Saat pertama kali melihat sampul novel ini terpajang di toko buku, sempat saya 
mengira bahwa novel karya Nugraha Wasistha ini bergenre humor atau komedi 
seribu-satu malam, atau lelucon ala sufi semacamnya kisah-kisah Abunawas, yang 
lazimnya dikata-pengantari oleh seorang Kyai Anu bin Fulan.

Sampulnya berwarna merah, sedikit ornamen geometris ala Timur Tengah, dan spot 
hitam membentuk asap dan siluet tiga orang Bhagdad seperti sedang bertengkar 
memperebutkan tempat parkir onta. Belum lagi judul yang dibuat apa-adanya, 
tanpa bermaksud bermanis-manis atau bersastra-ish layaknya novel. Liat nih: 
SAHARA: Ketika Aladdin, Alibaba, dan Sinbad Bertarung dengan Jin Sakti. Wooosh, 
seolah ada `ayat-ayat abunawas' melintas di latar belakang benak gue.

Tapi sesuatu dalam sinopsis buku yang membuatku menyimpulkan bahwa ini adalah 
karya novel, yang somehow berusaha membuat suatu alternate situations dimana 
tokoh-tokoh fiksi Sinbad, Aladdin, dan Ali Baba berada pada ruang-waktu-tempat 
yang sama.

Okey, interesting,…

Tiga karakter terkenal dalam cerita seribu satu malam, bahkan tiga-tiganya udah 
masuk dalam jajaran film Disney. Tapi tanpa mengaitkan dengan karakter yang 
udah duluan eksis dalam film, saya menemukan premis yang masih unik dalam 
karakter besutan mas Nugraha ini. Misalnya si Sinbad, yang punya kredo: Tobat 
atau mati! Terasa nuansanya jadi beda dengan Sinbad orisinal.

Dan saat mulai kubuka halaman pertama menyimak petualangan ala seribu satu 
malam dikombinasi aura Indiana Jones, … well, I'm hooked until the last page!

Lagi-lagi, gue ditipu sama Cover. Gak bilang covernya jelek, sih. Cuma 
menggiring ke arah persepsi yang salah aja. Kupikir novel banyol gak tahunya 
it's a Fantasy, and a good one.

Cerita dibuka dengan adegan Sinbad di geladak sebuah kapal. Apa uniknya? 
Hehehe. Sinbad di sini adalah seorang mubalig separo baya. Dan dia sedang 
berada di geladak kapal bajak laut yang dipimpin kapten Blackbeard, si bajak 
laut legendaris. Dan si mubalig Arab ini sedang berdakwah untuk mengembalikan 
para bajak laut ke jalan yang benar. Masalahnya, dia berdakwah dalam kondisi 
basah kuyup dan terikat erat dengan jaring, di bawah ancaman pedang berkilat 
para bajak terganas di laut mediterrania.

Tentunya dia sanggup meloloskan diri, melalui rangkaian action yang 
mensignifikansi kekerenan adegan-adegan aksi di dalam buku ini dari awal sampai 
akhir. Sedap. Membacanya seolah merekaulang sebuah tontonan film laga seribu 
satu malam yang penuh koreografi loncat-ayun-salto-sana-sini, dipadu 
ketangkasan bela diri macam film kungfu. Sangat menghibur.

Selain adegan-adegan aksinya, novel ini juga memiliki line dialog yang top 
punya. Luwes sekali si pengarang ini, membuat dialog antar budaya (ada 
kebudayaan arab, inggris, amerika) secara pas dan berkarakter. Menggunakan 
bahasa arab, mantap. Menggunakan setting bahasa Inggris, pas juga. Setiap 
kalimat dialog tertata dengan penuh perhitungan, memasukkan unsur karakter 
pengucapnya yang di-infuse dengan perbedaan budaya dan latar belakang kehidupan 
masing-masing.

So, gaya bicara Sinbad beda banget dengan Ali Baba biarpun sama-sama arab. Saat 
menghadapi counterpart bangsa Inggris pun, Sinbad punya cara bercakap-cakap 
yang kelihatan beda. Susunan dialog para tokok-tokohya, cara lempar umpan dan 
tangkapannya, juga menunjukkan kelas yang Smart dan mengasyikkan. Menurut gue 
sih, dialog-dialog dalam buku ini adalah termasuk yang terbaik.

Juga karakterisasinya. Tokoh-tokoh yang awalnya digambarkan hitam-putih ini 
ternyata memiliki kedalaman dimensinya masing-masing. Sinbad tampak perkasa dan 
tanpa kompromi terhadap orang tak beriman (rada stereotip fanatics juga, sih), 
dalam perjalanan cerita menemukan pelajaran yang menggoyahkan kekerasan 
dogmanya. Ali Baba yang super-cerdik, tumbuh dengan egoisme tinggi dari seorang 
yang survive di alam keras, akhirnya menumbuhkancompassion terhadap orang lain. 
Bahkan tokoh-tokoh antagonis pun digambarkan memiliki karakter yang berdimensi.

Satu ciri yang kuat dalam novel ini adalah tempo ceritanya yang gesit, cepat. 
Dan terasa `visual' banget. Ternyata profil penulisnya menyebutkan bahwa 
Nugraha Wasistha adalah jebolan Desain Komunikasi Visual yang sering jadi juara 
komik. Well, pantesan aja.

Setting novel ini adalah dunia Arab tahun 1856. Lumayan eksis zaman itu di 
tangan pengarang. Area di Turki cukup lengkap dijabarkannya, kehidupan budaya 
masyarakat, property khas seperti Bazaar (pasar), Hammam (pemandian), dan 
Caravanserai (drive-in khusus Caravan. Unik nih, bahkan di film-film Indiana 
Jones aja belum gue temui referensi bangunan kayak gini, padahal masukakal 
banget) mewarnai penggambaran Istanbul di abad 19. Keren, realistik dan nggak 
membosankan.

Trus, apa lagi ya? Inilah saatnya semua elemen-elemen kuat digabung menjadi 
suatu karya yang menarik. Kalau sudah menjadi satu kesatuan, yang matters 
tinggal gimana plotnya, gimana temanya, gimana missinya ingin disampaikan oleh 
pengarang.

Mungkin singkat aja kukomentarin, biar gak terlalu spoiler. Jalannya plot cukup 
mulus dan lurus, semakin masuk dalam suasana fantasy-adventure, aksi filmikal 
sampai pada plot twist di ujung yang cukup logis, gak asal twist doang. Satu 
hal yang aku suka adalah filosofi yang mendukung character development, 
terutama terhadap dua tokoh utama, Sinbad dan Ali Baba. Juga detail-detail 
psikologis masing-masing karakter. Dan konklusi dari segala plot ini adalah: 
Iman dan Akal yang menyelamatkan segalanya!

Lantas protesnya apa? Well, untuk materi sebagus ini, pengarang (sudah) memilih 
hanya single edisi (Gasp, surprise!). Gak terlalu kelihatan bakal ada sekuel, 
kalau pun ada kayaknya juga bakalan beda nuansanya. Itu aja sih, sayang gak 
jadi serial, hehehe.

Tapi aku yakin, mas Nugraha Wasistha kalo bikin novel lagi, pasti minimal bakal 
sama kerennya!

Go for it, it's a quite recommended read! 


Data Buku
Judul: SAHARA
Penulis: Nugraha Wasistha
Penerbit: Serambi
Tebal: 336 halaman
Cetakan: I, Agustus 2009

Sumber: 
http://fikfanindo.blogspot.com/2009/10/sahara-ketika-aladdin-ali-baba-dan.html

Kirim email ke