Dari Harian Analisa, 24 Desember 2008

 


 
  
  Belajar Kiat Bisnis dengan Harry Potter 
  
 


 


 
  
  SEBUAH film dapat menuntun sesorang untuk menikmati filosofis yang ada
  padanya. 
  Maka tidak heran, sebuah film tidak hanya dinilai bagus
  dalam tataran akting maupun jalan ceritanya, tapi lebih dari itu, sebuah film
  diharapkan mampu memberikan edukasi kepada para penontonnya. Mark Rowlands
  dalam bukunya The Philosopher at the End of the Universe: Philosophy
  Explained Through Science Fiction Films dan sudah diterjemahkan dalam bahasa
  Indonesia berjudul Menikmati Filsafat melalui Film Science-Fiction (Mizan:
  Bandung, 2004). 
  Dalam buku tersebut Mark mencoba melihat ‘sisi lain’ dari film
  Frankestein, The Matrix, Terminator I & II, Total Recall & The Sixth
  Day, Minority Report, Hollow Man, Independence Day & Aliens, Star Wars
  serta Blade Runner. 
  Tentu saja, setiap ulasan yang digambarkannya cukup menarik, membawa
  kepada kita kepada alam filsafat sehingg mampu memberikan cara memanfaatkan
  film dalam kehidupan sehari-hari.
  Jika Mark Rowlands berupaya menggambarkan ‘ada sesuatu yang dapat diambil’
  dari film-film tersebut, rupanya Tom Morris tidak mau ketinggalan. Ia mencoba
  mengulas kisah Harry Potter. Nama Harry Potter tidaklah begitu asing bagi
  anak-anak di seluruh dunia. Selain novelnya laku keras dipasaran juga filmnya
  mendapat respon yang positif, sehingga menjadikan sang pengarang J.K Rowling
  sebagai milyuner baru hanya dari hasil tulisan Harry Potternya tersebut. 
  Bagi Tom, kisah Harry Potter bukan hanya sebuah kisah khayalan semata
  tetapi lebih daripada itu mampu memberikan sugesti kepada banyak orang untuk
  ‘bercermin’ lewat tokoh maupun kisah yang dimunculkan. Ia tidak hanya figur
  yang menjadi pahlawan bagi anak-anak semata, tetapi juga menjadi inspirasi
  terhadap bisnis manajemen.
  Dalam buku Harry Potter is Back! And Now He’s the CEO of General
  Electric, Tom berusaha melihat profil yang dipunyai para tokoh yang ada
  dalam kisah Harry Potter tersebut. Ada dua karakter heroik utama dalam cerita
  Harry Potter, Harry sendiri dari Profesor Albus Dumbledore. Ia seorang
  penyihir terhebat dan kepala sekolah Harry. Ia merupakan ‘pemimpin teladan’
  karena ia memimpin lewat contoh dan membimbing dengan dorongan. Ia merupakan
  orang yang sangat dipercaya, sehingga Hermione teman Harry  pernah
  berkata, “Dumbledore percaya padanya. Dan jika kita tidak percaya pada
  Dumbledore, maka kita tidak bisa mempercayai siapa pun.”
  Maka, dalam persoalan bisnis, kepercayaan adalah sesuatu yang utama. Tidak
  mungkin kita melakukan transaksi kalau tidak dimodali dengan rasa
  kepercayaan. 
  Di sepanjang enam buku Harry Potter, Rowling menerangkan pengalaman rasa
  takut semua karakter utamanya kecuali Harry. Ini artinya, ketakutan adalah
  bentuk manusiawi, tetapi rasa takut harus dihilangkan dengan rasa keberanian
  yang ia contohkan dengan sosok Harry Potter. Menurut Tom, berani bukan
  berarti tidak memiliki rasa takut. Berani berarti bertekad melakukan hal yang
  benar, bahkan di tengah kungkungan rasa takut. Paling tidak ada 5 resep Harry
  memperoleh keberanian yaitu, pertama, bersiaplah menghadapi tantangan. 
  Kedua, lingkungi diri dengan dukungan. Ketiga, katakan hal-hal yang positif
  pada diri sendiri.  Keempat, fokuskan diri pada apa yang sedang
  dipertaruhkan dan kelima ambil tindakan yang diperlukan (hal. 91)
  Dalam konsep manajemen kita mengenal istilah kesuksesan adalah buah dari
  persiapan. Diri kita sendirilah yang harus mengasah ketrampilan dan memoles
  perilaku yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan kita.
  Ketidakpercayaan pada diri sendiri membuat kita tidak mampu meraih sukses.
  Profesor McGonagall pernah menyinggung tentang hubungan ini kepada muridnya
  yang serba kikuk dan kurang berprestasi, teman satu asrama Harry di
  Gryffindor, Neville Longbottom, ketika ia mengatakan padanya: “Tak ada yang
  salah dengan pekerjaanmu kecuali kurangnya rasa percaya diri.” (hal. 95)
  Buku Harry Potter Is Back ini sungguh sangat menarik. Banyak hal yang
  tanpa terasa memberikan pelajaran bisnis kepada kita. Sehingga memang Tom
  Morris berusaha melihat sisi lain dari ‘kehidupan Harry Potter’ dalam sebuah
  bisnis manajemen.
  Bagi sebagian orang mungkin tontonan Harry Potter adalah sesuatu yang
  dikemas untuk anak-anak saja, tetapi tidak untuk Tom, baginya ada nilai lebih
  yang bisa ia ambil dari sebuah kisah Harry Potter.
  Oleh karena itu, bagi yang doyan membaca dan menonton film, gunakan
  kecerdasan untuk melihat lebih dalam apa yang ‘tersimpan’ dari sebuah buku
  dan film tersebut. Karena rupanya, banyak hal yang bisa kita ambil. Contohnya
  film Harry Potter dan diulas dengan apik oleh Tom Morris dari sisi kiat-kiat
  bisnis manajemen. Jadi jika Anda sudah melihat dan membaca buku Harry
  Potternya, tidak ada salahnya memiliki buku ini.
  
  Peresensi: Ali Murthado
  
 








      Kenapa BBM mesti naik? Apakah tidak ada solusi selain itu? Temukan 
jawabannya di Yahoo! Answers! http://id.answers.yahoo.com

Kirim email ke