TANGGAPAN TERHADAP MUHADAROH ABUL MUNDZIR DZUL AKMAL HADAHULLAH
SABTU MALAM 1 SYA’BAN 1432 DI MA’HAD RIMBO PANJANG – KAMPAR – RIAU
DARI KRONOLOGIS PENGAKUAN BELIAU
بسم الله الرحمن الرحيم
1. Ucapan Syaikh Robi’ dan Syaikh Muhammad bin Hadi berasal dari
pertemuan khusus/tertutup.
* Apakah antum abul mundzir hadakallah sudah izin untuk
menyebarkan ucapan syaikh Robi’ atau diperintahkan untuk
menyebarkannya? apalagi menambah dengan penafsiran.
* Jika tidak, maka ini namimah.Dari Ibnu Mas’ud sesungguhnya
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda : “Maukah aku beritahu kalian
apakah al-‘adhu itu? Yakni namimah memindahkan perkataan diantara
manusia” (HR. Muslim : 2606). Dan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab
rahimahullah memasukkan hadits ini dalam bukunya Kitab Tauhid bab
24.Berkata Syaikh Muhammad bin Sholeh al-utsaimin rahimahullah di Al
Qoulul Mufid, namimah adalah memindahkan ucapan-ucapan diantara
manusia. Menukil dari orang ini kepada orang ini misalnya sifulan
telah mencela engkau, maka dia namimah, baik benar atau dusta. Jika
dusta maka kebohongan dan namimah dan jika benar maka namimah. Namimah
itu sebagaimana diberitahukan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم
adalah memutus hubungan dan memisahkan diantara manusia (HR. Ahmad
4/227). Berubahlah kecintaan, keakraban menjadi permusuhan dan
kebencian sehingga berpisah. Ini menyerupai sihir dari sisi memisahkan
atau memecah belah. Firman Allah ta’ala :
فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ
الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ
Artinya :
Maka mereka mempelajari dari kedua (malaikat itu) apa yang
dengan sihir tersebut dapat menceraikan seorang suami dengan istrinya
(Al Baqoroh : 102).
Namimah adalah dosa besar. Firman Allah ta’ala :
وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَّهِينٍ
هَمَّازٍ مَّشَّاءٍ بِنَمِيمٍ
Artinya :
Janganlah engkau taati setiap orang yang banyak bersumpah lagi
hina. Yang banyak mencela, berjalan kesana kemari dengan adu domba.
(QS. Al-Qolam : 10-11).
Namimah juga termasuk sebab perpecahan masyarakat. Karena
masyarakat terdiri dari individu-individu. Ibnu Abdill Barr
menyebutkan dari Yahya bin Abi Katsir berkata : tukang namimah dan
pendusta bisa merusak dalam 1 (satu) jam yang mana tukang sihir tidak
bisa merusak dalam 1 (satu) tahun. Berkata Abdul Khattab di ‘uyun
almasa’il : termasuk sihir berusaha dengan adu domba dan merusak
diantara manusia. (lihat Fathul Majid bab sesuatu dari macam-macam
sihir)
* Jika betul Asy-Syaikh Robi’ bertekad mentahdzir Syaikh Yahya dan
markaz dammaj tentulah beliau mengucapkan di majelis ta’lim dan
tulisan karena selama ini yang ma’ruf beliau mentahdzir di majelis dan
tulisan.Mari mengambil pelajaran dari kejadian Syaikh Abdullah al-
Bukhori yang mentahdzir lebih kurang 2 tahun yang lalu via telpon
dengan usamah mahri, mentahdir Dammaj dan thullabnya, dua orang Syaikh
yang akan datang ke Indonesia tapi ternyata tidak jadi yaitu Syaikh
Hasan bin Qosim arroimi dan Syaikh Muhammad bin mani’, juga mentahdzir
Syaikh Yahya bahkan menuduh Syaikh Muqbil rahimahullah adalah khawarij
dan thullabnya terpengaruh dengan pemikiran Syaikhnya. Namun takkala
Abu Karimah Asykari Al Bugisi umroh menemui beliau dan menanyakan
perkara tuduhan beliau terhadap Syaikh Muqbil rahimahullah, maka
beliau mengingkari bahkan memuji Syaikh Muqbil rahimahullah.
