T A Q W A

Oleh
Dr Fadhl Ilahi
http://almanhaj.or.id/content/990/slash/0/t-a-q-w-a/

Termasuk sebab turunnya rizki adalah taqwa. Saya akan membicarakan masalah ini 
–dengan memohon taufiq dari Allah- dalam dua bahasan.

1. Makna Taqwa
2. Dalil Syar’i Bahwa Taqwa Termasuk Kunci Rizki

MAKNA TAQWA
Para ulama rahimahullah telah mejelaskan apa yang dimaksud dengan taqwa. Di 
antaranya, Imam Ar-Raghib Al-Asfahani mendenifisikan : “Taqwa yaitu menjaga 
jiwa dari perbuatan yang membuatnya berdosa, dan itu dengan meninggalkan apa 
yang dilarang, dan menjadi sempurna dengan meninggalkan sebagian yang 
dihalalkan” [1] 

Sedangkan Imam An-Nawawi mendenifisikan taqwa dengan “Menta’ati perintah dan 
laranganNya”. Maksudnya menjaga diri dari kemurkaan dan adzab Allah Subhanahu 
wa Ta’ala [2]. Hal itu sebagaimana didefinisikan oleh Imam Al-Jurjani “ Taqwa 
yaitu menjaga diri dari siksa Allah dengan menta’atiNya. Yakni menjaga diri 
dari pekerjaan yang mengakibatkan siksa, baik dengan melakukan perbuatan atau 
meninggalkannya” [3] 

Karena itu siapa yang tidak menjaga dirinya dari perbuatan dosa, berarti dia 
bukanlah orang yang bertaqwa. Maka orang yang melihat dengan kedua matanya apa 
yang diharamkan Allah, atau mendengarkan dengan kedua telinganya apa yang 
dimurkai Allah, atau mengambil dengan kedua tangannya apa yang tidak diridhai 
Allah, atau berjalan ke tempat yang dikutuk Allah, berarti ia tidak menjaga 
dirinya dari dosa.

Jadi, orang yang membangkang perintah Allah serta melakukan apa yang 
dilarangNya, dia bukan termasuk orang-orang yang bertaqwa

Orang yang menceburkan diri kedalam maksiat sehingga ia pantas mendapat murka 
dan siksa dari Allah, maka ia telah mengelurakan dirinya dari barisan 
orang-orang yang bertaqwa.

DALIL SYAR'I BAHWA TAQWA TERMASUK KUNCI RIZKI
Beberapa nash yang menunjukkan bahwa taqwa termasuk di antara sebab rizki, di 
antaranya.

1. Firman Allah

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ﴿٢﴾وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا 
يَحْتَسِبُ 

“Artinya : Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan 
keluar baginya dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka” 
[At-Thalaq/65 : 2-3]

Dalam ayat diatas, Allah menjelaskan bahwa orang yang merelaisasikan taqwa akan 
dibalas Allah dengan dua hal.

Pertama : "Allah akan mengadakan jalan keluar baginya” Artinya, Allah akan 
menyelamatkannya –sebagaimana di katakana Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma- dari 
setiap kesusahan dunia maupun akhirat.[4] 

Kedua : "Allah akan memberik rizki dari arah yang tidak disangka-sangka”. 
Artinya, Allah akan memberi rizki yang tak pernah ia harapkan dan angankan.[5]

Al-Hafidz Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan :”Maknanya, barangsiapa yang 
bertaqwa kepada Allah dengan melakukan apa yang diperintahkanNya dan 
meninggalkan apa yang dilarangNya, niscaya Allah akan memberinya jalan keluar 
serta rizki dari arah yang tidak disangka-sangka, yakni dari arah yang tidak 
pernah terlintas dalam benaknya”[6] 

Alangkah agung dan besar buah taqwa itu ! Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu 
‘anhu berkata : “Sesungguhnya ayat terbesar dalam hal pemberian janji keluar 
adalah.

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا

“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar 
baginya” [7]

2. Ayat Lainnya Adalah Firman Allah

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ 
بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا 
كَانُوا يَكْسِبُونَ

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami 
akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka 
mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatan 
mereka sendiri” [Al-A’raf/7 : 96]

Dalam ayat yang mulia ini Allah menjelaskan, seandainya penduduk negeri-negeri 
merealisasikan dua hal, yakni ; iman dan taqwa, niscaya Allah akan melapangkan 
kebaikan (kekayaan) untuk mereka dan memudahkan mereka mendapatkannya dari 
segala arah.

