Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
كَذَلِكَ يَطْبَعُ اللهُ عَلَى كُلِّ قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ
“Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-
wenang.” (Ghafir: 35)

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang
lain.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata: “Karena faktor-
faktor inilah, orang-orang Yahudi terus-menerus di atas kebatilannya.
Yaitu karena apa yang ada dalam hati-hati mereka seperti kesombongan,
kedengkian, keras kepala, dan tabiat-tabiat jelek lainnya.” (Naqdhul
Manthiq, hal. 27)

Dengan hal inilah kita mendapatkan kejelasan bahwa kesombongan itu
adalah salah satu penghalang untuk menerima kebenaran.

Demikian juga apabila kesombongan itu telah memenuhi hatinya, akan
menjadikan pemiliknya menganggap dirinya tinggi dan sempurna, sehingga
merasa tidak membutuhkan orang lain. Hal ini juga akan menghalanginya
dari evaluasi dan introspeksi diri, barangkali yang keliru adalah
dirinya. Inilah keadaan orang-orang yang mengikuti hawa nafsu.

Ibnul Jauzi rahimahullahu berkata: “Orang yang sombong adalah orang
yang menganggap dirinya lebih tinggi daripada orang lain (dalam segala
perkara).” (At-Tabashshurah, 2/222)

Al-Imam Asy-Syathibi rahimahullahu berkata: “Orang-orang yang telah
menjadikan hawa nafsunya sebagai hakim bagi dirinya, maka mereka tidak
akan memedulikan apapun. Mereka tidak akan memperhitungkan hal-hal
yang menyelisihi pendapatnya sama sekali. Mereka juga tidak mau
introspeksi diri atau mengevaluasi pandangan-pandangannya. Tidak
sebagaimana sikap orang-orang yang berusaha mencurigai dirinya sendiri
(barangkali kesalahan ada di pihaknya), dan akan berhenti tatkala
menimbulkan suatu permasalahan (padahal inilah sikap orang-orang yang
berakal).” (Al-I’tisham, 2/269)

Orang-orang yang mengikuti kebenaran adalah orang-orang yang tawadhu’.
Orang-orang yang senantiasa mengintrospeksi dirinya adalah orang-orang
yang gigih mencari dan menuntut kebenaran. Oleh karena itu, mereka
tidaklah enggan untuk mengevaluasi pendapatnya. Tidak enggan pula
untuk menuntut hakikat kebenaran dari suatu pemasalahan. Lebih-lebih
pada hal-hal yang menimbulkan masalah.

Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam berkata: “Sungguh aku telah mendengar Asy-
Syaikh Muqbil lebih dari sekali berkata: ‘Demi Allah, kami tidak
mengkhawatirkan dakwah ini, kecuali dari diri-diri kami.’ Aku (Asy-
Syaikh Muhammad Al-Imam) katakan: Demi Allah, sungguh Asy-Syaikh
Muqbil rahimahullahu memiliki firasat yang tepat, di mana Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka khutbahnya dengan ucapan:

وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا
“Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa kami dan dari
kejelekan amalan kami.”

Maka, jiwa kita, apapun kebaikan yang ada padanya, mesti terdapat
kekurangan atau kejelekan.” (At-Tanbihul Hasan, hal. 68-69)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata: “Seseorang beralih
dari suatu pendapat kepada pendapat yang lain karena kejelasan yang
dia dapatkan, adalah sikap terpuji. Berbeda dengan sikap orang yang
sombong, terus-menerus di atas suatu pendapat yang tidak mengandung
hujjah atau dalil yang kuat (ini adalah sikap yang tercela). Sedangkan
meninggalkan suatu pendapat yang telah jelas hujjah atau dalilnya,
atau berpindah dari suatu pendapat kepada pendapat lain karena adat
dan mengikuti hawa nafsu, itu adalah sikap yang tercela pula.” (Al-
Fatawa Al-Kubra, 5/125)

-- 
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Untuk mengirim tulisan baru gunakan: 
[email protected]
Arsip Milis:
http://www.mail-archive.com/[email protected]/
Audio/Artikel Belajar Manhaj dan Aqidah Yang Shahih :
www.ISNAD.net
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kirim email ke