Apa yang terjadi jika 3 tokoh berlainan karakter dan hdup dari zaman yang berbeda bertemu dalam satu cerita? Bisa ditebak, tentu akan menghebohkan. Inilah novel itu, SAHARA, yang mempertemukan Sinbad, petualang yang menjadi mubalig, dengan si pencuri cilik Ali Baba dan Aladdin, seorang sultan muda yang misterius. Ketiganya menjadi kawan sekaligus lawan.
Kisah SAHARA dimulai dengan kehidupan glamor Abdul Karir, seorang pengusaha kaya raya yang juga teman Sinbad. Ia seorang yang durhaka pada Allah karena hidup dalam kemaksiatan. Dia memiliki permata mahal yang diincar banyak orang. Abdul Karir meminta bantuan Sinbad untuk menangkap Ali Baba yang telah berhasil mencuri permata itu, dan terjadilah kejar-kejaran yang menegangkan. Sinbad punya misi untuk menyadarkan Ali Baba agar tidak tersesat hidupnya, meski Abdul Karir orang yang inkar pada Allah. Karena kehebatannya Sinbad pun berhasil menangkap Ali Baba, dan didesak Abdul Karir agar menyerahkan Ali Baba kepadanya. Namun Sinbad menolaknya, karena ia ingin menyadarkan kejahatan yang dilakukan Ali Baba selama ini. Hal ini membuat Abdul Karir berang dan memerintahkan prajuritnya untuk membunuh kedua orang tersebut. Namun sebelum bedil menyalak, tiba-tiba muncul permadani terbang yang merobohkan seluruh prajurit Abdul Karir. Di atas permadani itu duduk Aladdin. Aladdin mulanya pemilik lampu ajaib dan ditolong jin sehingga menjadi sultan di sebuah negeri di Gurun Sahara. Ketika Aladdin sadar selama ini ia telah menyekutukan Allah, Aladdin berniat melenyapkan lampu tersebut. Namun permaisurinya menolak lalu menguasai lampu dan jin penghuni lampu itu. Aladdin pun terusir dari istana, lalu kerajaannya dipimpin oleh sang permaisuri bersama jin saktinya. Seorang perampok makam yang jahat, Roughstone dan anak buahnya, sejak lama berniat mencari lampu ajaib itu. Ketika Alddin, Ali Baba dan Sinbad datang ke Sahara, mereka bertemu Roughstone dan bekerja sama untuk menaklukkan jin sakti yang tak lagi bertuan lantaran permaisuri yang menguasai lampu itu telah meninggal dunia. Jin sakti pun menjadi makhluk jahat dan ingin membunuh mereka semua. Gaya bahasa novel ini mengalir. Dialog-dialognya cerdas. Tidak ada karakter hitam putih. Sinbad yang mubalig ternyata meiliki dendam yang samar. Ali Baba, Roughstone dan anak buahnya pun memiliki sisi kebaikan. Yang lebih mengesankan adalah plot twist yang sepertinya wajib dimiliki novel fantasi. Tokoh-tokoh dalam novel ini memiliki kedalaman dimensi masing-masing. Sinbad yang tampak perkasa dan tanpa kompromi terhadap orang tak beriman, dalam perjalanan cerita menemukan pelajaran yang mengoyahkan kekerasan dogmanya. Ali Baba yang super cerdik, tumbuh dengan egoisme yang tinggi dari seorang yang survive di alam keras, akhirnya menumbuhkan compassion terhadap orang lain. Bahkan tokoh-tokoh antagonis pun digambarkan memiliki karakter yang berdimensi. Dan satu ciri yang kuat dalam novel ini adalah tempo ceritanya yang gesit, cepat, daan tidak bertele-tele. (Muhammad Subhan) Resensi dimuat di Haluan, Minggu 15 November 2009 Data Buku Judul: SAHARA Penulis: Nugraha Wasistha Penerbit: Serambi Tebal: 336 halaman Cetakan: I, Agustus 2009

