SURAT YANG DIAKHIRI DENGAN ASMAUL HUSNA (NAMA-NAMA-NYA YANG INDAH)
MENUNJUKKAN BAHWA HUKUM YANG DISEBUTKAN DALAM AYAT MEMILIKI KETERKAITAN
DENGAN NAMA ALLAH AZZA WA JALLA YANG MULIA ITU

http://almanhaj.or.id/content/3648/slash/0/surat-yang-diakhiri-dengan-asmaul-husna/

Ini adalah kaidah yang sangat mendalam dan bermanfaat. Bila ditelusuri pada
seluruh ayat yang diakhiri dengan nama-nama Allah Azza wa Jalla , niscaya
akan kita dapati adanya kesesuaian yang sangat tepat; yang menunjukkan
bahwa syariat, perintah dan penciptaan semua itu muncul dari nama-nama dan
sifat-sifat-Nya, sekaligus berkaitan erat dengannya.

Pembahasan tentang Allah Azza wa Jalla dan hukum-hukum-Nya termasuk
pengetahuan dan ilmu yang paling mulia. Kita dapati ayat-ayat tentang
rahmat Allah Azza wa Jalla , diakhiri dengan nama-nama-Nya yang mengandung
sifat rahmat. Ayat-ayat hukuman dan adzab ditutup dengan nama-nama yang
memuat sifat keperkasaan, kedigdayaan, kebijaksanaan, ilmu dan kekuasaan.
Perkara ini menjadi semakin urgen karena jarang kitab kitab-kitab tafsir
yang membahas kaidah ini. Berikut ini beberapa contoh untuk menjelaskan
kaidah di atas:

Allah Azza wa Jalla berfirman:

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى
السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

(Dia-lah Allah) yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia
berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia
Maha mengetahui segala sesuatu [al-Baqarah/2:29]

Penyebutan keluasan ilmu-Nya setelah menyebutkan penciptaan bumi dan langit
menunjukkan bahwa ilmu-Nya meliputi segala makhluk yang ada di dalamnya.
Juga menunjukkan bahwa Dia Maha Bijaksana karena Allah Azza wa Jalla
menjadikannya untuk para hamba-Nya dan telah memperindah bentuk
penciptaannya dalam gambaran yang terbaik dan keteraturan yang sempurna.
Demikian pula penciptaan langit dan bumi termasuk bukti keluasan ilmu Allah
Azza wa Jalla . Allah Azza wa Jalla berfirman :

أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau
rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui? [al-Mulk/67:14]

Jadi, penciptaan Allah Azza wa Jalla terhadap seluruh makhluk adalah dalil
aqli (akal) paling kuat tentang ilmu-Nya, sebab bagaimana mungkin Dia Azza
wa Jalla menciptakan sesuatu kalau Dia tidak mengetahuinya?

Allah Azza wa Jalla berfirman:

فَتَلَقَّىٰ آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ
التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Rabbnya, maka Allah menerima
taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.
[al-Baqarah/2:37]

Banyak ayat yang diakhiri dengan dua nama ini (Maha Penerima taubat dan
Penyayang) setelah menyebutkan rahmat, maghfirah, taufik, serta kelembutan
Allah Azza wa Jalla . Korelasinya akan nampak sekali bagi tiap orang.
Dengan dua nama ini, Allah Azza wa Jalla memberi perhatian lebih terhadap
hati orang-orang yang bertaubat kepada-Nya dan memberikan taufik kepada
mereka untuk melakukan perkara-perkara yang menyebabkan Allah Azza wa Jalla
menerima taubat dan merahmati mereka, dan kemudian mengampuni dan mengasihi
mereka., Allah Azza wa Jalla pertama kali menerima taubat mereka dengan
memberikan taufik kepada mereka agar bertaubat dan mengambil
langkah-langkah menuju ke sana. Kemudian Allah Azza wa Jalla menerima
taubat mereka kedua kalinya dengan berkenan menerima taubat mereka lagi dan
memenuhi permohonan mereka. Oleh karenanya, Allah Azza wa Jalla berfirman
dalam ayat yang lain:

ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا

Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya
[at-Taubah/9:118]