* Jika Syaikh Robi’ mentahdzir di majelis atau tulisan maka kita
akan lihat hujjah dan bukti-buktinya. Kita tidak boleh taqlid dengan
siapapun, apakah Syaikh Robi’, Syaikh Yahya, dan lainnya.Yang kita
ambil adalah perkara haq. Kita mengambil ucapan Syaikh Yahya bukan
karena taqlid atau mengikuti pribadi-pribadi tetapi karena perkara haq
yang beliau sampaikan. Agama ini milik Allah Ta’ala. Allah lah yang
menjaga agama ini dan wali-wali-Nya.
2. Adapun masalah berita, mari kita bersikap tenang, jangan kalut
dan untuk mengecek / periksa.
3. Dzul Akmal mensifatkan Abu Turob dan orang yang bersamanya
ghuluw.
Dalam Fathul Majid, ghuluw (berlebih-lebihan/ekstrim) adalah berlebih-
lebihan dalam pengagungan dengan ucapan dan I’tiqod.
Firman Allah ta’ala :
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى
اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ ۚ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ
رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَىٰ مَرْيَمَ وَرُوحٌ
مِّنْهُ
Artinya :
Wahai ahli kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan
janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar.
Sesungguhnya Almasih Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah dan
(yang diciptakan dengan kalimat-Nya) yang disampaikan-Nya kepada
Maryam dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. (QS. An-nisa’ : 171).
Dalam tafsir Assa’dy tentang ayat diatas : Allah ta’ala melarang ahlul
kitab ghuluw didalam agama yaitu melampaui batas dan ukuran syar’i
kepada perkara yang tidak disyariatkan.
Berkata Syaikh Soleh bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan dalam syarh
(penjelasan) kitab Masail al Jahiliyah masalah yang ke 13, makna
ghuluw (berlebih-lebihan/ekstrim) dari sisi bahasa yaitu melampaui
batasan.
Dikatakan : periuk mendidih, apabila air didalamnya meninggi
disebabkan menggelegak.
Dan dikatakan mahal harga apabila naik dari batasan yang sudah
dikenal.
Maka ghuluw adalah tambahan dan melebihi dari batasan yang sudah
dikenal.
Ghuluw (berlebih-lebihan/ekstrim) dalam syar’i yaitu tambahan pada
pengangkatan seseorang diatas kedudukan yang layak baginya. Seperti
mengangkat haq para nabi dan orang soleh dan meninggikan mereka
ketingkat rubbubiyah atau uluhiyah.
Adapun sesuai dengan batasan atau ukuran syar’i itulah berpegang teguh
atau istiqomah diatas agama ini itulah yang diharapkan.
Sekarang kita ajukan soal-soal ke abul mundzir :
1. Apakah menggunakan yayasan sebagai sarana dakwah disyariatkan?
Dan kalau tidak menggunakan yayasan adalah ghuluw?
2. Apakah meminta-minta atas nama dakwah apalagi untuk kepentingan
pribadi adalah syar’i? ataukah tidak mau meminta-minta atas nama
dakwah apalagi untuk kepentingan pribadi adalah ghuluw (berlebih-
lebihan/ekstrim)?
3. Apakah meminta uang SPP, uang pendaftaran dan lain-lain dalam
pendidikan dan dakwah adalah syar’i? atau tidak meminta uang SPP, uang
pendaftaran dan lain-lain dalam pendidikan dan dakwah adalah ghuluw?
4. Apakah membangun sebuah masjid, lalu dibangun didekatnya rumah
besar penjaga masjid jauh lebih megah, bermarmer daripada masjid
bahkan rumah tersebut dari hasil meminta-minta adalah syar’i? atau
ghuluw?
5. Apakah lantai dari tanah atau pasir dianggap ghuluw, lantas jika
masjid berlantai marmer, semen, bambu, kayu dianggap syar’i atau
ghuluw?
