BERIBADAH KEPADA ALLAH SEPENUHNYA
Oleh
Dr Fadhli llahi
http://almanhaj.or.id/content/964/slash/0/beribadah-kepada-allah-sepenuhnya/
Di antara kunci-kunci rizki adalah beribadah kepada Allah sepenuhnya. Saya akan
membahas masalah ini –dengan memohan pertolongan kepada Allah- dari dua hal.
1. Makna Beribadah Kepada Allah Sepenuhnya
2. Dalil Syar’I Bahwa Beribadah Kepada Allah Sepenuhnya Adalah Di Antara
Kunci-Kunci Rizki.
MAKNA BERIBADAH KEPADA ALLAH SEPENUHNYA
Hendaknya seseorang tidak mengira bahwa yang dimaksud beribadah sepenuhnya
adalah dengan meninggalkan usaha untuk mendapatkan penghidupan dan duduk di
masjid sepanjang siang dan malam. Tetapi yang dimaksud –wallahu a’lam- adalah
hendaknya seorang hamba beribadah dengan hati dan jasadnya, khusyu’ dan
merendahkan diri di hadapan Allah Yang Mahaesa, menghadirkan (dalam hati)
betapa besar keagungan Allah, benar-benar merasa bahwa ia sedang bermunajat
kepada Allah Yang Maha Menguasai dan Maha Menentukan. Yakni beribadah
sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits.
أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْلَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَغِنَّهُ
يَرَاكَ
“Hendaknya kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihatNya. Jika kamu
tidak melihatNya maka sesungguhnya Dia melihatmu” [1]
Janganlah engkau termasuk orang-orang yang (ketika beribadah) jasad mereka
berada di masjid, sedang hatinya berada di luar masjid.
Menjelaskan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
تَفَرَّ غْ لِعِبَادَتِيْ
“Beribadahlah sepenuhnya kepadaKu”.
Al-Mulla Ali Al-Qari berkata ; ‘Maknanya, jadikanlah hatimu benar-benar
sepenuhnya (berkosentrasi) untuk beribadah kepada Tuhamnu” [2]
Kedua : DALIL SYAR’I BAHWA BERIBADAH KEPADA ALLAH SEPENUHNYA, TERMASUK KUNCI
RIZKI.
Ada beberapa nash yang menunjukkan bahwa beribadah sepenuhnya kepada Allah
termasuk di antara kunci-kunci rizki. Beberapa nash tersebut di antaranya
adalah.
1. Hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-Hakim
dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
beliau bersabda.
إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُوْلُ : يَا ابْنَ آدَمَ! تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِيْ،
أَمْلأْ صَدْ رَكَ غِنًى، وَأَسُدَّ فَقْرَكَ، وَإِنْ لاَ تَفْعَلْ مَلأْتُ يَدَكَ
شُغْلاً، وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكْ
“Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai anak Adam!, beribadahlah
sepenuhnya kepadaKu, niscaya Aku penuhi (hatimu yang ada) di dalam dada dengan
kekayaan dan Aku penuhi kebutuhanmu. Jika tidak kalian lakukan niscaya Aku
penuhi tanganmu dengan kesibukan [3] dan tidak Aku penuhi kebutuhanmu (kepada
manusia)” [4]
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits tersebut menjelaskan,
bahwasanya Allah menjanjikan kepada orang yang beribadah kepadaNya sepenuhnya
dengan dua hadiah sebaliknya mengancam bagi yang tidak beribadah kepadaNya
dengan sepenuhnya dengan dua siksa. Adapun dua hadiah itu adalah Allah mengisi
hati orang yang beribadah kepadaNya sepenuhnya dengan kekayaan serta memenuhi
kebutuhannya. Sedang dua siksa itu adalah Allah memenuhi kedua tangan orang
yang tidak beribadah kepadaNya sepenuhnya dengan berbagai kesibukan, dan ia
tidak mampu memenuhi kebutuhannya, sehingga ia tetap membutuhkan kepada manusia.
