=== Berbicara tentang keistimewaan Al-Fatihah, ada satu pertanyaan yang mungkin 
menggelitik kita semua, 

yaitu apakah ada yang lebih istimewa suatu surat atau ayat dalam Al-Qur`an 
dibandingkan dengan 

surat atau ayat lainnya? Bolehkah suatu surat atau ayat dianggap lebih mulia 
dan penting dari surat 

atau ayat lainnya?  

Dalam buku "Mukjizat Al-Fatihah" dijelaskan bahwa para ulama setelah meneliti 
sejumlah hadits yang menerangkan tentang keistimewaan beberapa surat 

atau ayat Al-Qur`an, berpendapat bahwa memang ada keistimewaan suatu surat atau 
ayat dari surat 

atau ayat lainnya dalam Al-Qur`an. 

Izzudin bin Abdissalam berkata, “Firman Allah tentang Zat-Nya lebih afdhal 
(utama) dari firman 

Allah tentang yang lainnya. Ayat Qul huwallaahu ahad lebih afdal dari ayat 
Tabbat yadaa abii lahab. 

Sebab, ayat Qul huwallaahu ahad menerangkan tentang keesaan Allah, sedang ayat 
Tabbat yadaa abii 

lahab menerangkan tentang kecelakaan Abu Lahab.” 

Namun, perlu dicatat bahwa keistimewaan tersebut bukan mengenai keagungan atau 
kedudukannya, tetapi 

semata-mata kelebihan tentang arti atau maknanya.

Banyak hadits Rasulullah saw yang menerangkan tentang keistimewaan Al-Fatihah, 
di antaranya adalah 

sebagai berikut. 


1. Paling Utama

Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan, “Yahya bin Said menyampaikan kepada kami 
dari Syu’bah yang 

menerima kabar ini dari Hubaib bin Abdurrahman, dari Hafidz bin Ashim, dari Abu 
Said Al-Ma’alli ra, 

‘Ketika aku sedang shalat, Rasulullah memanggilku. Aku tidak menyahut. Setelah 
selesai shalat, aku 

mendatangi beliau.’ 
Rasulullah bersabda, ‘Kenapa kamu tidak segera mendatangiku?’ 
Aku menjawab, ‘Karena aku sedang shalat, ya Rasulullah.’ 
Kemudian, Rasulullah bersabda, ‘Aku akan mengajarkan kepadamu surat yang paling 
utama dalam Al-

Qur`an sebelum kamu keluar dari masjid ini, yaitu Alhamdulillaahi rabbil 
‘aalamiin (dan seterusnya) 

ialah tujuh ayat yang berulang-ulang dan itulah Al-Qur`an Al-Azim yang telah 
disampaikan 

kepadaku.’” 

2. Tidak Ada yang Menyerupainya dalam Taurat, Zabur, Injil, dan Al-Qur`an

Imam Malik bin Anas meriwayatkan dalam kitabnya, Al-Muwaththa, dari Al-‘Ala bin 
Abdurrahman bin 

Ya’kub Al-Haraqi bahwa Abu Sa’id Maula ibnu Amir bin Kuraiz mengabarkan kepada 
mereka, “Rasulullah 

saw memanggil Ubay bin Ka’ab, sementara Ubay bin Ka’ab sedang shalat. 
Setelah selesai shalat, Ubay bin Ka’ab mendatangi Rasulullah, kemudian 
Rasulullah memegang tangan 

Ubay dan bersama-sama berjalan keluar dari masjid sambil bersabda, ‘Aku ingin 
kamu jangan keluar 

dari masjid ini sebelum mengetahui satu surat yang tak pernah diturunkan dalam 
Taurat, Injil, dan 

tidak pula dalam Al-Qur`an yang menyamainya.’ 
Ubay berkata, ‘Aku memperlambat jalanku dan bertanya kepada Rasulullah, 'Surat 
apakah itu, ya 

Rasulullah?’ Lalu, Rasulullah membaca, ‘Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin (dan 
seterusnya), inilah 

surat itu, yaitu tujuh ayat yang berulang-ulang dan dialah Al-Qur`an Al-Azhim 
yang telah 

disampaikan kepadaku.’” 

3. Langsung dari Arsy 

Al-Hakim meriwayatkan dalam kitabnya, Al-Mustadrak, bahwa Rasulullah saw telah 
bersabda, 

“Amalkanlah semua yang terdapat dalam Al-Qur`an, halalkanlah apa yang 
dihalalkannya, haramkanlah 

apa yang diharamkannya, dan patuhilah ia. Jangan sekali-kali engkau ingkari apa 
yang ada di 

dalamnya. Pada apa-apa yang kamu tidak mengerti maksudnya, kembalikanlah kepada 
Allah dan orang-

orang yang memiliki pengetahuan sesudah aku meninggal nanti, supaya diterangkan 
kepadamu. 

