KOMPAS.com | Selasa, 18 Mei 2010 | LOS ANGELES — Genap tujuh hari
Jacobi Hill (6) meninggal dunia. Ia tewas setelah menjalani prosedur
pemasangan mahkota (crown) gigi tiruan di klinik gigi yang dimiliki
Virginia Commonwealth University, Selasa (11/5/2010). Menurut sang
nenek, Corolyn Suggs, ketika dokter sedang memasang mahkota gigi,
Jacobi terkena serangan jantung dan meninggal.

Dalam pernyataannya, pihak universitas mengatakan tengah melakukan
investigasi mendalam dan otopsi untuk mencari penyebab kematian yang
mengejutkan itu. "Prosedur anestesi selama pengerjaan gigi sudah sesuai
dan petugas kesehatan juga langsung datang segera setelah terjadi
serangan jantung," katanya.

Pemasangan mahkota gigi sering dilakukan dokter jika gigi sudah
sedemikian rusak sehingga tidak bisa ditambal dengan tambalan kecil.
Pada prosedur ini, dokter akan membuang bagian gigi yang rusak dan
menyiapkan gigi untuk dibungkus mahkota palsu.

Proses penambalan gigi dengan mahkota gigi palsu dilakukan untuk
mencegah terjadinya infeksi. Namun, prosedur ini bisa membuat anak-anak
rewel dan tidak tenang. Hal ini tentu akan menyulitkan dokter sehingga
terkadang dokter gigi memberikan suntikan bius lokal.

Sebuah studi menyebutkan, obat bius propofol dipakai lebih dari 25.433
prosedur gigi pada anak, tetapi mayoritas mendapatkan obat bius itu
untuk pemeriksaan MRI (magnetic resonance imaging).

Sekitar 6 persen prosedur anestesi menimbulkan komplikasi, tetapi
sangat jarang yang menyebabkan kematian. Para ahli menduga, penggunaan
obat bius propofol pada anak sering berlebihan. "Sebenarnya masih ada
metode lain yang bisa dipakai," kata Dr Lonnie Zeltzer, ahli anestesi
anak dari University of California, Los Angeles.

Pada umumnya obat anestesi tidak bersifat alergik. "Secara statistik,
sangat jarang terjadi komplikasi berbahaya dari prosedur anestesi,"
kata Zeltzer. Namun, ia menegaskan, ada kemungkinan terjadinya respons
individu yang hipersensitif terhadap obat.

Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Anesthesia and
Analgesia menyebutkan, sejak tahun 1998-2004, tercatat ada 193 kasus
serangan jantung pada anak ketika mereka sedang dibius.

Dr Eduardo Fraifeld, Presiden American Academy of Pain Medicine,
mengatakan, tugas dokter anestesi bukan cuma menentukan dosis yang
tepat untuk membuat seseorang tidak sadar dan bebas rasa sakit, tetapi
juga harus selalu memonitor tanda-tanda vital selama terjadinya operasi.

"Dokter anestesi juga perlu memonitor napas, detak jantung, respons
pasien pada stimulasi, darah yang terbuang, pengeluaran urine, dan
memonitor obat. Banyak hal yang harus diawasi dalam sekali waktu," kata
Fraifeld.

Oleh karena itu, ada prosedur standar sebelum melakukan tindakan medis,
yaitu melakukan informed consent, memberi penjelasan mengenai tindakan
yang akan dilakukan termasuk risikonya, serta meminta persetujuan
pasien/keluarganya.

Selain itu, menanyakan obat apa saja yang diminum dalam waktu dekat
untuk mengetahui adanya obat yang bisa berinteraksi dengan obat
anestesi. Jika ada keraguan, darah pasien perlu diperiksa untuk
mengetahui adanya sisa obat.

www.AstroDigi.com (Nino Guevara Ruwano)

--
Posted By NINO to AstroDigi at 5/23/2010 01:00:00 AM

Kirim email ke