SAAT TERINDAH DALAM HIDUP MANUSIA

Oleh
Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA

http://almanhaj.or.id/content/3628/slash/0/saat-terindah-dalam-hidup-manusia/

Pernakah Anda mengalami saat-saat terindah dalam hidup Anda? Apa yang Anda
rasakan kala itu ? Tentu sangat bahagia. Sehingga Anda berharap saat-saat
itu terulang kembali.

Setiap insan tentu pernah merasakan saat-saat terindah dalam hidupnya. Dan
masing-masing individu menilai saat-saat terindah itu, sesuai dengan apa
yang mendominasi hati dan jiwanya.

Seorang pebisnis menganggap saat terindah adalah ketika dia berhasil meraup
keuntungan besar dan berlipat ganda. Orang yang berambisi besar untuk
mendapatkan kedudukan dan jabatan merasa saat yang terindah adalah ketika
dia berhasil meraih jabatan yang diidamkannya.

Demikianlah sekilas gambaran manusia dalam menilai saat-saat terindah dalam
hidup mereka. Melalui tulisan singkat ini, saya mengajak pembaca untuk
memperhatikan dan merenungkan dengan seksama, manakah di antara semua itu
yang merupakan kebahagiaan dan keindahan sejati ? Sehingga orang yang
meraihnya berarti dia telah benar-benar merasakan saat terindah dalam
hidupnya.

RENUNGAN TENTANG KEINDAHAN DAN KEBAHAGIAAN HIDUP YANG SEJATI
Imam Ibnul Qayyim t mengatakan, "Sesungguhnya bentuk-bentuk kebahagiaan
(keindahan) yang diprioritaskan oleh jiwa manusia ada tiga (macam) :

1. Kebahagiaan (keindahan) di luar diri manusia. Keindahan ini merupakan
pinjaman dari orang lain. Dia akan sirna dengan dikembalikannya pinjaman
tersebut. Inilah kebahagiaan (keindahan) dengan sebab harta dan kedudukan
(duniawi).

Keindahan seperti ini adalah seperti keindahan seseorang dengan pakaian
(indah) dan perhiasannya, tapi ketika pandanganmu melewati penutup dirinya
maka ternyata tidak ada satu keindahanpun yang tersisa pada dirinya!

Dalam sebuah kisah diceritakan, ada seorang Ulama yang menumpang sebuah
kapal laut bersama para saudagar kaya. Kemudian kapal tersebut pecah (dan
tenggelam bersama seluruh barang-barang muatan). Maka para saudagar
tersebut serta merta menjadi orang-orang yang hina dan rendah diri, padahal
sebelumnya mereka merasa mulia (bangga) dengan kekayaan mereka. Sedangkan
Ulama tersebut sesampainya di negeri tujuan, beliau dimuliakan dengan
berbagai macam hadiah dan penghormatan (karena ilmu yang dimilikinya).
Ketika para saudagar yang telah menjadi miskin itu ingin kembali ke negeri
asal, mereka bertanya kepada Ulama tersebut, "Apakah Anda ingin menitip
pesan atau surat untuk kaum kerabat anda ? Ulama itu menjawab, "Ya,
sampaikanlah kepada mereka, 'Jika kalian ingin mengambil harta (kemuliaan)
maka ambillah harta yang tidak akan tenggelam (hilang) meskipun kapal
tenggelam, oleh karena itu jadikanlah ilmu sebagai (barang) perniagaan
(kalian)."

2. Kebahagiaan (keindahan) pada tubuh dan fisik manusia, seperti kesehatan,
fisik dan anggota badan ideal, cakep, kulit yang bersih dan fisik yang
kuat. Keindahan ini, meskipun lebih dekat (pada diri manusia) dibandingkan
dengan yang pertama, namun pada hakikatnya keindahan ini di luar diri dan
zat manusia, karena manusia itu dianggap sebagai manusia dengan ruh dan
hatinya, bukan (cuma sekedar) dengan tubuh dan raganya, sebagaimana ucapan
seorang penyair :

Wahai pemerhati fisik, betapa besar kepayahanmu dengan mengurus tubuhmu
Padahal kamu (disebut) manusia dengan sebab ruhmu bukan dengan sebab tubuhmu

Inilah[1] keindahan semu dan palsu milik kaum munafik yang tidak dibarengi
dengan keindahan jiwa dan hati, sehingga Allâh Subhanahu wa Ta’ala mencela
mereka dalam firman-Nya :

وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ ۖ وَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ
لِقَوْلِهِمْ ۖ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ

Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum.
dan jika mereka Berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. mereka adalah
seakan-akan kayu yang tersandar [al-Munâfiqûn/63:4].

