TATA CARA SHALAT IED


Oleh

Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari

http://almanhaj.or.id/content/1174/slash/0/tata-cara-shalat-ied/



Pertama :

Jumlah raka'at shalat Ied ada dua berdasaran riwayat Umar radhiyallahu 'anhu.



صَلاَةُ السَّفَرِ رَكْعَتَانِ، وَصَلاَةُ الأَضْحَى رَكْعَتَانِ، 
وَصَلاَةُ الْفِطْرِ رَكْعَتَانِ، تَمَامٌ غَيْرُ قَصْرِ عَلَى لِسَانِ 
مُحَمَّدِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم 



"Artinya : Shalat safar itu ada dua raka'at, shalat Idul Adha dua 
raka'at dan shalat Idul Fithri dua raka'at. dikerjakan dengan sempurna 
tanpa qashar berdasarkan sabda Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam" 
[Dikeluarkan oleh Ahmad 1/370, An-Nasa'i 3/183, At-Thahawi dalam Syarhu 
Ma'anil Al Atsar 1/421 dan Al-Baihaqi 3/200 dan sanadnya Shahih]



Kedua :

Rakaat pertama, seperti halnya semua shalat, dimulai dengan takbiratul 
ihram, selanjutnya bertakbir sebanyak tujuh kali. Sedangkan pada rakaat 
kedua bertakbir sebanyak lima kali, tidak termasuk takbir intiqal 
(takbir perpindahan dari satu gerakan ke gerakan lain,-pent)



Dari Aisyah Radhiyallahu 'anha, ia berkata :



أَنَّ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم كَانَ يُكَبِّرُ 
فِي الْفِطْرِ وَالأَضْحَى : فِي الأُولَى سَبْعً تَكْبِيرَانِ، وَفِي 
الثَانِيَةِ خَمْسًاسِوَى تَكْبِيْرَتَيْ الرُّكُوْعِ



"Artinya : Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam 
bertakbir dalam shalat Idul Fithri dan Idul Adha, pada rakaat pertama 
sebanyak tujuh kali dan rakaat kedua lima kali, selain dua takbir ruku" 
[1]



Berkata Imam Al-Baghawi : "Ini merupakan perkataan mayoritas ahli ilmu 
dari kalangan sahabat dan orang setelah mereka, bahwa beliau shallallahu
 'alaihi wa sallam bertakbir pada rakaat pertama shalat Ied sebanyak 
tujuh kali selain takbir pembukaan, dan pada rakaat kedua sebanyak lima 
kali selain takbir ketika berdiri sebelum membaca (Al-Fatihah). 
Diriwayatkan yang demikian dari Abu Bakar, Umar, Ali, dan selainnya" [Ia
 menukilkan nama-nama yang berpendapat demikian, sebagaimana dalam " 
Syarhus Sunnah 4/309. Lihat 'Majmu' Fatawa Syaikhul Islam' 24/220,221]



Ketiga :

Tidak ada yang shahih satu riwayatpun dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa 
sallam bahwa beliau mengangkat kedua tangannya bersamaan dengan 
mengucapkan takbir-takbir shalat Ied[2] Akan tetapi Ibnul Qayyim berkata
 : "Ibnu Umar -dengan semangat ittiba'nya kepada Rasul- mengangkat kedua
 tangannya ketika mengucapkan setiap takbir" [Zadul Ma'ad 1/441]



Aku katakan : Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Shallallahu 'alaihi wa 
sallam.



Berkata Syaikh kami Al-Albani dalam "Tamamul Minnah" hal 348 : 
"Mengangkat tangan ketika bertakbir dalam shalat Ied diriwayatkan dari 
Umar dan putranya -Radhiyallahu anhuma-, tidaklah riwayat ini dapat 
dijadikan sebagai sunnah. Terlebih lagi riwayat Umar dan putranya di 
sini tidak shahih.



