FileHashes
CRC32: 810E4623
MD5: B868AE8A6D0A17D9FD1DC1F83E4BE1F5
SHA-1: 63F856D632E27D1BAC84EF9CD6AD3587077D3AD9
Download:
http://isnad.net/?dl_name=Karakter_Haddadiyyah_Seri-2.pdf

On Aug 20, 12:59 pm, postmaster <[email protected]> wrote:
> بسم الله الرحمن الرحيم
>
> Pengantar Tulisan ke Dua
> الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله، اللهم صل
> وسلم على محمد وآله أجمعين أما بعد
>
> Dengan pertolongan Alloh semata kami menyelesaikan seri dua dari
> terjemah risalah “Shifatul Haddadiyyah Fi Munaqosyatin ‘Ilmiyyah”.
> Isinya adalah pembahasan sifat ketiga dari Haddadiyyah, dan penjelasan
> secara ilmiyyah tentang bersihnya Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang
> bersama beliau dari sifat buruk tersebut, dan pembuktian kuat bahwa
> Mar’iyyah Barmakiyyah mereka itulah yang lebih pantas menjadi
> haddadiyyah dalam bab tersebut.
>
> Perlu juga saya tegaskan bahwasanya perkataan yang batil haruslah
> dibantah, sama saja, dalam perkara aqidah, fiqh, akhlaq, ataupun yang
> lainnya, siapapun yang mengucapkannya. Tentu saja jika yang salah
> berbicara tadi adalah seorang ulama Ahlussunnah, maka dalam membantah
> kesalahannya tadi haruslah tetap disertai dengan adab-adabnya. Dan
> tidak pantas jika dikatakan bahwasanya orang yang membantah suatu
> kesalahan ulama itu berarti dia telah mencerca ulama tadi. Demikian
> pula bantahan ana terhadap Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy ini. Silakan
> rujuk kembali kitab yang sangat berharga: “Al Farqu Bainan Nashihat
> Wat Ta’yir” karya Al Imam Ibnu Rojab  رحمه الله. Dan silakan rujuk
> juga kitab “Ajwibatusy Syaikh Robi’ Al Madkholiy ‘An As’ilati Abi
> Rowahatil Manhajiyyah”. Wallohu a’lam.
>
> [Pasal Tiga: Menolak sebagian Imam Salaf, Prinsip-prinsip Mereka, Dan
> Merendahkannya]
>
> Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: Sisi yang
> ketiga: Penolakan. Rowafidh menolak Zaid bin Ali ketika beliau
> berloyalitas pada Abu Bakr dan Umar, sementara Al Haddadiyyah menolak
> prinsip-prinsip Ahlussunnah dalam Al Jarh Wat Ta’dil, dan mereka
> merendahkan para imam Al Jarh Wat Ta’dil dan merendahkan prinsip-
> prinsip mereka.
>
> Komentar ana:
>
> Sifat ketiga dari Haddadiyyah adalah menolak sebagian prinsip-prinsip
> Ahlussunnah. Dan tidak ada pada Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang
> bersama beliau رعاهم الله penolakan macam ini.  Mereka tidak menolak
> seorangpun dari As Salafush Sholih, dan tidak menolak prinsip-prinsip
> Ahlussunnah dalam Al Jarh Wat Ta’dil, bahkan mereka kokoh di atas
> ilmu  Al Jarh Wat Ta’dil dan penerapannya sebagaimana mestinya,
> sebagaimana dulu syaikh mereka Al Imam Al Wadi’iy kokoh di atasnya dan
> berkata: “Adapun  Al Jarh Wat Ta’dil maka aku tidak akan
> meninggalkannya walaupun tiada seorangpun yang mendatangiku. Dan
> tidaklah kitab “Al Mushoro’ah” kecuali termasuk dalam bab
> ini.” (“Ghorotul Asyrithoh”/1/hal. 235/Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).
>
> Mereka juga tidak menolak satupun dari prinsip-prinsip Ahlussunnah,
> dan tidak merendahkan para imam Al Jarh Wat Ta’dil, dan tidak pula
> merendahkan prinsip-prinsip mereka yang benar. Seluruh media masa
> mereka sebagai saksi terhadap semua itu. Mereka mencintai As Salafush
> Sholih, mengagungkan mereka, mengikatkan diri dengan jalan dan prinsip-
> prinsip mereka, mengajak manusia kepadanya, dan memerangi orang-orang
> yang ingin menggoncangkan prinsip ini seperti Abdurrohman Al ‘Adaniy
> yang di antara ucapannya adalah: “Bahwasanya sebagian masalah zaman
> ini tidak disyaratkan padanya ada salafnya
> (pendahulunya).” (“Mukhtashorul Bayan”/ hal. 63).