Artinya, mereka memiliki penampilan fisik yang indah, tapi hati dan jiwa
mereka penuh dengan keburukan, ketakutan dan kelemahan, tidak seperti
penampilan lahir mereka.[2]

3. Kebahagiaan (keindahan) yang sejati, keindahan dalam hati dan jiwa
manusia yaitu keindahan dengan ilmu yang bermanfaat yang berbuah amal
shaleh.

Kebahagiaan inilah yang tetap dan kekal (pada diri manusia) dalam semua
keadaan, selalu menyertainya dalam perjalanan (hidupnya), bahkan pada semua
alam yang akan dilaluinya, yaitu: alam dunia, alam kubur dan alam akhirat.
Dengan inilah seorang hamba akan meniti tangga kemuliaan dan derajat
kesempurnaan."[3]

BERBAHAGIALAH DENGAN SAAT TERINDAH DALAM HIDUPMU !
Berdasarkan uraian di atas, kita tahu bahwa keindahan dan kebahagiaan
sejati hanya bisa diraih dengan amalan shaleh yang dicintai Allâh Azza wa
Jalla dan mengutamakannya di atas segala sesuatu yang ada di dunia.

Inilah kebahagiaan sejati yang direkomendasikan oleh Allâh Subhanahu wa
Ta’ala dalam firman-Nya :

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ
مِمَّا يَجْمَعُونَ

Katakanlah, "Dengan kurnia Allâh dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu
mereka bergembira. Karunia Allâh dan rahmat-Nya itu lebih baik dari apa
yang mereka kumpulkan." [Yûnus/10:58]

Dalam ayat ini Allâh Azza wa Jalla memerintahkan kepada orang-orang yang
beriman agar berbangga (gembira dan bahagia) dengan anugerah yang Allâh
Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada mereka. Allâh Azza wa Jalla menyatakan
bahwa anugerah dari-Nya itu lebih indah dan mulia dari semua kesenangan
dunia yang dikejar-kejar oleh mayoritas manusia.

”Karunia Allâh” dalam ayat ini ditafsirkan oleh para Ulama ahli tafsir
dengan “keimanan”, sedangkan “Rahmat Allâh” ditafsirkan dengan “al Qur'ân”.
Keduanya adalah ilmu yang bermanfaat dan amalan shaleh, sekaligus keduanya
merupakan petunjuk dan agama yang benar (yang dibawa oleh Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam ). [4]

Syaikh 'Abdurrahman as-Sa'di t mengatakan, "Kenikmatan agama (iman) yang
bergandengan dengan kebahagiaan dunia dan akhirat tidak bisa dibandingkan
dengan semua kenikmatan duniawi yang hanya sementara dan akan sirna."[5]

Inilah kebahagiaan hakiki yang digambarkan oleh Imam Ibnul Qayyim
rahimahullah dalam ucapan beliau, "Semua perintah Allâh, hak-Nya (ibadah)
yang diwajibkan kepada para hamba-Nya, serta semua hukum yang
disyariatkan-Nya (pada hakekatnya) merupakan qurratul 'uyûn (penyejuk
pandangan), serta kesenangan dan kenikmatan bagi hati. Dengannya hati akan
terobati, bahagia, senang dan merasakan kesempurnaan di dunia dan akhirat.
Bahkan hati tidak akan merasakan kebahagiaan, kesenangan dan kenikmatan
yang hakiki kecuali dengan semua itu. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ
لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ ﴿٥٧﴾ قُلْ بِفَضْلِ
اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا
يَجْمَعُونَ

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu dan
penyembuh bagi penyakit-penyakit dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi
orang-orang yang beriman. Katakanlah, "Dengan karunia Allâh dan rahmat-Nya,
hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia dan rahmat-Nya itu lebih
baik dari apa yang dikumpulkan (oleh manusia)" [Yûnus/10:57-58] "[6]
Berdasarkan ini, berarti saat yang paling indah dalam hidup seseorang
adalah ketika Allâh Azza wa Jalla melimpahkan taufik-Nya kepada orang itu
untuk mengikuti jalan Islam dan memberi petunjuk kepadanya untuk memahami
dan mengamalkan petunjuk-Nya guna mencapai keridhaan-Nya.