Kalau bukan karena taufik-Nya dan mengarahkan hati-hati mereka untuk
bertaubat, niscaya mereka tidak punya jalan menuju taubat manakala mereka
telah dikuasai oleh hawa nafsu yang selalu memerintahkan keburukan, kecuali
orang yang dirahmati Allah Azza wa Jalla dan dipelihara hawa nafsunya dan
dari bisikan-bisikan setan.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ ۚ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ
اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di
situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha
mengetahui [al-Baqarah/2:115]

Ini bermakna bahwa keutamaan dan kerajaan-Nya sangat luas, yang meliputi
semua alam atas dan bawah. Selanjutnya, di samping luas dalam kerajaan dan
keutamaan-Nya, ilmunya juga meliputi hal itu seluruhnya. Ilmu-Nya meliputi
segala perkara yang lampau dan yang akan datang; ilmu-Nya meliputi terhadap
arah menuju kiblat-kiblat yang beragam dengan adanya hikmah; serta meliputi
niat-niat orang-orang yang menghadap kiblat ke suatu arah jika mereka
keliru dalam kiblat yang telah ditentukan. Lantas, dimana orang shalat itu
menghadap? ia menghadap ke wajah Rabb-nya.

Adapun ucapan Nabi Ibrahim Alaihissallam dan Ismâ'îl Alaihissallam ketika
keduanya mengangkat pondasi rumah Allah Azza wa Jalla :

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Ya Rabb kami, terimalah daripada Kami (amalan kami), Sesungguhnya Engkaulah
yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [al-Baqarah/2:127]

Sungguh, Nabi Ibrâhîm Alaihissallam bertawasul kepada Allah Azza wa Jalla
dengan dua nama ini (as-Samî` dan al-Alîm) agar diterima amal mulia ini,
dimana Allah Azza wa Jalla mengetahui niat dan maksud keduanya; mendengar
pembicaraan keduanya, serta mengabulkan doa keduanya. Maka sungguh, yang
dimaksud dengan as-Samî' (Yang Maha Mendengar dalam konteks doa -adalah doa
ibadah dan doa permohonan-) bermakna Yang menjawab permohonan, sebagaimana
perkataan Nabi Ibrâhîm Alaihissallam dalam ayat yang lain:

إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ

Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa.
[Ibrâhîm/14:39]

Dan adapun firman Allah Azza wa Jalla :

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ
وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ

Ya Rabb kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang
akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada
mereka al-kitab (al-Qur`ân) dan al-Hikmah (Sunnah) serta mensucikan mereka.
[al-Baqarah/2:129]

Yang diakhiri dengan firman-Nya:

إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha
Bijaksana.[al-Baqarah/2:129]

Yakni; sebagaimana Aku telah mengutus Rasul ini, di dalamnya ada rahmat
yang banyak, kekuasaan Allah Azza wa Jalla dan kesempurnaan hikmah-Nya.
Karena, sesungguhnya bukan termasuk hikmah bila Dia membiarkan makhluk-Nya
begitu saja; tidak mengutus rasul kepada mereka Maka Allah Azza wa Jalla
merealisasikan hikmah-Nya dengan mengutus rasul supaya manusia tidak
memiliki hujjah lagi di hadapan Allah Azza wa Jalla . Segala urusan –yang
qadari dan syar'inya- tidak akan tegak kecuali dengan kekuasaan Allah Azza
wa Jalla dan terlaksana hukum-Nya.

Sungguh cukup bagi Allah Azza wa Jalla menyebutkan asmâ'ul husna tanpa
penjelasan lagi; tetapi dengan hanya menyebutkan hukum-hukum dan
balasan-Nya. Agar para hamba-Nya sadar bahwa jika mereka mengetahui Allah
Azza wa Jalla dari nama yang agung tersebut, niscaya akan mengetahui apa
yang diakibatkan dari hukum-hukumnya tersebut, seperti firman Allah Azza wa
Jalla :

فَإِنْ زَلَلْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْكُمُ الْبَيِّنَاتُ

Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu
bukti-bukti kebenaran. [al-aqarah/2:209]

Tidak mengatakan : "Maka kalian mendapatkan hukuman seperti ini dan itu" ,
namun berfirman;

فَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [al-Baqarah/2:209]

Apabila kalian mengetahui kekuasaan-Nya (yaitu keperkasaan, kehebatan,
kekuatan dan pertahanan-Nya) dan mengetahui hikmah-Nya (yaitu meletakkan
sesuatu pada tempatnya dan menurunkannya pada tempatnya), tentu hal itu
mengharuskan kalian takut untuk tetap berada di atas dosa-dosa dan
kegelinciran-kegelinciran kalian, karena di antara bentuk hikmah-Nya ialah
menghukum orang yang berhak dihukum –dia terus-menerus melakukan dosa
padahal mengetahuinya-. Dan sesungguhnya kalian tidak akan bisa
menolak-Nya, keluar dari garis hukum dan pembalasan-Nya, karena
kesempurnaan kekuasaan dan keperkasaan-Nya.

