Hanya meneruskan email dari teman, bahwa ada novel baru, katanya cukup menarik judulnya Elegi Angin Pagi semoga manfaat bagi penulis maupun bagi pembaca _______________________ berita baik :
untuk menambah referensi belanja buku kita. info penting ini bisa di teruskan kepada yang lain salam, http://www.harypr.com 08124966039 ; 081559665758 Judul : ELEGI ANGIN PAGI (Sebuah Novel) Penulis : Hary Pr Cetakan 1 : April 2009 ISBN : 978-979-16848-1-1 Tebal Buku : 237 halaman Ukuran : 13 x 19,5 cm Penerbit : Frame Publishing, DIY Katalog Buku AKAR Indonesia, Carangbook, Framepublishing dan [sic] Kontak: 081-22729237, 081227004439 Email: [email protected], [email protected] Sinopsis Cover ... Angin, sebagai tokoh utama dalam cerita ini, pada akhirnya menapak puncak nasib getirnya. Bukan nasib getir karena percintaan yang gagal bersama Agung atau Anja, atau hubungan yang tak harmonis dengan dosennya yang membuatnya kemudian ditahan polisi. Akan tetapi, satu hal: justru pada saat ia, sebagai sarjana muda, dipinang masyarakat untuk mengabdikan di tanah kelahirannya sebagai calon kepala desa ia malah diculik, dianiaya dan dilepaskan setelah hampir setengah gila. Jadi, bukan kebetulan, jika nama tokoh utama ini, Angin, bertemu dengan ungkapan “Elegi Pagi”, yang maknanya lebih kurang, angin pagi yang semestinya segar, menyejukkan, terimbas panasnya intrik politik. Lagu sedih pantas mengiringinya. Sebuah novel yang menampilkan politik dalam konsep masyarakat yang paling bawah. http://peberbitakarindonesia.blogspot.com/ ”.. Namaku: Semilir Angin Nusantara. Kata Bapak, itu makna dari sekian banyak kejujuran. Semua teranalogikan dengan kebiasaan kentutnya. Tidak peduli bau atau tidak, yang penting aku beranjak dan menggerutu. Kata Emak, itu keberanian memikul tanggung jawab sekian juta kehidupan. Sama seperti celotehan Buyutku ketika mengisahkan keberanian dan kebersihan hati Sri Rama mencari Shinta yang diculik Rahwana. Tapi, kenapa perjalanan hidupku menjadi pengecut dalam mempertahankan harapan. Aku gagal kawin yang pertama hanya karena dia berbeda ras dan memiliki status yang tinggi di daerahnya. Dan yang kedua, aku ternyata juga tidak bisa berontak saat aku memergoki kekasih hatiku kepergok berkeringat birahi disulur otaknya dengan orang yang tak kukenal...” Untuk mendapatkan : 1. Toko-toko Buku Kesayangan Anda 2. Ke Penulis: Jl. Jaksa Agung Suprapto No. 71A-B RT. o3 RW. o3 Banyuwangi - Jawa Timur, 68416 ; http://www.harypr.com ; email: [email protected] ; Telp./SMS ke 081559665758, 08124966039 3. Ke Penerbit, Telp./SMS ke o81-22729237, Email: [email protected] DARI POLITISI KE SASTRAWAN Radar Banyuwangi | 26 Mei 2009 Hary Priyanto, atau yang lebih akrab dengan panggilan Bung Hary Pr memberi hadiah para sastrawan Banyuwangi. Kemarin, minggu 24 mei 2009, ayah dari Semilir Angin Nusantara ini melaunching novel yang berjudul Elegi Angin Pagi. Novel yang diterbitkan oleh Frame Publishing, DIY, pada April 2009 dengan ukuran 13x19,5 cm dan 237 halaman ini cukup membanggakan sekaligus mengejutkan bagi sastrawan dan pemerhati sastra Banyuwangi. Bagaimana tidak, Hary Pr yang lebih dikenal sebagai praktisi sosial politik ini tiba-tiba masuk ke dunia novelis. Menurut Hary, penulisan novel Elegi Angin Pagi yang berisikan sejarah hidup, perdebatan pikiran diantara heningnya batin pribadinya tersebut dimulai sekitar pukul 23.oo WIB di hari Selasa, o6 Juni 2oo6 s/d Sabtu, o9 Desember 2oo6. Namun karena munculnya saran-kritik dari beberapa kawan diskusinya, pada September 2oo7 s/d Januari 2oo8, Hary Pr melakukan perubahan