HTML clipboard 
 


Ke Cina Leonardo da Vinci Bermuara
 
 

Resensi Buku 1434: Saat Armada China 
Berlayar... (Gavin Menzies)



Ruang Baca Koran Tempo | Minggu, 26 Juli 2009 | Oleh Katamsi 
Ginano*
 
 
 

Di abad ke-21, Cina adalah naga yang makin 
kokoh menancapkan cakar. Pertumbuhan ekonomi yang meroket setelah revolusi 
kebudayaan dan lompatan besar tak hanya membawa negara berpenduduk lebih satu 
miliar jiwa ini ke pencapaian kemakmuran yang didukung infrastruktur masif dan 
teknologi tinggi, melainkan juga ekspansi budaya yang kian tak terbendung.
 

Hari ini nyaris tak ada produk modern yang 
bebas sentuhan Cina. Dari jarum pentul hingga produk gadget berteknologi 
tinggi berlabel merek terkemuka Amerika atau Eropa tak lepas dari produksi, 
kemasan, atau minimal sumbangsih sedikit komponen dari Cina. Dan produk 
kebudayaannya, sesederhana kue bulan (moon cake), bakso, film, karya seni, 
dan sastra menerobos batas-batas wilayah hingga ke pelosok terpencil. Televisi 
dan jaringan Internet mengukuhkan kedigjayaan itu.
 

Ratusan buku dan ribuan karya ilmiah sudah 
mengupas bagaimana Cina menggeliat dari ketertinggalan, terutama dibanding 
Barat 
Amerika dan Eropa atau bahkan tetangganya, Jepang, dan dengan cepat mencapai 
kemakmuran ekonomi hanya kurang dari 30 tahun. Daya apa yang menjadi rahasia 
hingga mereka dapat segera menyejajarkan diri dengan pencapaian bangsa lain, 
dan 
bahkan dengan pasti mulai menjadi salah satu pemimpin terdepan di kancah global?
 

Membaca literatur-literatur terkini itu, bisa 
disimpulkan, apa yang dicapai Cina adalah perpaduan kompleks persaingan 
bertahan 
hidup penduduknya, kerja keras, etos, kecerdasan, budaya, dan sejarah 
peradabannya yang merentang hingga puluhan abad ke belakang. Dan bahwa Cina 
hanyalah tertidur sementara, yang ketika terbangun bersigegas menggembalikan 
kejayaannya sebagaimana yang pernah dicatat sejarah.
 

Buku berjudul 1434: Saat Armada Besar Cina 
Berlayar ke Italia dan Mengobarkan Renaisans yang ditulis Gevin Manzies dan 
diterbitkan Pustaka Alvabet (April 2009) ini adalah konfirmasi bahwa cepat atau 
lambat Cina akan mengulang sejarah dominasi yang pernah dicapai, yang berpuncak 
di awal abad ke-15. Buku yang diterjemahkan dari 1434: The Year a Magnificent 
Chinese Fleet Sailed to Italy and Ignited the Renaissance (William Morrow, 
2008) ini sekaligus juga melengkapi dan mempertegas peran besar bangsa Cina 
bagi 
peradaban modern yang dipapar penulis yang sama lewat karya best seller-nya,
1421: Saat China Menemukan Dunia (Pustaka Alvabet, 2006) --dialih 
bahasakan dari 1421: The Year China Discovered The World (Batam Book, 
2002).
 

Dominasi Cina di peta dunia bermula di tangan 
penguasa pertama Dinasti Ming, Kaisar Zhu Di, yang pada Februari 1421 berhasil 
menundukkan semua penguasa di kawasan yang membentang sepanjang Asia, Arab, 
Afrika, dan Samudera Hindia. Demi mengukuhkan dan memperluas kekuasaannya, 
Maret 
di tahun yang sama, Sang Putra Langit ini mengirim armada kapal berjumlah 
ribuan 
yang dipimpin lima laksamana kasim (para lelaki yang dikebiri), masing-masing 
Laksamana (Utama) Cheng Ho, Kasim Agung Hong Bao, Kasim Zhou Man, Laksamana 
Zhou 
Wen, dan Kasim Agung Yang Qing.
 

Armada raksasa itulah, menurut Menzies di 
1421, yang berhasil memetakan bola dunia di saat bangsa Eropa masih berada 
di zaman kegelapan. Penjelajahan mereka bukan hanya sukses mengeksplorasi Benua 
Amerika --jauh sebelum Colombus mengaku menemukan benua ini --Australia, tapi 
juga hingga jauh ke jantung Kutub Utara. Bangsa Cina menyempurnakan pula 
pengetahuan navigasi, pemetaan, dan perbintangan mereka, menyebarkan genetika 
Cina --yang bahkan bisa ditemukan pada beberapa suku Indian di pengunungan 
Andes 
--serta aneka flora dan fauna di hampir seantero jagad.
 

Pendek kata, pada 1421, armada yang dipimpin 
Laksamana Cheng Ho berhasil menyingkap hampir seluruh laut dan daratan yang ada 
di muka bumi.
 

Prestasi besar armada laut Cina itu mendadak 
berhenti ketika Zhu Gaozi, pengganti Kaisar Zhu Di yang wafat pada 1424, 
mengambil alih kekuasaan. Penguasa baru ini memensiunkan Laksamana Cheng Ho dan 
laksamana lainnya, serta memerintah seluruh kapal ditambat dan dibiarkan 
membusuk digerogoti air laut.
 

