Resensi Buku di www.panyingkul.com                Selasa, 03-07-2007  
                                        
Ketika Pers Berpihak pada Mukhtaran Bibi
         
:: Mustamin al-Mandary :: 

         
                         Sebuah buku yang          menceritakan kisah perempuan 
Pakistan yang diperkosa secara          beramai-ramai sebagai tumbal adat 
istiadat. Menolak santunan yang          diberikan pemerintah, Mukhtaran Bibi, 
justru minta agar di desanya          dibangun sekolah untuk anak-anak 
perempuan supaya mereka tidak mengalami          nasib yang sama dengan 
dirinya. Kisahnya menyentak dunia karena mendapat          simpati pers, 
sebagaimana diulas citizen reporter Mustamin al-Mandary.(p!)         
         
         
Judul Buku   : In the Name of Honor (Atas Nama          Kehormatan) 
         Penulis        : Mukhtar Mai (dibantu          oleh Marie Thérèse 
Cuny) 
         Penerjemah : M. Lukman Sadikin 
         Tebal                     : 204 halaman
         Penerbit       : Pustaka Alvabet,          Jakarta, Maret 2007 
         
                                  Sejarah panjang manusia menempatkan          
perempuan pada posisi yang (hampir) selalu tertindas. Dari awal,          
“agama-agama” sudah menuduh Hawa – bekerja sama dengan Iblis – yang          
menyebabkan jatuhnya Adam dari surga. Sejarah awal Eropa dimulai dengan         
 keterkungkungan perempuan, penghapusan hak-haknya, dan pengebiriannya          
dari aktifitas sosial yang hampir semuanya milik laki-laki. Sebagian          
orang Yunani kuno mengatakan bahwa perempuan adalah laki-laki yang cacat.       
   Anak-anak perempuan yang baru lahir lazimnya di kubur hidup-hidup di         
 abad keenam di semenanjung Arabia. Amerika mengenal hak-hak politik          
perempuan baru di awal abad keduapuluh. 
         
         Sejarah kolonialisme dari abad keenam belas sampai dengan kolonialisme 
         modern saat ini, akrab dengan perempuan yang dieksploitasi dan         
 diperbudak. Di Jawa, “pemberontakan” Kartini menjadi indikasi awal dari        
  rentang waktu yang panjang peniadaan hak-hak dan penistaan perempuan.         
         
         Kita mungkin sedikit terhibur dengan kisah ratu Balqis yang menemukan  
        kesetaraan di depan Nabi Sulaiman, atau Cleopatra yang menjadi pemenang 
         dalam perebutan kekuasaan dengan laki-laki. Di Eropa mungkin kita 
akrab          dengan ratu, atau naiknya beberapa perempuan sebagai pemimpin di 
         beberapa negara di abad ini. Tetapi siapakah kelompok pekerja yang     
     paling sering dianiaya dimana-mana? Siapakah yang paling sering          
diperjualbelikan? Siapa yang paling sering diperkosa lahir batin? 
         
         Buku In the Name of Honor ini membuka mata kita sekali lagi          
tentang masih adanya pemerkosaan dan penistaan menjijikkan terhadap          
perempuan, kisah seorang perempuan yang diperlakukan tidak lebih dari          
seekor kambing yang bisa disembelih kapanpun, tentu saja setelah diperah        
  dan dinikmati laki-laki. 
         
         ***** 
         
         Buku ini menceritakan perjuangan panjang seorang perempuan bernama     
     Mukhtaran Bibi. Ditulis dengan gaya narasi, buku ini sangat enak dibaca    
      walaupun di beberapa tempat terdapat terjemahan yang cukup membingungkan, 
         misalnya cerita “Aku melewati malam demi malam…,” padahal kita tahu    
      bahwa kejadian itu terjadi hanya dalam satu malam. 
         
