Assalamu'alaykum warohmatullohi wabarokatuh

Mengenai ibu hamil dan menyusui, apabila dia tidak berpuasa apakah cukup 
meng-qadha saja, ataukah meng-qadha dan membayar fidyah? 
Jika saya baca pada 
http://almanhaj.or.id/content/3146/slash/0/fidyah-di-dalam-puasa/ ada beberapa 
pendapat. 
Mohon pencerahannya.

Jazzakallohu khoiron

Wassalamu'alaykum warohmatullohi wabarokatuh

Abu Abdillah <[email protected]> wrote:APABILA IBU HAMIL DAN MENYUSUI 
BERPUASA
http://almanhaj.or.id/content/2809/slash/0/apabila-ibu-hamil-dan-menysui-berpuasa/

Allah telah mewajibkan shaum Ramadhan atas setiap muslim yang telah memenuhi 
syarat wajib puasa. Namun pada golongan tertentu, Allah juga telah memberikan 
keringanan (rukshah) untuk boleh tidak berpuasa dan mewajibkan qadha atas 
mereka pada waktu lain ataupun membayar fidyah. Allah berfirman,

فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ 
وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةُ طَعَامُ مِسْكِينٍ

"Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia 
berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu 
pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang yang berat menjalankannya (jika 
mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin". 
[Al Baqarah:184].

Sebagian ulama berpendapat, ibu hamil atau menyusui termasuk kategori golongan 
orang yang diberi rukhshah, berdasarkan keumuman ayat di atas.

Hal ini juga didukung oleh pengetahuan medis, mengingat kondisi ibu hamil atau 
menyusui yang umumnya kurang mendukung untuk bisa menjalankan ibadah puasa, dan 
jika dipaksakan justru membayakan sang ibu maupun bayi. Dari sini tampaklah 
hikmah Allah memberikan rukshah kepada golongan yang memiliki udzur, sebab 
Allah tidaklah membebani kewajiban kepada para hambaNya di luar kesanggupan 
mereka. Berikut kami paparkan secara medis, mampukah ibu hamil dan menyusui 
untuk menjalankan ibadah puasa?

KEBUTUHAN KALORI, VITAMIN DAN MINERAL PADA IBU HAMIL ATAU MENYUSUI
Secara umum, kebutuhan kalori atau tenaga, vitamin seta mineral pada ibu hamil 
jelas meningkat dibandingkan wanita yang tidak hamil. Hal ini wajar saja karena 
seluruh zat tersebut diperlukan janin bagi perkembangannya di dalam rahim.

Adapun bagi ibu menyusui, kebutuhan akan zat gizi tersebut bahkan lebih 
meningkat dan lebih besar dibandingkan pada saat hamil. Ibu menyusui memerlukan 
sekitar 2200 sampai 2600 kalori per hari, sedangkan ibu hamil hanya 2200 sampai 
2300 kalori per hari.

Pada enam bulan pertama setelah persalinan, kebutuhan zat-zat gizi ibu lebih 
besar dari pada kebutuhannya setelah masa tersebut. Ini dikarenakan ibu 
menyusui memerlukan energi ekstra untuk memulihkan kondisi kesehatannya setelah 
persalinan, selain untuk aktivitasnya sehari-hari sekaligus untuk produksi ASI. 
Produksi ASI bisa mencapai 600 sampai 1000 cc tiap harinya. Untuk memproduksi 
ASI sebanyak 850 cc, ibu perlu menambahkan 1000 kalori dari kebutuhan orang 
dewasa normal.

Karena kebutuhan kalori ibu hamil dan menyusui meningkat, biasanya mereka akan 
makan lebih banyak dibanding sebelum hamil. Terkadang frekuensi makan berubah 
menjadi 4 sampai 5 kali. Ini bisa dimengerti karena nafsu makan mereka otomatis 
bertambah. 

Oleh karena itu, para ibu wajib memperhatikan makanan yang dikonsumsinya. Tidak 
hanya dari segi kuantitas, namun juga kualitas gizi. Makanan yang dikonsumsi 
ibu, sebaiknya yang bergizi tinggi dan seimbang serta bervariasi, yang terdiri 
dari sumber tenaga (karbohidrat dan lemak), zat pembangun (protein) dan zat 
pengatur, yaitu vitamin dan mineral.

