Suarapembaruan.com | Selasa, 8 Juni 2010 | Gelombang panas yang melanda
India telah merenggut sedikitnya 20 jiwa, selain mengganggu kehidupan
masyarakat dan bisnis. Pengukuran temperatur mencatatkan rekor untuk
Mei dengan suhu mencapai 50 derajat Celcius. Pihak rumah sakit
mengatakan, ratusan orang telah dirawat karena gelombang panas.

Mayur Dave, Juru Bicara Rumah Sakit Vadilal Sarabhai mengatakan,
gelombang panas sangat berdampak bagi para penderita diabetes dan
tekanan darah tinggi. “Sedikitnya 350 pasien sudah dirawat sampai saat
ini. Di barat Kota Ahmedabad, ratusan orang jatuh sakit karena
menderita dehidrasi akibat temperatur lebih dari 45 derajat Celcius,”
tuturnya.

Penderitaan warga diperparah dengan kurangnya persediaan air setelah
sungai-sungai di daerah itu mengering. Di Shimla, wilayah perbukitan di
utara India merupakan tempat liburan favorit bagi mereka yang mencari
temperatur yang hangat. Tapi, dengan gelombang panas seperti saat ini,
temperatur di wilayah itu telah menjadi sangat panas.
“Kami tidak pernah mengalami temperatur mencapai lebih dari 27 hingga
28 derajat, tapi kali ini sudah lebih dari 30 derajat, jadi ini sangat
tidak diharapkan terjadi dan belum pernah terjadi sebelumnya,” kata
Ashok Kureja, warga Shimla.

Tragedi Gas Bhopal
Sementara itu, pengadilan India di ibu kota negara bagian tengah Madhya
Pradesh, Bhopal, memvonis bersalah tujuh mantan manajer perusahaan
dalam insiden kebocoran gas Bhopal yang meracuni ribuan orang di daerah
kumuh dan permukiman pada 3 Desember 1984. Ketujuh mantan manajer lokal
itu masing-masing dihukum dua tahun penjara dan membayar denda sebesar
100.000 rupee (US$ 2.100).

Biro Pusat Investigasi mengatakan, mereka dinyatakan melakukan
kelalaian pidana. Salah satu terpidana adalah mantan pimpinan kelompok
India Keshub Mahindra yang saat ini adalah pimpinan perusahaan truk
Mahindra & Mahindra.
Di pihak lain, para korban dan kelompok hak asasi manusia mengecam
vonis itu sebagai hukuman yang terlalu ringan.
Sejumlah orang berteriak vonis itu adalah penghinaan dan “gantung yang
bersalah.”
“Selama 25 tahun kami menunggu dan sekarang setelah dua jam,
orang-orang itu secara efektif telah dibebaskan,” kata Savitiri Mahe
yang berdiri di luar gedung pengadilan sambil memegang foto putrinya
yang tewas dalam insiden itu, Senin (7/6).

Direktur Isu Dunia Amnesti Internasional Audrey Gaughran mengatakan,
“Sementara para karyawan lokal telah diadili dan dihukum, orang asing
bisa menghindari keadilan dengan bertahan di luar negeri.”
Para terpidana mempertimbangkan banding dan mereka tidak langsung
dipenjarakan. Dalam kasus ini, jaksa berpendapat, ada cacat dalam
desain pabrik berupa kelalaian pidana operasional. Cacat itu diketahui
manajemen, tapi diabaikan untuk alasan komersial.

Pengadilan juga memerintahkan The Union Carbide untuk membayar denda
sebesar 500.000 rupee. Pada saat kecelakaan, sebanyak 51 persen saham
The Union Carbide atau Union Carbide India Limited (UCIL) dimiliki oleh
kelompok usaha dari Amerika Serikat.

www.AstroDigi.com (Nino Guevara Ruwano)

--
Posted By NINO to BISNIS ONLINE at 6/09/2010 04:45:00 PM

Kirim email ke