi]. 

Oleh karena itu, sambunglah hubungan silaturahmi dengan kerabat-kerabat kita, 
meskipun mereka memutuskannya. Sungguh kita akan mendapatkan balasan yang baik 
atas mereka. 

Diriwayatkan, telah datang seorang lelaki kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi 
wa sallam dan berkata: 

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِي قَرَابَةً أَصِلُهُمْ وَيَقْطَعُونِي وَأُحْسِنُ 
إِلَيْهِمْ وَيُسِيئُونَ إِلَيَّ وَأَحْلُمُ عَنْهُمْ وَيَجْهَلُونَ عَلَيَّ 
فَقَالَ لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمْ الْمَلَّ وَلَا 
يَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللَّهِ ظَهِيرٌ عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلَى ذَلِكَ

"Wahai Rasulullah, aku mempunyai kerabat. Aku menyambung hubungan dengan 
mereka, akan tetapi mereka memutuskanku. Aku berbuat baik kepada mereka, akan 
tetapi mereka berbuat buruk terhadapku. Aku berlemah lembut kepada mereka, akan 
tetapi mereka kasar terhadapku," maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam 
bersabda, "Apabila engkau benar demikian, maka seakan engkau menyuapi mereka 
pasir panas, dan Allah akan senantiasa tetap menjadi penolongmu selama engkau 
berbuat demikan." [Muttafaq 'alaihi]. 

Begitu pula firman Allah Ta'ala:

وَالَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا 
أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ ۙ أُولَٰئِكَ 
لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ

"Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan 
memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan 
kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka 
tempat kediaman yang buruk (Jahannam)". [ar-Ra’d/13:25]. 

Dari Jubair bin Mut’im bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah 
bersabda: 

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ

"Tidaklah masuk surga orang yang suka memutus, ( memutus tali silaturahmi)". 
[Mutafaqun 'alaihi].

Memutus tali silaturahmi yang paling besar, yaitu memutus hubungan dengan orang 
tua, kemudian dengan kerabat terdekat, dan kerabat terdekat selanjutnya. 
Selengkapnya baca di 
http://almanhaj.or.id/content/2658/slash/0/betapa-penting-menyambung-silaturahmi/
 
Wallahu Ta'ala A'lam





                                          

Kirim email ke