6. Apakah seseorang memuji saudaranya atas keutamaan Allah ta’ala
yang diberikan padanya seperti hafal Alqur’an, hafal Shohih Bukhori
dll, menguasai banyak disiplin ilmu, dikenal ulama seperti antum (abul
mundzir) yang dikenal ulama Saudi, tidak boleh mengucapkan “masya
Allah”, apakah ini syar’i atau ghuluw? Lantas jika seseorang memuji
saudaranya atas keutamaan Allah ta’ala padanya dengan mengucapkan,
seperti contoh : “abul mundzir zul akmal dikenal ulama Saudi karena
kehebatan dan kecerdasan beliau semata”, apakah ini syar’i ataukah
ghuluw?
7. Apakah mengucapkan kalimat “masya Allah” atas suatu perkara,
hanya dikhususkan untuk jama’ah tabliq sehingga antum abul mundzir
hadakallah berkata demikian? Apakah ini syar’i atau ghuluw?
8. Jika murid antum di ma’had, rajin beribadah selain sholat wajib
berjama’ah, juga melaksanakan sholat rawatib, sholat witir, sholat
malam, shaum senin dan kamis, shaum bidh (putih), juga rajin membaca
Alqur’an bahkan menghapalnya, apakah ini syar’i atau ghuluw? Lantas
antum sampaikan atsar salaf : “sederhana dalam sunnah lebih baik
daripada bersungguh-sungguh didalam bid’ah”. Apa yang antum inginkan?
Tolong sebutkan bid’ah apa yang dilakukan abu turob sehingga antum
membawa atsar ini untuk mencela mantan-mantan murid antum yang masya
Allah memuji-muji abu turob dan menyaksikan atas keutamaan Allah yang
diberikan kepadanya dari sisi bagus sholatnya, hafalan dan lain-
lainnya yang mana mereka belum pernah melihat hal ini sebelumnya.
Jangan sampai atsar ini disalah pahami sehingga akan membuat ummat
malas beribadah, memperbaiki amal, memperbaiki ahlak, menghafal
Alqur’an dan lain-lain karena sudah merasa dirinya sudah cukup. Justru
malah menjadi sombong dan ghurur (tertipu) padahal atsar tersebut
untuk memperingatkan bid’ah.
9. Abul mundzir membuat opini bahwa orang yang bagus dan rajin
beribadah, hafalan Alqur’an dan hadits, serta bagus qiro’ah seseorang,
itu adalah ciri khawarij. Lantas bagaimana dengan ibadah dan akhlak
para salaf? Dalam buku alkhawarij awwalul firoqi fi tarikhil Islam,
DR. Nasir bin Abdul Karim al’aql mengatakan dasar-dasar khawarij
pertama, manhaj mereka dan ciri umum mereka yang ke-6 adalah : tampak
tanda-tanda orang sholeh pada mereka. Banyak ibadah seperti sholat,
shaum, bekas sujud, baju lusuh, wajah mereka pucat karena bergadang,
banyak diantara mereka waro’ (atas tanpa fiqh), jujur, zuhud diiringi
ekstrim dan berlebih-lebihan dalam agama sebagaimana nabi Shallallahu
‘alaihi wasallam mensifati mereka (kalian merasa minder sholat kalian
dibandingkan sholat mereka). “Wahai abul mundzir, jangan sampai
penjelasan antum menggiring ummat untuk malas beribadah, berahlaq
buruk seperti pendusta, namimah, bermewah-mewahan, mengemis dan lain-
lain.”
10. Abul mundzir telah mensifati abu thurob khawarij haddadi. Lalu
menjelaskan darah khawarij halal. Lantas apakah abul mundzir
menghalalkan darah abu thurob dan orang yang bersamanya?
11. Abul mundzir menyebutkan bahwa abu turob tidak pakai SPP,
kenyataan meminta infaq Rp. 50.000/bulan. Siapakah sumber berita
antum? Adakah sudah mericek (tasabut)? Benar di ma’had abu thurob
tidak ada SPP, bahkan beliau donatur beras untuk makan santri. Adapun
untuk lauk diserahkan kepada santri dan mereka bergiliran memasak dan
uang Rp. 50.000/ bulan itu kembali kepada lauk pauk santri itu
sendiri.