         Mukhtaran Bibi adalah seorang perempuan petani miskin dan tak tahu 
baca          tulis. Dia bisa membaca Alquran, hanya dengan mendengarnya. 
Mukhtaran          lahir dari kelompok sosial yang lebih rendah, kasta Gujar, 
yang tinggal          di desa Meerwala, di barat daya Punjab di daerah 
Muzaffargarh, Pakistan.          Di daerah ini, terdapat pula kasta Mastoi yang 
status sosialnya lebih          tinggi dan memiliki sebagian besar area 
pertanian di wilayah itu. 
         
         Tanggal 22 Juni 2002 adalah awal dari tragedi itu. Shakur, adik        
  laki-laki Mukhtaran yang kurang lebih berusia 12 tahun dituduh          
memperkosa Salma, sebuah tuduhan yang akhirnya tidak terbukti. Salma          
adalah seorang perempuan muda dari kasta Mastoi. Dalam sebuah pertemuan         
 adat yang didominasi oleh laki-laki dari kasta Mastoi, dewan adat          
kemudian memutuskan bahwa seorang perempuan Gujar harus meminta maaf          
kepada kaum Mastoi atas kejadian itu. Ternyata, pertemuan untuk prosesi         
 permintaan maaf dari perempuan Gujar itu telah dimanfaatkan oleh          
laki-laki kaum Mastoi untuk sebuah niat yang sangat menjijikkan. 
         
         Mukhtaran membentangkan selendang di hadapan laki-laki kaum Mastoi     
     sebagai simbol permintaan maaf kaumnya. Akan tetapi, kelompok laki-laki    
      itu, dikawal oleh laki-laki lainnya yang bersenjata, kemudian menyeret    
      Mukhtaran ke dalam sebuah bilik segi empat yang sempit. Di tempat itulah  
        empat orang laki-laki Mastoi memperkosa Mukhtaran secara bergantian,    
      entah berapa lama dan berapa kali. Setelah selesai, kelompok laki-laki    
      itu kemudian mendorongnya keluar dalam keadaan setengah telanjang untuk   
       kemudian bertemu dengan orang-orang yang sudah menunggunya dari tadi.    
      Mukhtaran telah diperkosa secara massal, atas persetujuan adat, untuk     
     “menghormati keadilan.” 
         
         ***** 
         
         Di pedalaman Pakistan, sebagaimana yang dituturkan kepada Marie 
Thérèse          Cuny, seorang penulis Perancis yang kemudian menyulap tutur 
Mukhtaran          Bibi menjadi buku In the Name of Honor ini, sebagian besar   
       kelompok masyarakat menempatkan perempuan sebagai objek penderita saja.  
        Apa yang menimpa Mukhtaran Bibi hanyalah puncak gunung es dari          
kejadian-kejadian yang terjadi hampir setiap hari. 
         
         Laporan Komisi HAM Pakistan tahun 2002 menyebutkan bahwa dalam enam    
      bulan pertama tahun itu, telah terjadi 150 kasus pemerkosaan di Punjab 
(hal.          140). Selain itu, komisi yang sama juga melaporkan bahwa sekitar 
226          gadis Pakistan di Punjab yang umumnya masih sangat muda, diculik 
untuk          dikawini secara paksa (hal. 145). Ironisnya, korban dari         
 kejadian-kejadian yang serupa ini menimpa perempuan-perempuan dari          
kelompok yang sama; miskin, berkasta rendah, tidak bisa baca tulis, yang        
  jangankan menyadari hak-haknya, mereka bahkan tidak tahu bahwa mereka         
 memiliki hak sebagai manusia. 
         
         Dalam kasus Mukhtaran Bibi, peran yang sangat signifikan telah 
dimainkan          oleh pers. Kegaduhan desa Meerwala setelah kejadian 
pemerkosaan massal          terhadap Mukhtar juga akhirnya sampai ke telinga 
para wartawan. Melalui          media massa, kisah Mukhtar kemudian beredar ke 
seantero Pakistan dan          sekitarnya, bahkan ke seluruh dunia hanya dalam 
waktu empat hari.          Simpati dan perhatian dari seluruh kalangan 
berdatangan, baik dari dalam          maupun luar negeri. Yang sangat 
mengharukan, ketika Mukhtar diberikan          santunan sebesar 500 ribu rupee 
oleh Menteri Pengembangan Perempuan yang          diutus khusus oleh presiden, 
Mukhtar hanya mengatakan bahwa dia tidak          membutuhkan uang, dia hanya 
butuh sekolah anak-anak perempuan di desanya          bisa bersekolah dan tidak 
mengalami nasib yang sama dengan dirinya. 
         