Berimanlah kamu kepada Taurat, Zabur, Injil, dan apa saja yang dibawa oleh para 
nabi dari Tuhan 

mereka. Al-Qur`an dan segala keterangan yang tercantum di dalamnya akan memberi 
kelapangan 

kepadamu. Sesungguhnya Al-Qur`an itu pemberi syafaat, sesuatu yang tak pandai 
berbicara tetapi 

membawa kebenaran. Sedangkan surat Al-Fatihah diberikan kepadaku langsung dari 
Arsy.” 

4. Sebagai Obat (Penawar)

Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Abu Sa’id Al-Khudri berkata, “Pada suatu hari, 
kami bermalam di 

suatu dusun. Seorang budak perempuan datang kepada kami dan berkata, ‘Kepala 
desa di sini sedang 

sakit dan tak seorang pun di antara kami yang dapat mengobatinya. Adakah di 
antara tuan-tuan yang 

dapat mengobatinya?’ Salah seorang dari kami berdiri dan mengikuti budak tadi. 
Kami tidak yakin ia 

dapat mengobatinya. Ia membacakan sesuatu, dan ternyata kepala desa itu sembuh. 
Ia diberi hadiah 30 

ekor kambing dan kami disuguhkan susu. Ketika ia kembali, kami bertanya, 
‘Apakah yang kaubaca tadi? 

Apakah engkau tukang mantra?’ Ia menjawab, ‘Tidak, saya bukan tukang mantra, 
tetapi saya hanya 

membacakan Ummul Kitab (Al-Fatihah).’ Kami berkata, ‘Jangan kabarkan kejadian 
ini kepada siapa pun 

sebelum kita tanyakan kepada Rasulullah.’ Sesudah sampai di Madinah, kami 
mendatangi Rasulullah dan 

menceritakan kejadian itu. Rasulullah bersabda, ‘Al-Fatihah itu obat.’” 

Kisah ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Abu Daud. Dalam beberapa 
riwayat dari Imam Muslim 

diterangkan bahwa penyakit orang tersebut adalah terkena sengatan binatang 
berbisa, dan orang yang 

mengobati itu adalah Abu Sa’id Al-Khudri sendiri. 

Menanggapi hadits di atas, para ulama berbeda pendapat tentang maksud 
Al-Fatihah yang dapat 

mengobati penyakit. Pokok perbedaan pendapat itu bermuara pada hadits di atas 
dan ayat-ayat Al-

Qur`an berikut ini. 

“Wahai manusia! Sungguh telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur`an) dari 
Tuhanmu, penyembuh bagi 

penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang 
beriman.” (QS Yunus 

[10]:57) 
“…Katakanlah, ‘Al-Qu`an adalah petunjuk dan penyembuh bagi orang-orang yang 
beriman….’” (QS 

Fushshilat [41]:44) 
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an (sesuatu) yang menjadi penawar (obat) dan 
rahmat bagi orang-orang 

yang beriman….” (QS Al-Isra [17]:82) 

Berdasarkan ayat-ayat dan hadits di atas, para ulama sepakat bahwa Al-Qur`an 
itu merupakan obat. 

Namun, obat bagi penyakit apa, para ulama berbeda pendapat. Sebagian ulama 
berpendapat bahwa Al-

Qur`an menjadi obat bagi penyakit batin atau rohani, bukan obat bagi penyakit 
jasmani. Namun, 

sebagian lagi berpendapat bahwa Al-Qur`an dapat menjadi obat bagi penyakit 
rohani dan jasmani. Di 

antara ulama besar yang berpendapat bahwa Al-Qur`an, khususnya Al-Fatihah, 
dapat menjadi obat bagi 

penyakit jasmani dan rohani adalah Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. 

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitabnya, Madarij As- Salikin, menulis, “Tidak 
ada perbedaan pendapat 

mengenai Al-Fatihah dapat menjadi obat bagi penyakit rohani. Selain itu, 
Al-Fatihah dapat pula 

menjadi obat bagi penyakit jasmani sebagaimana telah diterangkan dalam hadits 
sahih yang 

diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Para ulama ahli hadits (muhadditsin) tidak 
berselisih pendapat 

mengenai kesahihan hadits tersebut. Dalam hadits tersebut diterangkan dengan 
jelas bahwa penyakit 

tersebut sembuh dengan dibacakan Al-Fatihah.” 
“Al-Fatihah banyak mengandung rahasia dan hikmah yang sangat tinggi. Di 
dalamnya terkandung 

penjelasan tentang tauhid, penyerahan diri kepada Allah, pujian kepada Allah, 
nama-nama Allah yang 

baik dan dapat Mukjizat Al-Fatihah mendatangkan kebaikan, yang salah satunya 
adalah kesembuhan. 

Inti persoalannya memang bukan semata-mata sebagai obat, tetapi bergantung pada 
tingkat keimanan 

dan keyakinan kita kepada Allah karena Dialah yang menyembuhkan,” demikian 
tulis Ibnu Qayyim Al-

Jauziyah. 

Selengkapnya: http://qultummedia.com/Keistimewaan-Surat-Al-Fatihah.html


------------------------------------

================= Bacayo.NET - Segalanya tentang buku =================
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/bacayo/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/bacayo/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke