بسم الله الرحمن الرحيم

Penulis:
Abu Fairuz Abdurrohman Al Indonesiy Al Qudsiy Aluth Thuriy -semoga
Alloh menjaganya-

Judul Asli:
“Shifatul Haddadiyyah Fi Munaqosyatin ‘Ilmiyyah”

(Komentar terhadap isi Kitab “Aujuhusy Syibh Bainal Hadadiyyah wa
Bainar Rowafidh” dan Kitab “Manhajul Haddadiyyah” dan Ucapan Asy
Syaikh Robi’ Al Madkholiy Pada Akhir Tahun 1432 H) (Seri Satu)

Diperiksa Oleh:
Fadhilatusy Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Ali bin Hizam Al Fadhli
Al Ba’daniy Al Yamaniy
Dan Fadhilatusy Syaikh Abu Amr Abdul Karim bin Ahmad Al Umariy Al
Hajuriy Al Yamaniy
حفظهما الله  ورعاهما

Pengantar Penulis

الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله، اللهم صل
وسلم على محمد وآله أجمعين أما بعد:

Sesungguhnya beberapa ikhwah telah mengirimkan kepadaku suatu risalah
yang di dalamnya berisi karakter Haddadiyyah yang ditulis oleh Asy
Syaikh Robi’ Al Madkholiy –semoga Alloh memberinya taufiq-, yang
dengan tulisan itu sebagian orang berargumentasi bahwasanya orang-
orang Darul Hadits di Dammaj adalah Haddadiyyun (penganut pemikiran
Mahmud Al Haddad).

Maka keadaan orang-orang yang memakai tulisan tadi sebagai argumentasi
adalah sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Al Imam Asy Syaukaniy –
semoga Alloh merohmatinya- : “Dan sungguh kaidah ahlul bida’ telah
berjalan pada zaman dahulu dan yang berikutnya bahwasanya mereka itu
bergembira dengan munculnya satu kalimat dari satu orang ulama, lalu
mereka berlebihan dalam mempopulerkannya dan mengumumkannya di antara
mereka, menjadikannya sebagai argumentasi untuk mendukung kebid’ahan
mereka, dan dengannya mereka memukul wajah orang yang mengingkari
mereka, sebagaimana engkau dapati di dalam kitab-kitab Rofidhoh yang
di dalamnya ada riwayat-riwayat tentang kalimat-kalimat yang datang
dari ulama Islam yang terkait dengan perselisihan para Shohabat, juga
tentang keutamaan dan cercaan. Para Rofidhoh dengan adanya itu terbang
gembira dan menjadikannya sebagai bagian dari simpanan dan ghonimah
(rampasan perang) yang paling besar.” (“Adabuth Tholab”/hal. 35/ Darul
Kutubil ‘Ilmiyyah).

Perlu diketahui  bahwasanya ana telah menyelesaikan risalah ini pada
tanggal 9 Jumadil Ula 1432 H. kemudian sampai kepada kami perkataan
Asy Syaikh Robi’ bin Hadi Al Madkholiy –semoga Alloh memberinya
taufiq- yang di dalamnya ada cercaan terang-terangan bahwasanya Asy
Syaikh Yahya Al Hajuriy –semoga Alloh menjaganya- adalah haddadiy,
tolol, dan beberapa kalimat jahat yang lain.

Seseorang yang bernama Abu Waqid Abdulloh bin Sholih Al Qohthoniy
menukilkan ucapan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy –hadahulloh- pada awal-
awal bulan Rojab 1432 H di hadapan para pengunjung dari kabilah
Wadi’ah:

(يحيى الحجوري سفيه حدادي خبيث لا بارك الله فيه).

“Yahya Al Hajuriy tolol, haddadiy, busuk, semoga Alloh tidak
memberkahinya.”

Ucapan ini disebarkan oleh situs pendosa “Wahyain”.

Dan pada tanggal 1 Sya’ban 1432 H Abul Mundzir Dzul Akmal Al Indonesiy
–hadahulloh- menceritakan perjalanan umrohnya bahwasanya dirinya telah
mengunjungi Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy di sela-sela perjalanan
umrohnya pada akhir Rojab 1432 H, lala dia menanyakan apa yang
dinamakan dengan fitnah Yahya, maka Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy
menjawab:

(إن يحيى الحجوري مزق الدعوة السلفية في جميع أنحاء العالم، ولا يترك
أحدا، فلا يترك محمدا، ولا البخاري، ولا الجابري، ولا غيره)

“Sesungguhnya “Sesungguhnya Yahya Al Hajuriy telah merobek-robek
dakwah Salafiyyah di seluruh penjuru alam. Dia tidak meninggalkan
seorangpun, tidak meninggalkan Muhammad, Bukhoriy, Jabiriy dan yang
lainnya.”

Ucapan ini disebarkan oleh Dzul Akmal di situsnya. Dia merupakan salah
satu da’i di negri kami, dan merupakan salah satu orang yang paling
dekat dengan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy dari bangsa Indonesia.

Dan sampai kini Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy tidak mengumumkan
pernyataan lepas diri dari berita-berita itu, dan tidak mendustakan
para pembawa berita tadi. Jika dia telah mengetahuinya dan tidak
mengingkarinya maka dia itu seperti orang yang mengakuinya.

Sungguh kaki sebagian orang yang mengikuti kebenaran dengan taqlid
(membebek) telah goncang dengan berita tadi. Maka argumentasi harus
dilawan dengan argumentasi pula agar mereka tahu kedustaan tuduhan
tadi, dan mengetahui kekokohan Darul Hadits di Dammaj di atas sunnah
dan salafiyyah, dan bahwasanya partai Baromikah –yang mencerca kami
dengan sebutan Haddadiyyah- mereka itulah yang berhak dengan sebutan
tadi. Dan akan menjadi jelas bagi orang-orang yang adil kelompok
manakah yang berada di atas petunjuk, dan siapakah yang berada di atas
kesesatan yang nyata.