2. Hadits riwayat Imam Al-Hakim dari Ma’qil bin Yasar Radhiyallahu ‘anhu ia
berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
يَقُوْلُ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : يَا ابْنَ آدَمَ!تَفَرَّغْ
لِعِبِادَتِيْ، أَمْلَأ قَلْبَكَ غِنَّ، وَأَمْلأ يَدَيْكَ رِزْقَا يَاابْنَ
آدَمَ! لاَ تُبَاعِدْنِي
“Rabb kalian Yang Mahasuci laga Mahatinggi berfirman, ‘Wahai anak Adam!,
fokuslah beribadah kepadaKu , niscaya Aku penuhi hatimu dengan kekayaan dan Aku
penuhi kedua tanganmu dengan rizki. Wahai anak Adam!, Jangan jauhi Aku,
sehingga Aku penuhi hatimu dengan kefakiran dan Aku penuhi kedua tanganmu
dengan kesibukan” [5]
Dalam hadits yang mulia ini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia,
yang berbicara berdasarkan wahyu mengabarkan tentang janji Allah, yang tak satu
pun lebih memenuhi janji daripadaNya, berapa dua jenis pahala bagi orang yang
benar-benar beribadah kepada Allah sepenuhnya. Yaitu, Allah pasti memenuhi
hatinya dengan kekayaan dan kedua tangannya dengan rizki.
Sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memperingatkan akan ancaman
Allah kepada orang yang menjauhiNya dengan dua jenis siksa. Yaitu Allah pasti
memenuhi hatinya dengan kefakiran dan kedua tangannya dengan kesibukan.
Dan semua mengetahui, siapa yang hatinya dikayakan oleh Yang Maha Memberi
kekayaan, niscaya tidak akan didekati oleh kemiskinan selama-lamanya. Dan siapa
yang kedua tangannya dipenuhi rizki oleh Yang Maha Memberi rizki dan
Mahaperkasa, niscaya ia tidak akan pernah pailit selama-lamanya. Sebaliknya,
siapa yang hatinya dipenuhi dengan kefakiran oleh Yang Mahakuasa dan Maha
Menentukan, niscaya tak seorangpun mampu membuatnya kaya. Dan siapa yang
disibukkan oleh Yang Mahaperkasa dan Maha Memaksa, niscaya tak seorangpun yang
mampu memberinya waktu luang.
[Disalin dari kitab Mafatiihur Rizq fi Dhau’il Kitab was Sunnah, Penulis DR
Fadhl Ilahi, Edisi Indonesia Kunci-Kunci Rizki Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah,
Penerjemah Ainul Haris Arifin, Lc. Penerbit Darul Haq- Jakarta]
_______
Footnote
[1]. Lihat, Shahih Muslim, Kitabul Iman, Bab Bayanul Iman wal Islam wa Ihsan….,
penggalan dari hadits no.5 (9), 1/39
[2]. Murqatul Mafatih, 9/26. Lihat pula, Tuhfatul Ahwadzi, di dalamnya
disebutkan : Kosongkanlah (hatimu) dari urusan-urusanmu untuk menta’atiKu” 7/140
[3]. “Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan”. Dikhususkan penyebutan kata
‘tangan’ karena pekerjaan itu dilakukan dengan keduanya. (Lihat, Faidhul Qadir,
2/308)
[4]. Al-Musnad, no 8681, 16/284 ; Jami’ut Tirmidzi, Abwabul Shifatil Qiyamah,
Bab no. 2584, 7/140 dan lafazh ini miliknya ; Sunan Ibni Majah, Abwabuz Zuhd,
Al-Hammu bid Dunya, no. 4159, 2/408 ; Al-Mustadrak ‘Alash Shahihain, Kitabut
Tafsir, 2/443. Imam At-Tirmidzi berkata, Hadits ini hasan gharib (Jami’ut
Tirmidzi, 7/141). Imam Al-Hakim berkata, Ini adalah hadits yang sanadnya
shahih, tetapi tidak dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. (Al-Mustadrak
2/443). Dan in disepakati oleh Adz-Dzahabi (Lihat, At-Talkhish, 2/443). Syaikh
Al-Albani berkata, Shahih [Shahih Sunan At-Tirmidzi, 2/300 ; Shahih Sunan Ibni
Majah, 2/393]
[5]. Al-Mustadrak ‘Alash Shahihaian, Kitabur Riqaq, 4/326. Imam Al-Hakim
berkata, ‘Sanad hadits ini shahih, tetapi Al-Bukhari dan Muslim tidak
mengeluarkannya’. (Op.cit, 4/326). Dan hal ini disepakati oleh Adz-Dzahabi.
Lihat, At-Talkhish, 4/326. Syaikh Al-Albani berkata, Tentang hadits ini, memang
seperti yang dikatakan oleh keduanya [Silsilatul Ahadits Ash-Shahihah,no. 1359,
3/47]