12. Abul mundzir menyebutkan tahdzir Syaikh Muhammad bin Hadi bahwa
di Dammaj diajarkan celaan dan caci maki. Sekarang abul mundzir banyak
mengeluarkan celaan dan caci maki seperti : “kalau tidak percaya,
tempelkan kertas ini kemulutnya”, thogut, tempat jin buang anak,
“tampung air kencing anjing segelas, lalu kasih minum abu turob”,
perampok, pemulung, juga menggelari murid-muridnya yang pergi ke
Bengkulu, lalu disebutkan nama mereka satu persatu sebagai dajjal,
ahlul fitan, munafiqin. Apakah abul mundzir tidak mengajarkan celaan
dan caci maki di ma’had rimbo panjang selama ini?
Munafiqin adalah kuffar, karena mereka menyembunyikan kekafiran
dan menampakkan keislaman. Apakah abul mundzir mengkafirkan murid-
muridnya sendiri yang pergi belajar ke Bengkulu? Apakah sifat-sifat
dajjal pada mereka?
13. Wahai Abul Mundzir, mantan-mantan muridmu yang pergi belajar ke
Bengkulu, bukan saja karena melihat jeleknya ma’had rimbo panjang atau
jeleknya dzul akmal sebagaimana ucapan antum. Mereka tahu kelebihan-
kelebihan atau keutamaan Allah yang diberikan-Nya kepada antum, akan
tetapi mereka telah bosan dengan kejelekan yang tidak juga berubah.
Sepantasnya antum merenung dan muhasabah dengan kejadian tersebut.
Dulu Armen Naro Al Minangkabawi Rahimahullah membongkar abul mundzir,
kemudian murid antum Abdul Qodir fauzi Al Minangkabawi membongkar
juga.Ada orang yang mengatakan bahwa tabi’at, watak dan ahlak tidak
bisa berubah atau diperbaiki, sebagaimana bentuk fisik tidak bisa
berubah. Jika tabi’at, watak dan ahlak tidak bisa berubah atau
diperbaiki maka apa faedah daripada ibadah seperti shaum ramadhan,
sholat dan lainnya? Juga nasehat, bimbingan dan pendidikan?.Watak,
tabiat dan ahlak bisa diperbaiki, dilunakkan dan dirubah. Berkata Ibnu
Qudamah al Maqdisi dalam Mukhtasor Minhajul Qosidin halaman 141-142.
“dan bagaimana kita mengingkari perubahan ahlak, sedangkan kita
melihat hewan buas bisa dijinakkan, anjing bisa diajar untuk
meninggalkan makan hewan buruan, kuda dilatih berjalan baik dan patuh,
sebagian tabiat cepat menerima perbaikan dan sebagiannya sulit
menerima perbaikan. Dan adapun khayal orang yang berkeyakinan,
sesungguhnya pada pembawaan (watak) tidak bisa berubah, maka
ketahuilah sesungguhnya bukanlah maksud menghancurkan sifat-sifat ini
secara total, tetapi yang dituntut adalah melatih diri untuk menahan
syahwat sehingga lurus (pertengahan antara berlebih-lebihan dan
berkurang-kurangan). Adapun menghancurkannya secara total maka tidak
boleh. Betapa tidak, syahwat diciptakan untuk faedah darurat pada
pembawaan. Watak misalnya, jika selera makan hilang sama sekali,
manusia akan mati. Jika syahwat hubungan suami istri hilang sama
sekali, maka pudarlah keturunan manusia. Jika tidak ada emosi sama
sekali, maka seseorang tidak akan membela dirinya daripada perkara
yang merusaknya.Allah ta’ala berfirman :
وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ
Artinya :
Dan yang bersama dia amat keras terhadap orang-orang kuffar (QS.
Al-fath : 29).
Dan tidak akan timbul sikap keras kecuali dari kemarahan, kalau
tidak ada kemarahan maka terhalangilah jihad terhadap kuffar.
Firman Allah ta’ala :
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ
Artinya :
Dan orang-orang yang menahan amarah (QS. Ali Imron : 134).
