Detik.com | Kamis, 17 Juni 2010 | Penyakit Morgellons telah menarik
perhatian sejak tahun 2002 karena mulai banyak orang yang mengeluhkan
gatal-gatal tanpa diketahui pasti penyebabnya. Hingga kini penyakit
tersebut belum bisa dipahami, dan masih menjadi penyakit kulit yang
misterius.

Pada tahun 2002 seorang ibu dari Pittsburgh bernama Maria Leitao
meluncurkan sebuah website yang menunjukkan luka di kulit dan struktur
seperti filament atau serat di kulit anak laki-lakinya yang berusia 2
tahun. Sejak itu hampir 14.000 keluarga melaporkan kasus yang sama,
kondisi ini disebut dengan penyakit Morgellons.

"Penyakit ini adalah suatu kondisi kulit yang tidak memiliki definisi
medis tertentu yang bisa diterima. Nama tersebut juga tidak diberikan
oleh dokter, melainkan oleh kelompok advokasi tertentu," ujar Prof
Michael Cappello, seorang pediatric dan spesialis penyakit menular di
Yale University School of Medicine di New Haven, Connecticut, seperti
dikutip dari Scientificamerican, Kamis (17/6/2010).

Prof Cappello menuturkan pasien biasanya akan mengeluhkan adanya
sensasi rasa gatal dan ingin terus menerus menggaruk. Pasien ini
biasanya memiliki keyakinan bahwa ada sesuatu di bawah kulitnya, yaitu
suatu agen yang bisa menginfeksi seperti cacing parasit.

Hal inilah yang membuat seseorang menggaruk terus karena berusaha ingin
mengeluarkannya. Pasien akan mengatakan bahwa dirinya harus menggaruk
terus menerus untuk mengeluarkan parasit tersebut dari dalam kulitnya.

Pasien seringkali menggambarkan sesuatu yang hidup di bawah kulitnya
sebagai serat kecil. Jika dilihat dengan mikroskop diyakini berwarna
putih, biru, merah atau hitam. Selain itu ada juga yang menyakininya
sebagai butiran seperti pasir yang berwarna hitam atau putih di dalam
kulitnya.

"Berdasarkan pengalaman pribadi saya, saya tidak pernah menemukan bukti
adanya parasit yang bisa menginfeksi bagian bawah kulit. Sampel yang
terlihat dimikroskop sama seperti kulit orang normal lainnya,"
ungkapnya.

Karena tidak ditemukannya bukti ada agen infeksi, maka gejala yang
konsisten timbul kemungkinan akibat kondisi kejiwaannya. Untuk itu
pasien ini belum bisa diperlakukan sebagai penyakit parasit. Tapi ada
kemungkinan untuk mempertimbangkan diagnosis parasitosis delusi (suatu
kondisi yang mana pasien secara keliru telah percaya bahwa dirinya
sudah terinfeksi parasit).

www.AstroDigi.com (Nino Guevara Ruwano)

--
Posted By NINO to AstroDigi at 6/30/2010 02:00:00 AM

Kirim email ke