disain penulisan, baik yang bersifat pengurangan maupun penambahan materi cerita, termasuk novel tersebut ia beri judul: Angin. Hary menceritakan, bahwa semenjak masuk ke meja penerbit, sekitar bulan Nopember 2oo8 hingga akhir Februari 2oo9, Angin harus melewati ketatnya proses ‘penyaringan’ dari pihak penerbit. Kemudian, sekitar awal Maret 2oo9 s/d awal April 2oo9 Hary mendapatkan berita dari pihak penerbit jika Angin bisa meneruskan ke proses editing. Dan diantara hasilnya, Angin harus mendapatkan ‘teman’ yaitu : Elegi dan Pagi. Dalam novel Elegi Angin Pagi, Novelis baru yang dimiliki Banyuwangi ini mencoba mengajak pembaca untuk masuk kedalam ruang percintaan, sejarah, sosial politik, dan bahkan mengajak pembaca untuk lebih mengenali ‘dirinya’ sendiri. Hary mengilustrasikan: bahwa Angin, sebagai tokoh utama pada akhirnya menapak puncak nasib getirnya. Bukan nasib getir karena percintaan yang gagal bersama Agung atau Anja, atau hubungan yang tak harmonis dengan dosennya yang membuatnya kemudian ditahan polisi. Akan tetapi, satu hal: justru pada saat ia sebagai sarjana muda yang dipinang masyarakat untuk mengabdikan di tanah kelahirannya sebagai calon kepala desa, malah diculik, dianiaya dan dilepaskan setelah hampir setengah gila. Jadi, bukan kebetulan, jika nama tokoh utama ini, Angin, bertemu dengan ungkapan “Elegi Pagi”, yang maknanya lebih kurang, angin pagi yang semestinya segar, menyejukkan, terimbas panasnya intrik politik. Lagu sedih pantas mengiringinya. Yang jelas, menurut warga Jl. Jaksa Agung Suprapto 71A-B Banyuwangi ini, Banyak hal terjadi di dunia, diantaranya: manis dan pahit. Pada novel perdana saya ini, saya menjauhkan diri untuk jadi penentu manis atau pahit dari ‘Elegi Angin Pagi’ karena saya yakin bahwa pikiran, renungan dan ucapan pembacalah yang layak menjadi penentu. Catatan Kecil buat Angin yang Pagi Oleh: Taufiq Wr. Hidayat Membaca novel yang ditulis Hari Pr. berjudul "Elegi Angin Pagi", terasa oleh kita udara segar pedesaan, harum tanah sehabis tersiram embun, dan wangi daun-daun pohonan mahoni. Kesegaran pedesaan yang ditulis Hari dalam novelnya mengajak pembaca larut ke dalam sebuah ruang dinamisasi masyarakat pedesaan yang masih murni dari nilai-nilai individualistik, masih menganut dengan kental nilai-nilai tradisi tanpa terkotori oleh kegiatan kota yang menjauh dari realitas kesejatian hidup. Kondisi itu dalam pandangan Hari Pr., mungkin adalah sebentuk kondisi yang mapan (sehingga harus dibongkar), atau mungkin kondisi rawan yang rentan terhadap pengaruh dari luar. Desa tidak menjadi eksklusif, ia menjadi inklusif sehingga ia menerima pengaruh dan wacana dari luar potensinya sendiri. Dengan demikian, desa yang digambarkan sedemikian ideal dalam novel "Elegi Angin Pagi" yang baru-baru ini diluncurkan itu, mengalami distorsi dan kegamangan nilai-nilai. Persoalan ini dimulai dari perjalanan sang tokoh Angin. Angin adalah orang desa yang melanjutkan kuliahnya di desa. Di desanya, ia menghadapi realitas masyarakat yang tidak berpendidikan, sehingga keberadaan sang Angin menjadi tumpuan harapan warga desanya. Dengan berbekal semangat dan kehendak untuk memberikan yang terbaik bagi desanya, sang Angin pun mulai mengabdi pada desanya itu. Tapi, apa yang terjadi? Sang Angin harus menghadapi dinamika politik di desa terkait kepemimpinan desa. Ketika ia tengah memberikan sebentuk pengabdian bagi desanya, ia malah diculik dan dilepaskan setelah hampir mengalami goncangan jiwa. Mungkin setting waktu novel ini adalah di tahun-tahun masa Orde Baru, di mana marak penculikan