Allah ta’ala tidak menyebutkan orang-orang yang kehilangan
amarah.
Jika binatang buas saja bisa dijinakkan seperti burung elang,
ular, anjing, gajah, tentu manusia lebih utama bisa menjadi jinak dan
baik, karena Allah ta’ala memberikan banyak keutamaan kepada manusia
daripada binatang.
Oleh karena itu wahai pembaca ! watak, tabiat, pembawaan atau
ahlak jelek bisa diperbaiki, diluruskan dan diubah dengan izin Allah
Ta’ala, apakah itu mental pengamuk, kasar lagi runcing, peminta-minta,
adu domba, pencaci maki, bakhil, sombong, hasad, ujub, ghurur dan lain-
lain baik dari penyakit lisan atau penyakit jiwa. Fisik bisa dilihat
dengan pandangan mata dan jiwa bisa dilihat dengan basyiroh (pandangan
ilmu). Masing-masing mempunyai bentuk dan gambaran baik atau buruk.
Dan jiwa yang bisa dilihat dengan basyiroh lebih besar kedudukan
daripada fisik yang bisa dilihat dengan pandangan mata.
Oleh karena itu Allah ta’ala membesarkan perkara ini dan
menyandarkan perkara tersebut kepada diri-Nya sendiri. Sebagaimana
Firman-Nya :
إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِّن طِينٍ [٣٨:٧١]
فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِي
Artinya :
Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah, maka
apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Aku tiupkan ruhKu (QS.
Shad : 71-72).
Maka Allah ta’ala mengingatkan bahwa fisik disandarkan kepada
tanah dan ruh disandarkan kepada-Nya, maka ahlak adalah ungkapan dari
bentuk jiwa mendalam yang menimbulkan perbuatan-peruatan dengan ringan
dan mudah tidak perlu lagi pikiran dan pertimbangan.
Jika perkataan-perkataan baik, maka dinamakan ahlak (prilaku)
baik dan jika perbuatan-perbuatan jelek dinamakan aklak buruk.
Bagaimanakah meluruskan/memperbaiki ahlak ?
* Menyadari adanya kejelekan-kejelekan.
* Azam (tekad) yang kuat untuk memperbaiki.
* Bersabar.Sebagaimana pengobatan penyakit badan menahan
pahitnya obat, sabar menahan selera-selera untuk kesehatan badan,
demikian juga pengobatan ahlak untuk menahan pahitnya mujahadah
(bersungguh-sungguh), sabar mengobati penyakit hati.
* Memberikan sanksi kepada dirinya sendiri jika mengulangi
lagi.Oleh karena itu, ahlak (prilaku) baik kembali kepada kekuatan
akal, emosi dan syahwat.
Menurut Ibnu Qudamah, perkara terbesar yang membinasakan/menghancurkan
manusia adalah :
* Syahwat perut karena dengan perbuatan tersebut dikeluarkanlah
Adam ‘عليه السلم dari surga.Dari syahwat perut muncul syahwat kemaluan
dan kecintaan pada harta.
* Bencana lisan.Nabi Shallallahu alaihi wasallam
bersabda :Artinya : Barang siapa yang menjamin untukku apa yang
diantara jenggot dan kedua kakinya, aku jamin untuk dia surga. (HR.
Bukhori : 6474, Tirmidzi : 2408, Ahmad : 22316).Hadits lain :
Artinya : Tidak lurus iman seorang hamba sehingga lurus hatinya
dan tidak lurus hatinya sehingga lurus lisannya. (HR. Ahmad : 12636,
dihasankan Al-albani di Shohih al Targhib : 2554).
* Emosional dan hasad (dengki).Kemarahan adalah percikan dari api.
Sifat api adalah mendidih, menggelegak, meledak dan keributan. Dan
syaithan la’natullah diciptakan dari api.Hasad adalah tidak senang
melihat seseorang mendapat kenikmatan. Sifat ini menggiring pelakunya
kepada perbuatan buruk. Karena dengkilah Qabil membunuh Habil, dan
musyrikin dengki dengan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam
sehingga menolak Alqur’an.