Inilah yang disampaikan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada
shahabat yang mulia, Ka'ab bin Mâlik Radhiyallahu anhu , ketika Allâh Azza
wa Jalla menurunkan ayat al-Qur'ân[7] tentang taubat Ka'ab Radhiyallahu
anhu dan dua orang shahabat lainnya Radhiyallahu anhum yang diterima Allâh
Azza wa Jalla . Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya
dengan wajah berseri-seri, "Berbahagialah dengan hari terindah yang pernah
kamu lalui sejak kamu dilahirkan ibumu."[8]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menobatkan hari diterimanya taubat
seorang hamba oleh Allâh Azza wa Jalla sebagai saat terindah dalam
hidupnya. Karena taubat itu menyempurnakan keislaman seorang hamba. Ketika
dia masuk Islam itulah awal kebahagiaannya dan ketika Allâh Azza wa Jalla
menerima taubatnya itulah penyempurna dan puncak kebahagiaannya, sehingga
hari itu adalah saat terindah dalam hidupnya.[9]

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, "Dalam hadits ini terdapat
argumentasi (yang menunjukkan) bahwa hari terindah dan paling utama bagi
seorang hamba secara mutlak adalah ketika dia bertaubat kepada Allâh dan
Allâh menerima taubatnya.… Kalau ada yang bertanya, 'Bagaimana (mungkin)
hari ini (dikatakan) lebih baik daripada hari dia masuk Islam ?'
Jawabannya, "Hari ini adalah penyempurna dan pelengkap hari dia masuk
Islam. Hari dia masuk Islam adalah awal kebahagiaanya, dan hari taubatnya
adalah penyempurna dan pelengkap kebahagiaanya, wallahu musta'ân[10] .

Senada dengan hadits di atas, ucapan shahabat yang mulia, Anas bin Mâlik
Radhiyallahu anhu yang menggambarkan kegembiraan para shahabat g ketika
mendengar sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Anas bin Mâlik
Radhiyallahu anhu berkata, "Kami tidak pernah merasakan kegembiraan setelah
(kegembiraan dengan) Islam melebihi kegembiraan kami tatkala mendengar
sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, "Engkau (akan dikumpulkan
di surga) bersama orang yang kamu cintai." Maka aku mencintai Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Abu Bakar Radhiyallahu anhu , Umar
Radhiyallahu anhu , dan aku berharap akan bersama mereka dengan sebab
cintaku kepada mereka meskipun aku belum mampu melakukan seperti amalan
mereka." [11]

Hadits ini menunjukkan bahwa saat terindah bagi orang-orang yang sempurna
imannya, seperti para shahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam
adalah ketika mereka mendapat hidayah untuk menempuh jalan Islam dan ketika
mereka memahami serta bisa mengamalkan petunjuk Allâh Azza wa Jalla demi
mencapai ridha-Nya.

SAAT YANG PALING INDAH DI AKHIRAT KELAK ADALAH KETIKA BERTEMU ALLAH AZZA WA
JALLA
Allâh Azza wa Jalla berfirman :

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ
إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا
صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia
mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan Allâh dengan
apapun dalam beribadah kepada-Nya [al-Kahfi/18:110].
Inilah saat terindah yang dinanti-nanti oleh insan yang beriman dan
bertakwa kepada Allâh Azza wa Jalla , yaitu saat ketika bertemu dengan-Nya
untuk mendapatkan balasan kebaikan dan kemuliaan dari-Nya.[12]

Dalam sebuah do'a, Imam Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan, "Ya Allâh,
jadikanlah sebaik-baik amalan kami sebelum ajal (menjemput) kami, dan
jadikanlah sebaik-baik hari (bagi) kami adalah hari ketika kami berjumpa
dengan-Mu."[13]