Ketika menyebutkan hukuman pencuri, Dia berfirman di akhir ayat-Nya;

نَكَالًا مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana.[al-Mâidah/5:38]

Yaitu; Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dia potong tangan
pencuri itu, dan Dia Yang Perkasa dan menghukumi, maka Dia menghukum
orang-orang yang melampaui batas secara syariat, ketentuan takdir dan
balasan.

Allah Azza wa Jalla berfirman ketika menyebutkan kisah-kisah para nabi
bersama umat-umat mereka dalam surat as-Syu'arâ, Dia menutup setiap kisah
dengan firman-Nya:

وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ

Dan Sesungguhnya Rabb-mu benar-benar Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha
Penyayang. [asy-Syu'arâ/26; 9,68,104,122,140,159,175,191]

Sungguh, setiap kisah mengandung penyelamatan nabi dan para pengikutnya.
Yang demikian itu berkat rahmat dan kasih sayang Allah Azza wa Jalla . Dan
pembinasaan orang-orang yang mendustakannya, hal itu merupakan bentuk
kekuasaan-Nya. Sesungguhnya Dia menyelamatkan Rasul dan para pengikutnya
dengan kesempurnaan kekuatan, kekuasaan dan kasih sayangnya, dan
membinasakan orang-orang yang mendustakan dengan kekuasaan dan
kebijaksanaan-Nya. Penyebutan rahmat menjadi konsekuensi besarnya kejahatan
mereka, dan seandainya kejahatan mereka tidak besar; mereka menutup
diri-diri mereka pintu-pintu rahmat, dan tidak ada jalan lagi untuk mereka
kepadanya, niscaya mereka ditimpa adzab.

Adapun perkataan Nabi Isâ Alaihissallam :

إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۖ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ
أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba
Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah yang
Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [al-Mâidah/5:118]

Dan Allah Azza wa Jalla tidak mengatakan; Engkaulah yang Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang. Karena tempatnya adalah bukan tempat permintaan belas
kasih ataupun rahmat, namun tempat marah dan membalas terhadap orang yang
menjadikan tuhan bersama Allah Azza wa Jalla . Maka, menjadi pas penyebutan
keperkasaan dan kebijaksanaan, sehingga menjadi lebih utama daripada
penyebutan rahmat.

Di antara yang menarik dari tempat-tempat harapan: bahwa Dia menyebutkan
sebab-sebab rahmat dan sebab-sebab adzab, kemudian menutupnya dengan
sesuatu yang menunjukkan rahmat Allah Azza wa Jalla , seperti firman-Nya:

يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ
رَحِيمٌ

Dia memberi ampun kepada siapa yang Dia kehendaki; Dia menyiksa siapa yang
Dia kehendaki, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Ali
Imrân/3:129]

Dan firman-Nya:

لِيُعَذِّبَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ
وَالْمُشْرِكَاتِ وَيَتُوبَ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ۗ
وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan
orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima
taubat orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan. dan adalah Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang. [al-Ahzâb/33:73]

Hal itu menunjukkan bahwa rahmat-Nya mendahului murka-Nya. Kepada rahmat
lah berujung setiap orang yang memiliki sebab-sebab rahmat yang paling
rendah sekalipun. Oleh karenanya, akan keluar dari neraka orang yang di
dalam hatinya masih terdapat keimanan meski seukuran biji sawi. Maka, kita
cukupkan contoh-contoh ini, dan sesungguhnya dengan contoh-contoh ini sudah
dapat diketahui cara pengambilan dalilnya.

(Dikutip dari kitab Al-Qawâidul Hisân, Syaikh Abdurrahmân bin Nâshir
as-Sa`di, Hal 51 - 57)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06-07/Tahun XII/1430H/2009.
Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8
Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

Kirim email ke