Adapun dari Umar, Al-Baihaqi meriwayatkannya dengan sanad yang dlaif 
(lemah). Sedangkan riwayat dari putranya, belum aku dapatkan sekarang"



Dalam 'Ahkmul Janaiz' hal 148, berkata Syaikh kami : "Siapa yang 
menganggap bahwasanya Ibnu Umar tidak mengerjakan hal itu kecuali dengan
 tauqif dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka silakan ia untuk 
mengangkat tangan ketika bertakbir".



Keempat :

Tidak shahih dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam satu dzikir 
tertentu yang diucapkan di antara takbir-takbir Ied. Akan tetapi ada 
atsar dari Ibnu Mas'ud Radhiyallahu 'anhu [3] tentang hal ini. Ibnu 
Mas'ud berkata :



بَيْنَ كُلِّ تَكْبِيْرَتَيْنِ حَمْدُ لِلّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَثَنَاءٌ عَلَى 
اللَّهِ



"Artinya : Di antara tiap dua takbir diucapkan pujian dan sanjungan kepada 
Allah Azza wa Jalla"



Berkata Ibnul Qayyim Rahimahullah : "(Nabi Shallallahu 'alaihi wa 
sallam) diam sejenak di antara dua takbir, namun tidak dihapal dari 
beliau dzikir tertentu yang dibaca di antara takbir-takbir tersebut".



Aku katakan : Apa yang telah aku katakan dalam masalah mengangkat kedua 
tangan bersama takbir, juga akan kukatakan dalam masalah ini.



Kelima :

Apabila telah sempurna takbir, mulai membaca surat Al-Fatihah. Setelah 
itu membaca surat Qaf pada salah satu rakaat dan pada rakaat lain 
membaca surat Al-Qamar[4] Terkadang dalam dua rakaat itu beliau membaca 
surat Al-A'la dan surat Al-Ghasyiyah[5]



Berkata Ibnul Qayyim Rahimahullah : "Telah shahih dari beliau bacaan 
surat-surat ini, dan tidak shahih dari belaiu selain itu"[6]



Keenam :

(Setelah melakukan hal di atas) selebihnya sama seperti shalat-shalat biasa, 
tidak berbeda sedikitpun. [7]



Ketujuh :

Siapa yang luput darinya (tidak mendapatkan) shalat Ied berjama'ah, maka 
hendaklah ia shalat dua raka'at.



Dalam hal ini berkata Imam Bukhari Rahimahullah dalam "Shahihnya" : "Bab
 : Apabila seseorang luput dari shalat Id hendaklah ia shalat dua 
raka'at" [Shahih Bukhari 1/134, 135]



Al-Hafidzh Ibnu Hajar dalam "Fathul Bari" 2/550 berkata setelah 
menyebutkan tarjumah ini (judul bab yang diberi oleh Imam Bukhari di 
atas).



Dalam tarjumah ini ada dua hukum :

1. Disyariatkan menyusul shalat Ied jika luput mengerjakan secara berjamaah, 
sama saja apakah dengan terpaksa atau pilihan.



2. Shalat Id yang luput dikerjakan diganti dengan shalat dua raka'at



Berkata Atha' : "Apabila seseorang kehilangan shalat Ied hendaknya ia shalat 
dua rakaat" [sama dengan di atas]



Al-Allamah Waliullah Ad-Dahlawi menyatakan : "Ini adalah madzhabnya 
Syafi'i, yaitu jika seseorang tidak mendapati shalat Ied bersama imam, 
maka hendaklah ia shalat dua rakat, sehingga ia mendapatkan keutamaan 
shalat Ied sekalipun luput darinya keutamaan shalat berjamaah dengan 
imam".



