Netsains.com - Hawis Madduppa | 5 Januari 2010 | Di daerah Andalusia
bagian selatan Spanyol, masih dapat ditemui sisa-sisa peradaban Islam
yang pernah berkuasa, contohnya di daerah Córdoba.

Pada abad kedelapan, Masjid Agung Córdoba (the Mezquita), yang saat ini
juga dikenal Katedral Katolik Roma, menjadi kebanggaan arsitektur
muslim di negara barat pada masa itu. Mesjid ini dibangun diatas tanah
gereja St Vincent setelah dibeli dari komunitas Kristen setempat
sebelum dimusnahkan. Menjadi monumen yang paling hebat dari Dinasti
Umayyah, dimana ibukota Al-Andalusia berada di Cordoba.

Bangunan ini tidak hanya difungsikan sebagai pusat religi, akan tetapi
juga merupakan manifestasi sosial, budaya dan politik. Setelah
Reconquista (pengambil alihan kekuasaan dari Muslim ke Kristen) di
Spanyol, mesjid ini berubah menjadi sebuah gereja, dengan menambahkan
katedral Gothic ke tengah-tengah bangunan. Saat ini seluruh bangunan
mesjid sudah digunakan untuk Katedral Keuskupan Córdoba di Spanyol.

Masa pembangunan

Pembangunan masjid yang mencakup area seluas 23,400 meter persegi
berlangsung selama lebih dari dua abad dan dilakukan beberapa tahap.
Dimulai tahun 784 M di bawah pengawasan emir Cordoba, Abd ar-Rahman I.
Beliau terinspirasi oleh mesjid di Damaskus. Pembangunan mesjid
dilanjutkan oleh Abd ar-Rahman II (822-852) dengan memperluas ruang
sembahyang dan halaman luar, serta menyediakan salinan asli Quran dan
tulang lengan Nabi Muhammad, menjadikannya sebagai salah satu situs
utama ziarah Islam. Masjid mengalami banyak perubahan di masa Abd
ar-Rahman III pada abad kesembilan. Beliau memerintahkan pembangunan
menara baru. Pada masa Al-Hakam II memperluas rencana bangunan dan
memperkaya desain mihrab di tahun 961. Pembangunan terakhir adalah
termasuk penyelesaian gang luar dan halaman pohon jeruk, yang
diselesaikan oleh Al-Mansur Ibn Abi Aamir di tahun 987.

Ornamen mesjid

Bangunan mesjid ini paling dikenal karena adanya ornament lengkungan
kurva raksasa yang menghubungkan pilar. Sebanyak 900 pilar dengan bahan
jasper, onyx, marmer dan granit, memberikan nuansa yang sangat indah di
dalam mesjid. Ornamen ini juga biasa dikenal oleh para arsitek lain
sebagai “lengkung tapal kuda”. Inovasi dan estetika murni dari batu
bata ini menciptakan pola bergaris-garis putih merah yang memberikan
kesatuan dan karakter khusus dengan seluruh desain.

Pada jantung mesjid ini terdapat Mihrab, tempat dimana imam memimpin
sholat yang menghadap ke kiblat (Mekkah). Berbentuk cekungan
langit-langit yang diukir dari blok marmer dan ruang-ruang di kedua
sisinya dihiasi dengan mosaik Byzantium indah dari emas. Di sekeliling
mihrab terukir dengan tinta emas dan biru 99 nama-nama asma Allah SWT.

Pengambilalihan kekuasaan

Pada tahun 1236, Córdoba diambil alih dari pasukan Muslim oleh Raja
Ferdinand III. Setelah dikuasai, masjid ini diubah menjadi gereja
Kristen. Beberapa tahun kemudian banyak ornamen yang dihancurkan dan
juga dilakukan penambahan kapel-kapel Kristen, sehingga menghancurkan
keselarasan dari arsitektur Mezquita. Penambahan tersebut berupa
pembangunan Villaviciosa Chapel dan Royal Chapel di dalam masjid.

Raja-raja selanjutnya yang mengikuti menambahkan berbagai macam fitur
Kristen. Menara mesjid ditambahkan bel, sebagaimana lazimnya menara
gereja. Perubahan yang paling signifikan adalah pembangunan katedral
Renaisans di tengah struktur bangunan mesjid. Itu dibangun dengan izin
dari Charles V, Raja Spanyol. Seniman dan arsitek terus menambah
struktur yang ada hingga akhir abad ke-18. Dari total 900 pilar yang
ada, tersisa 856 dari dampak pembangunan katedral ditengah-tengah
mesjid. Namun kemudian, Raja Charles V menyesali keputusannya, dan
berkata pada para arsiteknya : “What you are building here can be found
anywhere, but what you have destroyed exists nowhere”.

www.AstroDigi.com (Nino Guevara Ruwano)

--
Posted By NINO to AstroDigi at 3/12/2010 12:56:00 PM

Kirim email ke