Tulisan yang akan datang merupakan bantahan terhadap hizb baru dan
seluruh kelompok yang mencerca Ahlussunnah –terutama Darul Hadits di
Dammaj- dengan sebutan Haddadiyyah, siapapun dia.

Dan kami akan menjawab cercaan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy sesuai
dengan apa yang tersebar tanpa pengingkaran sedikitpun darinya -
waffaqohulloh-. Dan aku susulkan jawaban tersebut ke dalam risalah ini
dan aku masukkan di sela-sela pembahasan dan diskusi. Dan dengan
pertolongan Alloh sajalah kita mendapatkan taufiq.

Saya bersyukur pada Syaikh kami yang utama, sang penasihat: Abu
Abdillah Muhammad bin Ali bin Hizam Al Fadhli Al Ba’daniy –semoga
Alloh memelihara dan menjaganya- atas nasihat dan pertolongan beliau,
serta kesabaran beliau dalam meluruskan dan mendukung risalah ini.

Kemudian syukur yang banyak saya sampaikan kepada Syaikh kami yang
utama dan mulia Abu Amr Abdul Karim bin Ahmad Al Hajuriy –semoga Alloh
menjaga dan memeliharanya – atas curahan kesungguhannya dan nasihatnya
untuk memperbagus risalah ini dan meluruskannya.

Saya juga harus bersyukur kepada saudara kita Abu Ja’far Al Harits Al
Minangkabawiy Al Indonesiy –semoga Alloh menjaganya- atas pertolongan
dan bantuannya.

Kami memohon pada Alloh untuk membalas mereka dengan pahala yang
terbaik, sesungguhnya Alloh itu Al Barr (Maha Lembut) Ar Rohim (Maha
Penyayang).



Bab Satu: Firqoh Haddadiyah Secara Global



Sesungguhnya Haddadiyyah merupakan firqoh (sekte/pecahan) yang ghuluw
(berlebihan dalam bersikap) yang dinisbatkan kepada Abu Abdillah
Mahmud bin Muhammad Al Haddad. Orang ini lahir di Mesir tahun 1374
Hijriyyah. Kemudian dia pergi ke Madinah Nabawiyyah, belajar ke Asy
Syaikh Robi’ Al Madkholiy -waffaqohulloh- dan para masyayikh Madinah
yang lain.

Pada awal urusannya, orang ini menampakkan kecemburuan kepada agama
dan benci pada kebid’ahan. Kemudian muncul darinya sikap berlebihan
yang ekstrim, membid’ahkan sejumlah imam Islam yang kaki mereka
tergelincir  di dalam permasalahan aqidah seperti ibnu Hajar, An
Nawawiy, Asy Syaukaniy  -semoga Alloh merohmati mereka-. Dia melaknat
mereka, dan membid’ahkan orang yang mendoakan rohmat untuk mereka. Dia
juga memfatwakan untuk membakar “Fathul Bari” karya Ibnu Hajar dan
yang seperti ini.

Dia juga mencerca Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qoyyim dan Ibnu
Abil ‘izz  -semoga Alloh merohmati mereka-.

Dia juga mencerca para ulama Sunnah zaman ini seperti Al Imam Ibnu
Baz, Al Imam Al Albaniy, Al Imam Ibnu ‘Utsaimin, Al ‘Allamah Sholih Al
Fauzan, Asy Syaikh Al Luhaidan, dan yang lainnya  -semoga Alloh
merohmati mereka-.

Dia memiliki para pengikut yang mengibarkan bendera untuk sehingga
mereka terkenal sebagai: “Al Haddadiyyah”.

Di antara karya tulisnya adalah:

1. “Aqidah Ibni Abi Hatim Wa Abi Zur’ah”. Di dalamnya dia mencela
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Al Imam Albaniy dan yang lainnya.

2. “Al Khomis”, di dalamnya ada serangan jahat terhadap Al Imam Al
Albaniy  -semoga Alloh merohmatinya-.

3. Takhrij “Ihya ‘Ulumuddin”. Dan ini termasuk dari bertolak
belakangnya sikap orang ini. Dia memperingatkan manusia dari sebagian
kitab-kitab As Sunnah karena sekedar adanya beberapa kesalahan di
dalamnya, sementara dia sendiri menulis kitab Takhrij “Ihya
‘Ulumuddin” tanpa memperingatkan manusia sedikitpun darinya padahal di
dalamnya ada banyak kerusakan besar.

4. “Al Muntaqol ‘Athir” ringkasan dari “Shoidul Khothir” milik Ibnul
Jauziy yang Mahmud Al Haddad sendiri berkata tentangnya: “Dia itu
Jahmiy keras.” Dia tahu bahwasanya kitab tersebut dari awalnya hingga
akhirnya tiada di dalamnya firman Alloh, sabda Rosululloh  صلى الله
عليه وسلم ataupun ucapan Shohabat  رضي الله عنهم .

5. Tahqiq “Al Jami’ Fil Hatsts ‘Ala Hifzhil ‘Ilm”

Bersamaan dengan serangan-serangannya kepada para imam Sunnah, tidak
terlihat darinya tulisan dalam membantah Al Ikhwanul Muslimin padahal
bencana yang mereka timbulkan di negrinya –Mesir- banyak sekali.
Begitu pula tiada tulisan terhadap Firqoh Tabligh, begitu pula
terhadap para pengagung kuburan, dan juga terhadap firqoh Takfir.