KEBUTUHAN KALORI IBU HAMIL DAN MENYUSUI BILA BERPUASA
Apabila ibu hamil atau menyusui berpuasa, sudah jelas pada siang harinya mereka 
akan menahan diri dari makan dan minum selama kurang lebih 12 sampai 13 jam. 
Dengan demikian pasokan kalori dan zat-zat gizi otomatis menurun sehingga tidak 
mencukupi kebutuhan kalori, vitamin serta mineral sang ibu.

Kalori yang tidak terpenuhi bisa menyebabkan keadaan hipoglikemia, yaitu suatu 
gejala berkurangnya kadar gula dalam darah. Ditandai dengan pusing, gemetar, 
mual, demam dan gelisah. Keadaan ini akan berpengaruh pada janin dalam rahim 
ataupun bayi yang sedang disusui.

Beragam kelainan juga bisa timbul, bila ibu hamil atau menyusui kekurangan 
protein, vitamin dan mineral. Misalnya saja kekurangan kebutuhan vitamin D, 
akan berdampak pada janin atau bayi, yaitu akan mengalami gangguan pada 
pertumbuhan tulangnya. Contoh lainnya adalah asam folat yang termasuk dalam 
golongan vitamin B yang biasa dipasangkan dengan vitamin B12. Jadi orang yang 
mengalami defisiensi asam folat biasanya juga kekurangan vitamin B12. Asam 
folat berperan dalam pembentukan DNA pada proses produksi sel darah merah dan 
perkembangan saraf. Salah satu kelainan saraf pada janin adalah cacat tabung 
saraf atau NTD (Neural Tube Defect). Salah satu dari 3 jenis NTD yang sering 
terjadi adalah Spina bifida yaitu tulang belakang yang tidak tertutup sempurna. 

Salah satu mineral yang sangat penting adalah zat besi (ferrum). Apabila zat 
ini berkurang pada makanan yang dikonsumsi ibu hamil dan menyusui, selain 
menyebabkan anemia, juga bisa mengganggu pertumbuhan dan perkembangan bayi 
serta otaknya, sekaligus akan menurunkan daya tahan tubuh. Resiko pada ibu 
hamil yang mengalami anemia adalah saat melahirkan nantinya kemungkinan akan 
mengalami kesulitan, disertai juga perdarahan karena luka akibat persalinan 
sulit menutup.

MENCOBA LEBIH DAHULU
Ibu hamil atau menyusui bisa berpuasa asalkan tidak ada masalah dengan kondisi 
kehamilannya ataupun kondisi fisik ibu saat menyusui; seperti mual, muntah, 
pendarahan, lesu atau anemis serta kelainan-kelainan lain yang menyertai 
kehamilan. 

Apabila pada saat menjalani ibadah puasa, kondisi fisik ibu lemas , pusing, 
pandangan mata berkunang-kunang, gemetar , mual ataupun gerakan janin yang 
semula aktif menjadi lemah dan lambat ataupun bahkan tidak ada gerakannya sama 
sekali, maka sebaiknya ibu segera berbuka. Jangan ditunda sampai tiba waktu 
berbuka meskipun jarak waktunya hanya kurang setengah jam atau beberapa menit 
lagi. Karena kondisi hipoglikemia akan membahayakan janin, yakni janin 
mengalami hipoglikemia, kekurangan kalori juga nutrisi yang diperlukan janin 
dalam pertumbuhannya.

Apabila ibu hamil ataupun menyusui berkeinginan untuk menjalankan ibadah puasa 
silakan saja mencoba lebih dahulu, dengan catatan asupan makanan dengan gizi 
tinggi yang memenuhi kebutuhan ibu serta bayi tetap dipertahankan. Misalnya 
makan dengan porsi yang lebih sebaiknya diganti pada malam harinya. Ataupun 
diganti makanan atau minuman yang lebih efektif dalam memenuhi kebutuhan 
kalori, protein, vitamin dan mineral. Ada satu kebiasaan orang berpuasa pada 
saat berbuka adalah minum terlalu banyak karena rasa haus yang berlebih. 
Kebiasaan ini tidak baik, karena mungkin makanan bergizi lainnya tidak banyak 
masuk disebabkan lambung banyak terisi air sehingga kebutuhan kalori tidak 
tercukupi.

Satu hal yang sangat baik bila membuat menu minuman yang dicampur susu, kurma 
dan buah buahan serta madu . Hal ini akan mengurangi risiko hipoglikemia dan 
defisiensi (kekurangan) zat-zat gizi yang diperlukan bagi ibu hamil atau 
menyusui saat berpuasa.

