Little Women adalah novel klasik karya Lousia May Alcott (1832-1888) yang 
pertama kali diterbitkan pada tahun 1868. Dalam novel ini Alcott menciptakan 
empat sosok perempuan yang paling populer dalam sastra Amerika hingga kini. 
Mereka adalah Meg, yang tertua diantara keempat anak perempuan keluarga March, 
berusia 16 tahun, sangat cantik dan lembut. Jo, 15 tahun, pribadi yang penuh 
semangat, temperamental, suka bereksperimen dan senang menulis. Beth, 13 tahun 
gadis yang lembut, pendiam dan baik hati, serta si bungsu Amy, 12 yang memiliki 
jiwa seni, egois, manja serta kekanak-kanakan.

Keempat anak ini tinggal bersama ibu mereka, sementara sang ayah pergi 
bertempur dalam perang saudara. Keluarga ini hidup dalam kesederhanaan, 
sementara ayahnya pergi ibu serta keempat anak gadis March bahu membahu bekerja 
untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, sementara utuk melakukan pekerjaan rumah 
tangga, mereka dibantu oleh Hanah yang setia mengabdi pada keluarga March.

Keseharian yang dialami oleh keempat wanita keluarga March inilah yang 
dieksplorasi dengan baik oleh Alcott dalam novelnya ini. Walau mereka memiliki 
ibu yang bijak dan saling mengasihi satu dengan yang lainnya namun keempat 
gadis dengan karakter yang berlainan ini membuat mereka tak luput dari berbagai 
pertengkaran, kadang mereka saling memuji namun ada juga ejek mengejek, 
perkelahian, cemburu, dll seperti yang dialami oleh sebuah keluarga pada 
umumnya. Selain itu persahabatan mereka dengan Laurie, pemuda kaya tetangga 
mereka yang tinggal bersama kakeknya ikut mewarnai kehidupan keluarga sederhana 
ini. Bersama Laurie, mereka menikmati masa remaja dan persahabatan yang indah

Pada intinya dalam novelnya ini Alcott menuturkan keseharian keempat gadis 
March dengan begitu hidup dan menarik, seperti bermain teater dalam rumah, 
berpikinik, membuat koran sendiri, dan kejadian-kejadian lainnya yang ikut 
membentuk mereka menjadi perempuan dewasa. Eksplorasi karakter dan berbagai 
peristiwa yang dialami oleh keempat gadis March ini dideskripsikan dengan porsi 
yang hampir sama, tiap babnya secara bergantian menceritakan salah satu dari 
mereka sebagai pusat cerita. Walau demikian karakter Jo yang merupakan cermin 
dari kepirbadian Alcott sendiri tampak selalu muncul dan mengambil peran 
dibanding yang lainnya.

Apa yang dikisahkan oleh Alcott sangat manusiawi dan wajar, tidak berlebihan, 
seperti halnya keluarga kita pada umumnya sehingga membaca novel ini seperti 
membaca kehidupan kita sendiri. Ada berbagai peristiwa keseharian yang menarik 
yang dikisahkan Alcott misalnya bagaimana pertengkaran antara Jo dan Amy karena 
hal yang sepele malah membuat Jo begitu membenci Amy yang telah memusnahkan 
buku karangannya yang telah lama ia tulis untuk ia persembahkan pada ayahnya 
kelak.

Novel ini juga memuat kisah yang mengandung nilai-nilai pengorbanan dan 
kemanusiaan baik antara keluarga March atau dengan orang lain. Misalnya ketika 
Jo rela mengorbankan rambutnya untuk dijual ke sebuah salon demi menambah 
ongkos perjalanan ibunya ke Washington untuk menjenguk ayah mereka yang sakit 
keras.