>
> Adapun Syaikh kami Yahya Al Hajuriy حفظه الله ditanya oleh saudara
> kita Mahir bin Ali Ash Shobahiy حفظه الله: “Apakah disyaratkan untuk
> setiap masalah ada salaf (pendahulunya)?”
>
> Maka beliau حفظه الله menjawab: “Setiap masalah ada
> salafnya.” (“Mukhtashorul Bayan”/hal. 63).
>
> Ini juga aqidah Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله karena beliau
> saat saudara kita tadi menyodorkan padanya soal terdahulu, beliau حفظه
> الله menjawab: “Iya, setiap masalah harus ada salafnya.” Lalu beliau
> menyebutkan perkataan yang kesimpulannya adalah: Kita harus kembali
> pada salaf pada masalah-masalah yang ada, karena mereka adalah para
> pembawa agama, dan merekalah yang mengambil agama ini dengan segarnya
> dari Nabi  صلى الله عليه وسلمdan menerapkan pengajaran-pengajaran
> agama ini dengan keberadaan Nabi   صلى الله عليه وسلمdan persetujuan
> beliau, dan bahwasanya pengikat ini, pemahaman salaf, harus ada,
> karena masalah ini adalah jalan masuk yang darinya para pengekor
> kebid’ahan dan hawa nafsu.”
>
> Lalu beliau menyebutkan ucapan yang panjang khusus untuk bab ini.
> (“Mukhtashorul Bayan”/hal. 63).
>
> Ini adalah penjelasan ringan tentang kekokohan Asy Syaikh Yahya Al
> Hajuriy di atas Sunnah dan Salafiyyah, berbeda dengan hizbiyyun baru
> itu yang tidak merasa cukup dengan sebagian manhaj Salaf.
>
> Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: Mereka
> berkata: Pertama: “Apakah  Al Jarh Wat Ta’dil yang ada di dalam ilmu
> mushtholah itu memang sama dengan ucapan para imam dan ulama terhadap
> pengekor bid’ah dan hawa nafsu? Atau dengan makna lain: Apakah kaidah-
> kaidah ilmu ini diterapkan dalam perkataan terhadap para penganut
> aliran-aliran?”
>
> Komentar ana:
>
> Pertanyaan-pertanyaan ini dilontarkan oleh haddadiyyun untuk membikin
> manusia ragu terhadap ilmu mustholah. Sasaran mereka adalah:
> Bahwasanya kaidah-kaidah mushtholah tidak diterapkan dalam perkataan
> terhadap pengekor nawa nafsu dan bid’ah. Dan ini tentu saja sesuatu
> yang batil, tidak diucapkan oleh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan tidak
> pula beliau setujui.
>
> Bahkan sungguh orang-orang yang punya perhatian mendalam pada bidang
> mushtholah tahu bahwasanya bidang ini juga berbicara tentang ahlul
> bida’ dan pengekor hawa nafsu, sebagaimana dia juga berbicara tentang
> orang yang kurang hapalannya. kitab-kitab  Al Jarh Wat Ta’dil penuh
> dengan kritikan terhadap para pemeluk aliran yang menyimpang. Misalnya
> adalah:
>
> Al Imam Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari yahya bin Said Al Qoththon
> bahwa beliau berkata: “Aku bertanya pada Malik bin Anas tentang
> Ibrohim bin Abi Yahya, apakah dia itu tsiqoh?” maka beliau menjawab:
> “Tidak. Dia juga tidak tsiqoh dalam agamanya.” (“ Al Jarh Wat Ta’dil”/
> 2/hal. 126).
>
> Ibrohim ini mubtadi’ yang terkenal. Al Imam Ahmad berkata: “Dia itu
> qodariy, jahmiy, seluruh bencana ada padanya. Mereka meninggalkan
> haditsnya. Ayahnya tsiqoh.” (“Siyar A’lamin Nubala”/8/451/terjemah
> Ibrohim bin Abi Yahya/Ar Risalah).
>
> Al Imam Ibnu hibban meriwayatkan dari Yahya bin Ma’in bahwasanya
> beliau berkata: “Ibrohim bin Abi Yahya itu pendusta, rofidhiy,
> qodariy.” (“Al Majruhin”/1/hal. 107).