Daftar Pustaka:

-         “Al Ajwibatul Mufidah” milik Asy Syaikh Sholih Al Fauzan,
yang ditulis oleh Jamal bin Furoihan Al Haritsiy

-         Takhrij “Ihya ‘Ulumiddin” milik Mahmud Al Haddad.

Bab Dua: Upaya Merusak Citra Para Pembawa Sunnah dengan Kata-kata Yang
Buruk

Alloh jalla dzikruhu berfirman:
وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang
demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS.
Luqman: 17).

Juga Alloh ta’ala berfirman:
وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا

“Dan bersabarlah untuk memenuhi hukum dari Robbmu, karena sesungguhnya
engkau berada dalam pengawasan Kami.” (QS. Ath Thur: 48).

Juga Alloh Yang Mahasuci berfirman:
وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ

“Dan untuk Robbmu maka bersabarlah engkau.” (QS. Al Muddatstsir: 7)

Al Imam Ibnu Katsir  -semoga Alloh merohmatinya- berkata dalam tafsir
ayat yang terakhir ini: “Yaitu: Jadikanlah kesabaranmu terhadap
gangguan mereka itu adalah demi mendapatkan wajah Robbmu ‘Azza
Wajalla. Demikian ucapan Mujahid.” (“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim”/7/hal.
398/Darul Atsar).

Ayat ini turun pada awal pengangkatan Muhammad Al Qurosiy sebagai
Rosul, dan di dalamnya ada isyarat bahwasanya penyampaian risalah itu
butuh kepada kesabaran, karena para musuh kebenaran itu banyak. Alloh
ta’ala berfirman:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ
وَكَفَى بِرَبِّكَ هَادِيًا وَنَصِيرًا

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi setiap nabi itu musuh dari kalangan
orang-orang jahat, dan cukuplah Robbmu sebagai Pemberi petunjuk dan
Penolong.” (QS. Al Furqon: 31).

Alloh Yang Mahasuci berfirman:

فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تُطِعْ مِنْهُمْ آَثِمًا أَوْ كَفُورًا

“Maka bersabarlah untuk memenuhi hukum dari Robbmu, dan janganlah
engkau taati orang pendosa dan orang yang sangat kafir dari
mereka.” (QS. Al Insan: 24).

Al Imam Ath Thobariy  -semoga Alloh merohmatinya- berkata: “Firman-
Nya:

إِنَّا نَحْنُ نزلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ تَنْزِيلًا [الإنسان/23]

“Sesungguhnya Kami benar-benar menurunkan Al Qur’an kepadamu.”

Alloh Yang Mahatinggi penyebutannya berfirman kepada nabi-Nya Muhammad
saw

صلى الله عليه وسلم: Sesungguhnya Kami benar-benar menurunkan Al Qur’an
ini kepadamu wahai Muhammad sebagai ujian dan cobaan dari Kami.

فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ

Dia berfirman: bersabarlah terhadap apa yang diujikan oleh Robbmu yang
berupa kewajiban-kewajiban-Nya, penyampaian risalah-Nya, melaksanakan
perkara yang harus dilaksanakan di dalam kitab yang diwahyukan
kepadamu

وَلا تُطِعْ مِنْهُمْ آثِمًا أَوْ كَفُورًا

Dia berfirman: Jangan engkau taati dalam kedurhakaan kepada Alloh dari
kalangan musyrikin dari kaummu orang pendosa yang ingin melakukan
kedurhakaan, atau orang yang sangat kafir, yaitu orang yang sangat
mengingkari kenikmatan-kenikmatan Alloh yang ada padanya, sehingga dia
mengingkari-Nya dan menyembah selain-Nya.” (“Jami’ul Bayan”/24/hal.
110/Darut Tarbiyyah Wat Turots).

Dan di antara bentuk permusuhan dari seteru para Nabi عليه السلام
adalah berita bohong, kedustaan, tuduhan dusta, gelar-gelar yang
buruk, dan yang selain itu, dalam rangka melarikan manusia mereka.
Alloh ta’ala berfirman:

كَذَلِكَ مَا أَتَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا
قَالُوا سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ * أَتَوَاصَوْا بِهِ بَلْ هُمْ قَوْمٌ
طَاغُونَ

“Dan demikianlah, tidaklah datang kepada orang-orang sebelum mereka
satu Rosulpun kecuali mereka berkata: “Dia adalah tukang sihir atau
orang gila.” Apakah mereka saling berwasiat dengannya? Bahkan mereka
itu adalah kaum yang melampaui batas.” (QS. Adz Dzariyat: 52-53).

Dan sebagaimana para ulama mewarisi para Nabi dalam keilmuan dan tugas
dakwah, maka demikian pula mereka mendapati dari pewaris para musuh
Nabi kedustaan, dan gelar-gelar yang buruk. Syaikhul Islam Abu ‘utsman
Isma’il bin Abdurrohman Ash Shobuniy  -semoga Alloh merohmatinya-
berkata: “Dan alamat-alamat kebid’ahan terhadap pelakunya itu tampak
jelas. Dan tanda dan alamat mereka yang paling tampak adalah kerasnya
permusuhan mereka terhadap para pembawa hadits Nabi -shollallohu
‘alaihi wasallam-, dan pelecehan mereka terhadap mereka, dan
penghinaan mereka terhadap mereka, dan menamai mereka sebagai
hasyawiyyah (orang-orang pinggiran), orang-orang bodoh, zhohiriyyah
(hanya mengambil lahiriyah dari dalil saja), musyabbihah (yang
menyerupakan Alloh dengan makhluk).” –sampai pada ucapan beliau:- “Dan
itu semua merupakan ‘ashobiyyah (fanatisme). Dan tidaklah cocok untuk
Ahlussunnah kecuali satu nama saja, yaitu Ashhabul hadits. Aku
katakan: Aku melihat bahwasanya ahlul bida’ di dalam masalah nama-nama
yang mereka sematkan pada Ahlussunnah ini, dalam menyikapi Ahlul
hadits, mereka telah menempuh jalan musyrikin saat menyikapi
Rosululloh  صلى الله عليه وسلم , karena musyrikin membagi-bagi
perkataan tentang beliau. Sebagian dari mereka menamai beliau sebagai
penyihir, sebagian yang lain menamai beliau sebagai dukun, sebagian
yang lain menamainya sebagai penyair, sebagian yang lain menamainya
sebagai orang gila, sebagian yang lain menamai beliau sebagai orang
yang mengada-ada, berganti-ganti, pendusta. Sementara itu Nabi  صلى
الله عليه وسلم jauh dan berlepas diri dari aib-aib tadi. Tidaklah
beliau kecuali seorang rosul yang terpilih lagi seorang nabi. Alloh
‘Azza Wajalla berfirman:

انْظُرْ كَيْفَ ضَرَبُوا لَكَ الْأَمْثَالَ فَضَلُّوا فَلَا
يَسْتَطِيعُونَ سَبِيلًا

“Perhatikanlah bagaimana mereka membuat permisalan untukmu, lalu
mereka tersesat sehingga tak bisa mendapatkan jalan.” (QS. Al Isro:
48).

Demikian pula mubtadi’ah, Alloh tidak menolong mereka, mereka membagi-
bagikan ucapan kepada para pembawa kabar Nabi, penukil atsar beliau,
dan periwayat hadits-hadits beliau, pengikut jejak beliau, dan
pengikut petunjuk dari sunnah beliau, maka sebagian dari mereka
menamai mereka sebagai hasyawiyyah, sebagiannya menamai mereka sebagai
musyabbihah, sebagiannya menamai mereka sebagai nabitah (yang baru
tumbuh), sebagiannya menamai mereka sebagai nashibah (yang menancapkan
permusuhan terhadap keluarga Nabi), sebagiannya menamai mereka sebagai
jabriyyah (kelompok yang berkeyakinan bahwa manusia itu dipaksa dalam
berbuat), padahal Ashhabul hadits itu terlindungi dari kejelekan-
kejelekan ini, terbebas, bersih dan suci darinya. Tidaklah mereka
selain Ahlussunnah yang cemerlang, dan pemilik sejarah yang diridhoi,
dan jalan yang lurus, serta hujjah yang tajam dan kuat. Alloh جل جلاله
telah memberi mereka taufiq untuk mengikuti kitab-Nya, wahyu-Nya dan
pembicaraan-Nya, dan untuk meneladani Rosul-Nya  صلى الله عليه وسلم
dalam berita-beritanya yang beliau di dalamnya memerintahkan umat-Nya
kepada ucapan dan perbuatan yang baik, dan di dalamnya beliau melarang
mereka dari ucapan dan perbuatan yang yang jelek. Alloh juga menolong
mereka untuk memegang jalan hidup beliau, mengikuti petunjuk dengan
menekuni sunnah beliau, dan melapangkan dada-dada mereka untuk
mencintai beliau dan mencintai para pemimpin syariat beliau dan ulama
dari umat beliau. Dan barangsiap mencintai suatu kaum maka dia akan
bersama mereka pada hari kiamat berdasarkan hukum dari Rosululloh  صلى
الله عليه وسلم:

«المرء مع من أحب»

“Seseorang itu bersama dengan orang yang dicintainya.”[1]

(“Aqidatus Salaf Ashabul Hadits” Ash Shobuny hal. 109-111/Darul
Minhaj).

Demikian pula pada zaman sekarang: para hizbiyyun harokiyyun (kelompok
pergerakan dan pemberontakan) menamakan Ahlussunnah sebagai murjiah
(kelompok yang mengakhirkan amalan dari keimanan) dikarenakan
Ahlussunnah tidak mengkafirkan pemerintah Muslimin, atau dikarenakan
ketergelinciran sebagian dari Ahlussunnah di dalam masalah keterkaitan
antara amalan dan keimanan. Adapun hizbiyyun mumayyi’un (kelompok yang
melembekkan permasalahan) dari kalangan Hasaniyyun, Mar’iyyun dan yang
lainnya menamai Ahlussunnah sebagai Haddadiyyah –bahkan Ghulatul
Haddadiyyah- dikarenakan kerasnya Ahlussunnah pada kebid’ahan dan
pelakunya. Padahal mereka itu tidak tahu bahwasanya Ahlussunnah itu
merupakan pertengahan di antara yang demikian itu, benar-benar mereka
itu di atas petunjuk yang lurus.

Para hizbiyyun tadi di dalam menuduh Salafiyyun, mereka berdalilkan
dengan apa yang ditulis oleh Asy Syaikh Robi’ bin Hadi Al Madkholiy
وفقه الله tentang sifat-sifat Haddadiyyah, kemudian yang terakhir
adalah dengan ucapannya yang berdosa yang telah lewat penyebutannya.

Dan sampai sekarang kami belum melihat pengingkaran apapun dari Asy
Syaikh Robi’ Al Madkholiy هداه الله terhadap orang yang menyebarkan
perkataannya itu.

Maka dengan bukti apa Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy berkata seperti
itu? Sifat Haddadiyyah yang manakah yang dimiliki oleh Syaikhuna Yahya
bin Ali Al Hajuriy dan para ulama serta para penuntut ilmu yang mulia
yang bersama beliau?