Menafsirkan firman Allah.

لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

“Pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, 
Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma mengatakan : “Niscaya Kami lapangkan 
kebaikan (kekayaan) untuk mereka dan Kami mudahkan bagi mereka untuk 
mendapatkannya dari segala arah” [8] 

Janji Allah yang terdapat dalam ayat yang mulia tersebut terhadap orang-orang 
beriman dan bertaqwa mengandung beberapa hal, di antaranya :

a. Janji Allah untuk membuka “ بَرَكَاتٍ ” (keberkahan) bagi mereka. “ 
البرََكَاتٍ ” adalah bentuk jama’ dari “al-barakat”. Imam Al-Baghawi berkata, 
“Ia berarti mengerjakan sesuatu secara terus menerus [9] 

Jadi, yang dapat disimpulkan dari makna kalimat “al-barakat” adalah bahwa apa 
yang diberikan Allah disebabkan oleh keimanan dan ketaqwaan mereka adalah 
kebaikan yang terus menerus, tidak ada keburukan atau konsekuensi apapun atas 
mereka sesudahnya.

Tentang hal ini, Sayid Muhammad Rasyid Ridha berkata : “Adapun orang-orang yang 
beriman maka apa yang dibukakan untuk mereka adalah berupa berkah dan 
kenikmatan. Dan untuk hal itu, mereka senantiasa bersyukur kepada Allah, ridha 
terhadapNya dan mengharapkan karuaniaNya. Lalu mereka menggunakannya di jalan 
kebaikan, bukan jalan keburukan, untuk perbaikan bukan untuk merusak. Sehingga 
balasan bagi mereka dari Allah adalah ditambahnya berbagai kenikmatan di dunia 
dan pahala yang baik di akhirat” [10] 

Syaikh Ibnu Asyur mengungkapkan hal itu dengan ucapannya : Makna “al-barakat” 
adalah kebaikan yang murni yang tidak ada konsekuensinya di akhirat. Dan ia 
adalah sebaik-baik jenis nikmat” [11]

b. Kata berkah disebutkan dalam bentuk jama’ sebagaimana firman Allah.

لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ

“Pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berbagai berkah”. 

Ayat ini, sebagaimana disebutkan Syaikh Ibnu Asyur untuk menunjukkan banyaknya 
berkah sesuai dengan banyaknya sesuatu yang diberkahi. [12] 

c. Allah Berfirman.

بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

“Berbagai keberkahan dari langit dan bumi”. 

Menurut Imam Ar-Razi, maksudnya adalah keberkahan langit dengan turunnya hujan, 
keberkahan bumi dengan tumbuhnya berbagai tanaman dan buah-buahan, banyaknya 
hewan ternak dan gembalaan serta diperolehnya keamanan dan keselamatan. Hal ini 
karena langit adalah laksana ayah, dan bumi laksana ibu. Dari keduanya 
diperoleh semua bentuk manfaat dan kebaikan berdasarkan penciptaan dan 
pengurusan Allah. [13] 

3. Ayat Lainnya Adalah Firman Allah.

وَلَوْ أَنَّهُمْ أَقَامُوا التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ وَمَا أُنْزِلَ 
إِلَيْهِمْ مِنْ رَبِّهِمْ لَأَكَلُوا مِنْ فَوْقِهِمْ وَمِنْ تَحْتِ أَرْجُلِهِمْ 
ۚ مِنْهُمْ أُمَّةٌ مُقْتَصِدَةٌ ۖ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ سَاءَ مَا يَعْمَلُونَ

“Dan sekiranya mereka sunguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil dan 
(Al-Qur’an) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan 
mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka. Di antara mereka 
ada golongan yang pertengahan. Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh 
kebanyakan mereka” [Al-Ma’idah/5 : 66]

Allah Tabaraka wa Ta’ala mengabarkan tentang Ahli Kitab, ‘Bahwa seandainya 
mereka mengamalkan apa yang ada di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an –demikian 
seperti dikatakan oleh Abdullah bin Abbas Radhhiyallahu anhuma dalam 
menafsirkan ayat tersebut- [14], niscaya Allah memperbanyak rizki yang 
diturunkan kepada mereka dari langit dan yang tumbuh untuk mereka dari bumi. 
[15]

Syaikh Yahya bin Umar Al-Andalusi berkata : “Allah menghendaki –wallahu a‘lam- 
bahwa seandainya mereka mengamalkan apa yang diturunkan di dalam Taurat, Injil 
dan Al-Qur’an, niscaya mereka memakan dari atas dan dari bawah kaki mereka. 
Maknanya –wallahu a’lam- niscaya mereka diberi kelapangan dan kesempurnaan 
nikmat dunia” [16] 

Dalam menafsirkan ayat ini, Imam Al-Qurthubi mengatakan, “Dan sejenis dengan 
ayat ini adalah firman Allah.