dan pelarangan atau sensor. Angin dianggap sebagai anak-cucu PKI karena ia sangat suka menyanyikan lagu Genjer-genjer ciptaan kakeknya. Namun, ada juga ironi di dalam dialognya, yakni ketika Angin dilarang menyanyikan lagu itu, Angin menjawab: "Ini kan sudah jaman kebebasan...". Aliterasi dan penggambaran obyek yang dikisahkan Hari Pr. dalam novelnya cukup menggugah, sehingga kita akan terbawa pada kondisi penceritaan yang lancar dengan dialog-dialog yang mengalir. Di samping itu, perjalanan tokoh Angin kemudian menjadi sebuah gambaran sebuah perjalanan anak muda yang gelisah melihat dinamika faktual dalam kehidupan desanya. Ini cukup sejalan dengan pengalaman Hary Pr. sendiri sebagai seorang aktivis mahasiswa di Banyuwangi sejak tahun 2000-an hingga di tahun 2005, sampai ia terpilih sebagai salah satu anggota KPUD Banyuwangi. Menjadi menarik, karena novel ini cukup kental menggambarkan sebuah pergulatan batin sang Angin dari kehidupannya secara pribadi hingga kiprahnya bagi orang banyak di desanya. Pergulatan dan perjalanan ini menanggung resiko yang tidak enteng bagi sang Angin, di mana ia harus menghadapi intimidasi dan pengkucilan, ia harus menghadapi benturan nilai-nilai yakni antara nilai-nilai yang ia yakini selama ini dengan nilai-nilai faktual di tengah dinamika masyarakatnya sendiri. Novel ini memberikan sebentuk gambaran kepada kita, bahwa sebuah pencapaian memang memerlukan aktualisasi yang tidak enteng, di mana tokoh dalam novel ini harus berhadapan dengan "kegendengan-kegendengan" perjalanan masyarakat dan ulah para tokoh yang berambisi meraih kekuasaan desa. Penggambaran desa dengan novel ini adalah gambaran aktual negeri kita saat ini, bukan? Ada yang menarik dari novel Hari Pr. "Elegi Angin Pagi", yakni novel ini menggambarkan juga dinamika budaya Banyuwangi dari banyak sisi penceritaan dan dialog-dialognya. Ada setting kehidupan dan 'cara' Using dan Mataraman. Sebagaimana kita ketahui bersama, Banyuwangi adalah sebuah wilayah yang memiliki kemajemukan etnis. Sehingga dapatlah kita sebut di sini, bahwa budaya Banyuwangi adalah budaya kerakyatan. Kaitannya dengan hal itu, novel "Elegi Angin Pagi" cukup basah di dalam menggambarkan realitas budaya Banyuwangi sebagai sebuah kekuatan lokalistik. "Elegi Angin Pagi" adalah novel yang cukup mengejutkan yang telah terbit dan ditulis oleh orang Banyuwangi. Dalam sejarah kesusastraan di Banyuwangi, baru tiga novel yang sudah terbit, yakni "Kerudung Santet Gandrung" karya sastrawan gaek Hasnan Singodimayan, "Berdirinya Kerajaan Macan Putih" karya Armaya (yang juga penulis senior Banyuwangi), dan ketiga adalah "Elegi Angin Pagi" yang ditulis oleh penulis baru, Hary Pr. yang sehari-hari kita mengenalnya bukan seorang penulis sastra. Ini artinya, ada potensi yang terpendam dalam diri Hary Pr. di dalam melahirkan sebuah karya sastra, di mana novelnya sebagian besar menggambarkan kecemasan dan kegelisahan batinnya memandang realitas kehidupan politik di Banyuwangi. Kemunculan novel Hary Pr. ini perlu kita rayakan sebagai seorang bayi yang baru lahir di jagat kesusastraan Banyuwangi, agar karya-karya sastra terus bermunculan.. Kritik sastra kita perlukan, namun mari kita menunggu babak baru kebangkitan sastra di Banyuwangi setelah ini. Mudah diucapakan, tetapi harus kita buktikan, bukan? Semoga. Banyuwangi, 29 Mei 2009 http://taufiqwrh.blogspot.com/2009/05/catatan-kecil-elegi-angin-pagi..html ; Radar Banyuwangi | 31 Mei 2009 cover Elegi Angin Pagi.jpg "Coba Yahoo! Mail baru yang LEBIH CEPAT. Rasakan bedanya sekarang! http://id.mail.yahoo.com"

