DUNIA DICIPTAKAN KARENA NUR (CAHAYA) NABI MHUHAMMAD SHALALLAHU 'ALAIHI WA
SALLAM ?

Oleh
Ustadz DR Ali Musri Semjan Putra MA.

http://almanhaj.or.id/content/3643/slash/0/dunia-diciptakan-karena-nur-cahaya-nabi-muhammad-shallallahu-alaihi-wa-sallam/

Proses tashfiyah dan tarbiyah , pemurnian ajaran Islam dan mendidik umat
dengan ajaran yang sesuai dengan syariat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
, harus tetap menjadi langkah acuan dalam mendakwahkan Islam. Hal ini
dikarenakan masih ada keyakinan-keyakinan tidak benar yang merasuki kalbu
umat. Bak rumah yang berpondasi rusak, maka aqidah yang tidak sesuai dengan
ajaran Nabi ini pun akhirnya merusak umat dan berperan besar dalam
menimbulkan perpecahan demi perpecahan. Di antara aqidah yang diyakini
kebenarannya, padahal merupakan aqidah yang salah, aqidah Nur Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

HAKIKAT AQIDAH NUR MUHAMMAD
Di antara keyakinan keliru yang digagas oleh aqthâb (tokoh) Sufi,
disebarkan dan dibela oleh mereka, aqidah Nur Muhammad. Mereka pun
membakukan ushul (landasan-landasan) untuk membenarkan aqidah ini dalam
kitab-kitab yang mereka tulis dan dalam syair-syair mereka susun. Hanya,
meski cukup terkenal aqidah ini, namun para Ulama mereka belum satu kata
dalam mendefinisikannya secara detail dan jelas. Masing-masing
menyampaikannya sesuai dengan perasaan dan apa yang terbetik pada
firasatnya (?!).

Mereka mengatakan, “(Yang dimaksud Nur Muhammad) bahwa Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam diciptakan dari cahaya, dan yang pertama kali
diciptakan oleh Allâh Azza wa Jalla adalah cahaya Muhammad; dan bumi
seisinya diciptakan karena Rasûlullâh, kalaulah tidak ada beliau, maka bumi
tidak akan pernah ada dan diciptakan”

Yûsuf Ismâil an-Nabhâni salah satu pembela ideologi ini menjelaskan makna
istilah yang aneh ini dengan berkata, “Ketahuilah, bahwasannya tatkala
kehendak al-Haq (Allâh) berhubungan dengan penciptaan para makhluk-Nya,
Allâh Azza wa Jalla telah menampakkan haqiqat Muhammad dari
cahaya-cahaya-Nya, kemudian dengan sebabnya tersingkaplah seluruh alam dari
atas hingga bawahnya …….kemudian terpancarlah darinya sumber ruh-ruh,
sedangkan dia (Muhammad) merupakan jenis (ruh) yang paling tinggi di atas
segala jenis dan sebagai induk terbesar bagi seluruh makhluk yang ada.” [1]

Ini mengandung pengertian bahwasanya Allâh Azza wa Jalla menciptakan
Muhammad dari cahaya-Nya dan bahwa Dia Azza wa Jallamenciptakannya sebelum
penciptaan Adam, bahkan sebelum menciptakan seluruh alam. Dan bahwa segala
sesuatu diciptakan dari cahaya Muhammad.

Salah satu dari tokoh mereka juga mengatakan, “Kalaulah tidak ada dia
(Muhammad), matahari, bulan… bintang, lauh, dan Qolam tidak akan pernah
diciptakan”.[2]

MELURUSKAN AQIDAH NUR MUHAMMAD
Apa yang mereka sampaikan di atas, adalah anggapan-anggapan yang batil dan
pernyataan-pernyataan yang tidak memiliki bukti (dasar) dari al-Qur`ân
maupun Hadits Nabi yang shahih. Dan tatkala mereka dimintai dalil yang
shahih dan jelas serta tidak kontradiktif dengan nash-nash yang ada, mereka
malah berhujjah dengan hadits-hadits yang seluruhnya berderajat maudhû
(palsu). Di antaranya:

لَوْلَاكَ مَا خُلَقَتِ الْأَفْلاَكُ

Kalau tidak ada kamu, bintang-bintang tidak diciptakan [3]

كُنْتُ نَبِياًّ وَلاَ آدَمَ وَلاَ مَاءَ وَلاَ طِيْنَ

Aku menjadi nabi, sedang Adam, air dan tanah belum ada [4]

إِنَّهُ كَانَ نُوْرًا حَوْلَ الْعَرْشِ فَقَالَ : يَا جِبْرِيْلُ: أَنَا
كُنْتُ ذَلِكَ النُّورَ

Sesunggunya dia (Muhammad) dulu adalah cahaya yang ada di sekeliling Arsy.
Kemudian beliau bersabda, “Wahai Jibril, aku dulu adalah cahaya itu” [5]

Hadits-hadits ini berderajat palsu, sementara sanad (para perawi yang
meriwayatkannya) dan matannya (teks haditsnya) pun munkar. Sungguh aneh,
mereka menggunakan hadits-hadits palsu ini untuk menguatkan aqidah Nur
Muhammad, padahal mereka mengatakan tidak bolehnya menggunakan hadits Ahad
sebagai hujjah dalam masalah aqidah, walaupun terdapat dalam Shahîh
al-Bukhâri dan Shahîh Muslim !!! Apakah pantas hadits-hadits seperti ini
dijadikan hujjah (dasar) dalam agama?! Bagaimana mereka bisa menggunakan
hadits-hadits tersebut sebagai hujah padahal bertentangan dengan firman
Allâh Azza wa Jalla ;

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi
kepada-Ku [ad-Dzâriyât/51:56]

Sungguh Allâh Azza wa Jalla telah menjelaskan dalam ayat ini bahwa Dia Azza
wa Jalla tidak menciptakan jin dan manusia seluruhnya termasuk Nabi
Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali untuk tujuan ibadah
kepada-Nya saja. Tujuan mengadopsi kesesatan ini, agar mereka dapat
menghilangkan makna tauhid. Bagaimana bisa khurofat ini melekat pada
sebagian akal kaum Muslimin, seolah-olah mereka belum pernah membaca ayat
di atas. Mungkin saja, karena kebodohan (tentang agama) yang terlalu parah
telah bermain pada akal mereka.