Mereka inilah orang-orang yang mencintai perjumpaan dengan Allâh Azza wa
Jalla maka Allâh pun demikian. Dalam sebuah hadits, Rasûlullâh Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang mencintai perjumpaan dengan
Allâh maka Allâh mencintai perjumpaan dengannya."[14]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan kegembiraan orang
yang bertakwa ketika bertemu Allâh Azza wa Jalla dalam sabda beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, "Orang yang berpuasa akan merasakan dua
kegembiraan (yaitu) kegembiraan ketika berbuka puasa dan kegembiraan ketika
berjumpa dengan Rabbnya"[15]

Kemudian, saat terindah bagi orang-orang yang beriman ketika berjumpa
dengan Allâh Azza wa Jalla adalah saat mereka memandang wajah-Nya yang maha
mulia. Ini kenikmatan tertinggi yang Allâh Azza wa Jalla janjikan bagi
mereka yang melebihi kenikmatan lainnya di surga. Allâh Azza wa Jalla
berfirman, (yang artinya), "Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala
yang terbaik (surga) dan tambahannya (yaitu melihat wajah Allâh). Dan muka
mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah
penghuni surga. Mereka kekal di dalamnya” [Yûnus/10:26]
.
Kata “tambahan” dalam ayat ini ditafsirkan langsung oleh Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shahih, yaitu kenikmatan
memandang wajah Allâh Azza wa Jalla . Dan beliau n adalah orang yang paling
paham makna firman Allâh Azza wa Jalla.[16]

Dalam hadits yang shahih dari seorang sahabat yang mulia, Shuhaib bin Sinan
Radhiyallahu anhu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika
penghuni surga telah masuk surga, Allâh Azza wa Jalla Berfirman, “Apakah
kalian (wahai penghuni surga) menginginkan sesuatu sebagai tambahan (dari
kenikmatan surga) ? Maka mereka menjawab, 'Bukankah Engkau telah memutihkan
wajah-wajah kami ? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan
menyelamatkan kami dari (adzab) neraka ?' Lalu Allâh membuka hijab (yang
menutupi wajah-Nya Yang Maha Mulia), dan penghuni surga tidak pernah
mendapatkan suatu (kenikmatan) yang lebih mereka sukai dari pada melihat
(wajah) Allâh Azza wa Jalla ” Kemudian Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa
sallam membaca ayat tersebut di atas [17] .

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, ”(Kenikmatan) teragung dan tertinggi
(yang melebihi semua) kenikmatan di surga adalah memandang wajah Allâh yang
maha mulia. Karena inilah “tambahan” yang paling agung (melebihi) semua
(kenikmatan) yang Allâh berikan kepada para penghuni surga. Mereka berhak
mendapatkan kenikmatan tersebut bukan (semata-mata) karena amal perbuatan
mereka, tetapi karena karunia dan rahmat Allâh.”[18]

Dalam hadits lain, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggandengkan
kenikmatan tertinggi ini dengan sifat kekasih Allâh Azza wa Jalla yang
disebutkan dalam hadits di atas, yaitu selalu merindukan perjumpaan
dengan-Nya. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam do'a
beliau, “(Ya Allâh) aku meminta kepada-Mu kenikmatan memandang wajah-Mu (di
akhirat nanti) dan aku meminta kepada-Mu kerinduan untuk bertemu dengan-Mu
(sewaktu di dunia), tanpa adanya bahaya yang mencelakakan dan fitnah yang
menyesatkan”[19]

Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Ighâtsatul Lahafân [20] menjelaskan
keterkaitan dua hal ini. Yaitu kenikmatan tertinggi di akhirat ini (melihat
wajah Allâh Azza wa Jalla ) adalah balasan yang Allâh Azza wa Jalla berikan
kepada orang yang selalu mengharapkan dan merindukan pertemuan dengan Allâh
Azza wa Jalla . Mereka adalah kekasih-Nya yang telah merasakan kesempurnaan
dan manisnya iman, wujudnya berupa perasaan tenang dan bahagia ketika
mendekatkan diri dan berzikir kepada-Nya.

Dengan kata lain, orang yang akan menjumpai saat terindah di akhirat ini
(yaitu saat melihat wajah Allâh Azza wa Jalla ) adalah orang yang ketika di
dunia, dia merasa bahwa saat terindah dalam hidupnya adalah ketika dia
beribadah dan mendekatkan diri kepada Dzat yang dicintainya, Allâh Azza wa
Jalla .

