HTML clipboard
 

Jejak Berdarah
Sang Penakluk
 
 

Resensi Buku 
Jenghis Khan (John Man)


Jawa Pos 
| Minggu, 29 Maret 2009 | Oleh Misbahus Surur*
 
 HTML clipboard 
HTML clipboardSyahdan, awal 2003, mencuat segugus informasi pada 
jurnal bulanan, American Journal of Human Genetics. Sebuah tulisan 
bertajuk The Genetic Legacy of The Mongols melaporkan penemuan penting 
adanya kesamaan pola gen pada populasi yang tersebar antara lautan Kaspia 
hingga 
Samudra Pasifik. Laporan itu adalah hasil riset dan kajian mendalam sekelompok 
ilmuwan genetika terhadap sampel pola DNA kromosom Y yang dimiliki sejumlah 
2000-an pria di kawasan Eurasia. Singkatnya, mereka membuat kesimpulan cukup 
mengejutkan; ternyata dari 16 juta pria yang telah mereka teliti, merupakan 
bagian dari satu keluarga yang sangat besar. 

Pada saat pertama kali menyimpulkan riset itu, Tatiana Zerjal, salah seorang 
peneliti, sempat bergumam: ''Jenghis Khan!'' Meskipun pada awalnya dugaan 
tersebut mirip sebuah lelucon, dalam perjalanan waktu semakin banyak bukti 
(dari 
data yang telah ada), bahwa keterangan itu merupakan penjelasan terbaik. Mereka 
berkesimpulan bahwa Jenghis Khan dan bala tentaranyalah yang telah menyebarkan 
ciri genetika itu, dari Tiongkok Utara, sebagian Eropa sampai Asia Tengah pada 
1209 hingga kematiannya sekitar 1227, saat mereka menginvasi daerah-daerah 
tersebut.



Jenghis Khan adalah tokoh sentral bangsa Mongol di abad 13. Sosok yang semasa 
kecil dikenal sebagai Temujin itu adalah keturunan raja. Ayahnya, Yasugei, 
adalah seorang khan (raja) yang mengepalai 13 kelompok suku Borjigin, salah 
satu 
suku utama Mongol yang terkenal gagah perkasa. Saat ayahnya terbunuh dalam 
suatu 
kudeta perebutan kekuasaan suku Borjigin, Temujin baru menginjak usia 13 tahun. 
Karena itu, ia tidak pernah dianggap sebagai penggantinya.



Ketika Temujin menginjak usia remaja, ia menjadi pemuda yang tangkas dan 
berani. 
Bakat kepemimpinan yang mengalir di tubuhnya, semakin kelihatan saat ia berumur 
20 tahun. Suatu kali, secara diam-diam Temujin mengumpulkan kembali seluruh 
pengikut ayahnya dan melatih mereka dengan disiplin keras. Singkat cerita, ia 
balik menyerang bekas lawan politik ayahnya dan merebut kembali tahta khan suku 
Borjigin. Tak berselang lama, ia berhasil pula menyatukan suku-suku Mongol yang 
hidup terpencar antara Sungai Dzungaria dan Irtish. Bahkan pada 1202, 
Huraltai --majelis besar suku-suku Mongol-- menahbiskannya sebagai khan bagi 
seantero orang Mongol, dengan gelar fenomenal: Jenghis Khan atau Sayyid 
al-Mutlaq dalam bahasa Arab, yang berarti raja diraja.



Mengenai sejarah penghancuran yang pernah dilakukan Jenghis, tak banyak orang 
tahu. Mungkin sejauh ini, porsi yang paling sering kita dengar adalah 
penyerangan mereka atas Kota Baghdad, Irak. Karena itu, buku ini hadir 
mengkhususkan diri ihwal bangsa Mongol dengan informasi yang memikat. Dari buku 
ini kita akan mengetahui berbagai ulasan menarik terkait bangsa Mongol dan 
seluk-beluk kehidupan mereka. Lebih-lebih, perbuatan holocaust mereka 
atas beberapa wilayah yang merentang dari Tiongkok Utara, Tiongkok Barat, 
Kazahkstan Selatan, Tajikistan, Transoxania, dan Samarkand yang dulu merupakan 
wilayah dinasti Islam Khwarezm, hingga wilayah Timur Tengah dan sebagian Eropa.




''Belum pernah ada sebelumnya sebuah budaya yang memiliki dan menggunakan 
kekuatan untuk membinasakan seperti bangsa Mongol. Dan belum pernah juga sebuah 
budaya menderita sebagaimana yang tak lama lagi akan diderita dunia muslim,'' 
kata John Man, seorang travel writer ini.