Kebutuhan karbohidrat juga bisa diganti dengan sering makan kurma ataupun minum 
madu di malam harinya, serta menjelang makan sahur. Kurma yang mengandung 
kalori tinggi tidak membuat penuh atau kenyang di lambung, sehingga makanan 
bergizi lainnya bisa masuk. Disamping itu untuk menjaga agar daya tahan tubuh 
cukup panjang dalam berpuasa dan kalori yang dikonsumsi disimpan lama dalam 
tubuh. Sebaiknya ibu hamil banyak mengkonsumsi protein hewani terutama daging. 
Daging adalah makanan yang mengandung kalori dan protein sangat tinggi yang 
bisa disimpan tubuh dalam waktu cukup lama, sehingga tidak cepat merasa lapar. 
Jangan hanya makan seadanya pada saat makan sahur, karena merasa tidak bisa 
makan berat pada pagi hari atau masih merasa kenyang. Padahal ibu akan berpuasa 
selama12 sampai 13 jam. 

Protein hewani juga amat baik untuk ibu menyusui, karena ia memiliki pengaruh 
sangat baik pada kerja hormon prolaktin, salah satu hormon yang berpengaruh 
pada produksi ASI. Perbandingannya dengan protein nabati adalah 2:1. Memang 
protein hewani cukup mahal dibanding protein nabati, sehingga tidak harus tiap 
hari mengkonsumsi daging tetapi bisa diselingi protein nabati misalnya tempe.

Selain makanan bergizi, persediaan cairan tubuh juga harus dipertahankan . 
Sebaiknya ibu memenuhi kebutuhan cairan hariannya yang sebesar 2 sampai 3 liter 
cairan perhari. Usahakan tidak minum air putih dalam jumlah banyak, tetapi 
diselingi susu, sari buah, air kacang hijau atau jus buah-buahan. Yang penting 
cairan yang masuk dalam tubuh bisa memenuhi kebutuhan air ketuban dan 
pertumbuhan janin serta produksi ASI. Apabila minum dalam jumlah banyak, 
sebaiknya dicicil beberapa kali dari buka puasa sampai saat sahur. Cara menilai 
apakah cairan tubuh tercukupi adalah dengan melihat frekuensi buang air kecil 
sang ibu.

Mengkonsumsi sayur juga bisa menambah pemasukan cairan tubuh, terutama sayur 
berkuah. Ibu menyusui bisa membuat menu sayuran yang bisa melancarkan produksi 
ASI, misalnya daun katuk, daun bayam, daun kangkung, atau sayuran yang berwarna 
hijau. Selain banyak vitamin, sayuran juga berkhasiat untuk melancarkan buang 
air besar. Apabila cairan tubuh tercukupi insyaAllah ibu hamil atau menyusui 
tidak akan lemas saat berpuasa.

Penting untuk diketahui, ibu hamil dan menyusui memerlukan suplemen vitamin dan 
zat penambah darah (zat besi) selain makanan bergizi untuk mengurangi risiko 
anemia, terlebih lagi pada saat berpuasa.

KAPANKAH IBU HAMIL DIANJURKAN UNTUK TIDAK BERPUASA?
Ibu hamil dengan usia kandungan satu sampai tiga bulan dengan gejala mual 
pusing dan muntah yang berlebihan dan sangat mengganggu sebaiknya tidak 
berpuasa. Namun apabila tidak mengganggu kesehatan fisik sang ibu yang 
sekaligus berpengaruh pada kesehatan fisik janin, silahkan dicoba untuk 
berpuasa. Apalagi jika ibu tidak mengalami gejala-gejala di atas.

Ibu hamil pada usia kandungan 6 sampai 9 bulan sebaiknya tidak berpuasa. Pada 
masa seperti ini janin sudah memproduksi hormon insulin yang mengubah glukosa 
menjadi glikogen yang berguna dalam proses pembentukan lemak sehingga berat 
janin bertambah.

Sementara makanan yang masuk ke dalam tubuh ibu hanya bisa disimpan selama 
delapan jam yang siap dihisap oleh janin. Setelah delapan jam persediaan 
makanan tersebut habis, sedangkan hormon insulin tetap bekerja. Apabila ibu 
berpuasa selama 12 sampai 13 jam maka janin akan kekurangan cadangan makanan 
selama 4 sampai 5 jam . Kondisi ini kurang baik karena janin bisa mengalami 
hipoglikemia. Sehingga paling aman untuk berpuasa adalah pada usia kandungan 
antara 4 sampai 6 bulan. 

