Salam...
Hampir semua orang pernah dihadang oleh keraguan-raguan, tidak peduli apapun
latar belakang seseorang, pastilah dia pernah mengalami situasi yang sulit,
yaitu situasi keragu-raguan.
Orang yang memiliki sifat peragu terhadap hal-hal yang 'mudah' dan 'material'
tidaklah terlalu penting untuk dibahas, tapi keraguan seseorang dalam menyikapi
suatu permasalahan YANG SERIUS seperti apakah Tuhan itu ada? Apakah Surga itu
Ada? Apakah Neraka itu ada? Apakah ada kehidupan setelah mati , ini adalah hal
yang lain dan perlu untuk kita teliti, apakah keraguan terhadap masalah-masalah
seperti itu bisa abadi melekat kepada seseorang?
Mari kita lihat, apakah mungkin dan masuk akal (logis) kalau kita ragu
SELAMANYA terhadap beberapa hal yang serius seperti yang dipertanyakan diatas
itu?
Bicara kemungkinan yang masuk akal (logis) tentu kita harus membicarakan alat
ukur yang dipakai oleh akal dalam menentukan hasil akhir dari aneka kemungkinan
yang disodorkan kehadapan akal.
Alat ukur akal (falsumeter) yang terkenal dan disebut sebagai induk dari alat
ukur adalah 'prinsip kontradiksi'. Alat ukur ini terkenal karena hampir semua
orang , sadar ataupun tidak sadar TELAH menggunakannnya dalam kehidupan
sehari-hari. Dan begitu juga dalam urusan logika dan semua persoalan keilmuan,
hampir semua bidang keilmuan membutuhkan falsumeter yang bernama 'prinsip
kontradiksi' ini.
Ini adalah hal yang sudah semestinya, karena tanpa prinsip kontradiksi ini maka
punahlah semua ilmu-ilmu modern dan sekaligus runtuhlah prinsip logika yang
diajarkan oleh Aristoteles. Prinsip Kontradiksi adalah dasar dari semua
prinsip logika dan pemikiran manusia.
Sebelum kita membicarakan apa dan dimana orang-orang menggunakan alat serupa
falsumeter (prinsip kontradiksi) itu, maka ada baiknya kita tahu terlebih
dahulu tentang hukum kontra (kontradiksi) yang sedang kita bicarakan.
Kontra segala sesuatu adalah 'tiadanya' sesuatu tersebut, atau dengan kata lain
bahwa segala sesuatu penolakan atau penafikan bagi yang lain adalah kontra
(peniadaan) bagi yang lainnya.
Hmm.agak ribet juga yah :) , Nanti akan lebih mudah kalau kita sudah pakai
contoh-contoh.
Dengan patokan hukum kontra tersebut, maka sudah semakin jelas bagi kita bahwa
tidak mungkin ada sebuah kalimat atau pernyataan yang sama-sama benar dengan
kalimat / pernyataan kontra-nya. Dan sebaliknya juga, mustahil ada suatu
preposisi yang sama-sama salah dengan preposisi kontra-nya.
Ini bisa kita buktikan dengan mudah dan jelas seperti berikut :
Kita ambil contoh yang pertama dari pertanyaan diatas, apakah Tuhan itu ada? ,
Disini akan muncul 3 kondisi dalam pikiran kita , yaitu :
1. Kita Ragu (skeptis).
Pikiran kita ragu untuk menjawaban pertanyaan apakah :
a. Tuhan Ada
b. Tuhan Tidak ada
Pada posisi ragu, maka seseorang tidak melihat kedua permasalahan diatas secara
berat sebelah. Mereka melihat kedua pilihan preposisi itu secara seimbang dalam
pikirannya, pilihan A tidak lebih berat ketimbang dengan pilihan B.
2. Kita Condong kesalah satunya ( estimasi ).
Kita bisa saja condong kepada salah satu pilihan yang ada, kecondongan itu
disebut estimasi.
3. Kita Yakin.
Pikiran kita langsung otomatis yakin (memilih) kepada salah satu pilihan, yaitu
:
a. Tuhan Ada
b. Tuhan Tidak ada
Dari ketiga kondisi pikiran kita diatas, kondisi kedua dan ketiga akan kita
bahas dalam kesempatan lain, dan sekarang kita mau lihat lebih kedalam lagi
tentang kondisi yang pertama, yakni keraguan (skepstis).
Keraguan akan muncul jika seseorang lebih sering menggunakan penalaranan yang
bersifat ekstemporal, yakni suatu proses pencarian yang dimulai dari membaca
alam sekitarnya. Mempertanyakan sesuatu yang tidak dia ketahui, kemudian
merubahnya menjadi sesuatu yang dia ketahui. Atau suatu proses pengumpulan
premis-premis yang diketahui menjadi sebuah pengetahuan yang baru.
Metode seperti ini sangat cocok digunakan dilingkungan ilmuwan dan para
peneliti. Sebagai contoh, dulu orang belum tahu kalau besi itu memuai jika
dipanaskan. Maka ketika ada yang bertanya, apakah besi akan memuai jika
dipanaskan? Maka orang akan menjawab tidak tahu.
Tidak tahu karena persoalan yang ditanyakan itu masih diragukan, tetapi setelah
diadakan beberapa uji coba maka diketahui bahwa besi akan memuai jika
dipanaskan. Dengan mengetahui kenyataan ini maka dengan sendirinya orang-orang
akan menafikkan kontra dari premis yang semacam itu. Yakni premis bahwa besi
TIDAK akan memuai jika dipanaskan.
Jelas terlihat sekarang, bahwa walaupun seseorang berangkat dari keragu-raguan
maka dalam perjalanannya dia hanya akan menemukan satu pilihan , yaitu 'prinsip
kontradiksi' yang mengatakan tidak mungkin ada satu premis yang sama-sama
betul dengan premis kontranya. Hanya ada satu pilihan yang betul dalam dua
pilihan yang kontradiksi dan keraguan akan HANYUT ketika dia bertabrakan dengan
ilmu pengetahuan.
Salam,
Iman K.
www.parapemikir.com