Lalu ada pula kisah Beth yang tetap menolong bayi tetangganya yang menderita 
penyakit menular hingga akhirnya bayi tersebut meninggal di pangkuannya. 
Karenanya tak lama kemudian Beth pun tertular penyakit yang mematikan ini. Saat 
inilah saat yang paling berat yang dialami keempat gadis keluarga March. Mereka 
harus merawat Beth ketika kedua orang tua mereka tak ada di rumah. Saat-saat 
mereka menolong Beth yang sedang berjuang melawan maut inilah yang membuat 
mereka menyadari bahwa kehadiran keluarga mereka jauh lebih berharga dibanding 
apapun

Ada banyak hal tema menarik yang diangkat oleh Alcott dalam novelnya ini, 
selain masalah kehangatan keluarga, pengorbanan, cinta kasih antar saudara dan 
cinta romantis Meg, novel ini juga mengangkat isu feminisme melalui sosok Jo 
yang mandiri dan selalu menentang aturan yang membatasi kebebasannya. Menarik 
karena ketika novel ini dibuat, isu feminisme belum sepopuler saat ini sehingga 
bisa dikatakan bahwa Alcott adalah penulis yang memiliki wawasan berpikir 
melebihi zamannya.

Selain itu novel ini juga memberikan contoh bahwa dalam kehidupan perempuan 
yang sederhana, kehidupan yang berhasaja dan berkualitas masih mungkin 
diperoleh. Tak ada yang lebih berharga ketimbang memiliki keluarga yang saling 
mencintai. Hal ini seolah mendobrak pandangan umum bahwa kebahagiaan hanya 
dapat diperoleh melalui oleh kelimpahan materi semata.

Dengan segala kelebihan yang ada dalam novel ini maka tak heran jika novel yang 
ditulis Alcott hanya dalam tempo dua setengah bulan (antara 1867 dan awal 1868) 
ini langsung menuai sukses ketika pertama kami diterbitkan pada 30 September 
1868. Lebih dari 2000 ekslempar terjual seketika. Novel ini juga direspon 
secara positif oleh para kritikus sastra dan langsung menyebut novel baru itu 
sebagai sastra klasik. Hal ini kelak terbukti karena novel ini menjadi novel 
yang laris selama puluhan tahun dan dibaca hingga kini dari generasi ke 
generasi.

Sesaat setelah novel ini terbit dan banyak dibaca orang, Alcott kebanjiran 
surat dari pembacanya yang menuntut sekuel dari novelnya tersebut. Memenuhi 
keinginan pembacanya untuk menulis kelanjutan dari kisah keempat gadis keluarga 
March ini, Alcott pun akhirnya menulis sekuel Little Woman yang diberinya judul 
Good Wives pada tahun 1869. Kedua bagian ini sering disebut dengan Little Women 
or Meg, Jo, Beth and Amy. Tak hanya berhenti sampai di situ, kisah keluarga 
March terus berlanjut Alcott terus menulis dan menerbitkan Little Men (1871) 
dan Jo's Boys (1886), yang menceritakan kehidupan anak-anak dari 
perempuan-perempuan keluarga March. Pada 1880 kedua bagian digabung ke dalam 
satu volume di Amerika dengan judul Little Women or, Meg, Jo, Beth and Amy.

Hingga kini kisah keempat perempuan keluarga March terus dibaca orang . 
Sejumlah karya merujuknya. Geraldine Brooks, misalnya, menerbitkan novel March 
pada 2005, novel ini bercerita tentang Tuan March, ayah keempat perempuan 
March, selama Perang Saudara. Novel ini kemudian dianugerahi Pulitzer Prize for 
Fiction 2006. Tak hanya dalam ranah buku, kisah keluarga March juga telah 
menggelitik para sineas untuk melayar lebarkan karya Alcott ini, hingga kini 
Little Woman sudah 14 kali diadaptasi ke layar lebar . Selain film, Little 
Woman juga dibuatkan versi serial TVnya, anime-nya, panggung opera, drama 
musical, dll

Selain itu menurut buku " 1001 Books You Must Read Before You Die" karya Peter 
Boxall, novel Little women ini menginspirasi banyak penulis perempuan antara 
lain Simone Beauvoir, Joyce Carol Oates, dan Cynthia Ozick (salah satu penulis 
amerika paling top saat ini). Karenanya hadirnya terjemahan novel ini patut 
dipresiasi dengan baik karena jika sebelumnya novel klasik ini hanya dibaca dan 
dibicarakan di lingkungan terbatas yang melek sastra, kini novel ini menjadi 
lebih terbaca oleh kalangan yang lebih luas lagi.

@h_tanzil

Detail Buku
Judul : LITTLE WOMEN
Penulis : Louisa May Alcott
Penerjemah : Rahmani Astuti
Penerbit : PT. Serambi Ilmu Semesta
Cetakan : I, Juli 2009
Tebal : 489

Kirim email ke