Invasi dan sasaran Jenghis pertama adalah daerah-daerah tetangga. Tentunya, 
daratan Tiongkok yang membentang luas itulah yang paling dekat. Padahal, 
menurut 
John, yang juga penulis Gobi: Tracking the Desert (2001), Tiongkok di 
abad 13 adalah wilayah yang terbagi atas tiga daerah dinasti besar yang kuat 
dan 
sedang bersaing ketat. Yakni Jin, Sung, dan Xi Xia. Dari ketiga daerah itu, Xi 
Xia adalah titik terlemah yang diincar Jenghis. Negeri inilah kelak dalam 
catatan sejarah, daerah pertama yang digempur pasukan Mongol.



Penaklukan Baghdad 

Pada 1258, tentara Mongol yang berkekuatan sekitar 200.000 orang tiba di salah 
satu pintu Baghdad. Setelah diblokade puluhan hari, dinding-dinding Kota 
Baghdad 
yang kuat itu diserang pasukan Hulagu (salah seorang cucu Jenghis Khan). Tak 
ayal, kebiadaan segera meledak. Pembantaian, penjarahan, pemerkosaan, dan 
pembakaran berlangsung di mana-mana. Bala tentara Mongol menjarah dan 
menghancurkan masjid, istana, rumah sakit, bangunan kota, kanal-kanal, tanggul 
sistem irigasi, juga bangunan bersejarah. Tak ketinggalan, perpustakaan di Kota 
Baghdad pun ikut dihancurkan. Yang mengenaskan, ribuan koleksi buku dibuang ke 
Sungai Tigris hingga warna air sungai itu berubah hitam sewarna tinta. Para 
penakluk biadab itu membunuh sekitar 800.000 penduduk, termasuk Khalifah 
Abbasiyah, Al-Musta'sim, keluarga besar beserta seluruh pembesar kerajaan. 
Dalam 
sejarah, serangan ini mengakhiri era kekhalifahan Islam yang gilang-gemilang.



Penaklukan kota megapolitan Islam itu barangkali dapat mewakili keingintahuan 
kita akan peristiwa laknat sepanjang sejarah umat manusia tersebut. Kota Seribu 
Satu Malam yang menurut deskripsi John, dirancang berbentuk lingkaran sempurna 
dengan dinding pertahanan rangkap tiga yang dijaga 360 menara, berukuran sama 
dengan Paris di akhir abad kesembilan belas, dengan kekayaan yang tidak kalah 
itu, luluh lantah. Padahal Baghdad kala itu menjadi magnet kaum pedagang, 
cendekiawan, serta ratusan seniman yang datang dari berbagai penjuru, seperti 
Spanyol dan India Utara (hlm. 242).



Sekitar 1227, Jenghis Khan menemui ajalnya. Sebuah kematian yang rahasia, tak 
banyak orang tahu detailnya. Sampai sekarang kejadian yang hampir berumur 800 
tahun itu masih menjadi mitos yang dikerubungi teka-teki. Diriwiyatkan, sebelum 
meninggal ia jatuh sakit gejala tifus. Sejarawan umumnya sepakat bahwa penyakit 
tersebut telah menjangkiti daerah kurang lebih 100 kilometer selatan pegunungan 
Liupan, daerah Qing Shui, Provinsi Gansu saat ini (hlm. 342-346). Dan, hingga 
hari ini, Jenghis Khan seperti menjadi sosok abadi yang terus hidup dalam gen 
seluruh keturunannya.



Membaca sejarah Mongol ibarat menyaksikan sejarah kelam diaroma pembantaian 
manusia. Sebuah riwayat kelam praktik genosida yang pernah terjadi di negeri 
ini, sebelum era tanam paksa. Yakni saat pembangunan jalan mega raksasa 
Anyer-Panarukan di masa Daendels. Nyawa rakyat kecil yang terpaksa ditumbalkan 
untuk pembangunan jalan sepanjang 1.000 kilometer itu, menurut sumber Inggris, 
mencapai 12.000 jiwa. Sebuah praktik genosida yang tentu saja dapat kita 
sejajarkan dengan kekejaman bala tentara Jenghis saat itu. (*)



* Misbahus Surur, pembaca sejarah, kuliah S-2 di UIN Malang 



_______________________________

DATA 
BUKU:

Judul                : JENGHIS 
KHAN

      
Legenda 
Sang 
Penakluk 
dari


Mongolia

Penulis            : 
John 
Man

Penerjemah     : Kunti Saptoworini

Editor              : Indi Ainullah

Genre              : Sejarah/Biografi

Cetakan           : I, 
November 2008; II, Desember 2008; III, Maret 2009                        


Ukuran            : 13 
x 
20 
cm

Tebal               : 576 halaman

ISBN               
: 978-979-3064-71-0

Harga              
: Rp. 89.900,-



==========================================
Pustaka Alvabet
Ciputat Mas Plaza Blok B/AD
Jl. Ir. H. Juanda No. 5A, Ciputat
Jakarta Selatan Indonesia 15411
Telp. +62 21  7494032, 
Fax. +62 21 74704875
www.alvabet.co.id




      

Kirim email ke