Maka sekarang aku akan menyebutkan apa yang ditulis oleh Asy Syaikh
Robi’ Al Madkholiy وفقه الله tentang Haddadiyyah bersama dengan
komentar kami terhadapnya yang menerangkan tentang berlepas dirinya
Ahlussunnah di Dammaj dari yang demikian itu, dan menerangkan lebih
berhaknya hizb baru –Mar’iyyun Barmakiyyun- dengan kebanyakan dari
sifat-sifat tersebut.

Bab Tiga: Bersama Risalah Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy “Aujuhusy
Syibh Bainal haddadiyyah Wa Bainar Rowafidh”

Di antara karakter Haddadiyyun adalah apa yang disebutkan oleh Asy
Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله dalam risalahnya: “Aujuhusy Syibh
Bainal haddadiyyah Wa Bainar Rowafidh”:

[Pasal Pertama: At Tuqiyyah (bertopeng)]

Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: Berikut ini apa yang
mudah untuk disebutkan dari sisi-sisi keserupaan antara mereka dan
rowafidh:

Sisi yang pertama: Tuqiyyah yang keras. Maka seorang Rofidhiy itu
mengaku padamu bahwasanya dia itu Ja’fariy dan mengakui sebagian
prinsip-prinsipnya dan aqidah-aqidahnya yang rusak. Sedangkan mereka –
yaitu pengikut Falih Al Harbiy- tidak mau mengakui bahwasanya mereka
itu Haddadiyyah, dan tak mau mengakui sedikitpun dari prinsip-prinsip
mereka dan apa yang mereka niatkan.

Komentar:

Sifat pertama dari Haddadiyyah adalah pemakaian topeng yang amat
sangat. Dan tidak ada pada Syaikhuna An Nashihul amin Yahya Al Hajuriy
dan orang-orang yang bersama beliau  رعاهم الله topeng apapun. Ini
kitab-kitab mereka, risalah-risalah mereka, kaset-kaset mereka, dan
selebaran-selebaran mereka, di situ mereka menuliskan nama-nama
mereka, kuniyah mereka, dan nisbat mereka dengan sangat terang-
terangan. Jika mereka mengunjungi para masyayikh mereka juga berbicara
dengan sangat terang-terangan sambil menjaga adab, karena kebenaran
itu lebih tinggi dan lebih agung daripada sesuatu apapun. Syaikhuna
Yahya Al Hajuriy  رعاه الله berkata:
(نحن نمشي على الوضوح رافعي الرأس).

“Kami berjalan di atas sikap jelas dalam keadaan mengangkat kepala.”

Dan ini merupakan sikap mengikut beliau pada jalan para Nabi عليهم
السلام . Alloh ta’ala berfirman:

قَالَ مَوْعِدُكُمْ يَوْمُ الزِّينَةِ وَأَنْ يُحْشَرَ النَّاسُ ضُحًى

“Berkata Musa: “Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kalian itu ialah
di hari raya dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari
sepenggalahan naik”. (QS. Thoha: 59).

Al Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata dalam tafsirnya: “Dan
demikianlah keadaan para Nabi, seluruh urusan mereka adalah terang,
jelas, tiada kerahasiaan di dalamnya, dan tiada pula butuh iklan untuk
melariskan.” (“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim”/4/hal. 612/Darul Atsar).

Adapun hizb baru –Mar’iyyun- maka alangkah banyaknya topeng mereka!
Dan telah banyak kami lihat hal itu dari mereka. Dan tidaklah berita
itu seperti melihat langsung. Keadaan mereka adalah seperti firman
Alloh ta’ala tentang munafiqun:
وَإِذَا لَقُواْ الَّذِينَ آمَنُواْ قَالُواْ آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْاْ
إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُواْ إِنَّا مَعَكْمْ إِنَّمَا نَحْنُ
مُسْتَهْزِئُونَ

“Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka
mengatakan: “Kami telah beriman”. Dan bila mereka kembali kepada
syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya Kami
sependirian dengan kalian, kami hanyalah berolok-olok.” (QS. Al
Baqoroh: 14).

Dan delegasi dari kota ‘Adn telah mengunjungi kami kemudian mereka
menyampaikan pertanyaan-pertanyaan kepada Syaikhunan Nashihul amin.
Dan di antara yang mereka sebutkan adalah: Bahwasanya Abdurrohman Al
‘Adniy berfatwa tentang bolehnya tuqiyyah (memakai topeng) dalam
kaitannya dengan fitnah ini. Maka Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه
الله menjawab bahwasanya yang demikian itu adalah termasuk dari jalan
Rofidhoh. Kaset soal-soal tersebut dan jawabannya terrekam pada
perekaman “Darul Atsar” di Dammaj.

[Pasal Kedua: Sirriyyah (kerahasiaan)]

Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: sisi kedua
adalah: kerahasiaan ketat di dalam kenyataan mereka dan situs mereka
di internet yang terkenal dengan: “Al Atsariy” yang kerahasiaannya
sampai pada derajat yang tak bisa disusul oleh firqoh manapun, yang
mana mereka menulis dengan nama-nama curian yang tak dikenal. Jika
salah seorang dari mereka mati tidak diketahui jasadnya ataupun
jejaknya. Dengan perbuatan ini mereka mengungguli Rofidhoh karena
Rofidhoh itu tetap dikenal, kitab-kitab tarikh dan al jarh wat ta’dil
penuh dengan nama-nama mereka dan keadaan mereka sekalipun mereka
memakai topeng dan kerahasiaan yang mana kebanyakan dari keadaan
mereka tidak nampak.

Komentar:

Sifat kedua dari Haddadiyyah adalah: sirriyyah (kerahasiaan). Dan
tidak ada pada Syaikhunan Nashihul Amin dan orang-orang yang bersama
beliau sirriyyah ini. Seluruh media massa yang mereka sebarkan menjadi
saksi terhadap yang demikian itu. Sementara itu, para penulis hizb
baru –Mar’iyyah- kebanyakan dari mereka adalah pelaku sirriyyah ini.

Termasuk dari para penulis gelap mereka yang mana tulisan-tulisan
mereka tersebar di situs “Asy Syihr” dan “Al Wahyain” milik kedua anak
Mar’i adalah:

Abdurrohman bin Ahmad Al Barmakiy, Abdulloh bin Robi’ As Salafiy,
Abdulloh bin Qosim Ad Dakhiliy, Abu Abdillah Abdul ‘Aziz bin Ahmad Al
Qohthoniy, Abdulloh bin Ahmad Al Khoulaniy, Abu Abdil Wahhab, Ibnush
Shobban Al Manshuriy, Abu Hajir As Salafiy, Abu Abdillah As Salafiy,
‘Ammar as Salafiy, Sa’id bin Ali Al Hamid, dan Ath Thoyyib Abul
Madiniy. (Rujuk “Mukhtashorul Bayan”/karya Asy Syaikh Abdul Hamid Al
Hajuriy, Asy Syaikh Abu ‘Amr Al Hajuriy, Asy Syaikh Muhammad Al
‘Amudiy dkk, Asy Syaikh Sa’id Da’as Al Yafi’iy, dan lainnya/hal.
68-69).

Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy telah mengumumkan nasihat-nasihat kepada
para penulis gelap tadi, dan menjelaskan kebatilan jalannya mereka,
dan menerangkan bahwasanya menerima berita dari para penulis gelap
yang sengaja merahasiakan diri tadi merupakan bentuk penyelisihan
terhadap prinsip-prinsip As Salafush sholih. Beliau رعاه الله juga
telah menyebarkan risalah ringkas berjudul “Ma Yashna’ul A’da’ Fi
Jahil Ma Yashna’ul Jahil Fi Nafsih.”

Beberapa para penasihat juga telah bangkit mencurahkan nasihat-nasihat
untuk mereka. Termasuk yang melaksanakan tugas nasihat ini adalah: Asy
Syaikh Abdul Hamid Al Hajuriy رعاه الله dalam risalahnya “As Saifush
Shoqil Wan Nushhul Jamil Fi Bayani Halil Majahil”, Abu Ishaq Ayyub bin
Mahfuzh Ad Daqil Asy Syibamiy رعاه الله dalam risalahnya “Fathul
‘Alimil Jamil Fi Ta’rifil Majahil”, dan “Qobla An Tas’al Ajib”, dan
Kholid bin Muhammad Al Ghorbaniy رعاه الله dalam risalahnya “Al
Barmakiy Bainas Sa’il Wal Mujib”, dan Abu Abdirrohman Umar bin Ahmad
Ash Shubaihiy رعاه الله  dengan qoshidahnya “Hadiyyatun Qoyyimatun Lil
Majahil”, dan yang lainnya.

Ternyata mereka tak mau tobat dan tidak mau sadar.

Adapun orang yang menampakkan pertolongan kepada Ahlussunnah Dammaj
dalam menghadapi Mar’iyyun tapi tidak mau terang-terangan menampakkan
namanya telah dikenal dengannya, maka kami berlepas diri dari apa yang
dilakukannya itu, karena perbuatannya itu adalah batil, menyelisihi
kejujuran, dan menyerupai gaya hizbiyyin dan mubtadi’ah.

Adapun perkataan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله tentang
Haddadiyyin: “Dan dengan amalan ini mereka telah mengungguli
Rowafidh”,

Kami katakan –semoga Alloh memberi kami taufiq-: Demikian pula
Mar’iyyun. Syaikhunan Nashihul Amin رعاه الله telah berkata pada
mereka: “Jadilah kalian itu menulis dengan nama-nama pinjaman seperti
orang-orang sebelum kalian belum lama ini. Para pengelola surat kabar
Rofidhoh “Al Balagh” lebih berani daripada kalian…” dan seterusnya.
(“Ma Yashna’ul A’da’ Fi Jahil Ma Yashna’ul Jahil Fi Nafsih.”/Karya Asy
Syaikh Yahya Al Hajuriy رعاه الله).

Adapun kejadian masa lalu yang mana sebagian Salafiyyun mengambil
faidah dari kitab “Al Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa’rifuha” karya Abu
Ibrohim Bin Sulthon Al ‘Adnaniy حفظه الله yang dikatakan tidak
dikenal, maka sungguh yang demikian itu adalah karena adanya pembelaan
para imam dakwah Salafiyyah padanya.

Fadhilatu Mufti wilayah selatan Kerajaan Saudi: Asy Syaikh Ahmad An
Najmiy رحمه الله ditanya: “Apa pendapat Anda terhadap sebagian ikhwah
yang menggambarkan kitab “Al Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa’rifuha” karya
Fadhilatusy Syaikh Abu Abdillah Bin Ibrohim Bin Sulthon Al ‘Adnaniy
dan “Madarikun Nazhor Fis Siyasah Bainat Tathbiqotisy Syar’iyyah Wal
Infi’alatil Hamasiyyah” karya Fadhilatusy Syaikh Abdul malik Bin Ahmad
ibnul Mubarok Ar Romadhoniy, dan kitab “Al Irhab Wa Atsaruhu ‘Alal
Afrod Wal Umam” karya Fadhilatusy syaikh Zaid Bin Muhammad Bin Hadi Al
Madkholiy bahwasanya kitab-kitab tadi merupakan kitab fitnah dan kitab
yang menggigit kehormatan para ulama dan da’i?”