NASEHAT DAN PENUTUP
Demikianlah gambaran saat-saat terindah bagi kekasih Allâh Azza wa Jalla di
dunia dan akhirat. Bandingkanlah dengan saat-saat terindah versi manusia
sekarang ini ! Lalu tanyakan kepada diri kita sendiri, "Apakah yang kita
anggap sebagai saat terindah dalam hidup kita ?"

Berbahagialah hamba Allâh yang menjadikan saat terindah dalam hidupnya
ketika dia beribadah dan mendekatkan diri kepada Allâh Azza wa Jalla .
Berbahagialah dengan kabar gembira dari Allâh Azza wa Jalla , yang artinya,
"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Rabb kami adalah Allâh”
kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (beristiqâmah), maka malaikat
akan turun kepada mereka (dengan memberi kabar gembira), “Janganlah kamu
merasa takut dan bersedih hati; dan bergembiralah dengan (memperoleh) surga
yang telah dijanjikan Allâh kepadamu. Kamilah penolong-penolongmu dalam
kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya (surga) kamu memperoleh apa
yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) apa yang kamu minta”. Sebagai
hidangan (balasan yang kekal bagimu) dari (Allâh) Yang Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang" [Fusshilat/41:30-32].

Dalam ayat lain, Allâh Azza wa Jalla berfirman :

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ
يَحْزَنُونَ ﴿٦٢﴾ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ ﴿٦٣﴾ لَهُمُ
الْبُشْرَىٰ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۚ لَا تَبْدِيلَ
لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali (kekasih) Allâh itu, tidak ada
kekhawatiran bagi mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu)
orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita
gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan
bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allâh. Yang demikian itu adalah
kemenangan yang besar [Yunus/10: 62-64].

Akhirnya, kami tutup tulisan ini dengan memohon kepada Allâh Azza wa Jalla
agar Dia senantiasa melimpahkan taufik-Nya kepada kita untuk mendapatkan
kebaikan dari-Nya di dunia dan akhirat, sesungguhnya Dia Maha Mendengar
lagi Maha Mengabulkan doa.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XIV/1431H/2011. Diterbitkan
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton
Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Mulai dari sini sampai akhir paragraf ini adalah keterangan tambahan
dari penulis.
[2]. Lihat Tafsîr Ibnu Katsir (4/472), Tafsir al-Qurthubi (18/124-125) dan
Fathul Qadîr (7/226).
[3]. Kitab Miftâhu Dâris Sa'âdah (1/107-108).
[4]. Lihat keterangan Ibnul Qayyim t dalam Miftâhu Dâris Sa'âdah (1/51).
[5]. Kitab Taisîrul Karîmir Rahmân, hlm. 366
[6]. Kitab Ighâtsatul Lahafân (hlm. 75-76 – Mawâridul amân).
[7]. at-Taubah/9:118.
[8]. HR Bukhâri (no. 4156) dan Muslim (no. 2769).
[9]. Lihat kitab Fathul Bâri (8/122).
[10]. Zâdul Ma'âd (3/511).
[11]. HR al-Bukhâri (no. 3485) dan Muslim (no. 2639).
[12]. Lihat kitab Fathul Bâri (4/118).
[13]. Dinukil oleh Imam Hârits bin Abi Usâmah dalam Musnad al-Hârits"
(2/756- Bugyatul Bâhits).
[14]. HR al-Bukhâri (no. 6142) dan Muslim (no. 2683).
[15]. HR al-Bukhâri (no. 7054) dan Muslim (no. 1151).
[16]. Lihat Syarhul ‘Aqîdatil Wâshithiyyah (1/452).
[17]. HR Muslim (no. 181).
[18]. Tafsir Ibnu Katsir (4/262).
[19]. HR an-Nasâ'i dalam as-Sunan (3/54 dan 3/55), Imam Ahmad dalam
al-Musnad (4/264), Ibnu Hibbân dalam Shahihnya (no. 1971) dan al-Hâkim
dalam al-Mustadrak (no. 1900), dishahihkan oleh Ibnu Hibbân, al-Hâkim,
disepakati oleh adz-Dzahabi dan Syaikh al-Albâni dalam Zhilâlul Jannah fî
Takhrîjis Sunnah (no. 424).
[20]. Hlm. 70-71 dan hlm. 79 (Mawâridul Amân, cet. Dâr Ibnil Jauzi,
ad-Dammâm, 1415 H).

Kirim email ke