>
> Setelah menyebutkan sanad hadits ‘Aisyah –semoga Alloh meridhoinya-
> dari  jalur ‘Aun bin ‘Umaroh dari Abul ‘Ala –dan namanya adalah ‘Amr
> ibnul ‘Ala- dari Ibnu Sarh -namanya Sholih-, Al Imam Adz Dzahabiy رحمه
> الله berkata: “Aun itu dho’if (lemah), Sholih itu bukanlah orang yang
> sholih karena dia itu khorijiy.” (“Tadzkirotul Huffazh”/3/hal.
> 958-959 ).
>
> Contoh-contoh dalam bab ini banyak, tidaklah menentangnya kecuali
> orang yang mata hatinya buta seperti para haddadiyyun itu, dan
> bukanlah Darul hadits di Dammaj termasuk dari orang-orang yang
> berkeyakinan seperti aqidah mereka, dan tidak pula berpendapat seperti
> pendapat mereka.
>
> Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: Yang kedua,
> mereka berkata: “Sesungguhnya ilmu Al Jarh Wat Ta’dil itu di luar ilmu-
> ilmu syariat, dia punya ketentuan-ketentuan dan kaidah-kaidah terbatas
> dan terkenal, dijelaskan oleh para ulama mushtholah dalam kitab-kitab
> mereka. Adapun pembicaraan tentang para tokoh yang bukan termasuk para
> pembawa riwayat, maka ini membutuhkan ilmu yang meliputi syariat ini,
> mempelajari ushul, menelusuri dalil-dalil agar setelah itu bisa keluar
> dengan hukum terhadap orang ini: apakah dia telah menyelisihi manhaj
> Ahlussunnah Wal jama’ah ataukah tidak?”
>
> Komentar ana:
>
> Ini juga tidak diucapkan oleh Syaikhuna Yahya Al Hajuriy dan tidak
> pula disetujui oleh beliau. Bahkan ilmu Al Jarh Wat Ta’dil termasuk
> dalam ilmu-ilmu syariat Islamiyyah yang mulia dan agung.
>
> Al Imam Ibnush Sholah رحمه الله berkata: “Dan sesungguhnya ilmu hadits
> itu merupakan ilmu yang paling mulia, dan cabang yang paling
> bermanfaat, yang dicintai oleh pejantan dari lelaki dan jagoan mereka,
> yaitu: para peneliti dari kalangan ulama dan orang-orang sempurna
> mereka. Dan tidaklah membencinya kecuali orang-orang yang hina dan
> rendahan. Ilmu hadits merupakan ilmu yang paling banyak masuk ke dalam
> cabang-cabang ilmu syariat, terutama cabang ilmu fiqh yang mata itu
> merupakan mata air syariat. Oleh karena itu orang-orang yang
> meninggalkannya banyak mengalami kekeliruan, seperti para penulis dari
> kalangan fuqoha, dan nampak cacat tersebut pada perkataan orang yang
> ilmu haditsnya kurang, dari kalangan ulama.” (“Muqoddimah Ibnush
> Sholah”/1/hal. 3).
>
> Al Qodhi ‘Iyadh رحمه الله berkata pada para pencari hadits: “Karena
> sesungguhnya ilmu kitab dan atsar merupakan asal dari syariat yang
> mana kepadanyalah syariat itu menisbatkan diri. Dan keduanya merupakan
> pondasi ilmu-ilmu syariat yang di atasnyalah meninggi cabang-cabang
> dan bangunannya. Ini merupakan ilmu yang segar diminum, tinggi
> tuntutannya, memancar mata airnya, bercabang-cabang fasalnya dan
> cabangnya.
>
> Pasal pertama dari ilmu hadits adalah: mengetahui adab belajar,
> mengambil ilmu dan mendengarkan pelajaran. Kemudian: mengetahui ilmu
> hadits, sisi-sisinya dan dari siapakah mengambilnya. Kemudian:
> memantapkan hadits dan mengikatnya. Kemudian: menghapal hadits.
> Kemudian: memisahkan hadits-hadits dan memeriksanya dengan cara
> mengetahui mana yang shohih, yang lemah, yang hasan, yang bisa
> diterima, yang harus ditinggal, yang palsu, perselisihan riwayatnya,
> penyakitnya, memisahkan antara riwayat yang...
>
> read more »

-- 
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Untuk mengirim tulisan baru gunakan: 
[email protected]
Arsip Milis:
http://www.mail-archive.com/[email protected]/
Audio/Artikel Belajar Manhaj dan Aqidah Yang Shahih :
www.ISNAD.net
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kirim email ke