Setiap orang, dengan segala profesi dan potensinya, pasti pernah mengalami syndrome 'why me'? Ketika sebuah realita tidak berjalan lurus seperti angan yang dipancangkan, ratap keluh akan langsung terhampur menembus pintu langit. Tuhan begitu kejam, hidup tidak adil, semua orang membenciku, dan seabrek keluh kesah akan langsung menghilangkan kekuatan jiwa.
Tak ada yang salah dengan sedih yang tercipta ketika peristiwa kelam mendera. Ketika tercipta sebuah pukulan, pasti terasa panas pada kulit yang merasakan. Tatkala tersiram air panas, pasti akan melepuh kulit manusia. Hidup mengajari kita dengan banyak hal. Tuhan berbicara kepada manusia lewat banyak bahasa. Tidak selalu dengan cerita yang indah. Seringkali, malah, dengan coba dan uji derita. Sesungguhnya, dalam setiap derita yang menghajar, kehidupan sedang menyepuh kita menjadi indah sekilau mutiara, wangi seharum minyak zaitun, tegak setegar batu karang. Deret postingan setelah ini adalah tutur sebuah kisah liku cinta jarak jauh terpisah negara, berbalut keikhlasan berkorban sebagai manusia, di tengah guyuran berbagai coba demi mengeja arti sebuah kata, kesabaran. Sebuah jejak langkah yang membentuk pribadiku hingga menapak seperti sekarang. Kawan, cerita ini merupakan sebuah penghormatan akan kisah kehidupan yang telah tergelar. Mari bersama-sama menikmati wisata batin dengan menyelami lautan kehidupan yang terhampar dalam cerita berikut ini. Rasakan, betapa hati Anda akan dilembutkan oleh tetes embun yang keluar dari tiap kalimat yang mendendangkan kisah perjuangan hidup manusia. Subhanallah, semoga Allah merahmati pembaca cerita ini. Mereka akan mendapatkan kebaikan dengan membaca cerita indah yang tersaji. http://www.penyejukembun.blogspot.com Salam hangat, Gie