Adapun menurut madzhab Hanafi, tidak ada qadla[8] untuk shalat Ied. 
Kalau kehilangan shalat bersama imam, maka telah hilang sama sekali"[9]



Berkata Imam Malik dalam 'Al-Muwatha' [10] : "Setiap yang shalat dua 
hari raya sendiri, baik laki-lai maupun perempuan, maka aku berpendapat 
agar ia bertakbir pada rakaat pertama tujuh kali sebelum membaca 
(Al-Fatihah) dan lima kali pada raka'at kedua sebelum membaca 
(Al-Fatihah)"



Orang yang terlambat dari shalat Id, hendaklah ia melakukan shalat yang 
tata caranya seperti shalat Id. sebagaimana shalat-shalat lain 
[Al-Mughni 2/212]



Kedelapan : 

Takbir (shalat Ied) hukumnya sunnah, tidak batal shalat dengan 
meninggalkannya secara sengaja atau karena lupa tanpa ada perselisihan 
[11] Namun orang yang meninggalkannya -tanpa diragukan lagi- berarti 
menyelisihi sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.



[Disalin dari buku Ahkaamu Al'Iidaini Fii Al Sunnah Al Muthahharah, 
edisi Indonesia Hari Raya Bersama Rasulullah, oleh Syaikh Ali bin Hasan 
bin Ali Abdul Hamid Al-halabi Al-Atsari hal. 23-24, terbitan Pustaka 
Al-Haura', penerjemah Ummu Ishaq Zulfa Husein]

_______

Footnote.

[1]. Riwayat Abu Daud 1150, Ibnu Majah 1280, Ahmad 6/70 dan Al-Baihaqi 
3/287 dan sanadnya Shahih. Peringatan : Termasuk sunnah, takbir 
dilakukan sebelum membaca (Al-Fatihah). sebagaimana dalam hadits yang 
diriwayatkan Abu Daud 1152, Ibnu Majah 1278 dan Ahmad 2/180 dari Amr bin
 Syu'aib dari bapaknya dari kakeknya, kakeknya berkata : "Rasulullah 
shallallahu 'alaihi wa sallam bertakbir dalam shalat Id tujuh kali pada 
rakaat pertama kemudian beliau membaca syrat, lalu bertakbir dan ruku' ,
 kemudian beliau sujud, lalu berdiri dan bertakbir lima kali, kemudian 
beliau membaca surat, takbir lalu ruku', kemudian sujud". Hadits ini 
hasan dengan pendukung-pendukungnya. Lihat Irwaul Ghalil 3/108-112. Yang
 menyelisihi ini tidaklah benar, sebagaimana diterangkan oleh Al-Alamah 
Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma'ad 1/443,444

[2]. Lihat Irwaul Ghalil 3/112-114

[3]. Diriwayatkan Al-Baihaqi 3/291 dengan sanad yang jayyid (bagus)

[4]. Diriwayatkan oleh Muslim 891, An-Nasa'i 8413, At-Tirmidzi 534 Ibnu Majah 
1282 dari Abi Waqid Al-Laitsi radhiyallahu 'ahu.

[5]. Diriwayatkan oleh Muslim 878, At-Tirmidzi 533 An-Nasa'i 3/184 Ibnu Majah 
1281 dari Nu'man bin Basyir Radhiyallahu 'anhu.

[6]. Zadul Ma'ad 1/443, lihat Majalah Al-Azhar 7/193. Sebagian ahli ilmu
 telah berbicara tentang sisi hikmah dibacanya surat-usrat ini, lihat 
ucapan mereka dalam 'Syarhu Muslim" 6/182 dan Nailul Authar 3/297

[7]. Untuk mengetahui hal itu disertai dalil-dalilnya lihat tulisan 
ustadz kami Al-Albani dalam kitabnya 'Shifat Shalatun Nabi Shallallahu 
'alaihi wa sallam. Kitab ini dicetak berkali-kali. Dan lihat risalahku 
'At-Tadzkirah fi shifat Wudhu wa Shalatin Nabi Shallallahu 'alaihi wa 
sallam, risalah ringkas.

[8]. Tidak dinamakan ini qadla kecuali jika keluar dari waktu shala secara asal.

[9]. Syarhu Tarajum Abwabil Bukhari 80 dan lihat kitab Al-Majmu 5/27-29

[10].Nomor : 592 -dengan riwayat Abi Mush'ab.

[11]. Al-Mughni 2/244 oleh Ibnu Qudamah                                         
  

Kirim email ke