* Fitnah duniawi.
* Bakhil, hirsh (gigih), tamak (rakus).Sebagaimana disebutkan
dalam hadits : “Dunia adalah penjara mukmin dan surga kuffar.” (HR.
Muslim)Dalam Sunan Tirmidzi dari Nabi Shallallhu alaihi wasallam,
beliau bersabda :“Tidaklah dua serigala lapar dilepas dikumpulan
kambing lebih merusak, daripada kerakusan seseorang pada harta dan
kemuliaan untuk agamanya.” (HR. Tirmidzi : 2376, Ahmad : 15367)
Dari Nabi Shallallahu alaihi wasallam bahwasanya beliau
mengucapkan : “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau
daripada penakut dan pelit.” (HR. An-nasa’i : 3110, Ahmad : 9400)
Berkata Al-Albani : shohih lighoirihi.
* Cinta kedudukan (popularitas) dan riya’.
* Sombong dan ujub.Defenisi sombong sebagaimana penjelasan Nabi
Shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda : “Sombong adalah menolak
perkara haq dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim)Allah ta’ala
berfirman :سَأَصْرِفُ عَنْ آيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي
الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ
Artinya :
Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya
dimuka bumi tanpa alasan yang benar. (QS. Al-a’raf : 146)
إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ [١٦:٢٣]
Artinya :
Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang sombong. (QS. An-
nahl : 23)
Karena sombonglah iblis la’natullah tidak mau melaksanakan
perintah Allah ta’ala untuk sujud kepada Nabi Adam عليه السلم.
* Ghurur (tertipu).(Diringkas dari buku Mukhtasor Minhajul
Qosidin, Ibnu Qudamah halaman 151-223.)
Komentar ini ana tulis karena permintaan 4 orang ikhwan yang
berkunjung kerumah ana sabtu malam 8 Sya’ban 1432 H / 9 Juli 2011 dan
pengaduan sebagian ikhwah di Jambi lain bahwa ada satu orang
luqmaniyun di kota Jambi yang sudah dikenal sebelumnya sebagai orang
yang tidak beradab, tukang adu domba (namimah), kedustaan, hasad,
pengorek kesalahan-kesalahan, dan sombong memanfaatkan muhadaroh abul
mundzir dzul akmal. Dia bagaikan mendapatkan angin segar karena selama
ini dia sudah dikucilkan oleh salafiyin di propinsi Jambi. Dan jangan
lagi ihkwan salafiyin diluar propinsi Jambi tertipu dengan permainan
orang ini seperti yang menimpa ikhwan selensen kabupaten Indragiri
Hilir Riau dan Kabupaten Lingga Kepri yang menyangka bersama mereka.
Jika abul munzir dzul akmal saja menyebutkan bahwa dia bertanya
tentang berita abu ishaq (orang yang membaca buku dalam ta’lim Syaikh
Robi’), maka temannya berkata : “dia (abu ishaq) telah hilang, Syaikh
Robi’ telah mengusirnya karena tidak punya adab”. Maka bagaimana
dengan luqmaniyun satu ini?
Inilah secuil komentar dari ana terhadap ucapan abul mundzir tanggal 1
Sya’ban 1432 H di ma’hadnya. Kita bukan taqlid kepada seseorang dan
tidak membela Syaikh Yahya atau abu thurob secara zatnya, tapi perkara
haq yang disampaikan. Semoga Allah ta’ala mengokohkan kita dalam agama
ini atas pemahaman salafussholeh.
“Selesai tanggal 20 Sya’ban 1432 H / 23 Juli 2011
Ditulis oleh Abu Abdillah Muhammad Ja’far Abdul Latif Al Kampari
Di Kota Jambi”
http://isnad.net/tanggapan-terhadap-muhadaroh-abul-mundzir-dzul-akmal-hadahullah
--
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Untuk mengirim tulisan baru gunakan:
[email protected]
Arsip Milis:
http://www.mail-archive.com/[email protected]/
Audio/Artikel Belajar Manhaj dan Aqidah Yang Shahih :
www.ISNAD.net
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~