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ﴿٢﴾وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا 
يَحْتَسِبُ 

“Barangsiapa bertawa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan 
keluar dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya” 
[At-Thalaq/65 : 2-3]

وَأَنْ لَوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا

“Dan bahwasanya jika mereka tetap berjalan di atas jalan itu (agama Islam), 
banar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rizki yang 
banyak)” [Al-Jin /72: 16]

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ 
بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami 
akan melimpahkan kepada mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi” 
[Al-A’raf /7: 96]

Sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat di atas, Allah menjadikan ketaqwaan di 
antara sebab-sebab rizki dan menjanjikan untuk menambahnya bagi orang yang 
bersyukur, Allah berfirman.

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ 

“Jika kalian bersyukur, niscaya Aku tambahkan nikmatKu atasmu” [Ibrahim/14 : 7] 
[17]

Karena itu, setiap orang yang menginginkan keleluasaan rizki dan kemakmuran 
hidup, hendaknya ia menjaga dirinya dari segala dosa. Hendaknya ia menta’ati 
perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-laranganNya. Juga hendaknya ia 
menjaga diri dari yang menyebabkannya berhak mendapat siksa, seperti melakukan 
kemungkaran atau meninggalkan kebaikan.

[Disalin dari kitab Mafatiihur Rizq fi Dhau’il Kitab was Sunnah, Penulis DR 
Fadhl Ilahi, Edisi Indonesia Kunci-Kunci Rizki Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, 
Penerjemah Ainul Haris Arifin, Lc. Penerbit Darul Haq- Jakarta]
_______
Footnote.
[1]. Al-Mufradat Fi Gharibil Qur’an, hal 531
[2]. Tahriru AlFazhil Tanbih, hal 322
[3]. Kitabut Ta’rifat, hl.68
[4]. Lihat Tafsir Al-Qurthubi, 18/159, Ar-Rabi’ bin Khutsaim berkata : “Dia 
memberi jalan keluar dari setiap apa yang menyesakkan manusia” (Zadul Masir, 
8/291-292 ; Lihat pula, Tafsir Al-Baghawi, 4/357 dan Tafsir Al-Khazin, 7/108)
[5]. Lihat, Zaadul Masir, 8/291-292
[6]. Tafsir Ibnu Katsir, 4/400
[7]. Tafsir Ibnu Katsir, 4/400. Lihat pula, Tafsir Ibnu Mas’ud, 2/651
[8]. Tafsir Abi As-Su’ud, 3/253]
[9]. Tafsir Al-Baghawi, 2/183. Atau seperti Imam Al-Khazin, “Tetapnya suatu 
kebaikan Tuhan atas sesuatu” Tafsir Al-Khazin, 2/266
[10]. Tafsir Al-Manar, 9/25
[11]. Tafsir At-Tahrir wa Tanwir, 9/22
[12]. Op. cit, 9/22
[13]. At-Tafsirul Kabir, 12/185. Lihat pula, Tafsirul Khazin 2/266 dan Tafsir 
At-Tahrir wa Tanwir, 9/22
[14]. Lihat Tafsir Ath-Thabari 10/463, Al-Muharrar Al-Wajiz 5/152-153, Zadul 
Maasir 2/395 dan Tafsir Ibnu Katsir 2/86
[15]. Lihat tafsir Ibnu Katsir 2/86, dan Fathul Qadir yang didalamnya 
dikatakan, “Penyebutan dari atas dan dari bawah (dalam ayat tersebut) adalah 
untuk menunjukkan puncak kemudahan sebab-sebab rizki bagi mereka, juga untuk 
menunjukkan banyak dan keaneka ragaman jenisnya” 2/85, juga Tafsir At-Tahrir at 
Tanwir yang didalamnya disebutkan, Maksudnya, niscaya mereka diberi rizki dari 
semua jalan”4/254
[16]. Kitabun Nazhar wal Ahkam fi Jami’i Ahwalis Suuq, hal 41
[17]. Tafsir Al-Qurthubi, 6/241                                           

Kirim email ke