Namun menurut pengalaman kasus penulis, pada usia kehamilan berapapun bisa 
dicoba untuk berpuasa sesuai kemampuan masing- masing, dengan syarat kebutuhan 
makanan untuk ibu dan janin tetap tercukupi. Jika pada saat menjalani ibadah 
puasa sang ibu tidak mampu misalnya timbul gejala hipoglikemia, kekurangan 
cairan dan sebagainya, sebaiknya segera berbuka.

DIANJURKAN UNTUK TIDAK BERPUASA BAGI IBU MENYUSUI
Bagi ibu menyusui terutama yang masih menyusui ASI eksklusif (4 sampai 6 bulan) 
dianjurkan untuk tidak berpuasa. Hal ini disebabkan setiap 2 sampai 3 jam 
sekali mereka harus memberikan ASI kepada bayinya. Apabila asupan makan 
berkurang maka kandungan zat gizi pada ASI juga berkurang. Padahal bayi yang 
sedang dalam masa pertumbuhan sangat memerlukan gizi yang sempurna melalui ASI. 
Apabila ibu puasa, kemungkinan selain ibu menjadi kurus , sang bayi pun ikut 
menjadi kurus dan lemah.

Sedangkan ibu yang masih menyusui bayi, tetapi bayi sudah mendapatkan makanan 
tambahan (di atas usia 4 sampai6 bulan), boleh saja berpuasa. Ibu bisa mengatur 
untuk menyusui dengan frekuensi lebih di malam hari. Diupayakan agar bayi bisa 
makan sesuai kebutuhan gizinya disamping ASI, bila perlu diberi susu formula.

Sudah dijelaskan bahwa kebutuhan kalori ibu menyusui adalah lebih tinggi dari 
pada ibu hamil, sehingga apabila seorang ibu menyusui berpuasa, asupan makanan 
harus benar-benar mencukupi, lebih-lebih 6 bulan setelah melahirkan. Apabila 
ditengah perjalanan menjalankan ibadah puasa terdapat gangguan pad ibu menyusui 
segera berbuka misalnya sang ibu menjadi lemah atau sakit.

PENUTUP
Rukhsah yang diberikan Allah kepada ibu hamil dan menyusui, jangan 
disalahartikan bahwa ibu hamil atau menyusui boleh saja meninggalkan kewajiban 
berpuasa dibulan Ramadhan. Mungkin ada sebagian kaum ibu yang secara fisik 
tidak ada gangguan terhadap kehamilannya dan mampu berpuasa, namun ia 
meninggalkan kewajiban berpuasa, tanpa dicoba lebih dahulu seberapa kekuatannya 
untuk berpuasa, dengan alasan kehamilannya ataupun alasan menyusui, padahal si 
kecil sudah kuat makan dan sudah besar serta tak terlalu menggantungkan ASI.

Dilain pihak ada juga ibu hamil mempunyai niat yang salah yaitu ingin berpuasa 
sebulan penuh karena merasa tidak terhalangi haid atau ingin merasakan 
kegembiraan dengan anggota keluarga lainnya yang berpuasa. Ada pula sebagian 
ibu menyusui yang berpuasa dengan alasan ingin cepat langsing, karena badan 
bertambah pesat pasca melahirkan, sementara hak anak akan pemenuhan kebutuhan 
ASI ditinggalkan lantaran ibu menggantikan dengan susu formula. 

Di sisi lain ada ibu hamil atau menyusui dengan niat benar-benar ikhlas karena 
Allah menjalankan ibadah puasa, namun mereka memaksakan diri, sedangkan 
kemampuan fisik lemah serta ada kendala pada kehamilan ataupun bayinya serta 
kebutuhan kalori, vitamin, mineral pada janin atau anaknya tak mencukupi, 
padahal Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberikan kemudahan dan keringanan 
bagi ibu hamil atau menyusui.

Penjelasan bagaimana kemudahan dan keringanan untuk meninggalkan puasa wajib 
dibulan Ramadhan bagi ibu hamil atau menyusui banyak dijelaskan para ulama 
dalam kitab-kitab fiqih, silakan merujuk kepada tulisan para ulama ahlu sunnah. 

Wallahu a’lamu bish shawab. (Ummu Izzah)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi, 06/Tahun VII/1424/2003M. Penerbit 
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton 
Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858197]

Kirim email ke