Maka beliau رحمه الله menjawab: “Orang-orang yang berkata demikian,
perkataannya itu batil. Bahkan kitab-kitab ini memberikan peringatan
pada umat tentang kesalahan-kesalahan, dan wajib bagi kita semua untuk
memberikan peringatan terhadap kesalahan-kesalahan itu, dan menjauhkan
umat darinya. Kita tidak bisa memperingatkan umat dari kesalahan-
kesalahan tadi kecuali jika kita membaca kitab-kitab yang
membantahnya, sama saja kitab-kitab ini ataupun kitab yang lain. Oleh
karena itu, maka orang-orang yang berkata dengan perkataan tadi maka
ucapan mereka adalah batil, dan mereka adalah pelaku kebatilan dengan
persangkaan mereka tadi.”

Kemudian beliau رحمه الله ditanya: “Apa nasihat Anda, wahai Syaikh,
bagi orang membakar kitab-kitab ini, yaitu kitab “Al Quthbiyyah”,
“Madarikun Nazhor”, dan “Al Irhab” berdasarkan persangkaan mereka
tadi?”

Maka beliau menjawab: “membakar kitab-kitab yang menjelaskan kebenaran
dan memerintahkan untuk mengikuti kebenaran, melenyapkan kebatilan dan
memerintahkan untuk menjauhinya, barangsiapa melakukan itu tadi, maka
dia termasuk ke dalam orang yang menghalangi manusia dari jalan Alloh
عز وجل. –sampai dengan- Sesungguhnya perbuatan ini adalah perbuatan
ahli batil, perbuatan orang-orang yang sesat. Apakah mereka menjadikan
kitab-kitab ini seperti “Syamsul Ma’arif” dan yang lainnya dari kitab-
kitab sihir dan perdukunan?!! Tidak. Sesungguhnya perkataan tadi
adalah perkataan yang batil, persangkaan yang batil, pengakuan batil.
Wajib bagi orang yang mengucapkan perkataan tadi untuk bertaqwa pada
Alloh, dan hendaknya dia tahu bahwasanya dia dengan perbuatannya tadi
menghalangi orang dari jalan Alloh سبحانه وتعالى dan teranggap sebagai
orang-orang yang merusak di bumi …” dan seterusnya. (“Al Fatawal
Jaliyyah”/1/hal. 21-22/Darul Minhaj).

Beliau رحمه الله juga ditanya: “Apa pendapat Anda tentang orang yang
berkata: “Sesungguhnya kitab “Al Quthbiyyah” adalah kitab fitnah, dan
tidak boleh dibagi-bagikan di kalangan pemuda”?”.

Maka beliau رحمه الله menjawab: “Kitab “Al Quthbiyyah” di dalamnya ada
peringatan terhadap kesalahan-kesalahan yang terjadi. Sementara
peringatan terhadap kesalahan-kesalahan yang terjadi adalah wajib. Dan
Alloh سبحانه وتعالى memerintahkan para hamba-Nya untuk mengingatkan
orang-orang. Orang yang tahu sesuatu hendaknya memperingatkan orang
yang tidak tahu. Alloh telah menyebutkan jenis ini firman-Nya tentang
Musa:

وجاء رجل من أقصى المدينة يسعى قال يا موسى إن الملأ يأتمرون بك ليقتلوك
فاخرج إني لك من الناصحين

“Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota bergegas-gegas seraya
berkata: “Hai Musa, Sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding
tentang kamu untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah (dari kota ini)
Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasehat kepadamu”.
(QS. Al Qoshshosh: 20).

Orang ini datang dengan bergegas lalu menasihati Musa agar keluar dari
negri tersebut dan dari orang-orang yang bersekongkol untuk membunuh
beliau. Ketika dia berbuat itu apakah dia telah berbuat baik ataukah
berbuat kemungkaran?!! Sungguh dia telah berbuat baik. Yang demikian
itu adalah karena Musa –semoga sholawat dan salam Alloh tercurah pada
beliau- diinginkan Alloh  عز وجل untuk menjadi seorang Nabi yang mulia
dari kalangan ulul ‘azm (para pemilik tekad yang kuat), dan Alloh
ingin melalui beliau memberikan petunjuk pada umat-umat setelah itu.
Maka orang yang datang dan menasihatinya itu telah berbuat baik dan
bagus. Apakah dikatakan bahwasanya dirinya telah membuat fitnah?
Demikian pula orang yang memberikan peringatan pada manusia sekarang
ini, dan memperingatkan para penuntut ilmu dari orang-orang yang
menginginkan mereka tertimpa kejelekan, ingin membawa mereka untuk
memberontak pada pemerintah Muslimin, padahal Alloh سبحانه وتعالى
telah mengharomkan mereka dari yang demikian itu, maka orang-orang
yang memperingatkan dari yang demikian itu adalah para pemberi nasihat
untuk saudara-saudara mereka. Dan dengan ini kita tahu bahwasanya
kitab “Al Quthbiyyah” bukanlah kitab fitnah, dan sesungguhnya orang
yang berkata bahwasanya kitab ini adalah kitab fitnah, maka orang ini
atau orang-orang yang berkata demikian, maka ucapan mereka adalah
batil dan salah. Mereka adalah para pelaku fitnah yang ingin diam
terhadap kebatilan, sampai perkaranya jadi membesar, hingga
memungkinkan bagi pelaku kebatilan untuk memberontak, dan ketika itu
tertumpahlah darah, tercabutlah nyawa, dilanggarlah kehormatan,
terputuslah jalan, dan dihasilkanlah perkara-perkara yang biasa
terjadi dikarenakan pemberontakan terhadap pemerintah, disebabkan
karena dilakukannya perkara yang diharomkan oleh Alloh سبحانه وتعالى .
dan tidak diragukan bahwasanya orang yang memperingatkan manusia dari
kejelekan sebelum terjadinya, maka orang ini adalah penasihat, bukan
penyeru kepada fitnah. Dan bahwasanya orang yang mengatakan perkataan
tadi maka sungguh dia telah membalik fakta. Hakikat fitnah itu
hanyalah sikap diam terhadap perbuatan seperti tadi hingga perkaranya
jadi besar, hingga memungkinkan bagi orang-orang yang punya niat-niat
jelek untuk melakukan apa yang mereka inginkan. Maka ketika hal itu
telah terjadi apakah nasihat itu bermanfaat ?!! Apa pendapatmu jika
engkau tahu bahwasanya ada seseorang yang ingin berbuat jahat, atau
ingin membakar suatu tempat tertentu, dalam keadaan engkau tahu
bahwasanya ini adalah kezholiman, atau tahu bahwasanya orang-orang
yang ingin melakukan perbuatan tadi bahwasanya mereka adalah pelaku
kebatilan? Maka wajib bagimu untuk menyampaikan nasihat…” dan
seterusnya. (“Al Fatawal Jaliyyah”/1/hal. 31-32/Darul Minhaj).

