From: [email protected]
Date: Tue, 9 Jul 2013 09:35:34 +0800
Assalamualaikum,
رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ
“Celakalah orang yang ketika namaku disebut, dia tidak bershalawat untukku.”
(HR. turmudzi)
1. Bisakah membantu apa saja lafaldz2 sholawat pendek ketika menjawab nama nabi
di sebut?
2. Apakah hadis di atas disunnahkan bersolawat hanya ketika mendengar nama nabi
disebut yaitu "Muhammad"?, bagaimana ketika kita mendengar ceramah/perkataan;
"Rosullullah", "Nabi Kita", "Beliau" apakah kita tetap harus bersholawat?.
Jazakallohu khoiron,
>>>>>>>>>>>>>
1. Syaikh Abdul Muhshin bin Hamd Al 'Abbad hafizhahullah berkata, ”Salafush
Shalih, termasuk para ahli hadits, telah biasa menyebut shalawat dan salam
kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menyebut (nama) beliau, dengan
dua bentuk yang ringkas, yaitu:
صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ (shalallahu 'alaihi wa sallam) dan
عَلَيْهِ الصّلاَةُ وَالسَّلاَمُ ('alaihish shalaatu was salaam).
Alhamdulillah, kedua bentuk ini memenuhi kitab-kitab hadits. Bahkan mereka
menulis wasiat-wasiat di dalam karya-karya mereka untuk menjaga hal tersebut
dengan bentuk yang sempurna. Yaitu menggabungkan antara shalawat dan permohonan
salam atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [Fadh-lush Shalah 'Alan Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, hlm. 15, karya Syaikh Abdul Muhshin bin Hamd Al
'Abbad]
Selengkapnya baca di
http://almanhaj.or.id/content/3275/slash/0/bagaimana-cara-shalawat-yang-sesuai-sunnah-dan-bolehkah-shalawat-diiringi-dengan-rebana/
2. Mengucapkan shalawat untuk Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam diperintahkan
oleh syari’at pada waktu-waktu yang dipentingkan, baik yang hukumnya wajib atau
sunnah muakkadah. Dalam kitab Jalaa’ul Afhaam, Ibnul Qayyim rahimahullah
menyebutkan 41 waktu (tempat). Beliau rahimahullah memulai dengan sesuatu yang
paling penting yakni ketika shalat di akhir tasyahhud. Di waktu tersebut para
ulama sepakat tentang disyari’atkannya bershalawat untuk Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam, namun mereka berselisih tentang hukum wajibnya. Di antara
waktu lain yang beliau sebutkan adalah di akhir Qunut, kemudian saat khutbah,
seperti khutbah Jum’at, hari raya dan istisqa’, kemudian setelah menjawab
muadzdzin, ketika berdo’a, ketika masuk dan keluar dari masjid, juga ketika
menyebut nama beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada kaum Muslimin
tentang tatacara mengucapkan shalawat. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
menganjurkan untuk memperbanyak membaca shalawat kepadanya pada hari Jum’at.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
أَكْثِرُوا الصَّلاَةَ عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَلَيْلَةَ الْجُمُعَةِ، فَمَنْ
صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا.
“Perbanyaklah kalian membaca shalawat kepadaku pada hari dan malam Jum’at,
barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali niscaya Allah bershalawat
kepadanya sepuluh kali.”[2]
Kemudian Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan beberapa manfaat dari
mengucapkan shalawat untuk Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, dimana beliau
menyebutkan ada 40 manfaat. Di antara manfaat itu adalah:
1. Shalawat merupakan bentuk ketaatan kepada perintah Allah.
2. Mendapatkan 10 kali shalawat dari Allah bagi yang bershalawat sekali untuk
beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam.
3. Diharapkan dikabulkannya do’a apabila didahului dengan shalawat tersebut.
4. Shalawat merupakan sebab mendapatkan syafa’at dari Nabi Shallallahu 'alaihi
wa sallam, jika ketika mengucapkan shalawat diiringi dengan permohonan kepada
Allah agar memberikan wasilah (kedudukan yang tinggi) kepada beliau Shallallahu
'alaihi wa sallam pada hari Kiamat.
5. Shalawat merupakan sebab diampuninya dosa-dosa.
6. Shalawat merupakan sebab sehingga Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
menjawab orang yang mengucapkan shalawat dan salam kepadanya.[3]
Selengkapnya baca di
http://almanhaj.or.id/content/3276/slash/0/anjuran-bershalawat-kepada-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam/
Wallahu Ta'ala A'lam