VIVANEWS.com | Selasa, 18 Mei 2010 | Sebuah perternakan di Wyoming,
Amerika Serikat mengeluarkan produk baru yang unik, benang laba-laba
dari susu kambing.

Kedengarannya aneh, namun pakar biologi molekul, Randy Lewis optimistis
dalam dua tahun, benang laba-laba dari susu yang dihasikan kambing bisa
mengatasi kelelahan tubuh atau ketegangan otot dan ikatan sendi, bahkan
masalah tulang.

Profesor Lewis dan timnya di Universitas Wyoming telah berhasil
mengimplantasi atau menanam gen pembuat jaring dari laba-laba jenis
golden orb ke dalam tubuh beberapa kambing. Dan saat ini, mereka bisa
memproduksi salah satu produk alami paling kuat dalam jumlah yang bisa
diaplikasikan.

Teknologi ini memang sebuah terobosan, namun bukan pengetahuan yang
sama sekali baru. Jaring laba-laba telah digunakan berabad-abad untuk
membungkus luka. Masalahnya, baru kini diketahui bagaimana untuk
mendapatkannya dalam jumlah besar.

"Kami membutuhkan cara untuk memproduksi protein jaring laba-laba dalam
jumlah besar," kata Profesor Lewis kepada News.com.au, Senin 17 Mei
2010.

"Laba-laba tak bisa diternakkan, maka beternak binatang itu tak jadi
pilihan," kata dia.

Apalagi, laba-laba punya kecenderungan untuk saling memakan satu sama
lain, memanen benang dari laba-laba tak akan pernah mencukupi kebutuhan
manusia.

Para ilmuwan lantas membuat terobosan. Mereka menanam DNA penghasil
benang dari laba-laba ke kambing betina.

"Penyambungan ternyata relatif mudah karena ada gen promotor aktif di
kelenjar susu kambing," katanya.

Bagaimana cara kambing menghasilkan benang laba-laba?

Menurut Lewis, susu dari kambing khusus -- yang ditanami DNA laba-laba
itu dikumpulkan lalu dibawa ke laboratorium. Di sana, protein benang
laba-laba akan dipisahkan. Protein ini akan mengeras dan lalu dipintal
seperti benang.

Lewis mengatakan, tim mengumpulkan sekitar empat meter benang laba-laba
dari tiap empat tetes protein yang mereka kumpulkan.

Benang ini punya kegunaan yang luas dalam hal kesehatan, sebagai
pengikat, termasuk penggantian ikatan sendi.

"Jika ini berhasil, terus terang salah satu aplikasi pertama adalah
mungkin tali pancing," kata Lewis. Ilmuwan masih perlu waktu dua tahun
untuk mengkaji bahan ini sampai bisa dilemparkan ke pasar.

Terkait nasib kambing yang jadi bahan percobaan, Lewis mengatakan tak
ada bukti yang mengarah bahwa kambing tersebut mengalami gangguan fisik
maupun psikologis.

Ditambahkan Lewis, ilmuwan sedang mengembangkan teknologi yang sama
pada ternak jenis, alfalfa. (umi)

www.AstroDigi.com (Nino Guevara Ruwano)

--
Posted By NINO to AstroDigi at 5/19/2010 06:19:00 AM

Kirim email ke