Okezone.com | Selasa, 25 Mei 2010 | Dasiyem mungkin salah satu
perempuan yang unik. Warga RT 07 RW 03 Dusun Guyangan, Desa
Tanggulangin, Kecamatan Montong, Tuban ini mengaku sudah berusia 165
tahun atau lahir tahun 1845.

Saat ditemui di rumahnya di daerah perbukitan Montong, Tuban mbah
Dasiyem masih terlihat sehat, meski sudah sangat keriput. Siang itu, ia
tengah menunggui dua canggahnya (cucu dari ucunya,red) di teras
rumahnya yang sangat sederhana.

Menurut pengakuan Dasiyem, dirinya pernah menikah sebanyak 6 kali
dengan laki-laki. Mereka di antaranya Banjar, Diman, Suparman, Singo
Mat serta Samadi, Tapi, hanya dari pernikahan pertamanya dengan Samadi
dianugrahi 6 anak sedangkan yang masih hidup sampai sekarang Ruminah,
83, dan Darmi, 82, sedangkan 4 lainya sudah meninggal dunia.

Dasiyem juga memiliki dua cucu, enam Buyut (keturunan ke-3), tujuh
canggah (keturunan ke-4) dan 1 Wareng (keturunan ke–5). Mereka masih
sering datang ke rumah Dasiyem untuk menengoknya.

Saat ditanya soal dirinya, Dasiyem bercerita dengan bahasa Jawa. Sesuai
ingatanya, dirinya lari ke hutan desa setempat dengan anak-anaknya dan
beberapa orang lainnya lantaran ada tentara Belanda yang masuk desanya.
Lalu ia menetap di hutan yang sekang menjadi desa tersebut.

"Lari ke hutan sampai berhari-hari tidak makan," katanya dalam bahasa
Jawa.

Kok bisa punya umur panjang? Dasiyem mengatakan tak punya resep umur
panjang. Dirinya mengaku tidak pernah minum obat atau ritual lain agar
berumur panjang. Ia hanya menjalani rutinitas seperti manusia lainnya.
Dan mungkin itu anugerah Tuhan. Menjelang Maghrib ia mengaku membaca
doa’a khusus dari leluhurnya di kamar tidur. "Kalau diminta do’anya ya
tidak boleh," katanya.

Meski tidak pernah minum ramuan-ramuan obat tradisional maupaun
obat-obatan lainya, Dasiyem mengaku tidak pernah sakit. Meski saat ini
aktivitasnya tidak sama dengan anaknya yang masih berusia 83
tahun. "Tidak pernah sakit macam-macam. Paling hanya pegal-pegal,"
terangnya.

Sementara itu menurut Kuntini, 26, buyut (keturunan ke-3) Dasiyem yang
kini sudah mempunyai 2 anak menuturkan, bahwa tiap tanggal muda mbah
Dasiyem kelihatan lebih muda dan segar dan saat tanggal tua nampak
renta serta merasa pegal-pegal. "Kami dan tetangga lain sampai sekarang
merasa aneh kalau buyut bisa berubah nampak muda dan tua," tuturnya.

Ia menuturkan pernah meminta lafal do’a yang biasa di baca mbah Dasiyem
saat menjelang magrib. Namun, mbah Dasiyem tidak mau memberikan, karena
berkeyakinan jika do’anya diberikan pada keturunanya akan cepat
meninggal dunia. "Biarkan buyut. Biar sampai tua tidak apa-apa,"
terangnya.

Rasmidi, 40, buyutnya yang lain menambahkan kalau dirinya juga merasa
aneh karena sebenarnya Dasiyem mengalami gangguan pendengaran. Tapi
jika keluarga membicarakan dirinya dari sisi negatifnya, pasti ia tahu
dan tersinggung.

"Kami ya kaget mas, karena saat dirasani jelek buyut tahu padahal kalau
omong biasa denganya harus keras," jelasnya. Para cucunya memanggil
Dasiyem dengan sebutan Buyut.

Usia Dasiyem yang sudah 165 tahun itupun membuat kagum Suhartanto, 32,
petugas Sensus Penduduk yang mendata. Karena, menurut Dasiyem senidiri
dan keluarganya dia berusia 165 tahun lebih. "Kolom usianya saja sudah
tidak ada," terangnya.

Petugas Sensus Penduduk yang juga sebagai kepala dusun Tawing, Desa
setempat ini juga melakukan klarifikasi dengan meminta keterangan
kepada Dasiyem soal semasa hidupnya. "Kami bingung. Kalau bohong kok
jelas kalau pas menceritakan jaman Belanda. Dirinya juga ikut sembunyi
di hutan dengan anak-anaknya yang sudah dewasa," terangnya.

www.AstroDigi.com (Nino Guevara Ruwano)

--
Posted By NINO to AstroDigi at 5/29/2010 06:59:00 AM

Kirim email ke