HTML clipboard
Membongkar Rahasia
Kekayaan Godfather Asia
Resensi Buku Asian
Godfathers (Joe Studwell)
Media Indonesia
| Sabtu, 06 Juni 2009 | Oleh M. Iqbal Dawami*
Pada 1996, setahun sebelum krisis finansial
Asia mengubah wajah ekonomi, majalah Forbes dalam rilis tahunannya
tentang individu-individu terkaya mendaftar delapan pengusaha Asia Tenggara di
antara 25 teratas dunia dan 13 di antara 50 teratas.
Inilah barisan terdepan para godfather
Asia, yang masing-masing memiliki harta pribadi lebih dari US$4 miliar. Mereka
mampu menyumbang sepertiga dari dua lusin orang terkaya di planet ini, dan
merekalah pengendali utama roda perekonomian di kawasan Singapura, Malaysia,
Thailand, Indonesia, Hong Kong, dan Filipina.
Siapa sejatinya mereka? Dan bagaimana mereka
bisa seperkasa itu?
Buku Asian Godfather: Menguak Tabir
Perselingkuhan Pengusaha dan penguasa menjawab kedua pertanyaan tersebut.
Inilah buku tentang sekelompok kecil orang-orang yang sangat kaya—para
miliarder
Asia—yang muncul dan mendominasi ekonomi kawasan mereka di era pasca Perang
Dunia II.
Untuk keperluan pembahasan buku ini, Asia
Tenggara didefinisikan sebagai lima negara anggota asal Perhimpunan
Negara-negara
Asia Tenggara (ASEAN)—Singapura, Malaysia, Thailand, Indonesia, dan
Filipina—plus Hong Kong, sebuah tempat yang secara tradisional jadi pusara
sehingga memungkinkannya jadi bagian dari ‘China Raya’ dan Asia Tenggara,
sesuai
dengan kepentingan dirinya.
Keenam entitas itulah yang menentukan cerita
ekonomi kawasan mereka. Mereka menjadi kontributor di kawasan tenggara yang
pada
1993 mendapat julukan sebagai ‘Keajaiban Asia Timur’ dari Bank Dunia. Adapun
godfather (para miliarder Asia) yang dimaksud di antaranya Li Ka-shing,
Robert Kuok, Dhanin Chearavanont, Liem Sioe Liong, Tan Yu, dan Kwek Leng Beng.
Berpengalaman sebagai reporter selama belasan
tahun di kawasan Asia, Joe Studwell, penulis buku ini, melukiskan secara detail
potret diri dan lakon bisnis para godfather: keberanian, kekejaman,
kedermawanan, kelihaian, keculasan, kehidupan seksual, pergulatan membangun
kongsi, serta komitmen dan pengkhianatan terhadap politisi, preman, juga triad
dan sindikat.
Penggunaan istilah godfather dalam
buku ini bertujuan merefleksikan tradisi-tradisi paternalisme, kekuasaan
laki-laki, penyendirian dan mistik yang benar-benar jadi bagian dari kisah para
taipan Asia. Adapun inspirasi judul buku ini bersumber dari novel dan film
Mario
Puzo, dengan judul yang sama, the Godfather.
Berdasarkan pengamatan Studwell, para
godfather Asia adalah elite yang tidak khas, sebuah aristokrasi ekonomi dari
orang luar yang bekerja sama setengah hati dengan kalangan elite lokal. Secara
kultural, para godfather Asia adalah para bunglon yang cenderung
berpendidikan bagus, kosmopolitan, berbahasa lebih dari satu dan sepenuhnya
terisolasi dari perhatian membosankan dari orang-orang yang dianggap sanak
mereka. Lebih dari itu—dan berlawanan dengan prasangka umum—para taipan di
kawasan tersebut jauh dari sifat kechinaan. Hanya minor yang benar-benar China
dengan afiliasi kultural serta linguistik yang kuat pada China.
Para taipan lain memang benar-benar China,
tapi telah kehilangan banyak afiliasi kultural mereka. Banyak dari mereka orang
Eurasia, meski garis darah non-China kadang-kadang dipandang sebagai sumber
kerendahan martabat dan dinistakan. Bahkan, ada pula godfather yang sama
sekali bukan China.
Buku ini menunjukkan, perilaku mayoritas
etnis China di kalangan taipan tidak berbeda secara substantif dari para taipan
Inggris atau Skotlandia di Hong Kong, godfather etnis Spanyol di Filipina
atau orang terkaya di Malaysia, yang merupakan orang Tamil Sri Lanka. Mereka
didefinisikan, pertama, dalam konteks ke-godfather-an dan, kedua,
berdasarkan ras.
Dalam bagian awal, Studwell berusaha
mengemukakan struktur organisasi tiap negara atau tiap godfather. Dia
mengorganisasinya dengan tema-tema. Sementara itu, bagian dua, yang berjudul
“Bagaimana Menjadi Godfather Pascaperang”, menggambarkan bagaimana para
godfather mengembangkan aliran kas inti, membangun organisasi yang tepat dan
mengembangkan kapabilitas perbankan, dengan contoh-contoh untuk mendukung
setiap
pernyataannya.
Studwell mengemukakan fakta dan pendapatnya
bahwa penciptaan kekayaan riil mestinya menaikkan produk domestik bruto (PDB).
PDB di Asia Tenggara sangat terkait dengan nilai ekspor dari tahun ke tahun.
Sayang, para godfather tidak memainkan peran dalam sektor bisnis ekspor
karena kompetisi yang sangat ketat, beda halnya dengan sektor monopoli yang
tanpa persaingan. Dalam hal ini, menurut Studwell, mereka tidak memiliki
kontribusi terhadap perkembangan ekonomi dalam suatu wilayah; lemahnya
pemerintahan-lah yang membuat mereka tetap meneruskan monopoli mereka terhadap
aset-aset yang mereka kelola.
Pada akhirnya, Studwell menolak pandangan
bahwa menjadi orang China memberikan potensi ajaib untuk mendapatkan kesuksesan
dalam ekonomi. Studwell menunjukkan bahwa pre-dominasi etnis China di antara
para godfather sebenarnya berasal dari masa kolonial dan pola-pola
emigrasi dan bukan dari sifat genetis.
* M. Iqbal Dawami,
staf pengajar STIS Magelang
_____________________________
DATA BUKU
Judul :
ASIAN GODFATHERS
Penulis : Joe
Studwell
Penerjemah : Yanto
Musthofa
Editor :
Julie Indahrini
Penerbit :
Alvabet, Jakarta
Genre :
Ekonomi-politik
Cetakan : I,
Maret 2009
Ukuran :
15,5 x 23 cm
Tebal :
xli + 387 (termasuk indeks)
ISBN :
978-979-3064-63-5
Harga : Rp.
85.000,-
==========================================
Pustaka Alvabet
Ciputat Mas Plaza Blok B/AD
Jl. Ir. H. Juanda No. 5A, Ciputat
Jakarta Selatan Indonesia 15411
Telp. +62 21 7494032,
Fax. +62 21 74704875
www.alvabet.co.id