*ULASAN* Senin, 28 Desember 2009
*Kisruh KPK: Back To Basic !* (berpolitik.com): Tak hanya kecermatan, tapi juga dibutuhkan kepala yang "dingin" dalam merespon kemelut KPK.Tanpa itu, akan mudah terperosok pada perangkap yang menyesatkan Perangkap itu berupa'sikap apriori'. Baik yang membela KPK ataupun membela polisi sama-sama sudah bersikap bahwa 'jagoan' mereka adalah pihak yang paling benar. Apriori akan melumpuhkan obyektivitas karena mendorong otak kita menyeleksi informasi yang sesuai atau merasionalisasi informasi yang kurang pas dengan struktur keyakinan yang sudah ada sebelumnya. *Pengabaian* Tengok, misalnya, argumentasi para pembela KPK. Mereka secara total membingkai kemelut KPK sebagai upaya pengibirian dan bahkan sebagai skenario besar melumpuhkan institusi tersebut. Dalam hal ini, mereka mengabaikan dua fakta penting. Pertama, sebagian dari mereka, sejatinya sudah lama menghembuskannya sendiri. Yakni, ikhwal kerja KPK yang dianggap 'tebang pilih'. Tudingan ini telah lama digaungkan dari waktu ke waktu. Untuk sebagian, kerja 'tebang pilih' tak bisa dihindarkan karena KPK memiliki prosedur yang ketat (tak mengenal SP3). Sebagai akibatnya mereka jadi lamban dan 'pilih-pilih'. Namun, untuk sebagian lagi, 'tebang pilih' bisa juga karena adanya 'faktor lain'. Dugaan ini terutama sekali mencuat karena adanya kesan pelepasan pihak-pihak lain dalam kasus yang sama. Misal saja dalam kasus dalam YPPI Bank Indonesia yang dipergunakan untuk menyuap aparat hukum dan anggota DPR. *SELANJUTNYA KLIK DI SINI<http://www.berpolitik.com/news.pl?n_id=25201&c_id=3¶m=LCQCl9rkh4idFPM596TT> *