Namun arah kekuasaan sekali lagi tiba-tiba 
berubah saat Kaisar Zhu Gaozi mendadak wafat pada 1425 dan digantikan anak 
laki-lakinya, Zhu Zhanji. Kaisar yang baru ini, yang kelak dikenang sebagai 
salah satu penguasa terhebat dalam sejarah Cina, mengaktifkan kembali armada 
lautnya, dan bahkan memberi kuasa pada Laksamana Cheng Ho dan Wang Jinghong 
untuk bertindak atas namanya.
 

Pada 1434, Kaisar Zhu Zhangji yang telah 
menunjuk Laksamana Cheng Ho sebagai Duta Besar memerintah ekspedisi pelayaran 
yang hampir setara dengan armada yang dikirim kakeknya ke Mesir dan Venesia. 
Kendati tak sebesar armada yang dilayarkan pada 1421, ekspedisi untuk 
“mengajari 
serta memerintahkan bangsa barbar tunduk dan patuh kekaisaran Cina” ini, 
menurut 
perkiraan Menzies dan para sejarawan yang dia rujuk, tetaplah berbilang ratusan 
kapal.
 

Armada yang dipersenjatai aneka persenjataan 
berat menggunakan mesiu ini mengangkut bermacam hadiah yang menunjukkan 
ketinggian peradaban bangsa Cina di masa itu. Bukan hanya produk keramik atau 
sutera yang sudah dikenal di Eropa sejak abad ke-13 saat Marco Polo 
menginjakkan 
kaki di Cina.
 

Berlayar meninggalkan Nanjing dengan 
menunggang angin monsum melintasi Samudera Hindia menuju India dan Afrika, 
armada Cheng Ho mampir ke Kairo, Mesir, sebelum akhirnya mencapai Venesia. Dari 
Venesia, para utusan ini kemudian ke Florensia menemui sang penguasa, Paus 
Eugenius IV, mempersembahkan berbagai hadiah yang mereka bawa, yang kesemuanya 
tergolong sangat modern bagi Eropa di abad ke-15.
 

Temuan-temuan Menzies membuktikan bahwa 
hadiah-hadiah itu, terutama pengetahuan perbintangan (astronomi), kalender 
dengan akurasi tinggi, peta-peta dunia yang dihasilkan dari ekspedisi 1421, 
seni 
dan arsitektur, buku-buku teknologi percetakan dan pertanian, serta teknologi 
logam, pembuatan senjata, dan taktik militer, segera meledakkan pencerahan 
Eropa 
dari Florensia --yang justru di masa itu relatif terisolasi.
 

Oleh mereka yang kemudian dikenal sebagai 
intelektual (bahkan penemu) abad pertengahan seperti Paolo Toscanelli, 
pengetahuan hadiah dari bangsa Cina itu disebarkan. Bahkan Colombus yang 
bertahun-tahun kemudian berlayar dan ditahbiskan sebagai penemu benua Amerika, 
sesungguhnya berbekal peta yang disalin Toscanelli dari peta milik bangsa Cina. 
Sama halnya dengan Ferdinand Magellan, yang diklaim sebagai penemu Selat 
Magellan, yang justru melayari selat tersebut dengan panduan peta salinan yang 
sama.
 

Pemikir besar seperti Copernicus, yang 
kemudian diikuti oleh Johanes Kepler dan Galileo Galilei, pun ternyata hanyalah 
“penyampai” dari apa yang sudah diketahui bangsa Cina sebelumnya ke seluruh 
Eropa dan dunia. Dan yang mengejutkan, Menzies juga membuktikan bahwa 
kejeniusan 
Leonardo da Vinci yang selama berabad-abad dipercayai sebagai penemu aneka ide 
modern yang melampaui zamannya, ternyata tak lebih dari “penggambar jenius dan 
penyempurna yang mahir” dari apa yang sudah digambarkan dalam kitab Cina seperti
Nung Su (ensiklopedi pertama yang diterbitkan pada 1313 berisi penjelasan 
dan ilustrasi berbagai jenis mesin) dan eksiklopedi saku Wu-ching Tsung-yao.
 

Gavin Menzies yang menulis 1434 juga
1421 lewat penelitian lebih 30 tahun di 120 negara dan lebih dari 900 
meseum dan perpustakaan, tak pelak tengah menarik gerbong besar penulisan 
kembali sejarah peradaban manusia modern dengan bangsa Cina sebagai titik 
pusatnya. Yang bisa kita bayangkan, andai Cina tak menarik diri setelah 
ekspedisi 1434 akibat terjebak dalam konflik politik dan perebutan kekuasaan di 
dalam negeri, wajah dunia pasti sama sekali berbeda.
 

Mungkin bukan Amerika yang kini meng-adidaya, 
melainkan penemunya: Bangsa Cina.
 

* 
Katamsi Ginano, praktisi komunikasi 
dan business development, juga pecinta buku.
 

__________________________________________

 
DATA BUKU

  Judul               
  : 1434: Saat Armada China Berlayar ke Italia dan Mengobarkan Renaisans

  Penulis            
  : Gavin Menzies

  Penerjemah     : Kunti 
  Saptoworini

  Editor             : 
  Indi Aunullah

  Genre             : 
  Sejarah

  Cetakan          : I, 
  April 2009

  Ukuran            : 15 x 
  23 cm (plus flap 8 cm)

  Tebal              : 452 
  halaman

  ISBN              : 
  978-979-3064-74-1

  Harga              : Rp. 
  89.000,-


==========================================
Pustaka Alvabet
Ciputat Mas Plaza Blok B/AD
Jl. Ir. H. Juanda No. 5A, Ciputat
Jakarta Selatan Indonesia 15411
Telp. +62 21  7494032, 
Fax. +62 21 74704875
www.alvabet.co.id




      

Kirim email ke