         Pemerintah Pakistan di penghujung tahun 2002 kemudian memenuhi 
janjinya          untuk mendirikan sekolah di desa Meerwala. Di sekolah inilah 
Mukhtaran          Bibi kemudian menjadi Mukhtaran Mai (kakak perempuan yang 
dihormati),          panggilan gadis-gadis kecil murid sekolah kepadanya. 10 
Desember 2002,          Mukhtar menerima penghargaan dari Komisi Hak Asasi 
Manusia Internasional.          Bantuan untuk sekolahnya mengalir dari berbagai 
penjuru dunia, khususnya          setelah profil Mukhtar Mai School di muat di 
The New York Times          pada bulan Desember 2004. Perkenalannya dengan 
Naseem, seorang perempuan          yang kemudian menjadi kepala sekolahnya, dan 
Mustapha Baloch yang          menghubungkannya secara lebih erat dengan dunia 
luar, menjadikan          cita-cita Mukhtar semakin mendekati kenyataan. Tahun 
2005 Mukhtar boleh          berbangga, sekolahnya telah memiliki 160 orang 
siswa dan lebih dari 200          murid perempuan. Ketika
 melihat murid-murid perempuan itulah Mukhtar          akhirnya tersenyum 
bahagia, dia yakin bahwa dia telah memenangkan          pertarungan itu! 
         
         Dengan bantuan pers, Mukhtar berubah dari seorang korban menjadi 
seorang          pejuang. Pers telah menggunakan fungsinya “pada waktu yang 
tepat”          sebagai pendamping dan pendukung perjuangan perempuan 
mendapatkan          hak-haknya. Berita dan pemaparan kasus Mukhtaran Mai, 
bahkan pemberitaan          tentang perjuangannya untuk membangun sekolah di 
desanya, bukan hanya          memenangkan Mukhtar dalam pengadilan, tetapi juga 
menjadi kunci          tercapainya cita-cita Mukhtar untuk mencerdaskan 
masyarakatnya, bukan          hanya dari klannya, tetapi juga dari klan Mastoi 
yang pernah          menghancurkan hidupnya. 
         
         Namun demikian, bukan berarti bahwa jalan Mukhtar cukup mudah. Di      
    kalangan pers Pakistan pada waktu itu, muncul pula beberapa tuduhan         
 bahwa Mukhtar telah dimanfaatkan dan dijual oleh pers asing untuk          
kepentingan-kepentingan tertentu. Tuduhan lain, Mukhtar dianggap telah          
membesar-besarkan kisah pemerkosaan terhadap dirinya untuk mendapatkan          
keuntungan tersendiri. Belajar dari dua modus kehadiran pers dalam kasus        
  Mukhtar, kita ternyata juga mendapatkan pelajaran lain, bahwa pers pun        
  bisa bermata dua. Tetapi lepas dari kedua modus tersebut, kita kini          
semakin perlu untuk menekankan pentingnya profesionalisme pelaku pers.          
Sejatinya, pers haruslah menjadi mitra dan pendukung dalam setiap usaha         
 untuk memulihkan hak-hak kaum tertindas, khususnya perempuan.(p!)         
         
         Mustamin al-Mandary bisa dihubungi melalui email: [EMAIL PROTECTED]    
     
                        

==========================================
Pustaka Alvabet
Ciputat Mas Plaza Blok B/AD
Jl. Ir. H. Juanda No. 5A, 
Ciputat, Jakarta 15411 Indonesia
Telp. +62 21  7494032, 74704875 Fax. +62 21 74704875
Website: http://www.alvabet.co.id
       
---------------------------------
Shape Yahoo! in your own image.  Join our Network Research Panel today!

Kirim email ke