Asy Syaikh Robi’ bin Hadi Umair Al Madkholiy وفقه الله ditanya: “Apa
pendapat Anda tentang kitab “Al Quthbiyyah”?”

Maka beliau وفقه الله menjawab: ‘Orang ini bertanya kepadaku tentang
kitab –hanya Alloh yang paling tahu- apa maksudnya. Apakah dia ingin
mengambil faidah ataukah maksudnya adalah fitnah? Alloh yang paling
tahu, karena sebagian pertanyaan memang demikian adanya. Aku katakan
padamu, sama saja apakah engkau menginginkan ini atau itu: Kitab “Al
Quthbiyyah” adalah kitab yang bermanfaat. Dia adalah kitab yang
menukilkan perkataan orang-orang itu dengan amanah, dan menjelaskan
cacat yang ada di dalamnya. Maka wajib bagi orang-orang yang dikritik
tadi untuk bertobat kepada Alloh dan tunduk kepada kebenaran dan
meninggalkan kesombongan dan kecongkakan. Dan wajib bagi orang yang
menyemangati mereka untuk terus berjalan di dalam kebatilan untuk
bertaqwa kepada Alloh. Penulisnya mengkritik dengan benar. Jika dia
punya kesalahan maka hendaknya mereka menjelaskannya dengan dalil-
dalil, nggak ada larangan. Adapun sekedar membikin pencampuradukan
terhadap kitab tersebut seperti itu, yakni: para Shohabat Rosululloh
صلى الله عليه وسلم dihinakan di dalam kitab-kitab Sayyid  Quthb, dan
engkau tidak mendapati dari Ikhwanul muslimin dan Quthbiyyin orang
yang membela mereka, tapi justru membela Sayyid Quthb dan
pengikutnya!? Apakah mereka lebih mulia daripada para Shohabat?!
Mestinya kemarahan ini diarahkan untuk membela para Shohabat Muhammad.
Kalian marah demi membela orang-orang yang dikritik dengan benar, tapi
kalian tidak marah demi membela orang-orang yang diberitakan dengan
kedustaan padahal mereka adalah umat yang paling utama setelah para
Nabi. Ini adalah dalil yang jelas dan cukup untuk memvonis bahwa
mereka adalah kelompok yang telantar. Wajib bagi mereka untuk bertobat
pada Alloh, dan menolong kebenaran, dan benar-benar mencondongkan
teman-teman mereka kepada kebenaran dengan berkata: “Kami telah
membaca kitab ini lalu kami dapati sang penulis jujur dalam tulisannya
itu. Maka wajib bagi kalian untuk kembali karena kalian sekarang ini
memimpin pemuda umat, kalian memimpin mereka kepada keterpurukan,
kepada kebatilan.” Ini yang wajib dilakukan. -sampai dengan ucapan
beliau:- Andaikata tidak didapatkan pada umat ini orang-orang seperti
penulis “Al Qythbiyyah” dan penulis “Madarikun Nazhor” dan berkata
pada ahlul batil “Ini batil, tinggalkanlah” maka artinya adalah
bahwasanya umat ini telah habis. Tapi umat ini tak akan habis insya
Alloh, demikian pula kelompok ini. Ini merupakan kemuliaan bagi mereka
–demi Alloh- untuk mengumandangkan kebenaran dan memvonis ahlul batil
itu batil.” Dst. (“Majmu’ Kutub Wa Rosail Wa Fatawasy Syaikh Robi’”/15/
hal. 188-189/Darul Imam Ahmad).

Kesimpulan: Sesungguhnya Salafiyyun Dammaj jauh dari sifat Haddadiyyah
walaupun demikian itulah tuduhan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy,
berbeda dengan para Mar’iyyun yang dia bela.

(Ini adalah akhir dari seri satu, dan insya Alloh akan kami sambung ke
seri dua pada pertemuan yang akan datang).

([1])  HR. Al Bukhoriy (6167) dan Muslim (2640) dari Abdulloh bin
Mas’ud  رضي الله عنه.

Print:
http://isnad.net/karakter-haddadiyyah-dalam-diskusi-ilmiyyah-bagian-pertama/print/

-- 
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Untuk mengirim tulisan baru gunakan: 
[email protected]
Arsip Milis:
http://www.mail-archive.com/[email protected]/
Audio/Artikel Belajar Manhaj dan Aqidah Yang Shahih :
www.ISNAD.net
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kirim email ke