Tentang keyakinan mereka bahwa Nabi Muhammad berasal dari cahaya, bukan
seperti manusia dalam hal penciptaannya, keyakinan tersebut bertentangan
dengan nash-nash yang telah ada dalam al-Qur`ân, seperti firman Allâh Azza
wa Jalla :

قُلْ سُبْحَانَ رَبِّي هَلْ كُنْتُ إِلَّا بَشَرًا رَسُولًا

Katakanlah, “Maha suci Rabbku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang
menjadi rasul?” [al-Isrâ/16:93]

Dan juga menyelisihi firman Allâh Azza wa Jalla berikut yang menyatakan
adanya nabi dan rasul sebelum beliau:

قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِنَ الرُّسُلِ

Katakanlah, “Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul”.
[al-Ahqâf/46:9]

Barangsiapa yang mengingkari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam
sebagai manusia dan meyakininya berasal dari cahaya yang tidak memiliki
bayangan, sungguh orang tersebut telah menghina Nabi Muhammad Shallallahu
‘alaihi wa sallam, padahal ia menginginkan untuk mengagungkan beliau.

Syaikh Ibnu Bâz rahimahullah berkata tentang aqidah Nur Muhammad,
“Sehubungan dengan perkataan sebagian manusia dan khurofi, serta kalangan
Sufi bahwa ‘beliau (Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam )
diciptakan dari cahaya’ atau ‘yang pertama kali diciptakan adalah cahaya
Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam , ini semua kabar (riwayat) yang
tidak ada asalnya, seluruhnya kebatilan, merupakan berita palsu yang tidak
ada dasarnya (sama sekali) sebagaimana telah disebutkan di muka”.

Beliau rahimahullah mengatakan, “(Pernyataan) bahwa dunia diciptakan karena
(Nabi) Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam , kalau tidak ada Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka dunia tidak akan pernah ada, juga tidak
akan diciptakan makhluk (lainnya), ini merupakan kebatilan, tidak ada
asalnya, ini perkataan yang rusak. Allâh Azza wa Jalla menciptakan dunia
agar Dia k dikenal, diketahui dan diibadahi (oleh makhluk, manusia). Allâh
Azza wa Jalla menciptakan dunia dan seluruh makhluk agar dikenal melalui
nama-nama dan sifat-sifat-Nya, kekuasaan dan ilmu-Nya, agar ibadahi, tidak
ada sekutu bagi-nya, bukan karena (Nabi) Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa
sallam , (Nab) Nuh Alaihissalam, ataupun (Nabi) Isa Alaihissallam maupun
karena nabi lainnya. Allâh menciptakan seluruh makhluk agar mereka
beribadah kepada-Nya. Allâh berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi
kepada-Ku [ad-Dzâriyât/51:56]

Di sini, Allâh Azza wa Jalla menjelaskan bahwa Dia menciptakan mereka agar
beribadah kepada-Nya, bukan karena Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk dalam kandungan ayat
di atas, diciptakan untuk beribadah kepada-Nya. Hal ini sebagaimana firman
Allâh Azza wa Jalla :

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)
[al-Hijr/15:99]

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ
يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ
شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

Allâh-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah
Allâh berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allâh Maha Kuasa
atas segala sesuatu, dan Sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi
segala sesuatu [ath-Thalâq/65:12]

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا

Dan kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya
tanpa hikmah [Shâd/38:27]”

Beliau rahimahullah juga mengatakan: “Ini semua yang engkau dengar (ada di
tengah masyarakat) merupakan kebatilan, tidak ada dasarnya sama sekali
(dalam Islam), Allâh Azza wa Jalla tidak menciptakan makhluk, tidak jin,
manusia, langit dan bumi dan makhluk lainnya bukan lantaran Muhammad, bukan
juga karena rasul yang lain. Akan tetapi, menciptakan semua makhluk dan
dunia untuk tujuan agar Allâh Azza wa Jalla diibadahi dan menjadi sarana
mengenal nama-nama dan sifat-sifat-Nya”[6].

Dengan demikian, sudah jelas, penyimpangan aqidah Nur Muhammad yang
diyakini oleh sebagian orang (kaum Sufi). Sebuah keyakinan yang tidak
pernah diajarkan oleh Nabi Muhammad kepada umat Islam. Maka, harus
disingkirkan jauh-jauh dari umat Islam.

Wallâhu a’lam

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 021Tahun XV/1432H/2011. Diterbitkan
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton
Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Al-Anwâr al-Muhammadiyyah hlm. 9
[2]. Tanbîhul Hudzdzâq hlm. 27, nukilan dari Huqûqin Nabiyyi , DR. Muhammad
Khalîfah at-Tamîmi, 2/714
[3]. As-Silsilah adh-Dha’îfah hadits no. 282
[4]. As-Silsilah adh-Dha’îfah hadits no. 303
[5]. As-Silsilah adh-Dha’îfah hadits no. 1/474
[6]. Fatâwa Nûr ‘ala ad-Darb 1/96-100

Kirim email ke